Like Drama

Like Drama
Eighty Seven


__ADS_3

...Selamat membaca!...


...*******...


Terlalu cepat ketika seseorang menarik siku sebelah tanganku dan aku dihempas ke dalam dekapannya. Yang aku sadari kemudian adalah bau tubuhnya, wangi parfumnya yang tak berubah dan sudah aku hafal betul di luar kepala.


Seketika tangisanku pecah lagi. Bahkan kini aku larut dalam mengeluarkan semua sesak di dada karena aku tahu saat ini adalah tempat ternyaman yang aku butuhkan. Dekapan hangat serta belaian lembut itu, aku amat menyukainya baik itu di waktu lalu maupun pada detik ini.


Aku lelah. Semua cerita hidupku terasa bagai mimpi yang menyedihkan. Sebuah mimpi buruk yang tak ada akhirnya. Hanya ada duka, lara, dan derita. Maka, Tuhan tolong ... hentikan waktu untuk saat ini saja. Biarkan aku merasakan kenyamanan ini sebentaaar ... saja. Sebab ketika aku melepaskannya, maka aku tahu kalau semua adalah sementara. Hanya kenyamanan semu belaka.


Ketika aku meredakan tangisku dan tersisa sembab saja, aku yang hendak menarik diri dari pelukan hangat itu malah ditariknya kembali agar terus pada posisi seperti tadi. Namun, aku menyadari bahwa ini bukan tempat dan keadaan yang tepat.


"Lepas–"


"Diam!" perintahnya pelan.


Dari nada suaranya aku tahu kalau dia sedang menenangkanku, atau memberikan kekuatan untukku bersandar seperti yang aku butuhkan.


"Jangan begini, Mas," aku masih mencoba untuk melepaskan diri lagi. Tapi dia tetap menggenggamku kuat walau membiarkanku untuk lepas dari pelukannya.


Diseka dan dibelainya pipiku yang masih memiliki jejak-jejak air mata. Ditatapnya aku dengan kernyitan di dahinya. "Sayang,"


"Aku baik-baik saja, Mas."


"Aku tidak melihatnya begitu."


"Serius. Aku masih baik-baik saja. Yang barusan itu cuma–" apa kiranya alasanku yang tepat supaya dia percaya. "Cuma sekedar reaksi atas komentar jahat. Jadi wajar aja kalau–"


"Siapa yang berani berkomentar jahat di depan kamu?" tanya Reiki dingin.


Aku jelas paham kalau ekspresi wajahnya yang seperti ini adalah karena marah. Atau lebih tepatnya menahan amarah.


Maka aku hanya menggeleng sebagai jawaban. "Nggak. Bukan begitu." aku tidak akan pernah memprovokasi pria di depanku ini. Segala perbuatan sanggup ia lakukan bila marahnya tak terkendali. Dan aku sungguh tidak berharap itu terjadi.


"Katakan saja, Azzura,"

__ADS_1


Tak berhenti gelenganku yang bersikeras agar dia tidak melanjutkan pembahasan ini. Aku salah bicara.


"Aku capek, Mas. Kayaknya aku nggak enak badan."


Memang, rasanya sakit kepalaku yang semalam kambuh lagi. Ditambah dengan rasa dingin yang menerpa kulitku membuatku semakin tersiksa dengan posisi seperti ini. Aku ingin rebahan. Aku ingin tidur supaya pusing di kepalaku mereda.


Reiki memegang dahiku, pipiku, dan membelai seluruh wajahku dengan lembutnya. "Kamu demam. Sejak awal aku sudah merasakannya. Baiklah, kita pulang sekarang."


Dia menarik tanganku dengan lembut dan menuntunku berjalan keluar dari toilet. Seperti dugaanku kalau pegawai lain yang melihat kami langsung menjadi tertarik dan mulai berbisik-bisik.


"Tapi Pak Damar–"


Maksudku, aku ingin izin pulang secara baik-baik, supaya om Damar nanti tahu kalau aku mengerti ucapannya tadi dengan baik. Aku tidak sedang berlaku tidak sopan atau membuatnya semakin malu lagi.


"Biar aku yang urus nanti."


Sudah kuduga.


"Tas aku–"


Seperti biasa, Reiki dengan segala kendalinya yang bahkan aku tidak mengerti seberapa hebatnya.


...- - -...


Entah sudah berapa lamanya aku hilang kesadaran dan saat aku membuka mataku kembali maka warna putih gadinglah yang nampak mendominasi ruangan yang kudapati sekarang.


Ini di mana?


Sebuah ruangan kamar terlihat begitu besar dan mewah, bersih, serta harumnya yang menenangkan membuatku nyaman seketika. Kemudian ingatanku beralih pada waktu aku masih membuka mataku. Dan sosok Reiki-lah jawaban mengapa aku di sini.


