
Aku melihat lelaki muda di sana.
Di dalam rumah Bu Ratih kini sedang berdiri seorang cowok yang ku perkirakan mungkin seumuran denganku atau lebih sedikit. Rambutnya berwarna hitam campur silver. Ya gitu deh. Tipe-tipe anak gaul yang gak akan aku lirik.
Selain itu, dia juga memiliki tindikan di telinga kirinya, dengan sebuah anting kecil di sana. Keseluruhan wajahnya ... ya tampan. Khas anak muda yang menjadi bagian dari kaum anak gaul, atau entahlah. Aku merasa kalau cowok itu berdandan berlebihan untuk ukuran seorang cowok yang tinggal di desa seperti ini.
Ketika mata kami bertemu, dia membulatkan matanya padaku. Aku memandangnya datar tanpa minat. Tapi aku harus bertanya kan, secara aku sedang menjadi tamu di rumah ini.
"Maaf, siapa ya?" tanyaku kalem.
Si cowok itu berdehem sebelum melangkah lebih dekat kepadaku. Aku mengikuti arah matanya yang sedang memicing kepadaku.
Mengapa dia melihatku begitu?
"Jangan pura-pura ... kamu pasti kenal aku kan?!" bisiknya tajam. Jaraknya hanya selangkah denganku.
Aku mengalihkan mataku sambil mengerutkan kening. Apa tadi dia bilang? Aku mengenalnya? Kapan? Dimana?
Apa dia satu kampus denganku kemarin?
Aku berfikir dengan keras. Tapi tetap saja ... "Nggak kenal tuh!"
"Jangan bohong! Jangan pura-pura! Aku tahu kalau sekarang hati kamu pasti sedang berdebar bahagia, kan?!"
Hah?
Ini pasti orang gila. Omongannya saja ngelantur gak jelas.
Mataku mencari-cari sekeliling berharap menemukan Bagas untuk meminta bantuan mengusir cowok gila ini.
Kasihan ... masih muda, tampan, tapi stres.
"Bagas ..." panggilku yang tak kunjung ada jawaban. Sepertinya Bagas belum kembali. Dan sayangnya Bu Ratih juga tidak membawa ponselnya ke sawah.
Tanpa kuduga tiba-tiba cowok itu malah membekap mulutku. Fix ini kriminal. Dia penjahat yang tampan. Aku berusaha meronta tapi dia membawa kedua tanganku ke belakang tubuhku dan menguncinya. Bahkan plastik berisi cemilanku terhempas begitu saja di lantai.
Aku belum mau mati, Tuhan. Setidaknya jangan dengan cara seperti ini.
Saat kukira telingaku akan mendengar suara ancaman setelah bekapan ini, ternyata yang kudengar malah suara yang tak kusangka.
"Please ... izinkan aku sembunyi sebentar disini. Please ...." suaranya terdengar memohon. Bahkan seperti merengek manja.
Lah?
Apa aku tidak salah dengar?
Kenapa dia jadi memelas?
"Aku janji bakal kasih kamu hadiah kalau kamu izinkan aku sembunyi di rumah ini sampai malam ini saja. Ya? ya? ya?"
Ini gimana maksudnya?
Saat aku masih mencerna apa yang terjadi, kakiku melakukan gerakan refleks karena kuyakin kalau si penjahat ini sedang lengah.
Aha!
Aku menginjak kakinya dengan keras. Dia berteriak sambil meringis dan melepaskanku.
"AW! Adudududuh ... ini cewek apa sih? kurus-kurus kok tenaganya kayak gajah. Lecet deh gue. Lecet deh kaki gue. Abis deh gue diomelin Sam. Harta berharga gue, kaki gue, aset gue ..."
__ADS_1
Aku melongo. Ya ampun ... ini cowok manja sepertinya. Hanya mendengar dari gerutuannya saja aku sudah dapat menilainya.
Dan apa tadi dia baru saja mengataiku dengan Gajah? Huh!
Dia terduduk di lantai sambil mengusap jari kakinya yang terbalut kaos kaki.
"Jangan kasar dong! Kaki gue ini, mahal tau!" omel cowok itu. "Rasanya tubuh gue jadi sakit." dia merebahkan dirinya di lantai sambil memeluk lututnya. Meringkuk. "Gue gak bisa jalan nih, gue harus nginep di sini. Kamu harus tanggung jawab!"
Oke, cowok itu membuatku muak. "Jangan drama disini deh! Pergi sana! Atau aku panggilin orang-orang dan kamu dikepung terus diarak, trus dibakar!"
