Like Drama

Like Drama
Seventy Seven


__ADS_3

Maaf lama update. Seperti yang udah aku bilang di Althar, aku bakalan fokus buat selesai Althar dulu dengan segera (pengennya sih)


Baru setelah itu fokus ke sini lagi, juga ke dua PF lainnya. (Sibuk amat dah ini otak 😩)


...Happy Reading!...


... ------...


"Wah ... wah ... tumben banget Mas Rei kesini?"


Suara Ken itu sukses membuat tanganku yang sedang mengiris bakso berhenti seketika. Apa aku tidak salah dengar barusan? Reiki katanya?


Rei ... ki?


Kalau ya, sial banget aku.


Sumpah, aku tidak pernah berharap kalau pria itu mengetahui keberadaanku sekarang.


Serius?


Oh ya ampun. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Reiki si super bos itu? Kecuali ... aku yang terlalu kepedean akan dugaanku sendiri.

__ADS_1


Dengan sebuah pergerakan, tubuhku menepi pada dinding pembatas dapur dengan ruang tamu. Benar, tujuanku adalah untuk mengintip apa yang terjadi di ruang tamu itu. Namun, nyaliku terlalu kecil walau sekedar untuk sedikit saja mengintip sosok di sana. Alhasil, aku hanya memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi.


"Aku hanya ingin mengambil milikku." itu suara dinginnya Reiki. Aku tahu persis bagaimana mood pria itu kala sedang marah, tersinggung, ataupun tidak menyukai akan sesuatu. Menyeramkan.


Oh jangan sampai yang dimaksud pria itu adalah aku. Syukurlah aku tidak jadi memakai baju Ken tadi. Untunglah ada dua potong pakaianku -tanpa pakaian dalam- yang rupanya aku tinggalkan di koper Ken ketika aku masih menjadi asistennya beberapa waktu lalu. Walau Ken pernah bilang akan menyimpannya sebagai barang kesayangannya, maka aku anggap itu sebuah keberuntungan untuk kupakai hari ini. Masih teringat dengan jelas seberapa tidak sukanya Reiki manakala aku menggunakan jaket Radit waktu itu.


"Milik Mas Rei?" tanya Kenneth. "Barang milik Mas Rei yang mana yang kemungkinan tertinggal di sini? are you serious? Bahkan selama ini Mas Rei gak pernah masuk ke sini."


Tidak pernah ke sini? Masa sih? Bukannya mereka saudara ya?


"Aku tidak pernah bilang barang atau benda."


Rasanya untuk sekedar bernafas saja aku takut. Ini gawat. Sudah pasti Reiki mencariku sekarang. Lalu aku bisa apa? Padahal aku baru saja ingin memberitahu Ken tentang masa laluku dengan sepupunya yang raja pemaksa itu. Sekarang, bila Ken mengetahui dengan cara seperti ini, aku cemas dia akan marah padaku.


Keheningan diantara kedua laki-laki itu membuat rasa cemas ini semakin menjadi. Apa yang sedang terjadi di sana? Mengapa Ken diam? Sungguh, aku amat sangat mengkhawatirkan Ken sekarang. Lebih tepatnya, mengkhawatirkan perasaannya.


"Lalu?"


Aku yakin kalau sekarang Ken sedang merasa waspada. Dari nada suaranya barusan, aku tahu bagaimana ekspresinya walau tanpa melihatnya.


Huh, sungguh aku terlalu hafal bagaimana sosok kedua bersaudara itu.

__ADS_1


"Azzura!"


Seketika lututku melemah dan aku terduduk karena mendengar Reiki menyebut namaku. Ya, Reiki yang memanggilku barusan. Baiklah, ini sudah berakhir. Sudah tak ada tempat lagi bagiku untuk berada di sekitar mereka semua. Aku sudah tidak memiliki nyali itu.


Sekarang aku hanya ingin segera menghilang dari tempat ini. Apa aku lompat saja dari balkon? Sial, itu mengerikan.


"Kenapa Mas Rei memanggil pacarku? Jangan melewati batas, Mas. Ayolah, sesekali jadi pria sejati yang setia pada satu wanita. Jangan selalu menggoda apa yang aku punya. Apa yang sudah menjadi milikku, selama ini selalu Mas rebut. Tapi terkecuali kali ini, aku tidak akan semudah itu melepaskannya. Tidak sama sekali. Karena aku berniat untuk menikahinya."


Deg.


Debaran yang tiba-tiba hadir tanpa permisi manakala Ken menyebut kata di akhir kalimatnya. Bukan pertama kalinya, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Karena aku yakin dia serius saat mengatakannya.


"Mana Azzura?"


Sepertinya Reiki terlalu kuat untuk terpengaruh dengan perkataan sepupunya itu. Kalaupun ya, maka pengaruh terhadapnya adalah hal itu membuatnya marah dan malah semakin kuat lagi dalam mempertahankan apa yang di inginkannya.


"Mas Rei mau apa sih?" suara Kenneth meninggi. Aku yakin dia mulai marah. Aku mengerti apa yang tengah dirasakannya.


"AZZURA! KALAU KAMU TIDAK KELUAR SEKARANG JUGA MAKA KAMU PASTI TAHU APA YANG AKAN AKU PERBUAT DI SINI!"


...----...

__ADS_1


hihihi.... bersambung dulu ya. 😉 lanjut besok.


__ADS_2