
Tas ranselku telah siap, lengkap dengan isi beberapa pakaian yang –memang pemberian Reiki– tapi aku sudah memilah beberapa buah untuk kubawa dan kurasa akan mampu untuk kubayar suatu hari nanti.
Aku sudah bertekad untuk terbang ke Jepang sesuai dengan tiket yang sudah kupesan kemarin. Masih ada lebih dari empat jam hingga pesawatku berangkat nanti.
Semalam sebelum tidur, untungnya saat Reiki tidak ada di kamarku, Mama menelponku. Kami bicara banyak tentang segala hal baik itu mengenai hari-hariku, perasaanku, dan rencanaku ke depannya seperti apa. Hingga di akhir bicaranya, Mama akhirnya mengatakan sebuah fakta yang membuatku terkejut setengah mati. Katanya, saat ini Papa divonis dokter menderita penyakit kanker darah.
Ya Tuhan.
Itu merupakan sebuah pukulan besar dalam diriku. Bagaimana bisa? Bagaimana itu terjadi sementara aku tidak mengetahui apa-apa selama beberapa waktu ini?
Untuk mengetahui penjelasan Mama lebih jelasnya, maka aku harus segera menemui Papa. Ingin kupeluk pria yang paling aku sayangi di muka bumi itu dan memarahinya. Ya, aku akan memarahinya terlebih dahulu karena telah membohongiku. Mengapa aku tidak diberitahu? Mengapa? Bukankah hanya aku anak mereka satu-satunya. Lalu mengapa rahasia sebesar ini masih saja disembunyikan dariku?
Setelah mengungkapkan kemarahanku, maka selanjutnya aku ingin menemani hari-harinya yang sedang dalam pengobatan di rumah sakit sana. Ya, aku akan berbakti selagi aku masih diberikan kesempatan.
Lantas mengapa Mama baru memberitahuku? Itu juga yang kutanyakan padanya semalam. Rupanya Mama tidak ingin membuatku khawatir. Dan lagi katanya Mama tak ingin merusak hari bahagiaku yang akan diwisuda.
Apa artinya hari bahagiaku kalau Papa sedang menderita, ya kan? Tapi lebih baik aku segera menengok keadaannya sesegera mungkin bukan. Biar hatiku tenang bahwa Papa saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri.
Hanya saja, apa aku perlu memberitahu Reiki? Meminta izin padanya? Oh ayolah, dia bukan siapa-siapaku. Tapi memang sebaiknya Reiki tahu kurasa, agar dia tidak berbuat seenaknya nanti. Atau dia akan melakukan hal yang tidak akan pernah dapat aku bayangkan.
Aku harus menemui Reiki ke kantornya, dimana pria itu berada sekarang. Aku harus bicara baik-baik kepadanya, dan semoga dia tidak perlu mempersulitku. Aku tahu betul watak pria itu.
Huft.
Setengah jam kemudian aku sudah sampai di gedung perkantorannya yang memang letaknya tak seberapa jauh dari apertemennya. Johan yang bersisian denganku kini menunjukkan jalan kepadaku untuk segera menuju lift yang dapat membawa kami pada lantai teratas langsung.
"Om Johan mau ngapain coba ikutin aku?" tanyaku saat berada di lift.
"Saya ada perlu dengan sekretaris bos."
Hanya itu percakapan antara kami. Selebihnya aku memilih diam saja.
Tak lama aku sudah berhenti di depan pintu kantor Reiki. Pintu itu sedikit terbuka. Dan menurut Johan sebaiknya aku langsung masuk saja. Sedangkan Johan terlihat berbicara serius dengan seseorang yang kini kutahu sebagai sekretaris Reiki. Dia laki-laki. Kupikir seorang wanita.
Aku masuk ke ruangannya perlahan. Alangkah terkejutnya aku saat mendapati sebuah pemandangan di depanku sekarang. Bagaimana aku tidak terkejut kalau ternyata Reiki sedang duduk di kursinya SEMBARI memangku seorang wanita.
Ah pasti menurutnya itu hanya hal sepele. Bagaimana bila aku yang berada di posisinya? Sudah pasti dia akan murka.
See?
Aku tidak boleh percaya kepadanya sedikitpun. Tentu aku bodoh bila aku masih saja luluh pada setiap kata-kata manisnya.
"Sayang–" Reiki sedikit mendorong gadis di pangkuannya sehingga mereka terlepas dari posisinya. Dia bangkit dan buru-buru melangkah ke arahku.
"Stop!" aku mengisyaratkan dengan telapak tanganku. Tapi dia tidak peduli dan langsung menyambar tubuhku.
"Please ..."
"Reiki!" itu suara wanita yang tadi berada di pangkuannya.
__ADS_1
"Maria, keluar!" seru Reiki.
"Tapi, Rei–"
"KELUAR KUBILANG!"
Wanita itu menghentakkan kakinya dengan kesal karena bentakkan Reiki barusan. Kemudian dia berjalan keluar sambil mengatakan, "Oke, aku tunggu telponmu, Rei."
Dan pintu tertutup.
Aku masih terdiam dalam dekapan Reiki yang sepertinya sedang menyesali perbuatannya. Oh aku tidak peduli! Aku sudah muak dengannya. Aku kecewa, sakit hati, atau segala rasa sakit ini. Dan hal satu yang pasti ... bahwa aku tidak boleh untuk percaya kepadanya lagi.
