Like Drama

Like Drama
#Fourty Five


__ADS_3

Hari itu pun tiba. Hari dimana mimpiku dan mimpi almarhum kedua orang tuaku akhirnya menjadi nyata. Melihatku di wisuda adalah harapan terbesar mereka. Namun sayang, semua tak terjadi seperti yang kita manusia inginkan. Sebab Tuhan selalu memiliki rencana terbaik untuk umatnya, sekalipun itu tidak pernah kita inginkan jalannya.


Hari ini, aku wisuda yang untungnya berbarengan dengan Alya dan Radit juga. Kami lulus bersama. Kami selalu bersama sejak masih sekolah dulu.


Hari ini yang seharusnya disaksikan dengan bangga oleh kedua orang tuaku, tapi ternyata mesti terjadi tanpa adanya mereka.


Hanya aku.


Pahit memang, tapi tetap ada rasa manis yang walaupun mengandung kepedihan.


Entah mengapa aku seakan melihat senyum bangga kedua orang tuaku di sini, di tempat ini. Di keramaian ini, dan di dunia ini.


Ma ... Pa ...


Aku tahu kalian pasti melihatku. Aku di sini, tanpa kalian. Tapi, ada keluargaku yang lain yang membuatku tak sendiri.


Andai saja Tuhan mengizinkan kalian sebentar lagi saja hingga wisudaku terjadi–


"Jangan bengong di situ! Ayo, kita belum selesai foto-foto!" Alya menarik lenganku dan menyeretku kembali menghampiri pada kedua orang tuanya.


Di situ ada Radit dan keluarganya juga. Ya, kami bersama.


Kemarin, mereka datang ke rumah Alya setelah Alya mengabari tentang kabarku dan kedua orang tuaku. Lalu mereka–Radit dan keluarga–memarahiku juga. Persis seperti Alya. Radit bahkan sempat mendiamkanku hingga pagi berikutnya. Dan pagi tadi akhirnya dia memelukku dengan tulus dan mengatakan bahwa kami semua harus mengikhlaskan yang telah terjadi. Terutama diriku. Aku harus kuat dan tabah, di mana Radit selalu mengingatkanku bahwa akan selalu ada dirinya yang siap sebagai kakakku.


.......


.......


Aku memang telah wisuda.


Tapi rasanya mendung.

__ADS_1


Walau tak semendung itu juga.


Meskipun menahan pedih dan duka, tapi keberadaan keluarga kedua sahabatku mampu memberiku sedikit banyak kekuatan di tengah keterpurukan ini.


"Fotoin gue sama Zura, Al!" Radit merangkul bahuku. "Amankan ini ya kalo gue peluk lo," katanya sambil melirik jahil ke arahku.


Aku tahu maksudnya apa.


Maka aku melotot kepadanya, dan dia hanya cengengesan saja.


"Plis deh, kenapa mesti bahas dia?"


"Ya kali aja kan ..."


Mengapa harus membahas seseorang yang sudah mulai aku lupakan? Aku berusaha, selalu, setiap harinya, agar aku dapat melupakan dia. Ini babak kedua setelah aku berhasil mengusir Montana dari hatiku dengan susah payah. Sekarang aku harus mengulanginya lagi. Melupakan seseorang yang telah berhasil memasuki hatiku.


Ini sulit. Bahkan terlalu sulit entah kenapa.


"Ayo buruan! Gue juga mau foto, kali, malahan kalian gosip di situ," sela Alya tak sabaran. Dia yang bertugas memfoto kami kali ini.


"Bodo," sahut Alya. "Ra, senyum yang lebar dong," dia masih mengarahkan kami.


"Ini udah lebar, Al. Mesti selebar apa lagi?"


"Alya mah ribet, banyak maunya," celetuk Radit yang langsung mendapat tatapan maut dari gadis itu. "Udah buru, gpl ya."


Aku berusaha untuk selalu tersenyum manis tiap kali akan difoto. Pun kali ini senyumku mengarah pada ponselnya Radit yang dipegang oleh Alya.


"Habis ini kita bertiga loh," seru Alya lagi setelah ia mengambil gambarku bersama Radit. Kemudian om Sandi, papanya, mengambil alih ponselnya Radit untuk memfoto kami. Dan ini sudah yang kesekian kalinya. Sejak awal acara belum dimulai saja, sudah berapa kamera yang digunakan Alya untuk memfoto semua momen.


Saat aku baru saja mencari gaya yang bagus untuk berfoto dengan Radit dan Alya, entah mengapa seolah mataku menangkap sosok di kejauhan. Di antara keramaian. Sosok yang tak asing di mataku ... di penglihatanku.

__ADS_1


Dia.


Tapi,


Ah, mana mungkin!


Pasti mataku salah melihat.


Atau dunia memang sesempit itu?


Atau memang dia kembali lagi menghampiri hidupku?


Entahlah.


Aku tidak ingin menduga-duga.


Yang pasti itu terjadi hanya sekejap saja. Karena saat aku ingin memastikan lagi penglihatanku, sosok yang sudah mulai kulupakan itu ternyata sudah tak terlihat lagi.


Menghilang diantara keramaian, atau memang hanya halusinasiku saja?


Entahlah.


"Kenapa?" panggilan Alya membuatku menoleh.


Lantas aku menggeleng. "Ah, nggak."


...👓👓👓👓👓...


Setelah ini, babak kehidupan baru Raju dimulai.


.

__ADS_1


Jangan tanyakan mimir, karna aku lagi marahan sama mimir. 😂🙈🙈🙈


.


__ADS_2