
...Happy Reading!...
...---...
"Ya ampun ... wajah maha tampan begini, nggak ada cela, sempurna, level artis Korea ... tapi kenapa dia gak mau gue cium sih?
"Beruntung banget 'kan dia jadi pacar gue. Dan apa dia gak sadar kalo di luar sana, jutaan cewek kepengen gue cium. Tapi kenapa dia gak mau? Apa yang salah sih?"
Kenneth berdecak saat tak menemukan kekurangannya, yang membuat sang pacar seperti belum seratus persen menjadi pacarnya. Atau dapat dikatakan kalau ia sadar betul mengenai Azzura yang belum jatuh cinta kepadanya.
Heran, sesusah itukah untuk mencintai cowok sejuta umat seperti dirinya? Maksudnya, dirinya sebagai cowok yang digilai se-Indonesia raya tapi tak mampu diterima gadis itu dengan mudah?
Wow. Sulit dipercaya.
Setelah menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, kemudian Kenneth berjalan menuju mobilnya dan hendak otewe menjemput sang pujaan hati yang akan pulang kerja.
"Kamu mau pergi lagi?" tanya sang mama yang sedang duduk di teras sambil membaca buku saat ia lewati.
Kenneth hanya mengangguk.
"Katanya libur? katanya mau tidur di rumah? Kamu lebih sering berada di apart loh, padahal jelas-jelas Mama kangen sama kamu," protes Mamanya.
Mendengar itu lantas Kenneth segera berlutut di depan wanita yang telah melahirkannya. Digenggamnya tangan sang mama yang tidak memegang buku. "Mama sayang, maafkan anakmu yang kelewat tampan dan kelewat sibuk ini. Aku ntar malam tidur di sini kok. Janji deh."
"Benar ya?"
"Iya."
"Mama tunggu loh."
"Jangan ditunggu. Takutnya aku pulang kemalaman karena pacaran."
"Pacaran sama siapa lagi sih kamu?"
"Ya sama Rara, Ma. Masa Mama lupa?"
"Oh dia mau sama kamu?"
Kenneth memandang mamanya datar. "Doain dong, Ma. Biar dia jadi jodohnya aku. Biar Mama segera punya menantu, trus gak lama lagi punya cucu deh."
Kedua alis Kirana terangkat mendengar ucapan puteranya. "Kamu serius?"
__ADS_1
"Berjuta-juta rius, bahkan tak terhingga alias serius pake banget."
"Pertanyaannya, memangnya Azzura mau?"
"Ya maulah," sahutnya yakin. "Aku yakin kalau aku mampu meyakinkannya, Ma."
"Jadi dia belum yakin?" kenapa tebakan mamanya selalu benar sih? Bikin drop aja.
"Mama ..." keluhnya. "Kenapa ya Rara susah banget terima aku sepenuhnya? Padahal 'kan aku gak ada kurangnya. Aku sempurna banget, ya 'kan, Ma? Coba tanya cewek-cewek satu Indonesia raya, sudah pasti mereka gak bakalan nolak aku."
Kirana tersenyum geli. Dia tahu betul kalau putra semata wayangnya memang setampan itu. Penggemarnya yang melimpah sudah membuktikan kalau anaknya memang populer. Terutama untuk kaum hawa.
"Kok Mama malah senyum kayak gitu? Gak kasihan sama aku? Salah aku apa sih, Ma? Coba Mama terawang deh. Sebagai sesama wanita, Mama pasti ngertilah kurang lebih kayak gimana."
Kirana meletakkan bukunya di meja. Diusapnya pelan punggung tangan Kenneth yang sejak tadi menggenggam tangan kanannya.
"Kamu itu oke pake banget, Sayang."
"Nah, 'kan!"
"Dan Mama rasa, masalahnya bukan ada pada kamu."
"Ya iyalah. Jelas aja Rara salah karena hatinya sekeras baja. Sampai-sampai cowok kualitas dewa kayak aku gak mudah bikin dia luluh. Emang selera dia maunya yang jelek, gitu?"
"Apa, Ma? Kok kentang?"
"Mungkin saja di hatinya Azzura itu masih ada orang lain yang belum bisa dia lupakan. Bisa dibilang belum move on. Makanya, cowok sekeren apapun, mau level dewa kayak kamu, atau level sultan Arab sekali pun maka gak mempan buatnya. Karena hati dia sudah mentok di satu orang."
