Like Drama

Like Drama
Fifty Six


__ADS_3

Happy reading!


Berkali-kali aku memutar tubuhku di depan cermin. Rasanya selalu ada yang membuatku tidak puas dengan penampilanku saat ini. Entah itu apa.


"Udah cantik yailah," ujar Alya dengan malas. Dia memperhatikanku dengan sinis sambil mengunyah keripik kentangnya di tempat tidurku. "Udah sana jadian sekalian sama Kenneth. Dan lo bakal menghancurkan hati jutaan cewek di muka bumi, termasuk gue."


Aku sudah menceritakan pada Alya perihal Kenneth yang menembakku kemarin malam. Selain histeris dan menganga lebay, Alya mewek dengan gilanya. Berulang kali dia menyuarakan iri dengan keras.


Lalu Kenneth, besok cowok itu akan menagih jawabanku. Jujur saja aku belum siap untuk menjawabnya. Tapi aku santai saja, tanpa merasa terbebani sedikitpun. Senyaman itulah aku berada di dekat Kenneth meskipun mendapati kenyataan bahwa dia memiliki rasa special kepadaku.


"Iya bakal gue pertimbangkan saran lo." aku masih merapihkan tatanan rambutku yang malam ini ku gerai saja. "Ada yang kurang gak ya, Al?"


"Ada. Kurang tega sama gue." Alya tentu saja selalu sensi tiap kali bicara padaku. Karena baginya, Kenneth adalah milik bersama untuk semua perempuan satu Indonesia bahkan, se Asia Tenggara.


Aku melirik jam tanganku. Mungkin sebentar lagi Kenneth akan datang menjemputku.


Dia mengajakku untuk menghadiri pesta pertunangan sepupunya. Dia memaksaku untuk datang bersamanya, pastinya. Walaupun aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mau, bahkan dengan mengatakan bahwa Alya akan membunuhku sekalipun, Kenneth tetap memaksaku.


Aku mencolek dagu Alya. "Ih sensi amat, Non."


"Lo tuh berada di posisi yang semua cewek harapkan, Ra,"


"Iya-iya ... lo udah ngomong kayak gitu berkali-kali, Al."


"Makanya, lo jangan sampe bikin Kenneth patah hati. Awas aja lo! Berani bikin Kenneth sedih, lo berhadapan sama gue."


"Lah? Yang sahabat lo itu kan gue, Al."


"Lo emang sahabat gue, tapi Kenneth suami bersama bagi gue dan perempuan sejagad Indonesia dan seAsia Tenggara."


"Oh oke." Fans yang bucinnya mendarah daging begini nih.


"Makanya, lo kudu harus terima Kenneth. Jangan patahin hatinya. Ngerti, Raju Kapoor?!"


"Jadi gue mesti terima Ken?"


"HARUS!"


"Ntar lo patah hati dong?"


"Biarin gue yang patah hati, asal jangan Kennethku sayang."


Aku menghela nafas. Oh begitulah, rupa-rupa seorang fans fanatik yang mendapati bahwa idolanya ternyata naksir pada sahabatnya.

__ADS_1


"Lo gak bakal bunuh gue kan, Al?"


"Nggak kayaknya. Omongan gue yang kemaren ... lupain deh. Sekarang gue udah sedikit ikhlas meskipun belum sepenuhnya waras."


"Kok gue jadi ngeri sama lo, Al."


"Ah udah sana pergi! Tungguin ayank Kenneth di depan aja. Kalo dia masuk kesini, gue gak jamin gak bakal bisa lepasin dia."


Seratus persen Alya mengerikan!


Baru saja aku membuka pintu kontrakan, nampak Kenneth yang keluar dari dalam mobilnya. Dia mempersilahkanku dengan isyarat tangannya, agar aku segera memasuki mobilnya. Lalu dia sendiri menyusul duduk di sampingku. Setelahnya, segera sopir menjalankan mobil menuju tempat acara.


"Rara cantik ih," ucap Kenneth dengan senyuman lebarnya.


Tapi saat aku menoleh, cowok itu tidak sedang menatapku. Melainkan pandangannya keluar jendela di sisi kanannya.


Loh kenapa?


Apa jangan-jangan.


Aku meraup wajahnya agar menoleh padaku.


"Ken?"


