Like Drama

Like Drama
Fifty Seven


__ADS_3

Lanjut!


"Ini pacar aku."


Tiga kata dari Kenneth itu sukses membuatku terkejut dalam diam. Tapi aku ingat satu hal yang pernah diucapkan oleh om Sam, bahwa tak masalah membuat skandal, karena itu tidak akan berarti apa-apa.


Okelah, aku hanya diam saat Kenneth menarikku memasuki ballroom tempat acara pertunangan sepupunya itu diadakan.


Kenneth mengedipkan sebelah matanya padaku. Sesaat sebelum kami memasuki pintu, sebuah bisikan darinya terdengar di telingaku. "Aku harap besok kamu akan menjawab seperti yang aku katakan tadi di depan wartawan."


Sorry, Ken. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak berniat menjadi pacarmu meskipun aku merasa nyaman bersamamu. Tidak, aku hanya tidak akan sanggup menghadapi dunianya yang tidak akan pernah menjadi biasa untukku. Takkan ku ulangi lagi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


Aku sudah berniat suatu hari nanti aku hanya akan menjalin sebuah hubungan dengan orang yang biasa saja.


Lalu kami berjalan menelusuri ruangan yang sudah penuh dengan tamu-tamu. Aku sedikit merasa minder. Kalau asing, itu sudah pasti. Hanya saja ... yah, mereka terlihat sebagai orang-orang yang mengenakan sesuatu dengan harga yang tidak murah pada tubuh mereka. Tidak ada yang murah. Aku paham.


Kenneth sekarang menggenggam erat tanganku. Dia membawaku saat dirinya menyapa banyak tamu yang dikenalnya. Aku hanya tersenyum menanggapi dan menjalani peranku malam ini sebagai kekasih Kenneth.


Tak berapa lama akhirnya tiba juga saat aku harus berhadapan dengan kedua orang tuanya. Orang tua Kenneth sudah pasti ada di sana.


Oh Tuhan ...


Aku tidak siap. Sungguh.


Seorang wanita cantik yang tersenyum manis padaku itu telah diperkenalkan Kenneth sebagai ibunya. Aku suka senyumnya. Itu terlihat tulus. Dan tatapan matanya menyorot hangat menatapku. Setidaknya, aku belum memiliki alasan untuk segera angkat kaki dari tempat ini.


"Cantiknya Azzura," ucap wanita itu seraya mengelus pelan punggungku yang separuh terbuka.


Ini gaun pemberian Kenneth tentu saja. Aku mana ada gaun bagus yang sesuai untuk ke pesta orang-orang ternama. Meskipun sedikit terbuka, tapi aku sudah tidak bisa protes lagi. Karena aku tidak memiliki opsi yang lain bukan?


"Terima kasih, Tante," balasku tak kalah ramah.


"Om dengar kamu yang menggantikan Maya sementara ini?" tanya ayahnya Kenneth yang di mataku terlihat keren. Jauh lebih keren dari anaknya yang separuh alay itu.

__ADS_1


"Iya, Om."


"Terima kasih ya. Semoga kamu bersabar menghadapi Kenneth yang manja itu."


Manja? Betul sekali. Kenneth memang manja. Aku seringkali sebal menghadapi sikapnya yang terlalu ... menempel padaku? Oh sekarang aku mengerti kalau arti dari sikap manjanya selama ini padaku adalah karena perasaan istimewanya terhadapku.


Setelah mengobrol sebentar dengan tante Kirana, ibu Kenneth, aku berjalan untuk menikmati sajian yang tersedia di meja. Aku butuh menyegarkan tenggorokanku dan sedikit jarak dari Kenneth yang selalu mendapat sorotan dari para tamu itu. Beruntung tak ada satupun wartawan yang berada di ruangan ini. Pesta ini tertutup untuk publik. Jadi aku tidak perlu takut akan cecaran dari para pemangsa berita meskipun aku sedikit berjauhan dari Kenneth.


Aku tak memperhatikan suara seseorang di balik pengeras suara yang sedang meminta perhatian tamu. Aku selesai menghabiskan gelas pertamaku saat Kenneth sudah berdiri di sampingku. Tangannya melingkar possesif di pinggangku. Dan aku membiarkannya saja. Itu bukan masalah.


Hanya saja masalah datang saat mataku beralih ke arah depan, dimana si tokoh utama pemilik pesta sedang memberikan sambutannya.


