Like Drama

Like Drama
Eighty Six


__ADS_3

"Azzura, bagaimana hubunganmu dengan Ken?"


Pertanyaan om Damar Barata membuatku lemas. Bagaimana tidak kalau nyatanya aku baru saja memutuskan anak semata wayangnya. Ketakukanku akan reaksi dari pria itu juga membuatku berpikir keras, kira-kira kalimat apa yang akan aku katakan supaya ayah Ken tidak marah?


Kekacauan di hatiku menimbulkan banyak suara yang bermunculan di dalam kepalaku. Ada sebuah penyesalan yang mengatakan bahwa aku mesti kembali kepada Ken. Ada juga yang memutuskan bahwa kejujuran adalah hal terbaik dibandingkan melakukan kebohongan yang mampu mengkibatkan kerugian pada diriku sendiri.


"Uhm ..."


"Saya mendengar banyak sekali desas-desus di perusahaan ini ... yang jelas merugikan saya."


Deg.


Aku gelisah, gugup, cemas, dan segala rasa semacam itu, karena ternyata masalahku tidak sesederhana antara aku, Ken, dan Reiki.


"Maaf, Pak."


"Jelaskan ... please,"


Benar. Aku mesti menjelaskan semuanya. Kupertaruhkan segalanya di sini. Apa pun takdir yang ada di hadapanku, maka aku siap menjalaninya.


"Aku sudah putus dengan Kenneth, Om," jelasku sebagai status mantan kekasih putranya.


"Lalu apa hubunganmu dengan Reiki? Kamu tahu dia siapa?"


Aku mengangguk. "Tahu, Pak. Mas Reiki adalah keponakan Bapak dan sepupunya Ken. Saya pernah dekat dengan beliau beberapa waktu yang lalu." kupilah kiranya kalimat apa lagi yang dapat kuucapkan, tanpa menimbulkan masalah bila salah ucap.


"Jadi sekarang kamu kembali berhubungan dengan Reiki dan memutuskan Ken?"


Segera aku menggeleng, "Bukan begitu, Pak." Namun sekarang aku ragu dengan kata-kataku sendiri. Entah apa namanya kalau memang hati kecilku masih memliki rasa pada pria itu. Dan lagi, perbuatan kami yang–


"Lalu apa?" Om Damar bertanya lagi. "Sebenarnya bukan urusan saya mengenai kehidupan asmara kamu. Bebas bila diantara karyawan ingin menjalin hubungan. Perusahaan tidak memiliki aturan untuk melarang kalian. Akan tetapi, yang kamu lakukan itu melibatkan anak saya yang seorang public figure, juga keponakan saya yang tak kalah pamornya dengan Kenneth. Kini kedua-duanya telah tercoreng namanya karena kamu, Azzura."


Apa?

__ADS_1


"Keluarga besar Maheswara dan Barata bahkan telah mendengar kabar ini, kamu tahu? Sekarang saya dan istri saya pun telah mengetahui cerita masa lalu kamu dengan Reiki."


Kalimat terpanjang yang diucapkan oleh Damar Barata semenjak aku mengenalnya. Dan perkataannya tadi sudah mampu aku pahami kemana arahnya.


"Sebuah keputusan yang baik dengan kamu memutuskan hubunganmu dan Kenneth. Saya harap anak saya kali ini tidak memiliki masalah berarti dengan sepupunya lagi."


Jadi begitu. Aku memang tidak pantas dengan siapa-siapa.


"Bukan saya tidak menyukai kamu, Azzura. Saya tidak masalah dengan siapapun kekasih anak saya, termasuk kamu, andai kamu tidak pernah memiliki 'sebuah hubungan' dengan keluarga kami yang lain. Terlebih dengan grandma dari Kenneth dan Reiki yang tidak menyukai kamu."


"Saya paham, Pak." Amat sangat paham.


"Sungguh, amat memalukan mendengar kisahmu dengan Reiki sebelumnya. Dan bagaimana bodohnya Ken bila terus memaksa ingin bersamamu. Tapi syukurlah bila kalian telah benar-benar mengakhiri hubungan."


Tahan, Zura ... jangan menangis dulu.


"Kamu jangan salah paham. Saya tidak bermaksud menganggap bahwa anak saya 'suci' tanpa cela. Bukan, bukan itu. Yang saya maksudkan di sini adalah, kenapa kamu mesti memiliki affair dengan keluarga kami yang lain. Karena pembicaraannya nanti tidak akan pernah hilang selamanya. Itulah yang tidak saya benarkan."