Aku tidak sanggup berada di dekatnya terus-menerus.
"Sayang ..." dia mengecup kedua pipiku, keningku, hidungku, dan saat menuju bibirku, aku menggalanginya dengan telapak tanganku.
Aku menggeleng lemah.
"Dia bukan siapa-siapaku," Reiki berupaya menjelaskan kepadaku. "Dia yang datang kepadaku dan aku belum sempat menolaknya,"
Aku tidak selugu itu ...
"Dengar–"
"Tidak, kamu yang harus mendengarkanku, Sayang."
"I love you."
Kalimat ajaibnya membuat hatiku berdebar. Sungguh, aku terkesima sesaat. Tapi sungguh hanya sesaat. Karena aku tidak sebodoh itu untuk langsung percaya padanya kan! Tidak lagi.
"I love you, honey."
Sekarang aku yakin kalau hatiku sudah lebih kuat lagi dalam menghadapi serangan rayuan dan kata-kata manis darinya. Cukup sudah pelajaran yang dapat aku ambil dari kebersamaan kami selama ini.
Aku masih menatapnya datar, menunggu dia menyelesaikan apa yang ingin disampaikannya.
"Jangan salah paham, please ... don't,"
...
"Mas Rei ..." ucapku setelah beberapa saat aku terdia. Aku mau bilang kalau–"
"Tidak boleh ada kata 'pergi'! Jangan pernah ucapkan kata 'pergi'! Oke?"
Aku menghela nafas. Berusaha melepaskan tangannya yang memegang erat kedua bahuku, tapi dia tidak mau melepasnya.
"Reiki!"
Aku dan Reiki sama-sama menoleh pada sumber suara yang tiba-tiba berasal dari arah belakangku. Grandma berdiri di sana dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Reiki membawa bahuku ke dalam pelukannya. Kami berdiri menghadapi grandma. Ingin kulepaskan pelukan ini tapi Reiki itu lebih kuat. Selalu seperti itu.
"Aku tahu, grandma, apa saja yang telah grandma katakan pada Azzura saat datang ke apartemenku waktu itu," ucapan Reiki membuatku tersentak hingga menoleh kepadanya.
"Bagus, kalau kamu sudah mengetahuinya," jawab grandma tak kalah tajam. "Sudah jelas berarti apa saja yang kita permasalahkan di sini."
"Bukan kami, tapi grandma yang mempermasalahkannya."
"Rei, kamu seharusnya sadar siapa kita, siapa kamu. Mana bisa calon istrimu berasal dari kalangan orang biasa. Mau ditaruh mana harga diri keluarga kita?"
"Helena bisa menikah dengan pilihannya. Mengapa aku tidak?" tantang Reiki yang membuatku semakin takut. Ini tidak benar. Aku membuatnya melawan keluarganya. Aku penyebab pertengkaran mereka.
"Erlangga itu masih anaknya relasi Papa kamu. Setidaknya, dia masih sederajat dengan kita. Dan Helena pintar memilih kekasih."
Sudah cukup!
"Selalu derajat yang grandma bicarakan. Memangnya Azzura kenapa? Kurang kaya seperti kita?"
"Mas Rei–" aku hendak menyela agar dia tidak berkata kasar lebih jauh kepada neneknya sendiri.
"Diam, Sayang. Biar aku yang bicara," tukasnya pelan.
"Aku juga mau bicara!" suaraku sedikit lebih keras sehingga Reiki menoleh padaku. "Mengapa Mas Rei tidak tanya pendapatku? Apakah aku bahagia bersama kamu? Apakah aku senang atau tidak?"
"Apa?"
"Mas Rei tidak pernah mendengarkanku. Kamu selalu memaksakan kehendakmu. Asal kamu tahu, aku itu tidak bahagia bersamamu."
"Azzura–"
"Kamu dengar itu, Rei," sela grandma. Anak itu memang tidak pantas denganmu."
"Aku tidak peduli apa perkataanmu, Sayang. Kamu akan tetap di sisiku!" Reiki mengabaikan neneknya dan akan terus mempertahankanku.
"Dengarkan dulu–"
"Tidak, Sayang. Biar aku menghadapi–"
"MAS REI DENGAR AKU DULU!"
Aku menyentak tangannya dari bahuku. Mundur selangkah, aku memegang erat ranselku. Matanya terus memperhatikanku. Baiklah, mungkin ini saatnya aku mengakhiri semuanya. Bisa tidak bisa, mau tidak mau. Ini harus berakhir.
"Aku sudah lelah dengan ini semua. Paksaan kamu, kekangan kamu, dan semua aturan kamu padaku yang bukan siapa-siapa. Kita itu bukan siapa-siapa," tegasku kembali. "Aku benci dengan keadaan ini. Aku ingin bebas. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Karena berada di dekat kamu rasanya aku sulit untuk sekedar bernapas. Padahal kamu bukan seseorang yang berhak atas diriku.
"Aku benci kamu, Mas. Amat sangat ..."
...• • • • •...
Jangan tanyain ALTHAR, entah kenapa sekarang aku gampang banget kehilangan mood buat melanjutkan Mimir sama Athar. 😂
__ADS_1