Serius? Masa sih? Ken terlihat malu-malu seperti itu? Bahkan aku belum pernah melihat sisinya yang seperti itu. Benerankah?


"Aku malu, Ra."


"Malu kenapa? Jangan akting polos begitu deh, gak pantas, tau."


Dia berdecak. "Aku gak jadi malu deh. Kamu sih ngomongnya begitu. Siapa juga yang akting? Aku kan seriusan malu buat jujur sama kamu kalau malam ini kamu beneran cantik banget, Ra."


"Kenapa kamu harus malu? Bukannya kamu tuh manusia dengan tingkat kepedan yang luar binasa?"


"Rara ... aku begini tuh karena–"


"Ya?"


"Karena memang aku punya rasa sama kamu. Dan ini pertama kalinya dalam hidupku kalau aku takut kehilangan seorang cewek."


Perkataan Kenneth barusan sukses membuatku melepaskan tanganku dari wajahnya seketika.


Aku mulai merasa bahwa perasaan Kenneth sedikit demi sedikit tersampaikan juga akhirnya padaku.

__ADS_1


Sepanjang sisa perjalanan kami saling terdiam. Dan ini pertama kalinya Kenneth menjadi sosok yang kalem. Entah mengapa aku jadi canggung juga.


Akhirnya Kenneth buka suara lagi saat kami sudah tiba di tempat acara. Aku agak gugup sebenarnya. Bukankah ini acara sepupunya, maka berarti ada keluarga besarnya juga, kan?! Aku jadi merasakan sesuatu yang tak asing. Yakni, sebuah perasaan takut menghadapi orang tua. Ah tunggu, aku melupakan satu hal ...


"Ken, tunggu–" aku menahannya sebelum dia membuka pintu mobil.


"Kenapa?"


"Apa ... orang tua kamu ... ada?"


Kenneth menatapku bingung. "Cuma ada nyokap. Kenapa memangnya?"


Oke, perasaan takut ini semakin jelas. Dapat dikatakan kalau aku sedikit trauma dengan hal-hal berbau orang kaya dan keluarganya. Aku punya pengalaman buruk tentang itu kan. Dan sungguh aku tak akan pernah mengulanginya lagi. Maka sudah dapat kupastikan apa yang akan aku jawab untuk Kenneth besok.


Aku hampir melupakan itu. Kenyataan bahwa Kenneth bukanlah orang biasa, kini membuat hatiku agak mencelos. Ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tak akan pernah berhubungan dengan orang kaya lagi. Tidak akan.


"Um, boleh aku pulang aja?"


"Ya ampun, Ra, kamu kenapa sih?" Kenneth sudah turun dari mobil. Dia berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untukku. "Ayo!" ajaknya dengan lembut.


Oh Tuhan, aku tidak boleh melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.


"Ken, bisa janji sama aku?"


"Apa?"


"Kalau ada yang bertanya, boleh kan kamu jawab kalau aku adalah temanmu?"


Kenneth terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia tersenyum lebar. Senyum itu yang selalu menghangatkan tiap kali melihatnya.


"Santai, Ra. Jangan gugup begitu deh! Kita kan memang masih sebagai teman, walaupun sedang otewe tahap selanjutnya."


Dia menarik tanganku. Mau tak mau aku turun juga. Sudah terlanjur. Aku menyesal tapi aku tidak bisa mundur. Kenneth pasti tidak akan membiarkanku untuk pergi begitu saja. "Tenang aja deh, Ra. Kamu tuh cantik banget tau gak," bisiknya di telingaku. Tangannya menggenggam erat tanganku.


Kemudian ...


Tak pernah kusangka, kilatan blitz dan cahaya saling susul menyusul menyorot ke arahku dan Kenneth. Beragam pertanyaan sudah memenuhi kedua telingaku.


Oh my ...


Mengapa banyak wartawan di sini? Apa aku baru saja melupakan kalau Kenneth adalah sosok paling disorot saat ini?


Beragam pertanyaan yang terlontar memenuhi pendengaranku itu membuatku gugup. Aku tidak siap dengan ini semua. Dan sepertinya Kenneth menyadari ketidaknyamananku. Dia malah melingkarkan lengannya di pinggangku, yang justru semakin membuatku tidak nyaman lagi.

__ADS_1


...• • • • •...


__ADS_2