Like Drama

Like Drama
Seventy six


__ADS_3

...Happy Reading!...


Aku selesai menyelimuti Ken yang kini terbaring di ranjangnya. Menatap wajah polosnya saat terlelap, aku jadi berpikir, kapankah waktu yang tepat untukku menceritakan semuanya. Terlebih, kenyataan bahwa kapan saja aku bisa mengalami ketidak beruntungan dengan bertemu Reiki di gedung ini, membuatku jadi cemas bila Ken mengetahui ceritaku tapi bukan dari aku sendiri.


Tapi, kira-kira bagaimana reaksinya nanti ya?


Lalu sekarang rasanya aku tidak tega untuk meninggalkannya sendirian, dalam keadaan tidak sehat pula. Lagian, kenapa dia tidak pulang ke rumahnya saja sih? 'Kan di rumahnya, dia sudah pasti dirawat oleh Tante Kirana. Tapi kalau di sini?


"Ra ..." lirih suara Ken menyebut namaku. Matanya terbuka sedikit, sedangkan tangannya bergerak untuk menggenggam tanganku. Kemudian dia terpejam lagi. Tidur mungkin.


Dari yang kudengar dari sopirnya tadi, Ken sudah meminum obatnya sewaktu menungguku di mobil. Dan sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat saja.


Tapi masalahnya, tubuhku terasa lengket. Aku belum mandi, belum makan, dan ... yang paling penting adalah aku belum mengetahui siapa pengirim hadiah mahal tadi.


Perlahan aku menarik tanganku yang saat ini tengah digenggam erat oleh Ken. Tapi ternyata tidak mudah melepasnya. Ken terlalu kuat dan tak membiarkanku pergi.


"Jangan pergi ... Ra ...."


Suara lirih Ken dengan mata terpejam terdengar lagi.


"Iya. Aku nggak kemana-mana, Ken. Aku cuma mau numpang ke kamar mandi sebentar ya,"


Oke, aku rasa Ken masih mempunyai kesadaran walau itu sangat tipis. Buktinya, dia melepaskan tanganku, dan kini posisi tidurnya berubah miring membelakangiku sembari memeluk gulingnya.


Aku mendekati telinganya dan berbisik, "Kamu tidur aja ya. Aku nggak bakalan pergi." Kuusap pelan kepalanya, lalu aku berjalan keluar dari kamarnya. Walaupun di kamar Ken sudah pasti ada kamar mandinya, aku tidak akan pernah menggunakannya seleluasa itu. Aku lebih memilih mencari kamar mandi lain, di ruangan lain.


Tunggu, kalaupun aku berniat mandi, bukankah aku tidak memiliki pakaian ganti?


Oh ya ampun, aku mesti bagaimana ini? Padahal aku benar-benar butuh mandi karena gerah.


Berbalik langkah, aku kembali memasuki kamar Ken. Tujuanku hanya satu, yakni lemari yang ada di sana. Sudah pasti aku mencari sesuatu seperti piyama agar aku bisa berganti pakaian sehabis mandi. Biarlah, izinnya belakangan. Kalau Kenneth sudah sadar.


Namun, lemari yang kudapati dan berhasil kubuka itu ternyata tak memiliki apa yang kucari. Di sana hanya ada banyak sprei, handuk, bathrobe, dan bedcover. Lalu dimana pakaian-pakaiannya?


Aku menepuk jidat. Lupa. Artis mana cukup pakaiannya di lemari saja. Maka kututup kembali lemari dan berjalan keluar kamar lagi. Sudah pasti dia memiliki walk in closet seperti Reiki juga.


.... . ....


Kesadaran kudapatkan kembali secara tiba-tiba. Entah apa yang terjadi, aku benar-benar lupa. Bagaimana bisa sekarang aku malah berakhir di ranjangnya Ken? Bahkan kulihat laki-laki itu sedang tersenyum manis menatapku, dengan posisinya menopang kepala dengan sebelah tangannya dan berbaring miring menghadapku.


"Rara Sayang ..." suara manisnya terdengar.


Refleks aku bangun dan terduduk sembari memegang selimut agar tetap menutup tubuhku. Walaupun aku sadar kalau pakaianku masih utuh di tempatnya. Kulihat Ken juga bangun dan duduk sepertiku.


"Ken ..." mataku melebar dengan segala pikiran buruk. Tapi aku tidak mau buru-buru menuduhnya.


"Apa?"


"Kok aku bisa tidur di sini?"


Ken mengendikkan bahunya. "Justru aku yang mau tanya. Kok bisa kamu nemenin aku tidur? Eh tapi aku suka banget kok. Buktinya, aku langsung sembuh gara-gara ditemenin tidur sama kamu." dia mengambil tanganku dan meletakkan telapak tanganku pada dahinya.


"Sembuh apanya. Kamu masih hangat."


"Iya tapi 'kan mendingan, Ra. Pusing aku juga sudah jauh berkurang. Mungkin efek obatnya memang manjur, dan kehadiran kamu sebagai penyempurna efek obat."


Aku membuang nafas, tidak terlalu mendengarkan ucapannya barusan. Aku baru ingat, kalau sepertinya aku memang tidur di dekat Ken tadi. Tapi entah kapan aku malah menaiki ranjangnya dan berbagi selimut dengannya.


"Aku nggak sadar tidur di sini."


"Masa?"

__ADS_1


"Ini jam berapa sih?"


"Jam 11."


"Siang?" tanyaku hampir syok.


"Malam."


Huh, hampir saja. Kupikir aku lupa diri dan ...


"Ya ampun, Ken,"


"Kenapa?"


