
Jepang.
Aku mengelus pelan punggung tangan papa yang sedang terbaring itu. Beberapa saat yang lalu begitu aku sampai di rumah sakit, papa baru saja tertidur. Mama bilang, papa sudah menungguku dengan tak sabar.
Ah ... Papaku yang malang ...
Setetes air mataku meleleh lagi. Sejak aku melihat keadaan papa, rasanya seakan air mata tak akan bisa surut dari mataku. Kutumpahkan juga semua rasa frustasi atas masalahku dengan Reiki bersamaan dengan rasa khawatirnya aku terhadap kesehatan papa.
Mama mengatakan padaku bahwa papa akan baik-baik saja. Mama tidak mau memberitahuku seberapa jauh penyakit papa, atau sudah pada tahap apa penyakit itu. Meskipun aku memohon, mama tetap bersikeras dan aku tahu kalau aku memaksanya lebih jauh maka itu akan membuat mama lebih sedih lagi.
Ini sungguh mengejutkanku. Bukankah papa selama ini sehat-sehat saja? Dan beberapa kali mama mengabarkan papa yang sakit tapi itu hanya sakit ringan biasa. Bukan seperti pada kenyataannya sekarang.
Aku tahu, mama sedang berusaha lebih tegar dari aku. Walau sesungguhnya di sini mama-lah yang paling bersedih hati atas apa yang terjadi pada papa. Aku juga tidak ingin menambah kesedihan mama. Maka bila awalnya aku berniat menceritakan masalahku, kini semua itu sirna. Biar aku rasakan sendiri masalahku, tanpa kuingin menambah beban hati kepada mama.
Meski demikian, tetap saja kesedihan kami atas penyakit papa itu tak dapat tertutupi.
"Pulang, Sayang. Kamu baru saja sampai. Istirahatlah! Ini sudah malam." Mama mengelus punggungku dengan pelan.
Aku menggeleng lemah. "Aku mau tunggu Papa bangun. Aku kangen ngobrol dengan Papa, Ma."
Mama meraih kepalaku ke dalam dekapannya. "Jangan menangis, Ra. Papa pasti akan sembuh."
Aku mengangguk. "Iya, Ma. Pasti. Papa pasti sembuh."
"Pulang ya, ke rumah kita yang ada di sini. Kamu belum pernah lihat kan rumah kita yang ada di sini? Papa Mama sudah menyiapkan sebuah kamar yang bagus untuk kamu, Ra. Kamu pasti suka."
"Tapi Papa–"
"Besok pagi kamu kesini lagi. Percaya sama Mama, bahwa Papa akan lebih sehat besok saat bertemu kamu. Dan kalian akan mengobrol sepuasnya."
Aku berfikir sebentar. Jujur saja, fisik dan mentalku saat ini amat sangat lelah. Tapi keinginanku untuk bertatap mata dengan papa amatlah besar.
__ADS_1
"Tidak bolehkah aku tidur di sini bersama Mama? Bersama kalian?"
"Ra ... sebaiknya kamu istirahat dulu yang baik di rumah. Besok pagi setelah tubuh kamu jauh lebih segar, terserah kamu mau apa. Menurut dong, Sayang," mama mencubit gemas pipiku.
Dan akhirnya aku mengalah.
...---...
"Aku pulang," ucapku pada diri sendiri saat sudah sampai pada alamat yang mama berikan padaku tadi. Ini adalah rumah dimana kedua orang tuaku berada. Akhirnya setelah beberapa lamanya kami terpisah, aku kembali merasakan yang namanya pulang. Ya, sekarang kami dapat berkumpul lagi. Meskipun, keadaan tak sesempurna itu.
Setelah aku membersihkan diri, aku memakan makanan yang tadi mama belikan untukku sebelum meninggalkan rumah sakit. Ada makanan khas Jepang di sana. Selain itu ada makanan Indonesia juga yang mama belikan untukku. Meski tanpa minat, aku mencoba untuk memakannya juga. Sekedar untuk mengisi perutku yang kosong malam ini.
Kembali ke kamar begitu makan malamku berhasil aku habiskan dengan susah payah. Aku menghidupkan kembali ponselku yang sengaja kumatikan sejak tiba di rumah sakit. Entah kenapa, aku tidak ingin siapapun menghubungiku saat ini. Terutama itu dari dia.
Namun ternyata sama sekali tidak ada nama dia di daftar notifikasi ponselku. Hanya ada grup chat, beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Alya dan Radit, serta beberapa temanku yang lain yang sedang ada perlu denganku.