Kenneth tertegun atas penuturan sang mama.
Apa benar begitu? Kenapa ia tidak pernah berfikir sampai sana?
...-----...
Aku mendapat pesan kalau Kenneth telah menungguku di lobby. Cowok itu memang berniat mengajakku dinner seperti ucapannya tadi pagi. Karena aku takut mendapat kehebohan dengan kedatangan Kenneth untuk menjemputku, maka aku bernegosiasi agar cowok itu menunggu saja di restoran.
Tapi tentu saja Kenneth tidak setuju. Apapun kehebohan yang nanti bakalan terjadi, ia tidak peduli, katanya. Ia hanya bertekad mulai sekarang untuk berhubungan dengan serius kepadaku, tanpa peduli pendapat orang lain. Titik.
Sekali di lobby, tetap di lobby.
Akhirnya aku berfikir untuk meminimalkan kemungkinannya menjadi pusat perhatian. Yaitu, dengan pulang paling akhir dibandingkan rekan-rekannya yang lain.
Tak tanggung-tanggung, setengah jam aku rasa cukup untuk menemukan kantor dalam keadaan sepi, kecuali manusia-manusia lembur yang masih bertahan di mejanya masing-masing.
__ADS_1
Alasanku kepada Kenneth mengapa aku lama turun adalah karena aku sedang menyelesaikan pekerjaan yang nanggung apabila ditinggalkan. Butuh sifat keras kepala agar Kenneth mengalah kepadaku. Alhasil, setengah jam kemudian aku benar-benar baru muncul di lobby, yang aku yakini sudah sepi dan aku juga yakin bahwa Kenneth pastilah akan ngomel-ngomel dan mengeluh karena diriku yang lama.
Namun ...
Sambutan Kenneth tak pernah aku duga. Cowok itu berdiri menyambuku dengan senyuman sambil memegang bunga. Seketika aku menoleh kanan kiri karena khawatir orang-orang langsung memperhatikannya.
"Tangan aku pegal nih," keluh Kenneth dengan senyum yang telah berubah menjadi rajukan.
"..." bukannya aku tidak paham, tapi banyak yang aku pikirkan dengan keadaan di sini, sekarang.
"Ayolah, Ra. Kode itu! Artinya kamu mesti segera ambil bunga ini dari tanganku," ucapnya gemas.
"Iya, aku ngerti. Makasih bunganya." Tanganku mengambil bunga dengan ragu. "Masalahnya, kenapa kamu bikin orang-orang kantor pada tahu sih, Ken?"
"Ya, benar. Masalahnya juga, aku gak peduli mau orang-orang kantor, orang-orang bumi, mars, or whatever ... pada tahu. Karena jelas, aku memang pengen orang sejagad raya tahu hubungan kita."
"Nanti aku viral, Ken," gerutuku pelan sambil membelai bunga-bunga cantik di tanganku. Hatiku sudah lebih rileks. Biarkan cowok di depanku ini yang bertanggung jawab bila nanti aku mendapat masalah akibat adegan ini.
"Calon istriku ya mesti viral dong!" sahutnya enteng.
Kok?
Baru saja aku mau protes, sudah ada suara yang menginterupsi Kenneth dan membuat cowok itu menoleh.
"Pacarnya nih, Mas Ken?" tanya seorang pria berdasi yang sedang berjalan melewati lobby.
"Yoi, Pak. Calon istri lebih tepatnya. Doain ya!"
"Siap, Mas Ken. Semoga lancar!"
Kenneth mengangkat jempolnya menyudahi. Setelah tatapannya kembali kepadaku, kini aku menatapnya jengah. "Bikin gosip aja."
Cowok itu menarik dan menggenggam sebelah tanganku yang tak memegang bunga, lalu membawaku melangkah bersamanya.
"Siapa yang gosip? Ini fakta. Hubungan kita itu adalah fakta. Pokoknya, aku bakalan buat kamu segera jatuh cinta sama aku, dan kita langsung menikah. Beres!"
...---...
Apanya yang beres, Mas artis? Bentar lagi bakalan ada badai loh. 😒 anda nasibnya mau happy end atau sad boy nih? 👀
maaf Bang Athar belum bisa mendarat ya. Aku lagi mood sama Kenneth soalnya. Hehe...
__ADS_1
---Sorry for typo---