
Setelah makan malam yang terasa biasa berakhir, kedua orang tua Kenneth mengajakku untuk duduk santai di ruang keluarga. Dan sukses membuatku memiliki pikiran yang tidak-tidak. Aku cemas kalau setelah ini akan ada pembicaraan yang menyakitkan seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Misalnya, perihal mereka yang tak senang akan kedekatanku dengan putra mereka?
maybe
Pengalamanku di keluarga Maheswara adalah pelajaran terbesar dalam hidupku.
Kenneth mengambil tempat dengan santai di sisi kananku. Sedangkan tante Kirana berada di sisi kiriku, namun ada selang satu tempat kosong, tidak sepertiku dan Kenneth yang bersisian. Kemudian om Damar duduk dengan gagahnya di sofa tunggal pada sisi kiri istrinya.
"Tante sudah mendengar cerita tentang orang tuamu, Ra,"
Kalimat pertama yang tante Kirana ucapkan membuatku menoleh padanya. Ah rupanya si Ken telah menceritakan keluargaku pada orang tuanya. Oke, apakah sekarang sudah saatnya aku semakin cemas?
"Tante turut berduka atas apa yang menimpa mamamu," lanjutnya. "Dan juga papamu." ada jeda sejenak dari wanita cantik itu. "Walaupun Tante tidak terlalu akrab dengan mamamu, tapi Tante kenal dengannya. Mbak Widia lah yang sahabat karibnya. Tapi Tante cukup sering bertemu dengan mbak Nadhifa sewaktu dia sedang bermain di rumah Tante bersama mbak Widia.
Aku mencoba untuk tersenyum. "Rupanya dunia sesempit ini ya," aku menyahuti.
"Benar." wanita itu membalas senyumku. "Dan setelah mendengar kabar yang terjadi pada mamamu ... Tante ikut sedih. Sabar ya, sayang."
Oh aku melihat ketulusan di mata tante Kirana. Aku harap dugaanku ini benar.
"Terima kasih, Tante."
"Kamu berhasil melaluinya sendiri, itu merupakan hal yang tak pernah terbayang oleh siapa pun, Ra. Kamu sangat kuat, kamu tahu."
Aku tak tahu harus menjawab apa. Jujur saja, saat ini aku jadi teringat akan mamaku lagi.
Tanpa pernah kuduga tante Kirana sekarang telah membawaku ke dalam pelukannya. Sebuah pelukan hangat yang sarat akan simpati.
"Seorang gadis yang menjadi dewasa dengan penuh kesabaran karena pengalaman hidupnya, adalah sosok ibu yang baik di masa depan nanti, Ra." dia melepaskan pelukannya dan menatapku. "Anggap Tante sebagai pengganti mama kamu ya."
Ha?
Wanita lembut ini baru mengenalku semalam, tapi mengapa dengan mudahnya dia bersikap baik padaku? Memangnya apa saja yang Kenneth ceritakan pada ibunya itu?
Aku tersenyum canggung menanggapinya.
"Azzura!"
Aku menoleh pada panggilan pria gagah yang terlihat tampan di usianya itu. Merupakan hasil warisannya lah garis ketampanan yang kini terpahat jelas di wajah Kenneth, sang putra.
Om Damar tidak mudah tersenyum. Aku menyimpulkan bahwa pria itu mempunyai sifat tegas dan kalem juga sedikit kaku. Sangat berbanding terbalik dengan Kenneth yang cengengesan, petakilan dan manja. Entah mengapa otakku langsung menghubungkan bahwa, Kenneth lebih cocok menjadi anak om Mandala, sedangkan Reiki pas betul bila menjadi anak om Damar.
__ADS_1
Hm, pemikiranku yang ajaib.
"Kamu mau bekerja di tempat Om?" mungkin om Damar terlihat kaku, tapi aku menangkap maksud baiknya padaku. Tawarannya itu cukup membuatku terkejut. Dan ternyata bukan aku sendiri yang terkejut dibuatnya.
"Loh, Papah? Kok jadi begitu pembicaraannya?" protes Kenneth tak suka. "Kan Rara sedang bekerja denganku. Papah gimana sih?"
"Tapi itu hanya sementara, 'kan kamu bilang di awal?"
"Ya iya sih–"
"Kamu bilang, Azzura sambil menunggu mendapat panggilan kerja makanya bersedia menggantikan Maya menjadi asistenmu? Benar?"
"Y-ya tapikan belum dapat, Pah ..."
"Nah sekarang dia dapat tawaran dari Papah. Jadi, semua terserah pada Azzura, Ken."
Ken menatapku sambil menggeleng. "Jangan diterima, Ra. Plis ... pokoknya kamu tetap bekerja di dekatku saja. Aku mau kamu ada dimanapun aku berada. Ya? Ya? Ya?"
"Ken," tante Kirana menyela. "Biarkan Rara memutuskan apa yang diinginkannya."
