
Lanjut!
"Jadi ... mengapa kamu ada di sini?" tanya Fatma, grandma. Nenek Reiki itu terlihat angkuh saat menatapku.
Kami sudah duduk berhadapan di sofa untuk berbicara. Wanita paruh baya itu tidak lantas memakiku begitu melihatku memasuki apartemen cucunya, tadi. Dengan tenangnya dia malah mengarahkanku untuk segera menempati sofa, begitu pula dengan dirinya. Sepertinya itulah gaya orang ningrat dalam menghadapi sebuah masalah.
oh yeah, aku adalah sebuah masalah.
"I-itu ..."
Lidahku kelu. Kenapa aku tidak mampu berkata-kata? Aura grandma itu sama menyeramkannya dengan Reiki. Ternyata itu adalah sebuah bakat keturunan kurasa.
"Kamu tahu itu artinya apa? Keberadaan kamu di sini itu sudah seperti simpanan untuk cucuku. Tentu saja di mata keluarga kami juga."
deg
Simpanan? Seolah Reiki sudah memiliki istri dan aku menjadi wanita simpanan. Apa itu tidak terlalu berlebihan dalam menamakan statusku?
"Tapi kan Mas Rei belum memiliki pendamping." aku mencoba untuk melakukan pembelaan diri sedikit. Aku tahu, tidak sepantasnya aku berada di sini, sekalipun Reiki adalah seorang single. Malah dengan atau tanpa pendamping, rasa-rasanya aku tetaplah salah bila berada di sini.
Ya sudah, aku bersalah.
"Walaupun cucuku belum memiliki pendamping lantas bukan berarti kamu pantas untuk tinggal di sini bersamanya!" suara wanita itu agak meninggi sedikit. Raut wajahnya kaku seakan sedang menahan amarah yang besar.
Aku tersenyum kecut. Itu benar sekali. Akan tetapi, "Bukan aku yang menginginkan ini, Grandma ..."
"Sekalipun bukan keinginan kamu. Sudah semestinya, sudah seharusnya kamu sadar diri untuk tidak menerima begitu saja ketika dijadikan mainan oleh Reiki."
__ADS_1
Mainan?
Tolong jangan berkata seperti itu ...
Setelah simpanan, sekarang aku dinamakan mainan. Seburuk itukah diriku?
"Aku berkata seperti ini toh demi kebaikan kamu juga. Supaya kamu tidak rugi menjadi seorang gadis muda. Masa depanmu masih panjang. Jangan terlalu mudah untuk dibujuk rayu pria, karena belum tentu ada masa depan yang dijanjikan. Kalau sudah habis manis sepah dibuang, memangnya kamu mau?"
Aku mengerti. Bahkan sangat sangat mengerti arti semua kalimat grandma. Tapi aku tidak dapat berkata apa-apa.
"Tinggal jauh dari orang tua bukan berarti kamu dapat hidup bebas. Jagalah diri kamu sendiri! Jaga kehormatan diri dan keluargamu! Jangan malah tinggal bersama laki-laki yang bukan siapa-siapa kamu."
Itu tidaklah salah. Tapi aku tidak seperti itu Tuduhannya kepadaku terlalu buruk. Karena aku benar-benar tidaklah seperti itu.
Ya Tuhan ... Aku ingin menangis. Tapi kemana perginya air mata yang kuharapkan hadir sekarang?
Berhenti!
Ini terlalu menyakitkan.
Aku tak mampu membuka suara sedikitpun. Bahkan aku hanya mampu merunduk tanpa menyangkal apa-apa. Semua tuduhan grandma terlalu menyakiti hatiku. Padahal aku tidak seperti itu sama sekali.
"Sejak awal bertemu kamu, aku sebagai seorang nenek yang menyayangi cucunya, sudah memiliki perasaan bahwa kamu akan menggoda cucuku. Apalagi alasannya seorang gadis muda menggoda pria dewasa kalau bukan untuk hidup mewah, iya kan?!"
Mama ... Papa ...
Kalian yang menyuruhku tinggal di rumah itu. Sama sekali bukan inginku.
__ADS_1
"Jangan harap aku akan diam saja melihat Rei tergoda oleh gadis biasa sepertimu. Aku akan berjuang semampuku supaya Rei bisa lepas dari cengkramanmu."
Itu juga yang aku inginkan. Yakni, lepas dari Reiki selamanya.
Terima. Aku hanya menerima semua perkataan grandma tanpa berani membantahnya. Bukan tidak berani sebenarnya, tapi itu tidak berguna. Aku tetap bersalah apapun kenyataannya. Aku tetap akan dibencinya walaupun aku sama sekali tidak melakukan hal yang dituduhkannya.
Percuma.
Terima saja, Zura ... mungkin ini yang terbaik. Kuatkan hatimu. Dan percaya bahwa kamu bisa melewati ini semua.
"Katakan sesuatu, Azzura ..." ucap Fatma sedikit kesal. Tentu saja dia akan merasa kesal. Karena dilihatnya aku yang tidak mengatakan apa-apa atas semua tuduhannya. Dan biarkan saja bila dia menganggap aku membenarkan tuduhannya.
Biarkan saja.
Tapi,
Apa yang harus kukatakan? Karena semua tak akan ada gunanya. Meski begitu aku tetap harus menjawabnya juga bukan? Karena grandma pasti menunggu suaraku.
"Aku akan pergi dari sini." akhirnya sebuah kalimat keluar dari mulutku dengan pelan. Hanya itu yang mampu kukatakan. Memang hanya itu jawaban yang paling benar yang mesti aku keluarkan. Supaya grandma bisa tenang. Supaya grandma menghentikan tuduhannya yang menyakitkan itu.
"Memang sudah seharusnya seperti itu. Kamu harus menjauh dari hidup cucuku."
Aku juga maunya begitu, Grandma.
Tapi cucumu yang selalu mendekatiku, mencariku, dan membawaku kembali kepadanya.
"Beri aku waktu, Grandma. Karena bila aku pergi, Mas Rei pasti selalu dapat menemukanku. Maka tolong beri aku waktu ... karena aku harus pergi ke suatu tempat yang tidak akan dapat ditemukan olehnya."
__ADS_1
...☔☔☔...