
Beberapa hari telah berlalu usai sidang skripsiku, maka hanya tinggal menunggu waktuku untuk wisuda. Tak sabar rasanya untukku menuntaskannya dan beralih kehidupan menjadi seorang wanita karir. Ya, itu mimpiku. Walau nyatanya aku tahu bahwa mencari pekerjaan tak akan semudah apa yang kubayangkan sekalipun kau seorang sarjana. Faktor keberuntungan menurutku yang paling berperan di sini. Karena tak sedikit sarjana yang menjadi pengangguran. Entah bagaimana nasibku selanjutnya. Apakah aku akan beruntung, ataukah tidak beruntung?
Urusan sekolah pada akhinya telah beres maka urusan dengan Reiki pun akan aku selesaikan dengan segera. Itu yang menjadi hal utama dalam prioritasku ke depan. Yakni, pergi dari hidup Reiki.
Hubunganku dengannya bisa dikatakan cukup baik. Selain aku yang selalu menurut kepadanya, kini ada timbal balik dengan dia yang tak jarang menuruti kemauanku juga. Meskipun dengan banyak syarat yang membuatku jengah.
Pada kenyatannya,
Aku jatuh cinta padanya.
Ya, mau tak mau aku sadari itu. Entah banyak entah sedikit, perasaan ini ku yakini sebagai cinta. Cinta yang tak boleh tampak ke permukaan. Cinta yang harus kukubur sebelum ada seseorang yang mengetahuinya.
Aku menyerah. Aku tidak dapat menolak dan mengelak lagi. Aku akui bahwa dia memang menarik. Dan cara dia memperlakukanku terkadang membuatku merona karena tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Karena dia selalu membuatku merasa special di matanya.
Oke, cukup sampai situ saja. Aku masih berusaha mencari hari yang tepat ketika saatnya aku harus pergi dari hidupnya. Segera. Aku yakinkan hatiku kalau aku pasti mampu meninggalkannya.
Harus.
.
.
Aku membuka pintu apartement saat kufikir yang datang itu pastilah Alya. Karena selama beberapa minggu aku di sini tak ada orang lain yang datang kesini selain Alya, sahabatku.
__ADS_1
Seseorang yang kukenal beberapa waktu lalu telah berdiri di depan pintu dengan anggunnya.
Janeta.
"Kamu–" dia terlihat syok mendapati aku berada di sini.
Bagus, sekarang ada seorang lagi yang mengetahui keberadaanku di sini.
Aku tak tahu harus mengatakan apa, yang ada aku malah mempersilahkannya untuk masuk. Hanya saja Janeta menolaknya. Dia memandangku sengit dan tajam, dan seakan hendak mengeluarkan seribu caci makinya. Tapi kakinya terlihat hendak berbalik langkah. Hanya saja, sebelum ia pergi, lidahnya melemparkan racunnya lebih dulu kepadaku.
"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Reiki, Anak kecil," katanya dengan pelan tapi sadis. "Kamu boleh berhasil mendapatkan perhatiannya, tapi aku selalu berhasil mendapatkan restu dari keluarganya. Ingat itu."
Aku memijat pelipisku sambil menutup pintu. Janeta berlalu dengan menyisakan cubitan dalam hatiku. Ya, dia benar. Wanita itu mendapatkan restu dari keluarganya, terutama dari grandma. Sedangkan aku?
Moodku hari ini memburuk. Waktu menunjukkan masih pukul sembilan pagi, saat aku mengambil tasku dan berjalan keluar apart. Terserahlah kakiku mau kemana, yang jelas aku tidak berdiam di apartemen dan memusingkan ucapan Janeta tadi.
"Silakan, nona!" Johan tidak bosannya mengantarku. Membuat moodku bertambah semakin buruk lagi.
Inginnya aku tuh jalan-jalan sendirian. Tidak perlu dijagain seolah aku anak konglomerat. Tapi apa, Johan itu ... sampai kiamat dia bakal jadi pengawalku. Benar begitu? Huh!
"Bisa nggak kalau kali ini saja Om Johan mendengarkanku?" tanyaku gemas. Pengen jambak.
"Kalau Bos sudah mengizinkan, baru saya akan mendengarkan," ucapnya datar.
__ADS_1
Reiki lagi, Reiki lagi!
"Yaudah, bawa aku ke jurang," kataku sambil menaiki mobil dan membanting pintunya.
Johan menjalankan mobil tanpa aku memberitahu akan kemana tujuanku. Sudah dua kali dia bertanya, tapi aku masih diam saja. Rasakan! Siapa suruh memaksa mengantarku terus?
Reiki lah yang menyuruhnya, Ra ...
Akhirnya setelah aku menyebutkan sebuah alamat, Johan mengantarku kesana.
Aku tidak turun dari mobil. Aku hanya memandang dari jauh sebuah rumah yang dahulu pernah mengisi kenangan masa remajaku. Memang ini rumahku yang kedua setelah pindah. Dulu masa kecilku, kami hanya tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Jakarta. Lalu setelah aku lulus sekolah dasar, papa memutuskan untuk mencari pekerjaan di tengah kota, maka kami sekeluarga pun pindah. Dan rumah itulah yang sedang kupandangi sekarang.
Ada rasa rindu tentu saja. Ingin rasanya kembali berkumpul seperti dulu kala. Hidup sederhana namun bahagia. Sedangkan sekarang ... aku dapat memiliki yang aku mau namun kedua orang tuaku berada jauh dari sisiku. Malahan aku terjebak dalam sebuah kisah cinta yang terjadi bagai di sebuah drama.
"Tidak turun, Nona?" suara Johan membuyarkan lamunanku.
Meskipun enggan, aku menjawabnya juga. "Tidak. Sekarang kita pergi ke kosan Alya saja, Om."
...***...
Raju numpang lewat ...
ALthar besok pagi ya, (klo gak lupa) 🙈
__ADS_1
Tengkyuuuuuuu 😘