Like Drama

Like Drama
Sixty Eight


__ADS_3

Sorry, slow update. 😆


...----*----...


"Ken, aku boleh jadi asistenmu lagi, nggak?"


"Ya bolehlah. 'Kan emang itu yang aku mau malahan."


Kenneth sangat antusias ketika mendengar kalimatku barusan. Padahal itu masih dalam tahap pemikiranku yang sedang gamang saja. Masih antara iya dan nggak, belum benar-benar mampu kuputuskan.


"Lupain deh, aku cuma bercanda." Tuh 'kan, semudah itu menarik kata-kataku tadi.


"Yah ... Rara ... pehape doang ih,"


Aku tersenyum tipis. Sebenarnya itu adalah niatku sejak semalam. Saking aku takutnya dengan kenyataan bahwa aku mesti kembali berhadapan dengan Reiki lagi. Maka satu cara yang terlintas di kepalaku adalah dengan kembali pada pekerjaan lamaku di sisi Kenneth.


Tapi kemudian, setelah aku fikir-fikir lagi, bukankah aku terlalu tidak sopan, atau malah tak tahu terima kasih pada om Damar yang sudah memberikanku sebuah pekerjaan yang aku inginkan selama ini? Dengan alasan kepentingan pribadi, apa aku harus menghancurkan kepercayaan papa Kenneth itu? Bahkan mungkin saja akan merusak nama baik beliau sebagai bos, 'kan?! Lalu, andaikata aku berniat melamar kembali di perusahaannya suatu hari nanti, besar kemungkinan kalau aku tidak akan pernah diterima. Jelas sekali. Singkat cerita, maka aku jadi pengangguran lagi.


Itu terlalu buruk untuk rakyat jelata macam aku yang amat membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup.


"Kamu gak suka bekerja di kantor Papaku nih?" tangan Kenneth menggenggam sebelah tanganku. Kami sedang dalam perjalanan menuju kantor tempatku bekerja di hari berikutnya, alias perusahaan papanya.


"Siapa bilang?"


"Loh barusan kamu kepengen jadi asistenku lagi,"


"Itu cuma iseng," elakku. Aku belum berniat untuk jujur isi hatiku sekarang kepadanya. "Aku senang kok bekerja di kantor Papa kamu." kalau itu aku sangat jujur. "Aku amat sangat bersyukur bisa memiliki pekerjaan dengan mudahnya. Malahan aku juga sudah punya teman di sana."


"Oh ya?" Kenneth mengernyit ketika menoleh sesaat. "Cowok nih pasti. Kamu gak boleh kasih harapan sama cowok-cowok di sana loh, Ra. Awas aja, nanti bakal aku umumin kalo kamu calon menantu bos mereka."


"Apa sih, Ken?" sahutku jengah. "Kamu jangan gitu dong. Nanti hidupku bisa rusak."

__ADS_1


"LOH?" suara Kenneth meninghi karena tak setuju dengan ucapan asalku. "Apanya yang merusak hidup kamu, Ra? 'Kan memang bener kalo kamu itu calon menantu Papaku. Hidup kamu bukan rusak, tapi malah meningkat."


"Siapa bilang?" aku masih acuh tak acuh meladeninya.


"AKU! KENNETH L3ON5 YANG BILANG!"


"B aja dong, Mas." kali ini aku lebih kalem, sengaja sedikit menggodanya.


"Ih aku suka sih kalo kamu panggil aku 'Mas'."


Tuh 'kan dia langsung jinak lagi seraya senyum-senyum kesenengan.


Aku hanya mengulum senyum geli karenanya. Memang, Kenneth ini selucu itu. Wataknya yang mudah ditebak, orang yang mudah dirayu, dan orang yang mudah membuatku tertawa.


"Eh iya," senyum Kenneth lenyap. "Jangan bilang kalo kamu udah lupa dengan status kamu ya, Ra?"


"Status apa?"


Ini yang membuat aku jadi kepikiran juga. Status yang Kenneth putuskan tidak sejalan dengan hatiku. Atau lebih tepatnya belum. Aku belum memiliki rasa lebih pada lelaki tampan ini.


But, tidak ada salahnya kalau aku mencobanya. Sudah terlanjur jadi begini, dan aku yang payah karna tidak bisa mengendalikan hidupku sendiri.


Oke, Zura ... ikuti saja alurnya ...


"Iya-iya. Kita pacaran. Ya, 'kan?!"


"Nah itu inget!" serunya senang. "Awas aja pura-pura lupa dan merasa jomblo lagi. Aku langsung nikahin kamu loh."


Ya ampun. Anak ini ...


"Pokoknya kalo ada yang deketin kamu, itu kamu harus langsung bilang kalo kamu sudah taken." Aku ingin protes, tapi dia tidak membiarkan. "Kamu sudah ada yang punya. Apa perlu aku beliin kamu cincin sekarang?"

__ADS_1


"Nggaklah, Ken! Nggak perlu."


"Segitu menolaknya kamu ya ... aku kok jadi curiga ...."


Aku memutar bola mataku. " Udah ah, gak usah bahas itu lagi. Sekarang bahas kamu aja. Jadi job kamu di Bogor udah selesai nih?"


"Iya, udah," sahutnya setengah rela untuk mengalihkan percakapan. "Kemarin itu yang terakhir. Ra, nanti malam kita dinner ya?"


"Terserah kamu."


"Sekalian aku mau kenalin kamu sama sahabat aku yang baru pulang dari Paris."


"Aku interovert, Ken." aku memang agak sulit untuk berbasa basi dengan orang baru, kalau bukan orang itu duluan yang mengajakku bicara. Aku juga kurang suka keramaian, dan lebih damai dalam keheningan.


"Gak usah beralasan deh, Ra. Udah pokoknya nurut aja. Aku mau kenalin pacar aku ke dia. Pacar aku 'kan kamu, sudah semestinya kamu ikut."


Huh, nasibmu, Ra ... selalu disuruh menurut sama yang ini, sama yang itu.


Kebayang gak sih kalo Reiki berhadapan sama Kenneth? Bukannya aku malah bangga karna direbutin dua pria, tapi kok aku malah cemas ya.


Aku cemas malah nanti aku yang bakal terkena dampak negatifnya. Ditendang dari mereka semua, dan ... hidupku berantakan lalu mesti bangkit dari awal lagi.


Ya sudahlah. Ikutin saja cerita mereka.


Aku mah bisa apa atuh?


...~~~...


bersambung.


Sedikit aja ya. 😜

__ADS_1


__ADS_2