Like Drama

Like Drama
#Fourty four


__ADS_3

Happy reading!


Dua hari menjelang wisuda, aku terbang ke Jakarta. Ya, dengan hati yang dipaksa tegar aku melakukan perjalanan untuk pulang. Alya dan Radit adalah sebagian dari alasanku untuk merasakan yang namanya pulang.


Tepatnya ke rumah Alya lah yang aku tuju. Sahabatku itu tidak curiga sedikitpun pada ekspresi wajahku yang kupaksa seolah biasa saja. Padahal beberapa hari yang lalu baru saja aku menyaksikan kepergian mama dari dunia ini. Well, aku sehebat itu dalam menyembunyikan rasa.


Malamnya, saat akhirnya Alya sudah menodongku untuk segera menceritakan bagaimana hidupku di Jepang, akhirnya air mataku mengalir tanpa permisi. Sayangnya bukan tangisan yang menderu, hanya lelelahan air mata yang mengalir seakan aku sedang menonton film sedih. Aku pun tidak mengerti mengapa. Atau kemanakah tangisan yang kuharap akan menderu untuk meluapkan dukaku. Nyatanya tidak ada. Dan aku tidak tahu apa alasannya.


"Rajuu ..." Alya sesenggukan. Bahkan tadi dia menjerit saat kali pertama kuceritakan, sehingga mama papanya datang menghampiri kami. Maka keluarlah semua yang aku rasakan sesak di dalam hati kepada Alya sekeluarga.


Tante Lia menangis dalam pelukan suaminya–papa Alya– om Sandi. Sedangkan Alya menangis seraya memelukku dengan erat.


"Lo jahat, Raju! Kenapa lo gak kabarin gue? Kejadian sebesar itu lo tahan sendirian? Lo gak anggap gue ada, hah?"


Aku terdiam membiarkan mereka menyalahkanku. Entah mengapa aku seolah mencari rasa sakit pada hatiku. Sengaja mencari perasaan yang amat sakit agar kesakitan itu dapat membuatku menangis meraung sampai lelah. Ya, aku ingin menangis tapi tak bisa.


"Kenapa kamu tidak menelpon, Ra? Tante pasti akan ke sana. Tante akan berusaha kesana secepat mungkin." kali ini tante Lia yang bicara. "Jadi sekarang Nadhifa dan Faisal telah tiada? Mama Papa kamu, Zura?"


"Iya, Tante. Maaf ..." sahutku berbisik.


"Tidak mungkin, Ra. Ini tidak mungkin. Tante belum bisa percaya. Hiks ..."

__ADS_1


"Lo gak anggep gue sodara lagi emangnya?" sembur Alya marah dengan linangan air mata.


Aku menggeleng lemah karena tak mampu berkata-kata.


"Gue sama Radit masih sodara lo, Ra! Masih ada kami sebagai sodara lo! Paham?!"


Aku menggangguk saja.


"Lo tanggung semua itu sendirian seolah lo sanggup, HAH? Lo jahat!" Alya menangis sambil marah. Dan aku mengerti alasannya. "Gue masih sanggup beli tiket pesawat ke Jepang, Ra. Meskipun tabungan gue bakal berkurang sekalipun, gue rela. Asal gue ada di sana buat peluk lo. Gue temenin lo menangis, gue temenin lo tidur. Gue itu masih sayang banget sama lo, Raju!"


Aku tahu, Alya menyayangiku. Begitupun aku yang selalu menyayangi Alya yang sudah seperti sodara kandungku sendiri. Tapi aku sungguh ingin bertahan sendirian. Aku mampu. Aku sanggup.


"Jangan begini sama gue, Ra. Jangan jauhin gue seolah gue cuma orang asing. Gue itu akan selalu jadi Alya sodara lo!"


"Yang tabah, Ra ..." om Sandi mengelus kepalaku. Tante Lia sudah duduk di pinggir ranjang Alya dan masih menutup matanya, sesenggukan.


"Iya, Om. Maafin aku yang datang malah bawa kabar duka." aku melepaskan pelukan Alya.


"Jangan sok kuat! Jangan sok tegar! Nangis sini di pelukan gue. Kapanpun gue terima air mata lo. Gue terima duka lo. Ngerti?!"


Hanya anggukan yang kuberi setiap kali Alya meluapkan amarahnya.

__ADS_1


Hening beberapa saat. Hanya terdengar sesenggukan Alya dan tante Lia. Aku tahu bahwa mau tidak mau aku harus memberitahu Alya dan Radit. Meskipun itu berarti dukaku akan menjadi duka mereka juga. Hubungan kami bertiga begitu dekat, begitupun dengan keluarga kami masing-masing yang tulus menjadi dekat juga.


"Gue wisuda besok lusa, tapi–" perkataan pelanku langsung terpotong oleh Alya.


"Tenang aja! Masih ada keluarga gue sama keluarga Radit. Kita keluarga besar. Elo gak pernah sendirian. Jangan pernah anggap diri lo sendirian! Ngerti?!"


Bolehkah seperti itu? Rasanya tidak mengapa walaupun pasti terasa menyedihkan dan berbeda. Andai mama papa hidup lebih lama sebulan saja, mereka pasti dapat hadir di wisuda ku kan?! Aku akan bahagia seperti yang lainnya. Tapi takdir berkata lain. Hari wisudaku tanpa dihadiri mereka. Tanpa disaksikan mereka, dan tanpa didampingi mereka. Kini pertanyaannya, apakah aku sanggup ke sana dengan kenyataan bayang-bayang orang tuaku yang belum lama meninggalkan dunia?


"Kami ini keluargamu, Ra," om Sandi menegaskan padaku.


"Makasih, Om ..."


"Om sama Tante adalah orang tuamu juga."


Aku mengangguk dengan pandangan merunduk. Oh ayolah, kemana air mataku? Aku ingin menangis.


"Jangan khawatirkan apa-apa, jangan berpikiran apa-apa," tante Lia berkata lembut. "Selagi masih ada kami, kamu tidak akan pernah sendirian, Ra. Percaya sama Tante ya?"


"Makasih, Tante," ucapku seraya memeluk wanita itu. Aku sungguh merindukan mama. Rasanya aku seperti mencium wangi mama pada tubuh tante Lia.


"Gue rela berbagi Mama Papa cuma sama lo doang, Raju." Alya mengusap kepalaku. "Pokoknya kita adalah keluarga. Titik."

__ADS_1


...🎓🎓🎓🎓🎓...


__ADS_2