Like Drama

Like Drama
Thirty Eight


__ADS_3

"Maaf, aku membencimu, Mas," kataku lagi dengan suara pelan. Aku harus berbohong demi kebaikan semuanya. Tidak, tidak akan ada masa depan dalam hubungan kami walau sekuat apapun Reiki mempertahankanku. Lagi pula yang terpenting saat ini adalah bukan perasaanku ataupun kisah cintaku, melainkan keadaan orang tuaku, keadaan Papa.


"Aku tidak peduli, Sayang," ucapnya keras kepala.


Aku melirik grandma yang masih menyaksikan kami. Diamnya kuartikan sebagai; dia memberiku kesempatan untuk mengakhiri hubungan tidak jelasku dengan cucunya, atau jika tidak maka dia sendiri yang akan bertindak dengan caranya sendiri.


"Kamu harus peduli, karena aku selalu merasa ingin mati bila kamu terus memaksaku."


"Don't say that!"


"Sungguh, aku memang selalu ingin mati bila kamu terlalu egois dalam menguasaiku. Sudah sering kukatakan kalau aku hampir tidak dapat bernafas atas semua perlakuanmu. Obsesimu itu mampu membunuhku, Mas."


Lanjutkan, Zura ...


"Tapi kali ini ... aku benar-benar ingin lepas darimu, Mas. Aku juga bukan cewek yang terlalu bodoh sebenarnya. Aku selalu sadar bahwa aku bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan semua wanita yang ada di sekitarmu. Aku– aku tidak pantas untukmu."


"Kata siapa? Tidak ada yang berhak memutuskan siapa saja yang pantas aku miliki kecuali aku sendiri."


"Tapi aku tidak bisa terima kamu. Janeta, Amanda, Maria ... mereka terlihat lebih cocok untukmu. Dan lagi ... aku tidak percaya kepadamu sama sekali. Maka tolong ... jangan paksa aku untuk menjalani hidup seperti maumu. Aku punya dunia sendiri. Dan dunia aku itu adalah tanpamu."


"Sayang–" desisnya siap meledak. Wajahnya itu menyeramkan. Rasanya aku ingin cepat-cepat menghilang dari tempat ini.


"Plis, kalau Mas Rei masih memaksaku juga, maka lebih baik aku mati," tegasku. Kutampilkan raut kesungguhan pada wajahku.


"Jangan mengancamku, Sayang."

__ADS_1


"Aku tidak sedang mengancam. Kalau kamu ingin bukti dari perkataanku, aku bisa mengabulkannya."


"Azzura."


Ancamanku membuatnya semakin terlihat murka. Tapi aku tidak peduli.


"Mas Rei menginginkan mayatku? Oke!"


"AZZURAAA!" bentaknya.


"Apa?" aku putus asa. Benar-benar putus asa.


"Hentikan!"


Aku berjongkok dan menangis karena frustasi. Mengapa aku bisa terjebak di sini? Aku tidak pernah menginginkan mempunyai kekasih seorang kaya raya, tapi mengapa nasibku harus begini? Terjebak pada kisah bagai cinderella. Bahkan aku lebih yakin kalau dia hanya terobsesi padaku, sedangkan aku malah jatuh cinta beneran padanya. Aku bisa apa?


Ketika akhirnya mataku melihat pada pisau Apel di meja yang berada di depan sofa di dalam ruangan itu, segera aku bergerak cepat untuk mendekati dan mengambil benda tajam itu.


Aku bisa nekat. Bila memang ini harus terjadi, bila memang ini takdir hidupku, maka aku tidak akan pernah menyesal.


"Mas Rei butuh bukti?" ancamku sambil menempelkan pisau di pergelangan tanganku. Aku bukan sekedar mengancam, tapi aku berniat sungguhan andai dia masih saja dengan keegoisannya. Ya, aku semampu itu untuk mengakhiri hidupku agar terlepas darinya.


"Sayang, lepaskan itu," ucap Reiki tajam. Kulirik grandma juga menatapku dengan kening berkerut.


Aku tidak berniat mundur. Kutatap kembali mata Reiki dengan sama tajamnya. Air mata yang tak henti-hentinya menghalangi pandanganku, kini malah membuat hatiku semakin sesak saja.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan hidupku? Mengapa harus seperti ini? Mengapa semua harus terjadi tidak seperti inginku.


Mengapa takdir membawaku kepada pria seperti Reiki? Kenapa?


"LEBIH BAIK AKU MATI KALAU MAS REI MASIH TERUS MEMAKSAKU UNTUK TINGGAL!" jeritku.


...🔪...


Aku berlari keluar dari gedung itu. Tanpa peduli Johan yang sudah siap dengan mobilnya, aku melewatinya egitu saja. Sempat aku menoleh saat merasakan kalau seorang wanita muda menyebut namaku. Tapi aku tidak sempat menjawabnya, karena saat ini aku sedang menangis sepuasnya. Menangisi hidupku yang tidak biasa lagi.


Taksi yang kugunakan sudah mengantarku menuju bandara. Aku harap Johan atau siapapun orangnya Reiki tidak ada yang mengikutiku.


Berhasil? Ya, aku selangkah lagi aku akan berhasil pergi dari hidup pria itu. Pria mengerikan yang terobsesi padaku. Entah, aku tidak pandai mengartikan sikapnya sebagai apa. Yang ada, toxic relationship bila aku terus berada di dekatnya.


Aku yang bodoh, kini dapat menghela nafas lega. Setidaknya, aku masih memiliki harapan hidup yang baru bila berada di tempat yang jauh darinya.


Semoga.


Semoga ini akhirnya.


Jangan menoleh ke belakang lagi, Zura. Lanjutkan hidupmu, atau lebih tepatnya, kembalilah pada hidupmu yang sebenarnya.


Masih ada waktu sebelum aku harus menapaki lagi Jakarta saat wisuda nanti. Aku akan melewati hari-hariku bersama kedua orangtuaku yang sudah lama kurindukan.


Sampai jumpa Jakarta. Saat aku kembali nanti semoga semua telah kembali normal seperti sedia kala.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2