
"Azzura?"
Aku tahu siapa perempuan itu. Namanya Helena, adik dari Reiki yang usianya sepantaran denganku. Wajahnya cantik, senyumnya manis dan nampak ramah. Walau tidak persis mirip dengan Reiki, namun ada saat ketika senyumnya terkembang, maka aku melihat seperti bagaimana Reiki tersenyum juga.
Tak dapat aku bohongi hatiku yang cukup waspada terhadap perempuan itu. Keramahan seseorang tidak menjamin apakah dia akan menyukaiku atau tidak. Tante Widia, ibunya, misalnya. Wanita itu begitu ramah dan berlaku manis kepadaku, tapi tidak dengan restu.
Ah, restu rupanya yang hatiku harapkan. Bukankah itu terlalu mimpi, Zura? Apa mungkin keluarga terpandang macam mereka merestui aku yang yatim piatu ini?
"Hai, aku Helena. Adik Mas Reiki," sapa Helena sembari memelukku dengan hangat. Itu tidak terlalu mengejutkanku. Lagi-lagi aku telah menerima sambutan yang serupa kala itu dari ibunya, ibu mereka tepatnya.
"Kamu cantik, seperti yang Mas Reiki bilang."
Apa mungkin Reiki telah menceritakanku dari sudut pandangnya? Maksudku, dari bagaimana rasa yang dimilikinya untukku.
Seulas senyum menghargai aku berikan kepadanya. Sudah sepatutnya aku membalas keramahannya.
"Aku pesankan kopi lagi ya?" tanyanya tanpa menunggu jawaban dariku. Perempuan itu lantas beranjak untuk memesan kopi, yang sebenarnya kopi milikku masih ada tersisa sedikit.
Awalnya, aku sedang menunggu Reiki di coffe shop di sore hari. Walau kami masih berada di tempat menyendiri, tapi Reiki tetaplah sibuk dengan pekerjaannya. Dia pergi entah kemana dan memintaku untuk menunggunya di sini. Namun setengah jam yang lalu pria itu menelponku dan mengatakan kalau ada yang ingin bertemu denganku. Dia adalah Helena, sang adik yang Reiki yakinkan kepadaku bahwa tidak akan menyakitiku seperti keluarganya yang lain.
Dua buah gelas kopi tersaji di hadapan kami yang masih saling terdiam selama beberapa saat. Beberapa kali aku melirik dan rupanya perempuan itu sedang memperhatikanku dalam diamnya. Mungkin dia sedang menilai bagaimanakah rupa perempuan yang diminati oleh sang kakak.
"Sudah lama sebenarnya aku pengin ketemu kamu. Tapi belum ada kesempatan itu. Selalu ada halangan dan membuatku tertunda untuk pulang ke sini."
Aku tersenyum saja menanggapinya. Sesekali kuteguk kopi manis milikku yang tadi dia berikan.
"Bagaimana menurutmu dengan pendapatku?" tanyanya kemudian.
"Ya?"
"Pendapatku tentang kalian. Tentang kamu dengan Mas Rei. Apa itu bakalan penting untukmu?"
__ADS_1
"Tentu saja. Sama seperti dengan pendapat keluarga kalian juga, aku sudah sejak lama amat menghargainya. Tidak ada keinginanku sedikitpun untuk melawan, merebut, atau mempengaruhi Mas Rei agar membelaku. Aku menyerah pada apapun hubungan kami sebab itu terlalu mustahil untuk diperjuangkan. Jadi, aku akan amat paham apapun pendapat kamu."
Helena tersenyum manis. "Pastinya aku sudah mendengar semua cerita kalian. Baik itu dari versi Mama, Papa dan grandma. Dan tentunya dari mulut Mas Rei sendiri yang aku paksa untuk bercerita," dia terkekeh pelan, lalu menatapku dalam. "Mau tau bagaimana pendapatku? Aku merestui kalian."
Lagi-lagi seulas senyum tulus aku berikan kepadanya. Tidak ada yang aku harapkan, tapi ini cukup membuat hatiku sedikit lega.
"Terima kasih," sahutku getir. Entah ketika mencapai apa, maka bahagia memenuhi relung hatiku. Sebab ketika pada akhirnya Reiki memilihku, memiliki hatiku, dan berniat bersama denganku selamanya, itu semua masih tak membuat aku puas. Rupanya cinta Reiki saja tak cukup, aku tetap membutuhkan restu dan cinta juga dari semua keluarganya. Aku serakah? Entahlah. Dalam pikiranku, hanya ketika dunia merestuiku maka itulah awal dari segala kebahagianku.
"Jangan sedih, aku akan membantu kalian untuk meyakinkan keluargaku. Tapi bagian ini, kamu jangan beritahu kakakku ya, Azzura. Soalnya Mas Rei sudah mengancamku untuk tidak lagi membicarakan kalian di depan keluarga besar. Aku sih amat paham maksud dan keinginannya. Aku juga mendukung rencananya, rencana kalian untuk mendapatkan bahagia dengan jalan sendiri. Akan tetapi, aku ingin membawa kalian turut serta dalam bahagia yang sesungguhnya. Komplit. Supaya bahagia itu akan berlangsung selamanya."
