
"Pagi, Azzura." Anjas menyambutku –yang baru saja tiba di kubikelku– dengan senyum tiga jarinya.
"Awas nyamuk masuk!" itu suara mbak Nunu menyindir mas Anjas. Nurlita Febriani nama panjangnya. Salah seorang seniorku itu aku perhatikan memang mulutnya agak pedas. Tak pelak aku yang pertama kali mendapat kepedasannya kemarin itu, cukup membuat nyaliku ciut untuk beberapa saat, sampai Ab memberitahuku tentang karakter-karakter senior yang satu bagian dengan kami.
"Pagi, Mas Anjas." tentunya aku hanya menyahut sopan saja.
Aku tahu kalau Anjas melirik sebal pada mbak Nunu yang berjalan menjauh ke arah pantry.
"Eh, Zura. Kamu tadi diantar ya?! Sama siapa? Bokap? Pacar?" lelaki itu bertanya penasaran. Dia bertanya dengan suara keras, dari mejanya yang berada tak jauh dariku.
"Mas Anjas lihat aku?"
"Ya iyalah. Aku di belakang mobil kamu. Trus itu siapa?" tanyanya dengan kedua alis yang digerak-gerakkan. Aku tahu dia sedang menggodaku. Dia itu tipe cowok yang amat menyukai berada dalam posisi pertama, untuk mengetahui sebuah fakta. Yap, hobinya bergosip. Cukup mengherankan aku menemukan tipe cowok seperti itu lagi sejak di bangku kuliah.
"Ada deh." jawabku singkat seraya bangkit dari kursi. Masih ada lima belas menit sebelum briefing dimulai. Setidaknya secangkir kopi instan ingin ku habiskan dengan tenang.
"Mau kemana, Azzura?"
"Mau bikin kopi di pantry."
Sebenarnya aku enggan membahas Kenneth pada siapapun. Belum saatnya. Terlebih dengan siapa sebenarnya Kenneth, yang sudah pasti akan membuat gempar sejagat perusahaan. Aku yakin itu. Bahkan ada peluang kegemparan akan semakin meluas hingga satu Indonesia raya.
Huft. Berat ya kalau punya pacar seorang artis?
Ah sudahlah. Biarkan aku menjalani hari-hariku dengan tenang dan damai sebagai karyawan biasa. Itu saja. Aku tidak berangan yang tinggi-tinggi dalam hubunganku dengan Kenneth, setidaknya untuk saat ini.
Mbak Nunu selesai membuat kopi ketika aku menginjakkan kaki di pantry. Wanita itu membawa cangkir kopinya, dan pastinya bukan hendak di minum di tempat ini, seperti kebiasaanku.
"Jangan lama-lama ya, Azzura. Kamu gak lupa 'kan kalau lima belas menit –ralat– empat belas menit lagi kita briefing pagi."
"Iya, Mbak."
Mbak Nunu keluar dari pantry. Kalau aku perhatikan mbak Nunu aslinya tidak sejutek itu sih. Dia hanya tegas pada hal-hal yang menyangkut masalah pekerjaan. Selebihnya, di luar pekerjaan, wanita itu terlihat cukup baik, walau tidak terlalu ramah juga. Dalam artian, wanita itu tidak sok-sok'an senior dan pura-pura tidak mengenaliku.
"Hai!" sapa seorang lelaki mengalihkan mataku dari kopi panasku. Aku paling suka menghirup kopi perlahan dalam keadaan masih panas. Karena kalau sudah tidak panas, maka cita rasa kopi itu telah hilang. Begitu menurutku. Atau kalaupun kopi itu sudah terlanjur dingin, maka mesti dimasukkan es batu ke dalamnya, supaya menjadi es kopi.
__ADS_1
"Hai!" balasku ramah.
Mas Alvin sekarang yang baru masuk ke pantry. Sepertinya lelaki itu baru datang. Seingatku tadi saat masuk ruangan, memang dia belum ada.
Senyum manis terbit di bibirnya. "Ngopi juga?"
"Iya, Mas."
"Sering?"
"Kadang-kadang aja sih. Gak setiap hari juga." aku yang sedang duduk fokus pada cangkir kopiku, kini rasanya agak canggung. Sebab mas Alvin memang agak pendiam. Lebih sering menjawab dengan senyum singkat tanpa repot-repot merangkai kata.
"Mau roti?" Tahu-tahu mas Alvin menyodorkan sebungkus roti kepadaku. Ia menempati kursi di sebelahku setelah meletakkan gelas kopinya. Ada dua buah roti saat ku lirik. Satunya sudah dia buka perlahan, dan sebuah lagi yang ia tawarkan kepadaku barusan.