"Itu sepupuku yang akan bertunangan," bisik Kenneth di telingaku. "Namanya Reiki. Seorang pengusaha sukses dan selalu digilai banyak wanita. Seperti aku juga. Yah, tapi dia lebih dewasa, i know."


Deg.


Selanjutnya aku tidak dengar dengan pasti apalagi yang sedang dikatakan oleh Kenneth di dekatku. Aku hanya merasa seolah dunia terhenti pada saat ini.


Apa-apaan takdir ini?


Rasanya hatiku berdebar tak keruan. Aku tidak cukup tau alasan dadaku berdebar. Yang pasti saat ini adalah otakku penuh dengan memori semua yang berhubungan dengan pria menawan itu. Memori masa lalu yang hampir saja aku lupakan, kini malah menari-nari dalam kepalaku.


Dan kusadari bahwa rasa itu masih bersemayam damai di sudut terdalam hatiku.


Tidak. Ini buruk.


Lalu ...


Pertunangan? Bukankah ini acara pertunangan? Oh aku baru menyadarinya ... kalau dia ... akan bertunangan.


Yeah, itu cukup menyadarkanku akan segalanya. Lalu buat apa aku masih terbelenggu dengan perasaan masa lalu? Ayolah, hatiku ... jangan baper. Jangan menoleh ke belakang lagi. Itu sangat tidak dibutuhkan saat ini. Dia sudah pergi, dia sudah berlalu. Aku pun harus menjalani hidupku selanjutnya.


"Tunangannya cantik ya,"  suara Kenneth akhirnya masuk ke dalam pendengaranku lagi.

__ADS_1


Aku melihat Janeta tersenyum dengan sangat cantik dan berdiri berdampingan dengan Reiki di sana. Mereka terlihat amat serasi. Dan aku merasakan hatiku seperti tersayat yang amat menyakitkan. Ini tidak benar, mengapa seakan aku tidak rela menyaksikan ini semua? Melihat akhirnya Reiki bertunangan dengan wanita pilihan keluarganya ... yang sepadan.


Aku meletakkan gelasku dengan sedikit gugup. Tidak. Aku tidak pernah siap untuk melihat Reiki kembali dalam hidupku. Setidaknya sampai aku benar-benar sudah move on. Ya ampun ... bahkan move on jilid 2 ini sungguh terasa berat.


Terutama sekarang saat aku melihat bagaiman senyum bahagia itu tersungging dari grandma Fatma yang berdiri bersisian dengan tante Widia dan om Mandala.


"Ken, aku ..."


"Ya? Kamu kenapa terlihat pucat, Ra? Kamu sakit?"


Aku menggeleng. "Nggak, Ken. Aku nggak apa-apa. Hm, well ... kepalaku memang sedikit terasa pusing."


"Pusing kenapa?"


"Nggak tau. Ini mendadak aja. Um, kita jangan terlalu lama ya di sini."


Kenneth mengangguk sambil menggenggam tanganku dan membawaku pada sebuah kursi yang melingkari meja. Dia membimbingku agar duduk dengan pelan. "Kamu duduk aja. Aku ke depan sana sebentar. Nanti aku kembali lagi. Okey?!"


Aku menggangguk pelan.


Kenneth mengecup keningku singkat sebelum berlalu. Kemudian aku menghabiskan minumanku saat mataku menyaksikan acara pemakaian cincin antara Reiki dan Janeta yang berlangsung dalam beberapa detik yang lalu.


Oke, rileks, Zura. Ini hanya sebuah lembaran baru ketika akhirnya aku bertemu dengan dia lagi. Tentunya dengan situasi yang berbeda. Dan nyatanya dia hanyalah bagian dari masa lalu yang pernah singgah di hatiku.


Takdirnya berbeda dengan takdirku. Kami berada pada dunia yang berbeda pula. Jadi yang terjadi hari ini adalah sebuah keputusan yang pasti untukku. Bahwa hendaknya aku tidak boleh berharap apa-apa lagi.


Semua sudah berakhir sampai di sini.


Walaupun aku tahu akan sangat susah sekali untuk move on, tapi aku yakin aku mampu.


Ya ampun, ini move on yang jauh lebih menyulitkan dibanding dengan putusan dari Montana dulu?


Tanya kenapa?

__ADS_1


...*****...


 


__ADS_2