
...Lanjut, Pemirsah......
...----...
Aku fokus mengunyah sandwich yang aku harap segera habis dari hadapanku. Tadi pagi, aku meninggalkan apartemen Ken saat lelaki itu masih terlelap. Aku tahu kalau kondisinya memang masih belum pulih betul. Ditambah dengan kejadian semalam pastinya membuat Ken kurang istirahat. Maka ketika akhirnya dia menyadari ketiadaanku di apartemennya sejam setelah aku pergi, Ken menelponku dan bersikeras ingin sarapan bersama. Tapi sayangnya kali ini aku jauh lebih tegas kepadanya dan mengatakan kalau aku sudah berangkat ke kantor setelah sarapan. Padahal aku belum memakan apapun bentuknya makanan.
Setelah meminum secangkir kopi bersama dengan Mas Alvin tadi di kantor, aku rasa tidak ada salahnya memakan sarapan yang Reiki paksa sajikan di hadapanku. Aku hanya perlu sarapan sesuai keinginannya, 'kan?! Maka kalau sudah habis, dia tidak boleh melarangku untuk kembali ke kantor.
"Aku sudah membatalkan pertunanganku."
Mendadak roti isi ini terasa sekeras batu sehingga aku amat sulit untuk menelannya. Ku angkat pandangan dan rupanya pria itu sedang menikmati sarapannya dengan santai seolah perkatannya barusan adalah hal yang remeh.
Dia membalas tatapanku yang terkejut atas ucapannya. Sebuah senyum tipis namun manis ku lihat menghiasi bibirnya.
"Itu artinya kamu mesti bersiap-siap."
"Siap-siap apa?" tanyaku cemas. Mesti berhadapan dengan keluarganyakah?! Kalau iya, maka matilah aku.
"Siap-siap menjadi pasanganku untuk selamanya."
Aku tidak terlalu mendengarkan ucapannya barusan. Yang aku tahu bahwa otakku sedang syok sekarang. Berbagai macam pikiran memenuhi kepalaku tanpa kusuruh.
"Kenapa Mas Rei putusin pertunangannya?" pada bagian inilah otakku berfokus. "Gimana kalau nanti keluarga kamu malah nyalahin aku? Gimana kalau nanti aku jadi kena masalah–"
"Sayang," tahu-tahu Reiki sudah memegang sebelah tanganku yang berada di meja. Genggamannya begitu kuat saat aku mencoba untuk menarik tanganku. "Jangan cemas. Aku akan melindungimu mulai saat ini."
Aku menggeleng keras. Bukan itu pointnya. Tapi dia selalu memutuskan segala sesuatu semaunya tanpa bertanya apakah aku setuju atau tidak.
"Mas Rei pikir aku mau? Apa aku bersedia?" lagi, aku menggeleng. "Aku berhak memutuskan sendiri tentang hidupku."
__ADS_1
"Dan aku tidak bisa hidup tanpa kamu."
Kalimatnya itu membuatku tertegun. Yakni bukan sebuah kalimat yang istimewa, melainkan lebih kepada gombalan yang biasa aku ketahui. Hanya saja, entah kenapa kali ini aku tidak menangkap nada dan maksud gombalan itu. Aku mencernanya sebagai sebuah ungkapan kejujuran.
Oh ya ampun, aku gila. Otakku benar-benar tidak waras.
"Itu urusan kamu. Aku tetap tidak bersedia apapun maunya Mas Rei," sahutku datar.
Mendengar perkataanku, rahang pria itu terlihat menegang. Aku tahu betul bahwa dia sekarang sedang tersinggung, marah, atau apapun namanya karena dia paling tidak suka dibantah. Terlebih olehku. Namun sepertinya dia mencoba bersabar walau nyatanya egonya tergores oleh penolakanku.
"Azzura."
Benar, 'kan. Saat dia marah maka dia pasti menyebut namaku. Atau lebih tepat dikatakan kalau saat ini dia sedang dalam mode kesal.
Mengunyah potongan roti terakhir dengan sebelah tangan kananku –karena tangan kiriku masih dalam gengamannya– setelah itu aku segera menyesap teh dan segera menghabiskannya juga. Kemudian aku berkata kepadanya, "Aku sudah selesai sarapan. Aku mau kembali ke kantor."
