
...🎆🎆🎆...
Rumah keluarga Maheswara yang kurindukan. Bukan mengenai fasilitas dan kemewahannya, melainkan pada semua kenangan yang terdapat di dalamnya. Termasuk pertemuan awalku dengan si pria possesif level akut itu.
Masih sama seperti seminggu yang lalu saat aku meninggalkannya. Para bodyguard, security, dan pelayan yang ada di sana tersenyum manis saat melihatku. Tentu saja mereka belum lupa ingatan akan diriku yang pernah tinggal di rumah itu.
"Nona Cinderella kalian come back," bisik Alya menggoda padaku. Aku hanya balas menyenggol lengannya.
Kami berjalan menuju ruang santai atau ruang duduk. Dimana salah seorang pelayan memberitahukan kalau Tante Widia sudah menunggu kami disana.
"Ini rumah apa lapangan ya, rasanya kaki gue pegel cuma mau ke ruangan apa tadi?" keluh Alya masih sambil berbisik.
"Ruang santai."
"Iya, ruang apalah itu. Yang jelas ini rumah terlalu luas buat gue."
"Buat kita," sahutku langsung.
"Emang ada ruangan yang nggak santainya gitu, Raj?"
Aku menghela nafas. Alya memang terkadang terlalu norak. "Kayaknya," jawabku sekenanya.
Tante Widia tersenyum manis begitu kami menghampirinya. Di ruangan ini biasanya keluarga Maheswara menghabiskan waktu luang mereka sambil menikmati kudapan di sore hari. Untuk Om Mandala itu berlaku kalau weekend atau kalau dia pulang lebih awal saja. Karena seingatku selama tinggal disini, hanya tiga kali Om Mandala pulang sore. Selebihnya, dia selalu pulang malam.
"Wah, Tante ... rumahnya gede banget," ujar Alya tanpa menyembunyikan rasa takjubnya.
"Ah biasa saja. Ayo silakan duduk," kata tante Widia sambil tersenyum. Kemudian dia menoleh padaku, "Kangen tidak, Ra?"
Eh?
Aku tertawa kecil. "Aku lebih kangen sama Tante ketimbang sama rumah Tante."
"Ya ... ya ... Tante juga kangen dengan keberadaan kamu di sini. Oya, besok atau lusa Helena akan datang. Dia bilang ingin bertemu kamu, Ra."
"Oh oke, Tante. Aku juga gak sabar kepengen berkenalan dengan Helena."
Dua orang pelayan datang dengan beberapa piring makanan dan minuman lalu meletakkannya dengan rapi di meja.
"Helena siapa?" tanya Alya kepo. Dia mulai mengemil kue kering yang tersaji setelah dipersilahkan oleh Tante Widia.
"Anak Tante yang nomor dua. Seumuran kalian. Makanya, Tante sudah anggap Azzura sudah seperti Helena. Dan Reiki pun sepertinya menemukan pengganti adiknya selagi adiknya jauh dari sini."
Pengganti adiknya?
Seperti itukah diriku?
Alya melirik sekilas ke arahku. Tapi aku tidak bereaksi apa-apa. Aku malah menyesap jus yang telah tersaji. Jus Sirsak kesukaanku. Terima kasih, Tante, karena masih mengingat minuman kesukaanku.
"Pastinya Mas Reiki sayang sekali ya dengan adiknya?" tanya Alya pada Tante Widia.
"Tentu saja. Mereka hanya dua bersaudara. Dan sekarang tiga bersaudara dengan Azzura. Ya kan, Ra?! Jadi Tante serasa punya tiga anak. Dan Reiki memiliki dua adik."
Adik.
Lagi.
__ADS_1
"Jangan sungkan kalau butuh bantuan apapun, Ra," kata Tante Wid sambil mengelus punggung tanganku. Aku memang duduk di dekatnya, sedangkan Alya di sofa tunggal. "Minta pada Reiki pun sama saja. Tante sudah bilang pada Reiki kalau dia harus menganggap kamu sebagai adiknya juga. Jadi apapun bantuan yang kamu butuhkan, Rei harus mau membantu kamu."