Aku yang rasanya sudah terlalu hina ini tak sanggup untuk sekedar menatap mata pria di hadapanku ini. Orang baik yang telah memberiku pekerjaan dengan benar sesuai pendidikanku. Dan seseorang yang memiliki putra yang amat menyenangkan.


Tuhan, aku ingin menangis.


...--- --- ---...


Kupikir, kalimat panjang dari om Damar adalah bagian terberat di hari ini. Namun ternyata, begitu aku keluar dari ruangan beliau, sebuah kejutan lagi menyambutku.


Hujatan, cibiran, hinaan, bahkan terdengar jelas di telingaku. Sepanjang lantai tiga puluh dua suara-suara itu masih sedikit kuterima. Namun begitu aku memasuki lift menuju lantai lima dimana ruanganku berada, maka rasanya nafasku hampir sesak karena tak mampu menahan rasa pedihnya.


Awalnya aku tidak mengerti bagaimana semua orang mengetahui kejadian makan malamku dengan Kenneth semalam. Padahal ruangan kami sudah cukup privat untuk umum mengetahui apa yang terjadi. Tapi video yang mereka bicarakan adalah adegan saat Ken melempar kotak cincinnya ke belakangku. Berbagai spekulasi, cerita yang dilebih-lebihkan, dan tentu saja menyudutkanku sebagai perempuan yang tidak tahu diri. Karena sudah berani menolak maha bintang seperti Kenneth dan memiliki affair dengan sepupunya yang tak kalah terkenalnya.


Hancur sudah rasanya hidupku. Dihujat banyak orang tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang paling menyakitkan adalah dengan kesimpulan bahwa aku dengan predikat seorang gadis murahan yang mengincar harta konglomerat macam Maheswara dan Barata.


"Masih cantikkan gue-lah."

__ADS_1


"Ya jelas. Sama gue aja masih cantikkan gue."


"Ya ampun, gue kira ratu dunia macam apa yang direbutin Kenneth sama Reiki Maheswara? Segini aja tampilannya? Buta apa mereka?"


"Pake pelet kayaknya."


"Dukun? Iyuh, gak level."


"Modelan kayak gini berani nolak Ken? Plis deh, kiamat sudah dekat."


Tertunduk malu aku melangkah tergesa-gesa menuju toilet terdekat. Sudah tak tahan lagi rasanya ingin segera menumpahkan semua air mata yang sejak tadi kutahan. Tidak cukupkah dengan rasa sakit hati yang kurasakan sendiri? Mengapa sekarang semua orang malah menambahkan kesakitan itu?


Ponselku berbunyi ketika aku sudah berada di dalam toilet. Dan nama yang tertera di layar di sana adalah Kenneth. Feelingku dia ingin menenangkanku, atau ingin memberi penjelasan kenapa bisa ada rekaman video seperti itu bahkan hingga tersebar, dengan judul skandal pula.


Memangnya aku telah berbuat apa sehingga semua orang sekarang mencelaku?


Ah ... Ya ... tentu saja ....


Aku si wanita tidak cantik yang diperebutkan oleh dua orang terkenal. Dan bodohnya malah menolak seorang superstar lalu viral.


Apa aku harus mengangkat teleponnya? Atau tidak? Sedangkan air mataku saja tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Maka sudah pasti keputusanku adalah dengan mengabaikannya. Karena aku tidak ingin Ken jadi mengkhawatirkanku. Terlebih, di tempat ini sudah pasti kami akan menjadi pusat perhatian dan dapat mempermalukan om Damar lebih banyak lagi.


Tidak. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Mempermalukan om Damar? Maheswara? Barata? Tidak akan.


Suara pintu toilet di buka membuatku segera menghapus air mata buru-buru. Aku tidak ingin siapapun malah semakin mencelaku yang terpuruk ini. Karena aku yakin, hujatan yang mereka berikan tidak akan hilang dalam hitungan hari. Bahkan mungkin selamanya, sebagai seorang gadis bodoh yang telah menolak Kenneth dan memilih sepupunya yang lebih mapan lagi.


Aku berpura-pura sedang mencuci tangan di wastafel dengan pandangan tertunduk. Memangnya apa lagi selain aku berusaha untuk tidak dikenali oleh siapapun yang baru saja masuk itu.


"ARGH!" teriakku saat kurasakan sebuah tarikkan mengejutkan di sidut siku kiriku, hingga membuatku terpaksa berbalik arah.


...***...


Makasih buat yang masih setia baca. Jangan lupa like atau komen ya. Butuh semangat yang banyak buatku update. 😊

__ADS_1


__ADS_2