"Aku lapar." Serius, aku selapar itu. Niatnya 'kan setelah mandi, aku mau makan apapun yang dapat kumakan di apart ini. Atau kalau terpaksa aku berniat juga untuk memesan makanan. Tapi yang terjadi malahan aku tidur. Sungguh, itu di luar kendaliku. Kelelahan setelah bekerja memang tak bisa kuhindari.


"Memangnya kamu belum makan malam, Ra?"


"Kalau aku sudah makan ya aku gak bakalan lapar, Ken."


"Iya, sih. Aku juga belum makan. Tapi aku nggak lapar tuh."


"Terserah. Itu perut kamu." aku membuka selimut dan segera turun dari ranjang.


"Eh, kamu mau kemana?"


"Cari makanan di kulkas kamu."


Ken mengekoriku yang berjalan keluar dari kamarnya, dan segera menggeratak di kulkasnya. Di sana banyak buah, roti, susu, minuman kaleng, dan ...


"Nggak ada makanan berat?" tanyaku tanpa menoleh.


"Roti?"


"Ya nggak ada, Ra. Aku lupa bilang sama asistenku buat isi kulkasku lagi."


"Trus aku makan apa dong?"


"Apel aja."


"Mie instan kamu punya?"


"Aku pesenin makanan aja ya?"


"Nggak mau. Kelamaan. Aku mau bikin mie aja."


"Kenapa harus mie instan sih, Ra? Aku nggak setuju deh."


Pada bagian ini, ucapan Ken betul-betul mengingatkanku akan Reiki. Ternyata mereka sama. Keduanya sama-sama tidak menyukai mie instan, dan tidak menyukai bila aku memakan mie instan juga.


"Tapi itu jalan ninjaku kalau lapar berat, Ken." padahal makanan itu memang kegemaranku dan Alya sejak lama.


"Dan di sini nggak ada mie instan. Aku pesenin makanan aja, okay?"


"Lama."


"Nggak lama, Ra." Ken yang hendak berjalan ke kamarnya untuk mengambil ponselnya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Eh, gimana kalau kamu aku buatkan nasi goreng?"


hah?


"Satu. Emangnya kamu punya nasi? Dua. Emangnya kamu bisa masak?"

__ADS_1


Ken melipat kedua tangannya di dada. "Satu. Aku punya nasi. Sebab tadi siang Sam mampir dan bawa nasi serta lauk pauk kesini. Dan aku cuma makan lauknya aja, tapi nasinya nggak aku sentuh. Dua. Ya, aku bisa masak. Aku bukan anak manja yang nggak bisa apa-apa. Selain aku memang sudah terlalu tampan, aku juga pernah belajar di Amerika sendirian. Itu artinya, aku mandiri dan terpaksa jadi bisa masak. Jelas?"


Bisa masak kok terpaksa. Hadehh ...


Aku hanya ber'oh'ria.


Ken segera berjalan menuju kulkas dan mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan untuk nasi gorengnya. Kini aku yang mengekorinya, dan memperhatikan pekerjaannya.


"Kamu yakin mau makan nasi jam segini?"


"Yakinlah."


"Nanti gendut loh, Ra."


"Biarin."


"Oh nggak akan kubiarkan kamu menggendut loh ya. Nanti aku ajak kamu ngegym. Biar kita olahraga bareng," katanya dengan serius, sembari tangannya memotong sosis.


"Aku gak suka olahraga."


"Kamu ini gaya hidupnya gak sehat banget sih, Ra."


"Iya, kah?!"


"Iyalah."


"Aku bantu apa nih?"


"Nggak usah. Kamu nanti makan aja."


"Tapi 'kan kamu lagi sakit, Ken."


"Udah sembuh, sayang. 'Kan tadi sudah kamu temenin tidur."


Aku menampar pelan bahunya. "Apa sih. Udah aku bilang, aku nggak sadar naik ke ranjang kamu."


"Sadar aja kenapa sih, Ra. Aku seneng loh."


Aku hanya menatapnya datar. Dan dia membalasku dengan cengirannya. Tiba-tiba aku mengingat hal yang ingin aku ceritakan kepadanya. "Oh ya, Ken. Ada yang mau aku ceritain ke kamu loh."


"Apa tuh? Penting nih kayaknya."


"Hm, ya ... cerita hidupku ...."


"Ya udah, cerita aja. Kamu mesti ceritalah sama aku. Sebagai pacar, aku mesti tahu cerita kamu."


Selagi aku menimbang untuk memulainya dari mana, bel pintu rupanya berbunyi. Itu membuatku menoleh kepada Ken dengan bingung. "Siapa yang datang malam-malam begini?" tanyaku kepadanya.


"Nggak tahu. Kalau Sam, dia pasti langsung masuk." Ken meletakkan pisaunya. "Ya udah, aku mau lihat dulu. Kamu iris baksonya bisa?"


"Bisalah. Cuma bakso doang."


"Good." sebuah kecupan di pipiku Ken layangkan sebelum ia melangkah menuju pintu.


Aku mulai mengiris bakso menjadi potongan kecil-kecil. Sambil itu, telingaku juga menangkap suara Ken menyambut tamunya. Tamu yang datang jam sebelas malam lebih. Mungkin tamu penting, mengingat seberapa pentingnya sosok Ken saat ini.


Mendadak tanganku yang sedang mengiris menghentikan pergerakannya saat dengan jelas kudengar nama yang disebut Ken saat ini.


"Wah wah ... tumben banget Mas Rei kesini?"


...***...

__ADS_1


Maaf update lama. Aku sibuk urusan dunia nyata .... 😥


__ADS_2