Ah ya ... ini kamar apartemen Reiki. Kamar yang pernah kutempati dan amat akrab dengan hidupku beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa bagian yang nampak berubah dari sebelumnya hingga aku hampir tak mengenali ruangan ini. Misalnya dengan nakas, lampu tidur, warna dinding yang tak hanya ada warna putih saja, melainkan ada sentuhan warna silver pada beberapa tempat.


Tak heran bila aku berakhir di sini. Sayangnya aku belum mampu untuk menolak semua ini, dikarenakan kondisi tubuhku yang terasa lemah dan sedikit demam saat ini.


Aku menoleh ketika pintu kamar terbuka. Sang pemilik kamarlah yang baru saja masuk dengan sebuah baki di sebelah tangannya. Dia berjalan perlahan menuju ke arahku, tanpa melepaskan sedikitpun tatapan dari mataku. Aku yang terlalu sedih ini mampu menyembunyikan blushing akibat dari tatapan maut seorang Reiki Maheswara.

__ADS_1


"Kamu harus makan, Sayang. Setelah itu kamu mesti minum obat."


Dia meletakkan baki tadi di atas nakas. Semangkuk makanan diambilnya dan dia bersiap untuk menyuapiku. Aku yakin.


"Aku suapi bubur ya,"


Aku yang memang tak ada sedikit pun keinginan untuk makan kini hanya menggeleng lemah.


"Azzura sayang, kamu harus makan," katanya dengan sedikit penekanan. "Aku tidak mau kamu lebih buruk lagi dari ini."


Mataku beralih menatap jendela di sisi kananku. Pikiranku sudah sepenuhnya rapuh dan putus asa akan semua yang terjadi dalam hidupku. Jadi biarlah, biar saja bila kondisiku memburuk. Biar mati sekalian!


Memangnya aku harus apa? Tidak ada yang pantas untuk kugapai sekalipun aku menginginkannya. Semua bukan milikku. Semua bukan untukku. Aku hanya ada aku sendiri di dunia ini.


Sebuah sentuhan pada bibirku tiba-tiba membuatku terkejut lalu menoleh dan mendapati kalau barusan Reiki yang mengecupnya. Ya, dia menciumku tanpa permisi, seperti biasa.


"Makan dulu, Sayang. Please ... jangan biarkan aku yang malah 'memakanmu'," godanya dengan senyum tipis andalannya. Yap, pesona Reiki adalah pada senyum tipisnya yang membuatku seringkali jadi tersipu.


"Aku nggak kepengen makan, Mas."


"No. You must eat, honey. Atau aku akan marah."


Apakah dia mengkhawatirkanku? Masih ada yang mengkhawatirkanku? Masih ada yang menyelamatkanku dari lubang kepedihan ini?


Pikiran itu membuat air mataku meleleh begitu saja. Segera kuhapus sebelum berubah menjadi lebih deras.


"Ssshh," dia membelai pipiku. "Don't be sad," lalu dia mencium keningku. "Everything will be fine, honey. I love you so bad."


Kalimatnya malah membuatku semakin terisak dan membuatnya mendekapku lagi seperti di toilet tadi. Kembali dia memberiku rasa nyaman itu, dengan tanpa aku memikirkan kata-kata manisnya barusan. Serius, aku lebih kepada merasa nyaman dan aman berada di dalam pelukannya, dibandingkan mengingat bahwa barusan dia mengatakan cinta kepadaku seperti waktu itu.


Rasa nyaman yang kudapati saat bersama Reiki ternyata tidak sama dengan yang kudapati ketika bersama Kenneth. Benar, aku sadari itu sekarang. Mungkin aku memang nyaman bersama Ken, akan tetapi rasa khawatirku lebih besar lagi kepadanya. Karena aku takut bila Ken mengalami kehancuran, mendapat hal-hal buruk disebabkan oleh kedekatannya denganku. Juga banyak kekhawatiranku yang lain andai Kenneth bersamaku.


Berbeda ketika aku bersama Reiki. Aku nyaman bersamanya, tapi aku tidak memiliki kekhawatiran apa-apa lagi. Karena aku tahu seberapa hebatnya Reiki dengan dirinya sendiri. Bukan berarti Ken tidak hebat. Bukan itu. Lebih kepada Reiki mampu aku jadikan andalan, sandaran, tanpa perlu mencemaskan dia akan terluka karena aku. Karena pria seperti Reiki tak mampu terluka dengan mudahnya. Dan karena Reiki mampu meyakinkanku bahwa dia tidak akan mudah dijatuhkan walau dunia melawannya sekalipun.


Itu jelas berbeda dengan Kenneth yang memiliki reputasi, karir dan nama besar, serta yang paling terpenting adalah mimpinya sebagai seorang superstar. Ya, aku mengkhawatirkan kalau keberadaanku mampu menghancurkan segala yang dimiliki oleh seorang Kenneth Barata. Kini jelas aku mampu membedakan perasaan apa dan kepada siapa yang ada di dalam hatiku. Namun sayangnya, siapapun itu, tak ada yang ditakdirkan untukku.

__ADS_1


...***...


__ADS_2