"Ah, nggak, Mas. Makasih. Aku udah sarapan tadi sebelum berangkat," tolakku halus. Memang kenyataannya aku sudah sarapan tadi. Kenneth membawa nasi kebuli yang ia beli entah di mana. Karena rasanya yang enak, maka aku makan dengan lahapnya.
"Tempat tinggal kamu dekat ya dari sini?" suara mas Alvin menarik ingatanku akan nasi kebuli dari Kenneth tadi.
"Nggak juga sih. Dibilang jauh ya nggak terlalu, dibilang dekat juga ya nggak."
Bisalah. 'Kan aku sarapannya di mobil pacar tadi. Dan membuat Alya iri setengah mati, walau dia mendapat jatah nasi kebuli yang sama dari Kenneth. Sahabatku itu bilang, andai kantornya searah dengan gedung ini, sudah pasti dia akan ikut dengan mobil Kenneth tadi. Bertigaan.
"Kamu ngekos?"
"Ehm, ngontrak rumah sama teman."
"Rumah orang tua kamu?"
Pertanyaan lelaki itu membuatku tertegun sesaat. Ada yang rapuh di sudut hati ini bila mulai membicarakan soal rumah. Terlalu banyak yang mesti diceritakan andai aku siap membukanya sekalipun. Akhirnya, hanya gelengan singkat yang mampu ku berikan kepadanya.
Dia seakan segera mengerti dan menyadari kalau mungkin pertanyaannya adalah hal privasi yang terlalu dini untuk ku berbagi.
"Oh, sorry ..." ucapnya kikuk, disertai dengan mengambil kopi miliknya dan menyesapnya.
Aku kira, mungkin dia mengerti atau juga tidak. Hanya saja aku melakukan hal yang sama, yakni menyesap kopiku banyak-banyak. Panas memang, tapi sudah berkurang. Bahkan sisa sedikit lagi saja untuk ku tandaskan.
__ADS_1
"Aku sudah nggak punya orang tua," ucapku pelan disela-sela menghirup tetesan terakhir minumanku.
"Maaf ya, Azzura,"
Lantas aku menggeleng untuk menyudahi kecanggungannya kepadaku. "Nggak apa-apa, Mas. Santai aja. By the way, kayaknya kopi aku udah habis nih. Aku duluan ya, Mas."
Agak canggung menghadapi mas Alvin yang terlihat sebagai lelaki baik-baik dan sopan itu. Aku terbiasa menghadapi cowok yang ... ya begitulah. Entah mereka dapat ku sebut baik atau pemaksa. Atau pemaksa yang baik, atau si pemaksa yang sebenarnya baik tapi tampak tidak baik. Ah tau ah!
...----...
Istirahat makan siang, aku sudah duduk di kantin seperti biasa dengan Abel dan ... Mas Anjas. Ya terserahlah cowok satu itu mau terus ngintilin aku dan Abel dua hari ini atau untuk seterusnya, aku tidak berhak mengusirnya juga.
"Kok gak seramai kemarin-kemarin ya?" tanya Abel sambil menatap sekeliling kantin rakyat jelata.
"Biasalah. Palingan mereka cari resto. 'Kan tanggal muda. Dompet berseri, hati bahagia, dan seminggu kemudian sengsara lagi," kata mas Anjas dengan santainya.
"Mas Anjas nggak pergi ke resto?" tanya Abel. "'Kan tanggal muda. Dompet berseri maka hati bahagia." dia cengengesan saat mengulang kalimat mas Anjas. Aku menahan senyum atas ucapan Abel barusan.
"Hemat dong."
"Ohh ... gajiannya buat anak istri nih pastinya."
"Eeehhhhhh ... sembarangan. Aku masih single yah. Single. Aku di sini supaya kalian gak merasa tersisih karena pegawai lama sedang suka cita sehabis gajian. Kalian 'kan masih pegawai baru."
Alah, masih banyak juga yang makan di kantin ini, walau tak sebanyak kemarin-kemarin.
"Oh berarti pelit," gumam Abel, yang aku yakini kalau lelaki di hadapan kami itu pasti mendengarnya juga.
"Eh, Bel–"
"What? What?" suara Abel terputus entah kenapa saat aku menoleh melihatnya. Tangannya menepuk berkali-kali pada punggung tanganku. "Ra ... Ra ...."
"Kenapa, Bel?" tanyaku perlahan mengikuti arah matanya. Dia mengalihkan mataku dari sepiring gulai menuju sebuah objek ...
"Omaigat! Ada artis!" seru Abel kegirangan.
__ADS_1
...****...