Aku menggeleng pelan. Sanksi akan perkataan Helena dengan niat baiknya.
"Aku tahu kalau hidup itu tidak selamanya bahagia. Tapi kamu tahu, kalau setiap orang berhak akan hidup bahagianya," lanjutnya.
"Iya, Helena. Aku juga akan mengupayakan hidup bahagia, seperti yang Mas Rei bilang."
"Keluargaku memang kolot sejak lama. Kesetaraan derajat adalah prinsip hidup grandma. Tapi aku percaya kalau Mama dan Papaku tidak demikian. Hanya saja, demi mematuhi orang tua, maka mereka haruslah mendengarkan grandma. Aku akan berusaha meyakinkan Mama dan Papa–"
Sepertinya rencana hidup berdua dengan Reiki saja adalah ide terbaik. Aku terlalu payah dalam menghadapi keluarga Maheswara dan Barata, andai aku berupaya mencari restu. Rasa-rasanya itu terlalu mustahil bagiku. Sudahlah, hidupku akan cukup ada Reiki seorang saja.
"Percaya padaku, Azzura," pinta Helena dengan matanya yang menatapku sendu. Mungkin dia kasihan kepada nasibku. "Aku adalah peri untuk kalian." dia sedikit berkelakar dan itu membuatku tersenyum kecil dibuatnya.
Ah, rasanya aku seperti memiliki saudara lagi dengan perempuan ini. Selain Alya dan Radit, kini di hatiku mulai tumbuh rasa sayang kepada adiknya Reiki. Apakah dia benar peri? Aneh sekali. Dengan mudahnya aku jatuh hati dan sayang kepadanya padahal baru saja berjumpa.
...----------------...
Reiki menatap datar laki-laki muda yang kini duduk di hadapannya. Beberapa detik yang lalu, kursi kosong yang baru saja ditinggal seorang klien, kini sudah terisi kembali dengan seseorang yang tak pernah ia duga akan menemuinya di tempat ini.
"Rara di mana? Aku kangen sama dia."
Sedikit melonggarkan dasinya, Reiki berkata dengan santai, "Jauhi kami, Ken."
__ADS_1
"Mas, Rara di mana? Aku mau ketemu Rara."
"Jauhi kekasihku."
Kenneth menatap sinis. "Aku tahu kalau Rara telah memilih Mas. Selamat, Mas telah menang untuk yang kesekian kalinya. Tapi ... aku hanya ingin bertemu Rara sebentar, empat mata. Tolong beritahu aku di mana dia."
"Untuk apa? Aku akan sampaikan apapun pesanmu kepadanya," jawab Reiki masih setenang itu.
Brak. Kenneth menggebrak meja dengan keras sembari bangkit dari kursi. "Aku mau ketemu Rara, Mas. Sesulit itu Mas mengerti, hah?"
"Tentu. Sebab aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk bertemu dengannya lagi. Kami akan mulai hidup bahagia selamanya."
Wajah Kenneth pias. "Apa itu artinya ... kalian akan ... menikah?"
Reiki hanya menatap Kenneth dengan kuat dan meyakinkan, tanpa perlu ia repot-repot mengatakan apapun. Hal itu malah membuat Kenneth semakin frustasi. Keinginannya bertemu dengan Azzura amat tak terbendung. Ada rasa penyesalan, rindu, rasa bersalah dan ingin meminta maaf, juga rasa kesal karena handphone gadis itu tak dapat dihubungi. Juga sepertinya terlalu mustahil sang sepupu memberinya izin bertemu dengan gadis yang mereka perebutkan. Lalu ia mesti melakukan apa agar dapat bertatap mata lagi dengan gadis yang masih dicintainya itu?
"Plis, Mas ... aku mau bertemu Rara ... sekali saja," ucapnya dengan memohon. "Biarkan aku bertemu dengannya hanya sebagai keluarga. Aku sudah menerima kalau dia memilihmu. Maka tolong izinkan aku,"
"Pulanglah, Ken," usir Reiki dengan kalem. Kendalinya tak dapat diganggu apalagi dirubah. Jadi sia-sia saja Kenneth memohon seperti itu. Karena sudah pasti dia tidak akan rela sedikitpun membiarkan keduanya bertemu setelah semua yang terjadi. "Bertemu kembali sebagai keluarga, itu bisa dilakukan nanti. Tidak sekarang."
"Kenapa?" tantang Kenneth yang sudah lelah memohon.
"Kamu tahu pasti jawabannya."
"Sialan," Kenneth mengumpat pelan. "Tahu bakal seperti ini, aku tidak akan pernah melepaskan Rara kemarin. Apapun alasannya, aku tidak akan pernah melepasnya!" serunya mengungkapkan kekesalan. "Aku yang paling tulus sama dia. Aku yang paling menyanyanginya. Jadi salah besar bila dia memilih Mas dan melepaskan aku."
Tatapan Reiki belum juga berubah. Masih datar, mantap, dan yakin sejak awal.
"Inilah alasanku tidak akan mempertemukanmu dengannya, Ken. Jangan mimpi!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1