Aku bangkit dari kursi tapi tanganku masih kuat dalam genggamannya yang dapat kupastikan tidak akan mudah untuk melepaskannya.
Maka terpaksa aku kembali duduk. "Mas Rei mau apa sih? Udah deh, jangan ganggu aku lagi."
"Karena Ken?"
Aku menggeleng. "Semudah itu Mas Rei mempermainkan Janeta?" tuduhku. "Jadi pertunangan itu apa artinya? Kalau dengan Janeta saja kamu bisa begitu, apa lagi kalau denganku?"
"Kamu tahu pasti kalau pertunangan itu bukan kemauanku."
"Aku tidak tahu. Sumpah. Sudah berapa bulan sejak kita berpisah, dan aku tidak tahu lagi semua tentang kamu."
"Tapi kamu yang aku inginkan, Azzura," ucapnya dalam. "Sampai detik ini, aku masih menginginkanmu."
__ADS_1
"Obsesi Mas Rei ke aku belum juga berhenti?"
"Siapa bilang?" dia mencengkeram tanganku yang sejak tadi dipegangnya.
Aku berupaya menahan untuk tidak meringis walau terasa sakit.
"Aku ingat bahwa aku pernah bilang cinta sama kamu. Dan kamu juga pasti masih mengingatnya."
Memang benar, aku masih mengingatnya. Namun sekarang berbeda rasanya. Kalimat istimewa itu sudah berlalu seiring duka yang hadir dalam hidupku. Dan otakku memutuskan kalau kata cinta itu hanyalah bagian dari masa lalu belaka.
Aku mengendikkan bahu dengan pelan. Pandanganku merunduk karena aku tidak tahu mesti menjawab apa lagi. Rasa terhadapnya memanglah masih ada dan akan selalu ada entah sampai kapan. Aku tidak tahu. Inginnya aku mempercayai bahwa kami memiliki perasaan yang sama. Namun, rasa itu bukanlah sesuatu yang dapat diandalkan. Karena seperti cerita pada umumnya tentang kisah cinta tanpa restu, kisah cinta tentang banyak perbedaan, maka yang selalu terjadi adalah ketidak mungkinan untuk bersatu.
Bukannya aku menyerah sebelum berjuang. Tapi aku tidak mempunyai kekuatan lebih untuk berjuang. Aku sudah pernah sekali mendapati kehancuran hati yang disusul dengan kehancuran keluarga, maka aku tidak pernah berniat untuk mendapatkan kehancuran lagi dan lagi.
"Aku seserius ini sama kamu, tapi kamu masih tidak percaya. Apa ini karena Ken? Apa hati kamu sudah berpaling kepada Ken?"
Lagi, aku menatap matanya dan mencoba untuk mengutarakan perasaanku. "Aku memang menyukai Ken," sebagai teman. Tapi belum juga aku melanjutkan kalimatku, seketika dia sudah melepaskan genggaman tangannya yang tadi terasa amat kuat.
Lalu entah mendapat dorongan dari mana, sebuah ketakutan dari sudut hati terdalamku karena tangannya yang melepaskanku itu segera kuraih kembali untuk kugenggam.
"Maksud aku– aku nyaman ... aku suka berteman dengan Ken. Aku senang berada di dekatnya walau dengan status sebagai teman. Aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya sama dia ... yang pasti aku ... aku nyaman ..." mengapa aku tergagap seolah sedang mencoba memberi penjelasan kepadanya? Atau aku sedang mengatakan isi hatiku tentang Ken, atau apa, aku benar-benar tidak mengerti isi hatiku sekarang. Aku menyerah.
Ketika kemudian aku tersadar bahwa aku sedang menggenggam tangan Reiki dengan kuat, saat itulah aku menyadari juga kesalahan terbesar yang telah aku buat.
Buru-buru aku melepaskan tangan itu dan hendak melihat kepada Reiki, saat ku rasakan tiba-tiba wajahku diraih seseorang hingga menoleh dan ...
Astaga ...
Sejak kapan Reiki mencium bibirku?
__ADS_1
...***...