
Kenneth mengantarku pulang dua jam kemudian. Setelah obrolan serius tentang pekerjaan, kami mengobrol santai dengan suasana hangat. Ya, kedua orang tua Kenneth ternyata memang sebegitu hangatnya menerima kehadiranku. Dan aku harap ini bukanlah mimpi, atau hanya hayalanku semata. Tolong, jangan lagi aku bertemu dengan orang-orang yang tidak menyukaiku. Jangan pernah.
Selain karena Kenneth harus menemui managernya untuk urusan pekerjaan di malam seperti ini, aku juga tidak mau diajak olehnya kemanapun itu. Aku hanya ingin istirahat sekarang juga, di kasurku.. Mataku harus segera terlelap agar besok aku dapat bangun pagi. Bukankah besok aku harus ke kantor om Damar?
Untungnya Ken serius untuk mengantarku pulang agar aku segera beristirahat. Mungkun dia teringat ucapan ibunya tadi perihal tubuh kurusku. Dia terlihat cukup mengkhawatirkanku, dan ku harap dia juga mengkhawatirkan tubuhnya sendiri karena sangat sibuk jadwalnya.
"Ken, hubungan kita belum jelas loh ya," ucapku sewaktu dalam perjalanan. "Kok kamu malah membuat orang tuamu salah paham sih? bikin aku jadi pusing aja."
"Udah jelas kok, Ra. Apalagi sejak kamu memutuskan lebih memilih untuk bekerja bersama papaku dibandingkan denganku. Maka status hubungan kita sudah pasti 'YA'. Kalau perlu kita tunangan loh, Ra. Supaya kamu gak bisa kabur dari aku."
"Apa?" tunangan? Ken gila! "Kamu kok seenaknya begitu? Aku belum kasih kamu jawaban, Ken. Bahkan aku berniat untuk menolak kamu loh ..."
"Nggak perlu dijawab deh, Ra. Kalo nggak dijawab itu, 'kan berarti iya. Jadi mending kamu gak usah jawab. Udah ah, kamu mah nyeremin."
Lah?
Ini cowok ada yang begini?
"Intinya sekarang kita pacaran. Gitu aja sih, jangan dibawa repot," putus Ken dengan santai.
Enak di dia, gak enak di aku deh kayaknya!
"Lagian Mama Papa aku udah tau kok tentang hubungan kita. Aku serius sewaktu mengenalkan kamu sebagai pacar aku loh, Ra. Dan Mama Papaku setuju aja. Mereka gak keberatan sedikit pun. Cuma masalah usia kita aja sih alasan keberatan mereka, sewaktu aku meminta mereka melamar kamu untuk aku."
"Apa?" aku sungguh terkejut. Kenneth itu benar-benar di luar dugaanku kelakuannya. Melamar? Dia gila?
__ADS_1
Ken sedikit meringis karena mendengar teriakan histerisku barusan. Bagaimana aku tidak histeris? Mana ada ceritaku untuk hubungan serius begitu?
"Iya, serius loh. Aku tuh sebenernya minta Papa buat ngomong sama kamu supaya kita bertunangan. Ealah, malah kamunya ditawarin soal pekerjaan. Sebel banget aku, Ra. Itu di luar rencanaku pastinya. Emang sih malam kemarin Papa bilang kalau aku dan kamu -kita berdua- masih terlalu muda untuk menikah dalam waktu dekat. Seenggaknya tunggu 2 atau 3 tahun lagi kalau menurut Papaku tuh. Kasihan kamunya yang baru lulus kuliah dan pastinya punya cita-cita ingin melakukan apa. Begitu katanya. Tapi, 'kan ya, menikah gak akan menghalangi masa depan kamu kok. Aku gak ada rencana buat mengekang kamu. Kalo kamu mau kerja dimana atau mau melakukan apa, aku gak keberatan sama sekali."
"Ken!" ini cowok apa sih jenisnya? Kok memutuskan apa-apa tuh seenak udelnya aja. Dia punya rencana sepihak tapi aku terlibat di dalamnya. Dia pikir aku apa?
"Apa, Ra? Aku cuma gak mau kehilangan kamu kok. Plis ... jangan marah ..." suara manjanya itu, bikin aku semakin senewen dibuatnya.
"Ah gak taulah, Ken! Aku setuju sama Papa kamu kalo kita itu emang masih muda. Lagian siapa juga yang mau menikah sama kamu? So, setelah ini kamu jangan pernah mutusin apa-apa lagi tentang hidupku, ngerti?!"
Mengapa aku harus bertemu dengan lelaki macam ini terus? Yang selalu tidak mau dibantah. Dan sayangnya, aku selalu tidak berdaya dengan tipe lelaki pengatur macam itu. Aku payah memang.
Aku merasa kesal setengah mati rasanya. Tapi aku bisa apa, lagi-lagi aku terjebak dengan lelaki yang tidak biasa. Ya Tuhan ... kirimkan aku jodoh seorang rakyat jelata, plis.
"Aku tuh nolak kamu, Ken."
"Tapi aku nggak dengar, Ra! Pokoknya terhitung sejak pesta malam kemarin, kita sudah resmi pacaran!" serunya menggebu-gebu. Padahal beberapa detik yang lalu dia seperti menyesal dengan perbuatannya. Tapi rupanya aku hanya berburuk sangka. Karena sebenarnya dia memang berniat seperti itu.
Huh!
"Pacaran sana sama ayam!"
"Ayam mah buat di makan, Ra. Bukan buat dipacarin! Kamu mah jangan bikin aku 'belok' dong. Masa kamu nanti saingannya sama Ayam? ih, ga asik banget tau!"
"Ah ga tau ah! Kamu nyebelin banget!"
__ADS_1
"Tapi aku sayang kamu, Ra," balasnya dengan cengiran lebarnya.
Bodo amet.
Bodo amet.
Bodo amet.
"Aku nggak."
"Bukan nggak, tapi belum. Dan kamu akan menjadi sayang sama aku dengan segera. Tunggu aja,"
Pedenya ini cowok!
Aku menghela nafas pasrah.
Entah apa aku benar atau salah membiarkan status ini terjadi. Kini aku hanya bisa pasrah tentang kemungkinan aku bakalan bertemu dengan Reiki lagi. Secara hidupku tidak akan jauh dari Kenneth, dan Ken adalah sepupu Reiki yang mau tak mau pasti akan terus bertemu dalam kehidupan.
Aku akan menguatkan hatiku bila bertemu Reiki lagi nanti. Toh hubungan kami yang tanpa nama itu sudah selesai. Dan Reiki sekarang pun sudah memiliki tunangan.
Apalagi? Ya tentu saja bukan apa-apa. Oke, aku akan menghadapi takdir ini. Mungkin dengan hadirnya Kenneth mampu membantuku menyelesaikan move on jilid 2 yang belum kelar.
semoga saja.
...***...
__ADS_1