
Jakarta, hari ini.
Ya, setelah dua minggu berselang, akhirnya aku menginjakkan kaki lagi di tempat penuh kenangan ini. Serasa rumah tapi nyatanya aku tidak memiliki rumah sama sekali di Jakarta.
Liburan yang aku inginkan sepertinya telah cukup dan usai. Oke, sedih karena kehilangan kedua orang tua memang tidak dapat reda hanya dalam beberapa hari saja, atau beberapa bulan saja. Tapi setidaknya, aku sudah mulai dapat menata hati dan fikiran untuk melanjutkan hidupku pada tahapan berikutnya.
Aku menatap kartu nama milik Kenneth yang dia berikan padaku dua minggu yang lalu. Cowok itu mengharapkan aku bergabung pada production house di mana saat ini ia bekerja sebagai artisnya. Dia berjanji akan mencarikan sebuah posisi pekerjaan padaku andai aku menerima tawarannya. Namun aku tak lantas langsung setuju untuk menjawabnya. Aku masih dalam tahapan proses untuk memikirkan baik buruknya dampak yang akan terjadi padaku andai aku bekerja di tempat yang sama dengan Ken. Segala resiko maksudku.
Selama dua minggu ini pula aku dan Kenneth tak ada komunikasi sedikitpun. Cowok itu seperti tidak pernah hadir dalam hidupku, setelah kedatangan Sam waktu itu. Awalnya Sam memang mengatakan untuk membiarkan Kenneth sementara waktu di rumah bu Ratih, tapi saat malam tiba, Ken memberitahuku kalau ia mesti pergi saat itu juga. Urusan urgent, begitu dia mengatakannya malam itu.
Sejak itu Kenneth hilang, pergi bagai ditelan bumi, bagiku. Sebab dia sama sekali tak ada kabar cerita lagi.
Aku tidak terlalu kepikiran sih, hanya saja, aku sedikit penasaran dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Karena dia seorang artis tentunya. Apa itu artinya aku mengkhawatirkannya?
Entahlah.
Selama Kenneth tidak ada, aku menghabiskan hari-hari terakhirku di Bali bersama dengan Ryu. Cowok Jepang yang memperpanjang liburannya selama lebih dari tujuh hari hanya karena ingin menemaniku. Ryu itu baik dan ramah. Tapi ternyata dia berstatus masih pelajar. Ya ampun ... aku tidak menyangka. Wajahnya terlihat lebih dewasa dari usianya.
"Rajuuuuuu!" pelukan Alya sangat erat sampai bahuku rasanya mau rontok. "Lo pulang kenapa gak ngabarin? Untung gue belum pergi. Dasar lo ya, selalu bikin kejutan buat gue."
Aku memang sengaja tidak memberitahu sahabatku itu. Selain karena tidak ingin mengganggu kesibukannya, aku juga tidak ingin merepotkan siapapun.
Aku tinggal di kontrakan Alya sekarang. Sahabatku itu menyewa sebuah rumah kecil untuk kami tinggal lebih nyaman atas saran Om Sandi, ayahnya Alya. Kehidupan yang akan aku jalani berdua Alya ini membuatku kembali mengingat kehidupan manisku beberapa waktu lalu, saat masih tinggal di sebuah rumah yang mewah dan ...
Lupakan, Zura ... jangan pernah ingat itu lagi!
"Sebenernya gue pengen banget ngobrol sama lo, tapi hari ini gue harus interview," ucap Alya dengan mata berbinar. "Gue optimis kalo gue bakal diterima kerja di tempat itu kali ini."
"Gue doain, Al. Semoga lo berhasil."
"Makasih, Raju." Alya mengecup pipiku. "Kamar lo yang di sebelah kanan. Lo atur sendiri mau kayak gimana, sebab bokap gue udah kasih kita isi kamar yang lumayanlah. Sebelum nanti kita ganti sama yang lebih kece kalo kita sudah bisa mencari duit yang banyak. Hehe," kemudian dia langsung pergi dengan ojek online yang sudah menunggunya.
Memasuki kamar yang ditujukan untukku dari keluarga Alya, membuatku merasa hangat di dalam hati. Bagaimana mungkin masih ada yang memperhatikanku di saat kedua orang tuaku sudah tak ada semua. Ya, hidup sebaik itu bagiku karena bertemu dengan orang-orang yang baik pula.
Mengapa Alya mengontrak sebuah rumah? karena letak rumah kontrakan ini lebih strategis dibandingkan dengan rumah keluarga Alya yang berada di pinggiran kota Jakarta.
Aku langsung merebahkan diriku di kasur karena lelah. Aku ingin beristirahat sebelum aku menghubungi Radit nanti dan mengejutkannya.
Tok tok
Pintu luar rumah terdengar ada yang mengetuk.
Ya ampun, kenapa harus ada yang datang di saat aku sudah dalam posisi enak tiduran begini. Akhirnya dengan malas mau tak mau aku bangkit juga.
Siapa sih yang datang pagi-pagi begini? Eh, ini jam berapa ya? Aku lirik jam dinding ternyata sudah pukul 9.30.
__ADS_1
Begitu pintu aku buka ...
"Surprise!"
...***...
"Ngapain?"
Satu kata yang aku lemparkan saat menyambutnya. Si cowok narsis dengan tingkat kepedean level mahadewa.
"Wow! Cuma kamu satu-satunya cewek yang dengan dinginnya menyambutku begitu. Asal kamu tahu, di luaran sana cewek-cewek pada rebutan karena pengen deket sama aku. Mereka histeris padahal cuma lihat aku memasuki mobil doang. Mereka meleleh cuma karena lihat senyum aku doang. Bahkan mereka hamil online waktu kepoin akun medsosku doang."
