Like Drama

Like Drama
Ninety


__ADS_3

...Happy Reading!...


Aku sedang menahan kesal sejak sore tadi, karena rupanya Reiki telah mengganti nomorku, tanpa sepengetahuanku. Dia seenaknya? sudah biasa. Memang selalu seperti itu tingkahnya bila terhadapku. Aku tidak habis pikir alasannya agar aku tidak dapat dihubungi oleh Kenneth lagi.


Ya tapi tidak harus mengganti nomorku juga, 'kan!


Rasa haus membuatku melangkah menuju dapur dan membuka lemari es. Segelas air putih masih dalam genggamanku saat pria itu pulang dan langsung mengecup singkat bibir basahku. Lalu tangannya menarik tanganku yang sedang memegang gelas itu dan dia membawanya mendekati mulutnya. Dia meminum minumanku.


"Aku masih kesal," ucapku pelan. "Sekarang aku nggak hafal nomor baruku."


"Belum hafal, Sayang." dia meralatku.


"Alya sama Radit sudah aku kabari." Untungnya pria possesif ini tidak memblacklist kedua sahabatku itu. Terutama setelah kukatakan kalau Alya dan Radit kini memiliki hubungan special. Dia semakin longgar membiarkanku menghubungi mereka.


Reiki mengangguk sembari jemarinya memilin rambutku.


"Mereka pengen ke sini. Boleh, 'kan?!"


"Asal tidak ada Kenneth, boleh."


Aku menghela nafas diam-diam. Rasa bersalah memenuhi dadaku manakala nama Kenneth disebut. Sungguh, Ken adalah teman yang sebaik itu. Dia menyanyangiku. Dia tanpa cela kecuali aku yang tidak membalas cintanya.


"Tidak bisa kalau kita berdamai saja dengan Ken?" tanyaku pelan.


Seketika tatapan mata Reiki berubah tak suka. Aku tahu kalau pria di depanku ini amat mudah marah apalagi bila itu menyangkut sepupunya.


"Aku ..."

__ADS_1


"Hentikan, Sayang. Jangan buat aku marah."


"Aku kasihan sama dia, Mas. Dia pernah menjadi bagian dari hidupku yang menyenang–"


"Justru itu," suara dalam Reiki membuatku merinding. Dia bukan pria yang suka membentak, tapi ucapan ketidak sukaannya yang terdengar cukup menyeramkan membuatku langsung diam. "Kita harus meninggalkan masa lalu untuk memulai hidup yang bahagia, Zura. Tanpa terkecuali. Kalau mereka ingin berdamai dengan kita, silakan biar mereka yang menerima kita seutuhnya. Bukan kita yang mencoba untuk meyakinkan mereka lagi, sebab sekeras apapun kita berusaha hanya kitalah yang akan menerima rasa sakitnya."


Kalimat Reiki amat membuatku bahagia. Dia selalu mengatakan kita untuk mewakilkan deritaku, nasibku, dan masalahku. Itu artinya dia tidak akan meninggalkanku sendiri lagi apapun yang terjadi.


Seketika aku menubruk dadanya karena terharu. Gelas yang masih berada di tanganku kini diambil alih olehnya, yang kudengar dia meletakkannya di meja. Lalu tangannya tadi bergerak untuk memelukku erat sembari sebelah tangan yang lainnya mengusap sayang kepalaku.


Aku mengerti, Mas. Aku amat mengerti sekarang maksudmu melindungiku. Perasaan bersalahku kepada Kenneth tadi seketika lenyap sudah. Memang benar kalau sekarang adalah waktunya untukku bahagia. Untuk kami berdua bahagia.


"Maaf," lirihku yang dibalas dengan sebuah kecupan hangat pada puncak kepalaku. Aku sudah tidak mengingkan apa-apa lagi sekarang. Cukup Reiki seorang, maka bahagia sudah menjadi milikku.


"Mas mandi sana. Katanya mau makan malam?" aku mendongak menatapnya tanpa melepaskan pelukan kami.


Dia mengecup singkat ujung hidungku. "Baiklah. Tapi kamu yang siapkan pakaianku."


Aku tersenyum dan mengangguk.


...----------------...


"Sini," perintah Reiki seraya menepuk singkat sisi ranjang yang dia tempati. "Kamu tidak mendadak takut untuk tidur denganku, 'kan?!"


Aku memang sedang ragu untuk menaiki ranjang yang sama dengannya. Kalau malam-malam sebelumnya aku pasrah tidur dalam pelukannya sebab hatiku yang amat tidak baik-baik saja, tapi malam ini entah kenapa aku ragu untuk tidur bersamanya. Memang sebelumnya kami hanya benar-benar tidur tanpa lebih, yang aku tahu pasti seberapa besar dia sedang berusaha menjaga dan melindingiku.


Aku menggeleng pelan menanggapinya.

__ADS_1


"Lalu mengapa sejak tadi kamu menjauhiku? Ayolah, Sayang. Aku sangat peka dengan setiap jarak yang kamu berikan."


"Bukan begitu," kataku seraya berjalan mendekatinya juga. Bahkan kakiku baru saja menaiki ranjang, tapi tangan dia sudah menarik pinggangku lebih dulu dan membawaku ke dalam pangkuannya. "Mas–"


"Hm?" jemarinya amat suka membelai rambutku yang menjuntai. Terkadang aku merasa kalau aku seperti anaknya karena seringnya dia mengangkatku dan menggendongku di manapun.


"Aku ...," bagaimana mengatakannya kalau aku ingin menikah dengannya. Bukan karena aku ngebet, kegilaan atau sejenisnya. Aku hanya takut kalau dia akhirnya menyentuhku padahal kami belum ada ikatan pernikahan. Terlebih kalau setiap malam sejak kami tidur bersama, dia selalu saja menghilangkan atasan pakaian tidurku.


"Apa, Sayang?"


Aku menggeleng. Mana bisa aku meminta menikah duluan. Itu tidak mungkin aku lakukan. "Aku pengen jalan-jalan besok, tapi Mas Rei masih sibuk." Aku beralasan.


"Siapa bilang? Besok aku libur. Dua puluh empat jam waktuku hanya untukmu."


Senyumku merekah. "Benarkah?"


Dia membalas senyumku juga. Bahkan dia mengecup gemas bibirku, yang apabila aku biarkan maka itu akan menjadi ******* dan berbahaya.


"Kamu mau kemana memangnya?"


"Gunung."


"Easy."


"Thank you."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2