Aku mengangguk saja. Dan kulempar senyum biasa saja. Tanpa ada makna menahan perasaan yang sedang melanda.
Aku mengerti.
Aku faham maksud dari kata-kata Tante Wid yang selalu menekankan kata 'adik' kepadaku.
Ah ... ya ... aku tentu tahu batasanku. Aku harus bangun sebelum bermimpi terlalu jauh.
Panas, rasanya ada yang memanas di sudut mataku. Tapi aku harus dapat menahannya agar tidak terlihat oleh siapapun.
Perisai yang mulai hancur kini kembali tebal dan utuh. Bahkan mungkin semakin kuat untuk tidak dapat mudah ditembus lagi. Sejak awal aku sudah memasangnya lalu mengapa sekarang malah hampir terlepas begitu saja? Ck. Sedikit lagi saja pasti aku akan menyesal seumur hidup.
Kini masalahnya, apa yang harus kulakukan untuk menjauh dari Reiki sementara pria itu selalu menempel dan merasa telah memilikiku?
"Besok grandma juga datang," tambahnya.
"Memangnya grandma tinggal dimana, Tante?" itu suara Alya yang bertanya.
"Di Jogja. Beliau tuh selalu bawa calon istri untuk Reiki tapi Reiki belum ada yang cocok juga."
Spontan Alya melirikku lagi. Aku hanya pura-pura asik ikut mengemil seperti dirinya.
"Padahal kata Raju adiknya mas Reiki tuh sudah menikah ya Tante?"
"Iya. Yang muda malah menikah duluan, eh yang sudah cukup umur malah main-main terus. Laki-laki memang begitu kali ya!"
Main-main?
"Iya, Tan. Namanya juga cowok, nanti begitu kecantol jodohnya juga gak bakalan dilepas-lepas. Ya kan, Ra?"
Aku tersedak. Buru-buru aku mengambil jus milikku dan meneguknya lagi.
Alya tuh apa-apaan sih? Kenapa harus bicara begitu di depan Tante Wid? Jangan menjerumuskanku seolah mengkode pada Tante Widia tentang makna ucapannya. Lagi pula, siapa bilang Reiki itu jodohku? Bahkan sekarang aku akan mundur dengan teratur, meskipun jelas-jelas aku belum melangkah lebih jauh. Entahlah, tinggal bersama Reiki apa itu dapat disebut sebuah langkah? Kalau ya, matilah aku!
"Pelan-pelan, Sayang," ucap Tante Wid kepadaku. Kemudian dia kembali menoleh pada Alya. "Alya pasti sudah punya pacar nih ya?"
"Aku mah single happy, Tan. Hehe ..."
"Al, Azzura ada yang ditaksir gak tuh?" tanyanya seraya melirik menggoda padaku. "kepo nih Tante. Azzura kan sudah seperti anak Tante juga."
Alya ternganga sebentar. Sepertinya dia sedang memikirkan jawaban yang tepat. "Ada nggak, Ra?"
Dia malah berbalik bertanya padaku. Huh!
"Aku mau fokus di masa depanku dulu, Tan."
Perasaan cemas mulai melandaku. Apakah sebenarnya Tante Widia sudah mengetahui bahwa aku tinggal di apartemen anaknya itu? Tidak mungkin orang-orang sehebat mereka tidak mampu melacakku, kan?!
Berdasarkan peringatan halus nya tadi, aku mulai menyadari apa yang seharusnya tidak kulakukan dan kubiarkan begitu saja.
...🎲🎲🎲...