"Ya Astaga dragon ball! Kamu tuh cewek, kok ya ngomongnya sadis gitu. Nggak ada bahagianya sedikitpun apa ketemu aku? Atau jangan-jangan kamu itu haters aku ya?"
Aku berjalan menuju kursi setelah memungut plastik cemilanku. Lalu aku membuka sebungkus keripik kentang dan memakannya dengan santai. Entah kenapa aku yakin kalau cowok ini tidak berbahaya, alias bukan penjahat. Dia gak seperti memiliki bakat menjadi penjahat karena minus nyali.
"Kamu tuh mending pergi deh!" usirku sambil menonton kelakuannya yang berlagak cidera.
"Nggak. Kamu udah bikin gue sakit nih. Gue cidera, tau."
Tadi pake 'aku' trus 'gue' trus 'aku' lagi, trus 'gue' lagi. Dasar plin plan!
Sesaat kemudian Bagas datang memasuki rumah. Dia melihat si cowok gak jelas lalu melihatku bergantian, seolah sedang berpikir dalam diamnya. Kemudian dia berjalan begitu saja menuju dapur, tanpa merespon aku ataupun si cowok asing itu.
"Bagas!" panggilku.
Anak itu berhenti dan menoleh. "Ya?"
"Kamu kenal sama orang itu?" tunjukku.
Bagas menatap lagi pada si cowok yang sedang terbaring di lantai dengan santai. "Nggak kenal." setelahnya dia masuk ke dapur.
Aku berdiri dari tempatku. "Jadi kamu tuh siapa?" tanyaku tajam. "Kamu mau maling ya?!"
Aku bingung harus menjawab apa.
"Trus kamu tuh ngapain di sini? Pergi sana!"
"Yaelah, udah gue bilang kalo gue tuh lagi ngumpet sebentar. Susah deh ni cewek dikasih taunya. Eh– coba lo perhatikan muka gue," perintahnya sambil menatapku.
Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dalam sejekap dan membuat aku terkejut. Jaraknya hanya beberapa centi saja dari wajahku.
Aku mengerjap polos.
"Lihat, pasti kamu kenal kan aku ini siapa?" tanyanya sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Nggak."
"Jangan pura-pura!"
"Sinting!"
"Oke, mungkin lo lupa. Walaupun kemungkinan itu kecil, but ... coba deh lo inget-inget lagi,"
"Inget-inget apanya?"
"Ya muka gue."
"Buat apa?"
"Buat apa?" cowok itu membeo dengan melebarkan matanya. Kemudian dia menghela nafas dan berkata lagi, "Ya coba aja diinget, mungkin kamu pernah lihat wajah aku di suatu tempat."
__ADS_1
Aku berusaha berfikir dan mengingat. Tapi rasanya wajah ini cowok tidak ada sedikitpun dalam memori ingatan kehidupanku yang telah berjalan selama dua puluh satu tahun lebih lamanya.
"Inget?" tanyanya antusias setelah beberapa saat.
"Nggak."
"Serius nggak inget?"
"Aku nggak kenal kamu."
Pede berapa lapisan sih ni cowok? Maksa aku banget dia tuh.
"Masa nggak kenal?"
"Nggak."
"Muka tampan bin ganteng gini nggak kenal?"
Ya Tuhan!
"Nggak kenal!"
"Yakin?"
"Yakin."
"Serius?"
"Serius."
"Ah masa sih?"
Pengen kutabok dia.
"Masa di desa sini gak ada tv?"
"Hubungannya apa sama tv?" aku masih berusaha sabar. Semoga aku tidak pernah punya teman seperti ini selama sisa hidupku.
"Aku ini artis loh ..."
"Trus?"
"Ya ampun, Tuhan. Wanita ini ... cewek ini, makhluk ini hidup di zaman apa sampai tidak mengenalku?"
Aku menatapnya jengah. Drama!
"Kamu artis sinetron?" tebakku. Okelah, ini cowok memang terlihat tampan. Wajah 'terawat' yang terlihat tidak biasa. Cowok-cowok temanku di kampus banyak yang tampan, tapi yang dihadapanku ini jelas berbeda. Penuh gaya.
Dia menatapku lelah. Dia membuang nafas kesal sepertinya. Bukankah yang seharusnya kesal itu adalah aku ya?
"Bukan."
"Trus?"
Dia menarik nafas pelan lalu mengulurkan tangannya kepadaku. Kemudian sebuah senyum manis terbit di bibirnya dan terlihat tulus.
"Kenalkan, namaku Kenneth."
...🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀...
__ADS_1
Mimir libur ya. 😁