Hatiku seakan mencelos. Ah rupanya dia sudah mampu menerima keputusanku.
Aku terduduk dan melepaskan pisau begitu saja. Hatiku sakit dengan sejuta alasan, sehingga aku hanya mampu terisak dalam diam. Tapi itu tak lama, dengan sekuat tenaga aku segera bangkit dan mulai berlari keluar dari ruangan itu. Aku tak sempat melihat raut wajah grandma yang saat itu masih berdiam diri di tempatnya. Pikiranku saat itu hanyalah bebas. Ya, aku ingin bebas dari drama berat yang melanda hidupku.
Mengingat itu membuat air mataku mengalir lagi. Aku patah hati. Hatiku sakit teramat sangat. Dia telah membuatku jatuh cinta. Sebuah cinta yang tak akan pernah menjadi nyata. Dan kini ... semuanya telah usai. Cinderella kembali setelah waktunya habis. Kebahagiaannya berakhir dan saatnya terbangun dari mimpi.
...---...
"Hei, gadisnya Papa yang paling cantik. Don't cry, Sayang," papa menghapus air mata yang meleleh di pipiku.
Mata itu .. yang beberapa bulan lalu kulihat masih bersinar dan nampak segar, kini seakan kehilangan warna dan semangatnya. Nampak pucat dan gurat-gurat lelah menahan apa yang sedang dirasanya. Papaku yang paling aku sayang. Satu-satunya kesatria dalam hidupku. Kini terbaring lemah dalam menghadapi penyakitnya.
"Kenapa Papa tidak memberitahuku?"
Papa tersenyum lemah. "Ini bukan apa-apa, Sayang. Kanker bukanlah sebuah masalah besar. Papa masih kuat,"
__ADS_1
Aku hanya mampu memeluk papa sambil menahan isakku agar tidak semakin besar. Kurasakan tangan lain yang turut mengusap kepalaku. Tangan mama.
"Kenapa sejak awal kesini kalian tidak mengajakku saja? Aku tidak peduli dengan kuliahku, asal bisa bersama kalian dimanapun berada, itu sudah lebih dari cukup," ucapku pedih.
Hening. Hanya usapan tangan papa yang pelan itu kurasakan di punggungku. Juga usapan lembut mama di kepalaku belum juga berhenti.
"Tidak boleh begitu, Ra. Pendidikan adalah segalanya. Ketika kamu telah memiliki bekal untuk mengarungi kerasnya kehidupan, maka saat itulah kamu bebas untuk pergi kemanapun yang kamu mau."
"Tapi aku mau bersama kalian ..." isakku tak tertahan lagi. "Aku hanya butuh kalian dalam hidupku ...."
Tangisanku pecah. Kedua orang tuaku terdiam, membiarkan aku menangis sepuas hatiku, hingga aku lelah sendiri.
"Ra ..." lirih papa.
Aku masih berada dalam pelukannya.
"... Jadilah anak yang cantik dan baik. Papa titip mamamu untuk kamu jaga baik-baik ya. Papa ikhlas atas semua yang terjadi pada hidup papa. Azzura sayang ... Papa amat sangat sayang padamu, Nak."
Apa-apan papa? Seolah sedang memberiku pesan terakhir. Tidak. Tidak akan aku biarkan. Papa akan terus hidup bahkan sampai nanti aku dapat memberinya cucu yang banyak. Agar hidup kami ramai dan hangat.
"Papa bicara apa sih?" aku melepaskan pelukan Papa. "Bukan hanya aku, tapi papa juga. Kita! Kita sama-sama akan menjaga mama. Kita akan hidup terus untuk saling menjaga."
Aku mendengar mama menangis di tempatnya. Oh aku tidak ingin menangis juga. Tidak. Aku punya harapan yang besar tentang hari esok dan nanti. Tentang kami bertiga. Tentang kebahagiaan apa saja yang akan datang menghampiri kami.
Papa tersenyum lemah. "Azzura sayang ... berbahagialah ... kejar kebahagiaanmu, Nak," kemudian papa beralih menatap mama. "Ma ... berikan semua, apa saja yang Azzura inginkan. Berikan semuanya,"
Mama mengangguk sambil menangis. Tangannya meraih telapak tangan papa.
Mengapa begini? Mengapa kondisi papa terlihat begitu parah? Bukankah sakitnya belum lama datang? Atau memang semuanya sengaja disembunyikan dariku?
...🌑🌑🌑...
__ADS_1