Apa aku harus kembali ke apartement Reiki, atau kembali ke kosan Alya saja? Ini benar-benar dilema parah. Bukan karena aku lebih berat kepada Reiki, sudah pasti inginnya aku ya kembali tinggal di kosan bersama Alya. Hanya saja aku tidak ingin keputusanku untuk menghindarinya hanya akan berakhir sia-sia, karena pria itu sudah pasti akan menemukanku lagi dan membawaku kembali ke tempatnya.
__ADS_1
"Pulang sekarang, nona?" tanya Johan membuyarkan lamunanku. Saat ini aku dan Alya memang baru saja selesai makan es krim di sebuah toko es krim, setelah pulang dari rumah keluarga Maheswara setengah jam yang lalu. Sekarang baru pukul lima sore, dan aku amat sangat tidak ingin kembali ke apartement sedini mungkin.
"Om Johan pulang aja sendiri! Aku mau ke kosan sama Alya. Dan om Johan gak perlu mata-matai aku lagi," sahutku sedikit ketus. Sedikit saja, karena aku ngeri juga berhadapan dengan Johan yang tidak memiliki ekspresi itu.
"Silakan, saya antar ke kosan."
Aku lupa kalau Johan itu keras kepala dan hanya menuruti tuannya.
"Aku gak mau diantar."
Kira-kira kalau aku melawan, apa yang akan terjadi ya? Jadi penasaran ...
"Ayo!" Alya baru menghampiriku setelah membeli beberapa eskrim lagi untuk dibawa pulang. Tapi dia bingung melihatku yang sedang diam menatap Johan yang berdiri di dekat pintu mobil. "Kenapa sih?"
"Kita naik taksi aja ya, Al."
"Ha? Ngapain? Jangan gila deh, udah ayo! Ada mobil cakep plus gratis kok malah milih naik taksi." Alya berjalan lebih dulu ke mobil dan langsung masuk ke dalam setelah Johan membukakannya.
Hiiiihh ...
Kenapa malah Alya ikut berada di pihak Reiki sekarang? Bukannya mendukungku, dia malah memanfaatkan situasiku. Dasar Alya!
.
.
"Udah sana balik lo ... ntar dicariin laki lo kan bisa berabe." Alya mengusirku sejak sejam yang lalu.
"Sembarangan aja kalo ngomong!"
"Udah jam 9, Ra. Ntar Reiki murka trus gue ikut jadi korban gimana hayo? Dan lagi kalo misalnya dia jadi ngejauhin kita berdua, alias lo gak boleh berteman lagi sama gue kan bisa gawat! Gue cinta lo, Raju jelek! Malahan Radit kagak pulang-pulang. Nanti temen gue siapa dong?"
Ah ya ... Radit sedang keluar kota karena ada acara pernikahan sepupunya.
"Drama banget lo!"
"Sana pulang! Kasihan Johan tuh. Dia gak istirahat kan gara-gara nungguin lo disini."
"Salah dia sendiri yang gak mau pergi. Emang gue pikirin."
"Jangan jahat, Ra ..."
"Mereka yang jahat duluan sama gue. Lagian, lo gak ngerti-ngerti sih udah gue jelasin dari tadi tentang Tante Widia. Ini gue bisa dalam masalah, Al, kalo gue terus-terusan tinggal di apart Reiki."
"Iya gue ngerti banget, Raju. Tapi gue juga ngerti tabiat laki lo itu. Masa kosan kita dibikin ribut mulu sih sama dia? Tega deh e lo ..."
Benar juga sih. Tapi ...
"Dia bukan laki gue," ucapku penuh penekanan sambil melotot. "Dan kalo lo mau gue pulang ke apart, lo wajib ikut sama gue!"
Alya mengerutkan keningnya langsung. "NOOO! Enak aja, gak mau!"
Aku tersenyum mengancam. "Ya udah kalo lo gak mau, gue doain lo malam ini tidurnya ditemenin sama kunti-"
Alya melotot. "IYA IYA GUE IKUT LO! PUAS HAH?! PUAS?!"
__ADS_1
...🍀🍁🍀🍁...