
Happy reading!
Pukul 22.45 sewaktu aku tiba di kontrakan. Aku sengaja tidak menawarkan Kenneth untuk mampir, karena memang sudah larut untuk cowok bertamu. Tapi ... rupanya malah lelaki itu yang menawarkan diri.
"Gak usah mampir!" pungkasku dengan tegas.
"Tapi aku mau, Ra ..."
"Katanya kamu sedang ditunggu Sam?"
"Sam sih gampang, Ra. Aku masuk dulu ya?!"
"NGGAK! Nggak boleh!"
"Kenawhy?"
"Aku capek, Ken. Aku mau tidur. Mau istirahat. Kamu ngertiin aku dong. Lagi pula udah malam gini, gak enak lah kalo kamu mampir."
Ken terlihat berfikir sejenak, "Iya deh," katanya kemudian. "Kamu kelihatan lelah banget. Ya udah sana masuk, istirahat! Langsung bobo ya, jangan chattingan sama siapapun."
Cup.
Seringan itu Kenneth mengecup keningku, lalu kemudian ia berlalu. Dia menyengir sebentar sebelum memasuki mobilnya dan pergi.
Hufft ...
Hari yang melelahkan.
Mengapa yang terjadi tidak seperti yang aku mau? Tidak seperti yang aku rencanakan. Semua berjalan bukan atas inginku.
Oh Tuhan ... aku merasa lelah jiwa raga.
Aku membuka pintu kontrakan. Lampu sudah dimatikan, yang artinya Alya sudah dalam keadaan tertidur di kamarnya. Memang, sejak dia mulai bekerja, jam tidurnya pun menjadi lebih awal agar dia bisa bangun pagi dan tidak terlambat pergi bekerja.
Setelah menyempatkan diri untuk meminum segelas air putih, aku baru menuju kamarku yang dalam keadaan gelap juga. Setelah menutup pintu dan berbalik,
Lampu segera kunyalakan.
Dan ...
Aku terkejut.
What?
Ke-kenapa ada dia di sini?
Kakiku terpaku di tempat, tepat di belakang pintu. Ku lihat di tempat tidurku saat ini seseorang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Seseorang yang amat sangat mustahil aku bayangkan saat ini untuk berada di sini.
Tapi,
Pria itu ... nyata.
Kok bisa?
__ADS_1
Pria yang saat ini masih ada di dalam hatiku. Tapi mengapa? Mengapa sekarang dia malah ada di sini? Apa yang membuatnya ingin menemuiku lagi? Setelah semuanya terjadi dan berlalu, apa yang diinginkannya sekarang?
Hening.
Lidahku kelu sesaat.
Alarm di kepalaku berbunyi seketika. Ini tidak benar. Dia sudah memiliki tunangan. Dan aku ... Yah, aku memiliki Kenneth di sampingku, entah dengan apa namanya hubungan kami. Karena versiku dan versi Kenneth jelas berbeda. Tapi yang jelas, itu sudah lebih dari cukup untuk memberikanku alasan.
Segera aku membuka pintu kamarku lagi. Melebarkannya, supaya aku tetap ingat batasan tentang status kami. Ayolah, Zura ... sejak dulu pun kamu tidak memiliki status yang jelas dengan pria itu, 'kan?
Oh Tuhan, Reiki sedang menatapku tajam.
Tapi aku tidak takut. "Kenapa Mas Rei ada di sini? Kalau Mas Rei mau bertamu, 'kan gak perlu langsung ke kamarku? Bisa datang dan tunggu di ruang tamu–"
"Aku bukan tamu." suara dinginnya sukses mampu mengintimidasiku. Sudah lama rasanya aku tidak mendengar suaranya dalam jarak seperti ini. Sial, jangan bilang kalau aku merindukan suaranya. "Aku pemilik tempat ini, dan terserah aku ingin berada dimana," lanjutnya yang membuatku sedikit terpana.
Oke, aku percaya andaikan sekarang dia sudah menjadi pemilik kontrakan ini. Entah bagaimana bisa pemilik tempat ini menjualnya. Tapi aku tau kalau Reiki pasti mampu melakukan apapun yang diinginkannya.
"A-aku mau tidur. Silakan Mas keluar," sial, mengapa aku gugup? Aku sudah berupaya untuk tenang, tapi kenapa pria itu begitu amat sangat mampu mempengaruhiku.
Reiki turun dari ranjangku. Perlahan kakinya melangkah menuju ke arahku. Gawat. Ini bahaya. Aku takut. Aku sungguh takut dengan aura yang dimiliki pria rupawan itu. Aku takut bakal terpedaya lagi olehnya, dan berakhir dengan sakit hati yang berkepanjagan menemani sisa hidupku.
"Kamu semakin cantik, Sayang ..." bisiknya menggoda. Entah sejak kapan dia sudah menjebakku pada dinding di sisi kanan pintu. Bulu kudukku merinding seketika saat dia mencium lembut pipiku.
Kenapa begini? Kenapa aku selalu lemah bila ia mendominasi?
