
"Ken!"
"Apa?"
"Kita makan di luar aja."
"Tapi aku maunya di sini, Ra. Udah deh, jangan berpikiran macam-macam. Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok. Tenang aja,"
"Aku gak berpikiran begitu, Ken."
"Trus?"
"Ya–" aku gelagapan. "Ya pokoknya aku mau kita makan biasa-biasa aja di restoran. Ke cafe pun gak papa. Santai aja, Ken."
"Di rumahku juga santai, Ra. Kamu-nya aja yang berpikiran gak santai."
"Ya tapi kenapa mesti di rumah kamu sih, Ken?"
"Emangnya kenapa?"
"Aku gak mau."
"Ya ampun, Rara. Nurut aja sih sama aku."
"Gak mau."
"Lagian di rumahku itu, kita gak cuma berdua kok,"
Aku mengerjap sesaat. "Hah?"
Rumah itu adalah kediaman keluarga Barata, yang mana merupakan adik dan adik ipar dari keluarga konglomerat Mandala Maheswara.
Kalau begitu ...
"Mama papaku mengundang kita untuk dinner, Ra," Kenneth memberitahuku setelah melihat ekspresi keterkejutanku barusan.
__ADS_1
Kita?
Kamu aja, Ken. Kamu yang anaknya. Kenapa aku harus ikut juga? Kamu bilang kalau status yang diungkapkan di depan kamera para pencari berita hanyalah settingan belaka. Merupakan gimmick yang selalu ditampilkan oleh para artis tanah air.
Lalu kenapa sekarang malah berlanjut ke orang tuanya?
Ingin aku mengucapkan banyak protes dan ungkapan kekesalan, tapi itu tidak mungkin. Ini di rumah dia. Dan dalam beberapa menit dari sekarang aku akan berhadapan dengan kedua orang tuanya lagi.
Apakah benar-benar akan terjadi lagi yang sudah aku alami di keluarga Maheswara?
Aku harap ... tidak.
"Aku belum siap, Ken." kalimatku terucap saat Ken telah menarik lenganku untuk berjalan melalui teras depan rumahnya.
"Belum siap untuk?"
"Ya buat ketemu orang tua kamu lagi."
"Ssst, jangan lebay deh, Ra. Buat apa perlu siap-siap segala. Cuma makan malam bareng, beres. Gak ada drama ini itu."
"Ya iyalah. Orang tuaku mah seasik itu, Ra. Beda sama keluarganya Om Mandala."
Oh baguslah kalau memang begitu. Setidaknya, berkurang sedikit kecemasanku.
"Bener ya, kita cuma dinner?" aku memastikan kembali, sebelum kami memasuki dalam rumah.
"Ya iya. Tapi kalo kamu mau berenang, boleh kok. Ada kolam renang di rumahku ini."
Aku menabok pelan lengan Kenneth. Cowok itu terkekeh di saat aku masih merasa deg-degan karena situasi yang dibuatnya.
"Ya lagian kamu. Udah aku bilang cuma makan kok susah banget percayanya? Mau langsung kawin malam ini gitu?"
Aku tak menanggapi lagi. Kini kami telah tiba di ruang tamu, dan kedua orang yang kutahu sebagai orang tua Kenneth telah berdiri menyambutku.
Serius? Mereka menyambutku?
__ADS_1
Huft, itu cuma imajinasiku doang kok.
"Hai, Azzura!" sapa wanita cantik itu dengan tangan terulur ke arahku.
Senyum tulus tante Kirana masih belum berubah seperti di pesta semalam. Lalu dia memelukku dengan hangat ... lagi. Sambutannya yang membuatku nyaman itu menjadikanku tak dapat berfikir yang sedih-sedih. Serius, Wanita itu jago sekali memberikan kenyamanan.
"Tante senang bisa bertemu kamu lagi loh,"
Aku hanya tersenyum mengiyakan. "Iya, tan. Sama. Aku juga senang bertemu tante lagi."
"Terima kasih sudah mau datang memenuhi undangan kami." Kali ini suara berasal dari Damar Barata, yang berdiri bersisian dengan sang istri.
Meskipun om Mandala terlihat lebih hangat dan murah senyum, tapi yang ku tangkap di mataku bahwa om Damar terlihat tulus baik juga walau lebih tegas.
Aku harap begitu.
Bukan, bukan aku berharap aku bisa diterima. Sama sekali bukan itu pikiranku. Aku hanya berharap bahwa aku tidak akan bertemu dengan orang-orang yang akan menyakiti hatiku lagi. Setidaknya, biar mereka berbicara apa saja di belakangku. Cukup seperti itu tanpa perlu mengatakan jelas di hadapanku yang sudah pasti akan menghancurkan hatiku.
"Ayo Zura–"
"Rara aja, Mah." Kenneth menyela untuk memberitahu ibunya cara memanggilku. Sepertinya tante Kirana menangkap arti dari tatapan putranya itu. Ya pastilah, mereka itukan ibu dan anak. Walaupun hanya dengan bahasa mata, aku yakin mereka akan saling mengerti.
Tapi, memangnya Kenneth bermaksud apa?
"Oke, Rara." tante Kirana menyetujui ucapan sang anak. "Ayo kita makan malam, sebelun terlalu malam."
Tante Kirana menarik lembut lenganku dan membimbingku agar menuju meja makan. Di meja itu sekarang sudah ada kami berempat yang siap menikmati makan malam. Dan sepertinya, baik itu tante Kirana maupun om Damar lebih memfokuskan pada santapan kami dulu, dibanding membicarakan hal-hal yang mungkin saja lebih penting.
Tapi aku harap tidak ada hal penting itu.
Harapanku ini adalah makan malam biasa aku yang sebagai asisten Kenneth. Tapi entah mengapa hati kecilku mengatakan akan ada hal yang akan aku dengar selanjutnya. Itu firasatku. Semoga bukan hal-hal buruk seperti yang pernah aku alami di keluarga Maheswara.
Semoga.
...•••••••••••••••••••••••••••...
__ADS_1
...•••••••••••••••••••••••••••...