Like Drama

Like Drama
Twenty two


__ADS_3

aku lanjutkan novel ini demi seorang pembaca yang kepikiran sampe malem kelanjutannya 😆😆😆😆😆😆


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Reiki mendiamkanku.


Semenjak dia pulang dari kantor sejam yang lalu, dia tak keluar lagi dari kamarnya sementara aku sedang nonton Televisi. Ini hebat. Tentu saja aku suka dia yang mendiamkanku. Itu artinya dia tidak selalu dapat curi-curi kesempatan padaku, kan?!


Setelah dua puluh menit berlalu aku di depan televisi, aku putuskan untuk masuk ke dalam kamar saja. Rasanya akan lebih baik dan lebih aman bila aku bersantai di dalam kamar saja, dari pada di ruangan ini yang kapan saja Reiki dapat menghampiriku. Meskipun dia sedang marah, tapi siapa yang tau isi hatinya kan?!


Sekarang baru saja pukul sembilan lebih tiga puluh menit, rasanya masih terlalu awal untukku memejamkan mata. Setidaknya pukul 10 saja belum. Hanya satu kegiatan yang paling afdhol untuk membunuh bosan sebelum waktunya tidur tiba. Yakni memainkan ponsel adalah satu kesempurnaan sembari aku menunggu rasa kantuk itu.


Zura sayang, bisa kamu saja yang kesini setelah sidang skripsimu? Bila nanti menjelang wisuda kita akan berangkat bersama-sama.


Itu pesan singkat dari Mama. Ah Mama, kenapa dari kemarin-kemarin malah melarangku kesana? Katanya biar mereka saja yang kesini. Dan pada akhirnya Mama Papa malah batal tidak kesini, lalu aku yang disuruh kesana. Huft! Padahal aku berharap orang tuaku kesini sebentar saja, agar supaya mereka segera membeli rumah dan melindungi aku dari terkaman Reiki.


Oke. Baiklah. Sidang skripsiku toh tak lama lagi. Lagi pula aku belum pernah ke Jepang kan?!


Aku pun membalas pesan Mama dengan antusias. Semoga mereka tidak merubah rencana lagi.


Pertanyaannya, apakah Reiki akan membiarkanku pergi ke Jepang?


Huh!


Memangnya siapa dia sampai berhak melarangku untuk menemui kedua orang tuaku sendiri?


.


.


Entah pada pukul berapa tepatnya mataku terpejam. Aku benar-benar tidak mengingatnya. Terakhir yang aku sadari adalah kalau aku sedang melihat grup chat teman-teman kuliahku yang lain, selain chat dengan Alya tentunya.


Kini, masih dalam keadaan setengah sadar aku merasakan kehangatan di sisi kanan tubuhku.


Itu Reiki.


Ya Tuhan.


Sejak kapan pria itu tidur di sini?


Mataku terbuka sempurna. Aku melirik jam yang menunjukkan pukul 11.00 malam. Jadi rupanya baru beberapa jam saja aku terlelap. Hanya saja, aku merasa kalau ini keterlaluan. Bagaimana bisa aku tidur bersamanya lagi sedangkan dalam ingatanku tadi adalah aku tidur sendirian?

__ADS_1


Cup


"Tidur, Sayang," ucapnya kembali memejamkan mata, setelah dia mencium singkat bibirku. Tangannya berada di tempatnya seperti biasa, memeluk perutku dengan erat.


Aku berusaha bangkit dengan upaya menggerakan tubuh dan berusaha melepaskan tangannya yang melingkari perutku, tapi dia tidak ada tanda-tanda hendak melepaskanku. "Aku mau minum, Mas," cicitku.


Sesaat kemudian dia kemudian melepaskan pelukan eratnya, tapi ... tangannya tetap menggenggam erat tanganku. Rupanya dia benar-benar tidak membiarkanku melarikan diri.


Aku memang berniat kabur setelah minum air yang tersedia di nakas, tapi ini sulit. Setelah minum dengan sebelah tangan, Reiki menarikku lagi ke dalam dekapannya. Dan dia membenamkan wajahnya lagi leherku.


"Aku mau tidur sendiri, Mas ... plis ...."


"Siapa yang tadi siang berjanji akan menurutiku, hm?"


O iya.  Aku lupa. Aku sudah mengatakan hal yang akan aku sesali kemudian.


"Uhm– tapi," berfikirlah, Zura ... "Bukankah Mas Rei sedang marah padaku?"


"Iya, kamu nakal, Sayang."


emangnya aku ngapain? kan aku dinakalin dia doang kali.


"Tidak."


"Bukan pergi bersama, tapi tidak sengaja bertemu di sana, Mas," kataku meralat ucapannya.


Apa Johan mengarang cerita? Masa iya? Lihat saja, mulai besok aku tidak akan ramah lagi pada Johan sialan itu. Ya walaupun sejak tadi sore saat dia mengantarku pulang, aku sudah tidak ramah lagi kepadanya.


"Itu tidak ada bedanya. Pointnya, kamu bersama laki-laki sialan itu. Mau mati dia." kalimat terakhir Reiki terdengar seperti gerutuan yang sadis.


"Jangan seperti itu ..."


"Dia mantan kamu kan?!"


Reiki tahu?


Apa sih yang dia tidak tahu?


Aku yakin dia telah menyelidiki diriku, hidupku. Mengerikan!


Padahal aku sudah tenang sewaktu dia mendiamkanku tadi, tapi entah kenapa sekarang dia malah menempel kepadaku lagi?

__ADS_1


"Aku sudah melupakan dia."


"Sekali lagi dia menyentuh tanganmu, aku patahkan tangannya sekalian."


Ya ampun.


"Apa sih, Mas?" seruku dengan putus asa. "Jangan seperti itu terus,"


"...."


"Mas Rei kembali ke kamar sendiri sana!"


"Tidak bisa. Sudah kucoba."


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa tidur tanpamu, Sayang."


Aku menghela nafas. Pasrah. Percuma apapun yang akan aku katakan, dia tak akan lepas dariku.


Cukup lama aku terdiam hingga ku dengar nafas teraturnya di telingaku. Dia sudah terlelap, sedangkan aku malah jadi tidak bisa tidur lagi.


Kugerakkan kepalaku sedikit sehingga menoleh padanya walau tak sepenuhnya. Ku tatap wajahnya yang saat ini terlihat ... manis? Ya ampun, pria kejam ini bagaimana mungkin dapat kukatakan manis? Otakku sudah gila. Bahkan, kurasakan tanganku tiba-tiba khilaf. Bagaimana tidak, aku tak menyadari kalau jemariku saat ini tengah membelai pelan rambutnya yang terasa lembut.


Bayi besar ini terlihat polos saat tidur. Ralat, bayi macan yang terlihat polos mungkin lebih tepatnya.


Deg.


Tidak.


Debaran ini ... keadaan ini ... ternyata malah semakin membuatku nyaman.


Keadaan ini ... keadaan dimana rasanya seolah aku sedang dalam posisi memiliki atau dimiliki. Mengapa malah terasa indah dan aku menyukainya? Kenapa bisa begitu? aku tidak mengerti.


Lalu sebuah pemikiran terlintas begitu saja di dalam kepalaku. Pemikirian aneh yang membuatku kesimpulan bahwa hatiku ternyata sudah mencapai pada tahapan ...


sayang?


aku?


pada Reiki?

__ADS_1


**********


...***...


__ADS_2