Sadar, Zura!
Aku bukan Azzura yang kamu kenal beberapa bulan yang lalu. Aku yang sekarang sudah jauh lebih dewasa dalam menghadapi berbagai macam rasa kehidupan. Begitulah seharusnya diriku.
"Mas ada perlu apa?" tanyaku datar. Aku ingin ini cepat beres. Maksudku, tentang alasan kedatangannya.
Reiki bersandar pada tiang pintu kamarku dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. Jarak beberapa langkah terbentang di antara kami. Dia menatapku dengan tatapan yang aku tidak pahami. Oya, aku sudah menyalakan lampu sambil berjalan barusan.
"I miss u ..."
Suara seraknya menggelitik pendengaranku. Ternyata masih sebesar itu pengaruhnya pada hatiku. Pada pertahananku. Tapi tidak boleh aku kalah. Ya, aku harus tegas kali ini.
"Lalu?"
Jeda agak lama saat dia berbicara lewat tatapan matanya saja kepadaku. Aku sudah pasti menghindari tatapan matanya itu. Aku tak mau mengartikan apa-apa. Sebab antara kami sudah tidak seperti dulu.
"Aku mengantuk," kataku sebagai jawaban saat akhirnya mataku kembali menatapnya.
Dengan santainya dia menggerakkan wajahnya dengan sekilas. "Silakan, masuk! Aku akan pergi,"
Tapi?
Aku yakin ucapannya belum selesai. Dan aku ragu, lebih tepatnya aku malah takut untuk melewatinya yang berdiri menghalangi pintu kamarku.
Aku menelan saliva.
Jantungku berdebar karena meyakini bahwa pria itu menginginkan sesuatu dariku sebelum benar-benar pergi dari sini.
__ADS_1
"Mas Rei pergi aja dulu, sekalian aku mau mengunci pintu setelah Mas Rei keluar." nada suaraku masih kupertahankan untuk tenang. Semoga dia tidak mendengar kalau sebenarnya suara yang kukeluarkan agak sedikit bergetar.
Lagi, dia menatapku dengan intens.
"Aku tidak akan pergi sampai melihatmu sudah berada di dalam kamarmu."
Hufftt.
Kapan ini selesainya? Pria-pria yang kutemui memang terlahir untuk mengatur dan tidak suka dibantah.
Ini mengesalkan.
Reiki itu tidak baik untuk kesehatan jiwaku.
"Aku lelah, Mas ... plis pergi ...."
"Masuk!"
Aku ingin masuk tapi aku takut dia menyentuhku. Ya ampun, tidak adakah yang bisa menyelamatkanku darinya? Aku harap Alya tiba-tiba terbangun. Lalu membantuku menghadapi Thanos di hadapanku ini.
Dengan ragu akhirnya aku melangkah juga. Semakin tipis jarakku dengannya, semakin kencang debaran di hatiku. Hingga akhirnya aku berhasil melewatinya tanpa masalah, tapi–
Baru selangkah aku menginjakkan kakiku di lantai kamarku, lenganku tertahan.
Semua terlalu singkat sebelum aku menyadari bahwa Reiki sudah menarikku ke dalam pelukannya, dan bibirnya langsung menyerbu bibirku.
Mataku melotot karena terkejut. Tapi itu tak menghentikannya yang terus ******* bibirku tanpa ampun.
Tidak lama. Beberapa detik saja.
Karena dorongan kerasku pada dada bidangnya rupanya mampu melepaskan bibirnya dari bibirku. Aku rasa dia sedang lengah.
Matanya menatap tak percaya padaku, "Baru sebentar, honey ..." protesnya tak terima.
Dasar gila.
Aku membanting pintuku dengan keras dan langsung menguncinya. Slot tak lupa. Untuk berlindung dari keganasan seorang pria penuh pesona itu.
Jantungku yang berdebar sejak tadi kini debarnya semakin menjadi. Aku takut mengalami serangan jantung malah. Reiki itu benar-benar tidak baik untuk ketenangan hatiku. Aku harus menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Seperti magnet, bila radiusku dekat dengannya maka aku akan tertarik kuat padanya.
Bahaya. Ini sungguh bahaya.
Statusnya yang sudah memiliki tunangan. Dan aku yang ... 'mungkin' saja memiliki harapan pada Ken -walaupun harapan itu sangat kecil-, maka tidak mungkin untuk berdekatan dengannya. Jangan sampai aku terlihat 'ada apa-apanya' dengan Reiki lagi. Karena dunia tidak merestuiku dengan pria itu. Sama sekali.
Ku raba bibirku sesaat. Ya ampun, bahkan aku masih mengingat rasa itu. Rasa manakala bibirnya singgah di bibirku. Dan buruknya, aku yakin ada setitik rasa senang yang kuingkari di sudut hatiku.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu kamarku itu membuatku menahan nafas. Jadi rupanya pria itu masih di sini?
...🎲🎲🎲🎲🎲...
Ehhhh, numpang lewat 😂
__ADS_1