Aku jadi bingung. Ini terlalu mendadak, 'kan?! Ini tidak ada dalam bayanganku sama sekali sejak datang kemari. Aku fikir pembicaraan akan mengenai hubunganku dengan Kenneth. Atau hal serupa yang misalnya, apa aku harus menjaga jarak dengan anak mereka atau lainnya. Bukan sesuatu mengenai pekerjaan.
Ini terdengar cukup baik kurasa.
"Jangan mau, Ra! Plisss ..." Kenneth masih terus memohon padaku. Wajahnya yang sudah terlihat imut itu terlihat lebih imut lagi, karena ia sedang merengek kepadaku.
"Kamu pikirkan saja dulu, Ra," Om Damar berkata lagi. "Karena Ken bilang kamu sedang menunggu panggilan kerja, makanya Om berniat untuk mencoba membantu kamu supaya dapat diterima di tempat Om. Itu pun kalau kamu setuju ya."
"Iya, Ra. Kamu masih muda, tentunya kamu masih punya banyak impian yang ingin kamu raih, 'kan?" tambah tante Kirana. "Om sama Tante dengan tulus ingin membantumu meraih cita-cita. Apapun itu. Makanya kamu gak perlu sungkan. Senyaman kamu aja. Karena kami juga tidak bermaksud untuk memksa. Terserah kamu. Masa iya kamu lebih memilih jadi baby sitter-nya Ken?"
"Ma, impian Rara itu adalah aku. Jangan buat Rara terbang jauh dari aku, dong– what? baby sitter? kenapa Mama tega bilang begitu?" seru Ken.
Dan aku ingin menyumpal mulutnya dengan tissue sebanyak-banyaknya. Karena apa? karena barusan dia berteriak di dekat telingaku.
"Justru karena Mama gak tega melihat Rara yang kurus ini mesti mengurus banyak kegiatan kamu pastinya, 'kan?! belum lagi sifat manja kamu yang luar biasa itu. Apa kamu tega?"
Kenneth menoleh padaku. Tangannya menggenggam tanganku seraya berkata dengan wajah penuh kekhawatiran. "Iya, Ra. Ternyata kamu memang sekurus ini. Jadwal aku kebanyakan ya? hm? kamu capek? lelah? mau istirahat? kenapa gak bilang sama aku?"
Aku tak sanggup berkata-kata karena cecaran Kenneth yang tanpa jeda itu. "A-aku–"
"Mama mengerti, Ken," tante Kirana menyahuti anaknya. "Kalian itu terlihat cocok dan saling tertarik," aku ingin menyangkal, tapi aku tidak bisa. "... iya, Mama paham. Tapi kamu juga harus bisa menghargai dan mendukung keinginan Rara di masa kini dan masa depan–"
__ADS_1
"Masa depan Rara itu aku, Ma," tegas Kenneth lagi.
Kenneth ini membuatku sebal saja. Tingkahnya seolah mengartikan bahwa aku dan dirinya memiliki hubungan special. Oke, mungkin kedua orang tuanya telah termakan gimmick anak mereka padaku saat pesta malam kemarin. Tapi, 'kan, itu cuma settingan ... yang ... yang ... yang ternyata nyata dari satu pihak?
entah.
"Iya, Om. Aku mau," jawabanku membuat Kenneth histeris lebay.
"Nooooo! Rara, nooooo! Kenapa kamu tega sama aku? Kenapa kamu begitu–"
"Udah, Rara, kamu gak perlu dengarkan Ken untuk saat ini." tante Kirana menepuk pelan bahuku dengan senyumnya yang menangkan. Dia menyiratkan untuk mengabaikan ocehan putranya yang drama King itu. Ken memang aktor juga sih!
"Kapan kamu bisa datang ke kantor Om?" tanya om Damar. "Bagaimana kalau besok, bisa?"
"Bisa, Om."
"Rara, besok aku syuting iklannya di Bogor. Kamu harus ikut aku!" Kenneth sudah terlihat semakin bete dan ia merajuk.
"Sorry, Ken–"
"Gak mau, Ra–"
"Ken! Cukup!" seru papanya tegas. Mau tak mau Ken diam juga tapi dengan cemberut. "Jangan memaksakan apapun kehendak kamu selagi wanitamu tidak menyukainya. Bisa-bisa kamu nanti diputusin. Mau?"
Kenneth menggeleng keras.
Benarkan?! Om Damar dan tante Kirana pasti menyangka dan sudah menganggapku benar-benar berpacaran dengan anaknya.
Ya ampun ... Makin rumit saja rasanya.
Bahkan aku jadi lupa niatan awalku pada hari ini, itu apa, gara-gara si Ken yang menyebalkan.
Ditambah lagi, sekarang aku malah menerima tawaran bekerja di kantor papanya Ken. Haduh, aku salah melangkah. Bukannya menjauh, aku malah jadi terus saja terjebak di sekitar keluarga konglomerat itu.
"Besok bawa saja berkas lamaran kamu pukul 8 ya. Nanti Ken yang akan memberitahu alamat kantor Om."
Ken hanya menggerakkan bibirnya dengan kesal. Karena yang terjadi memang bukan seperti apa yang diinginkannya.
"Iya, Om."
...💖💖💖...
__ADS_1