"Kecuali aku."
Kenneth dan sejuta kenarsisannya. Dia menerobos masuk ke dalam rumah dengan wajah yang memakai masker dan kaca mata hitam. Tidak lupa hoodie yang digunakannya serba hitam. Itulah tampilannya sekarang.
Artis atau penjahat sih?
Dia langsung duduk di sofa sederhana yang ada di sana. Aku hanya berdiri menatapnya.
"Mau ngapain sih, Ken?"
"Ya ampun, Rara. Aku ini tuh tamu. Tamu special yang menjalani takdir menjadi artis go internasional. Pacar idaman. Suami masa depan. Sudah lama kita gak ketemu kok malah dijutekin? Aku datang ke sini tuh ya disambut, dikasih minuman berwarna, dikasih–"
"Ken!" bentakkanku membuat Ken malah terkejut.
Aku sebal rasanya mendengarkan celotehan Kenneth yang isinya unfaedah banget.
"Aku tuh capek. Baru aja nyampe. Lagian, kok kamu bisa tahu alamat ini?" tanyaku sambil memicingkan mata.
"Apasih yang gak bisa diperbuat oleh seorang Kenneth yang super duper tampan. Artis yang sedang naik daun, yang digilai banyak cewek, yang memiliki suara merdu, yang me–"
"Stop! Kamu tuh ya, aku ngomong sebaris, kamu jawabnya satu bab. Berisik!"
"Ish Rara, hari ini jutek banget sih! Dua minggu gak ketemu bukannya sayang-sayangan, peluk-pelukan, kangen-kangenan, ini malah–"
"Kamu rapper ya, Ken?!"
Ken membulatkan matanya. "Kok kamu tau? Mau gombalin aku kan?! Hee ... ayo deh lanjut!"
Aku semakin jengah terhadapnya. Si cowok langka. Siapa juga yang mau gombal!
"Soalnya kamu tuh berisik, cerewet, bawel. Kosa kata kamu banyak. Sampe aku pusing."
Kenneth memajukan bibir bawahnya. "Kirain mau gombal, huh."
__ADS_1
Aku melangkah menuju kulkas. Tentu saja aku tidak tahu apa saja yang ada di dalamnya. Karena ini rumah kontrakan Alya. "Ya udah, kamu mau minum apa? Ada soda sama jus Jambu nih. Mau, gak?"
"Soda boleh deh. Jus juga bawa sekalian. Aku sih doyan aja,"
Aku membawa tiga minuman ke meja dan mengambil satu soda untuk aku minum juga. Lalu aku duduk di ujung sofa.
Kenneth mengambil jus Jambu sambil menoleh ke arahku. "Gimana jawaban kamu?"
"Jawaban apa?"
"Kerja di tempat aku ya, Sam lagi butuh asisten tuh. Gimana? Mau ya? Ya? Rara ya? Kalo masalah gaji kamu gak bakalan kecewa deh."
Jujur aku belum memikirkannya. Bayanganku, aku akan melamar kerja seperti Alya, di sebuah gedung perkantoran, sebagai pegawai biasa. Bukannya bekerja di tempat yang berhubungan dengan dunia keartisan. Apalagi ini harus terus berada di dekat Ken, setelah gosip yang pernah berhembus tentang kami, lalu nanti apa? Aku benar-benar tidak suka gosip.
"Kenneth mengencani asisten manajernya. Begitu deh nanti berita gosipnya," sahutku dengan nada seperti pembawa acara infotainment.
"Yailah, Ra. Tenang aja. Dunia entertain di Indonesia mah gampang kan pernah aku bilang. Orang biasa yang viral aja bisa jadi artis. Trus, artis yang kena kasus atau kontroversi parah sekalipun malah semakin tenar. Malah semakin terkenal dan laris. Itu tuh dunia keartisan negara kita levelnya begitu. Jadi kamu tenang aja, semakin kita bikin skandal, semakin kita tenar dan laris manis."
"Ck. Aku gak suka. Gak mau deh! Gak sudi aku jadi asistennya si om Sam."
"Loh kenapa? Why?"
"Aku gak suka jadi sorotan. Aku gak suka skandal. Aku gak suka viral. Paham?!"
"Nggak."
Aku menghela nafas.
"Denger, Ra. Semua ya gak mesti terjadi begitu. Tergantung manusianya. Aku kan cuma kasih tau kamu keadaannya, kenyataannya, gak perlu takut kontroversi segala selagi masih ada di Indonesia. Nanti juga berita kita tenggelam sendiri."
"Katanya kamu terkenal seantero Asia Tenggara?"
"of course. Emang kenapa?"
"Bukan cuma Indo kan. So, berarti kamu harus jaga image juga kan buat negara tetangga?!"
"Iya sih, bener. Tapi kan aku gak bikin hal yang memalukan, Ra. Malah aku terlalu membanggakan karena prestasiku dan juga grupku."
Aku menghela nafas. Kemudian aku teguk lagi sodaku. "Bisa beri aku waktu buat berfikir? Sekarang aku capek banget, Ken. Aku mau istirahat tanpa gangguan."
Kenneth berdiri. "Ya udah deh, aku pergi dulu sekarang," ucapnya santai lalu melangkah begitu saja. Apa dia tersinggung? "Tapi nanti sore aku bakal gangguin kamu lagi. Begitupun dengan besok, dan besoknya lagi. Aku akan terus ganggu kamu sampai kamu mau jadi asistennya om Sam. Hehe ..."
Aku terlalu lemah hati.
Manusia aneh macem Ken memang tidak mudah baper. Itu yang membuatku nyaman berada di dekatnya. Ku pikir, Kenneth itu terasa seperti Alya dalam versi laki-laki.
__ADS_1
...💓. . .💓...