Like Drama

Like Drama
Seventy two


__ADS_3

...Happy Reading!...


...------...


Aku kehilangan kata-kata saat mendapati seseorang yang telah duduk mengisi meja pesanan Kenneth. Ingin rasanya aku menarik Ken sejauh mungkin agar bisa pindah restoran. Kalau perlu resto yang ada di planet lain saja.


Karena apa? Jawaban hanya satu, karena Reiki di sana sedang duduk dengan santainya dan menatapku dengan ekspresi yang rumit. Sumpah, aku tidak bisa mengartikannya.


Selain Reiki, ternyata masih ada seorang wanita yang telah menemani pria itu. Tapi itu bukan Janeta. Dan di mana Janeta? Kenapa dia membiarkan tunangannya bersama wanita lain?


"Sorry aku baru bilang, Ra. Ini aku juga baru lihat chat dari Mas Rei. Mereka ikut meja kita karena restoran penuh. Kamu juga 'kan yang minta resto biasa kayak gini. Reservasi sepertinya tidak begitu berguna."


"Ya udah kita pindah–"


"Duduk, Ken," sela Reiki kepada adik sepupunya itu. Kedua lelaki itu saling menatap yang seolah berbicara melalui tatapan saja. Dan aku sungguh tidak mengerti.


Di akhir, Ken menghela nafas pelan kemudian menarik sebuah kursi untuk ku tempati. Sedangkan dia menempati kursi yang tersisa.


Kenapa begini sih jadinya?


"Mbak Janeta kemana?" tanya Ken, yang sudah pasti kepada pria di depan kami itu.


Reiki menjawab dengan menggerakkan bahunya tak acuh, atau kelewat santai, atau terlihat biasa saja. Entahlah, yang pasti gesture nya itu sudah mampu membuat Kenneth mengerti.


"Ini Tiara, rekanku. Kami sedang istirahat sejenak dari meeting penting di kantornya yang tak jauh dari sini." kemudian Reiki menoleh pada wanita itu, "Ini Kenneth adik sepupuku, dan Azzura."


Setelah kami saling berjabat tangan formalitas, aku menundukkan pandangan ke tanganku yang berada di atas meja. Aku harap, aku tidak perlu mengatakan apapun, terlebih aku mesti mengendalikan degup jantungku –yang entah mengapa– terasa meresahkan. Semacam perasaan takut kalau ... kalau ...


"Apa kabar, Azzura?"


glek. Kenapa dia mesti bicara kepadaku? Mau tak mau aku mengangkat pandanganku juga. Ku lirik Ken dan wanita itu melihat ke arahku juga, seperti Reiki yang sedang menatapku dengan ... oh ya ampun, rasanya perutku melilit.


"Baik." aku berusaha agar suaraku tidak bergetar. Sesaat saja aku membalas tatapannya, karena buru-buru aku melihat ke arah pacar tampanku. Ya, sekarang aku memiliki pacar yang super tampan, manis, menyenangkan, dan perhatian. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?


Ayolah, Zura ... jangan menginginkan milik orang lain.

__ADS_1


"Sejujurnya kalian mengganggu kencanku," ucap Kenneth. "Tapi ya sudahlah, setelah ini kami masih bisa mencari tempat yang lebih privasi untuk kencan kami."


"Bukankah dia belum mandi?" ada nada keberatan yang ku tangkap dari pertanyaan Reiki. "Sebaiknya biarkan dia istirahat sepulang kerja."


Haruskah aku merasa dipermalukan karena kenyataannya aku memang belum mandi sepulang bekerja? Rasa kesal itu membuatku mendelik sesaat pada pria itu. Namun, aku malah sedikit gelagapan saat menyadari kalau Reiki balas menatapku dengan lebih berani dan dan sepertinya tak ingin beralih. Aku juga menangkap gelagat tak nyaman dari Ken karena sikap Reiki yang terang-terangan menatapku itu.


"Ayolah, Mas. Kali ini jangan rebut pacarku lagi, hah?" Kenneth menyuarakan pikirannya. "Carilah yang seumuran denganmu. Eh– kamu sudah memiliki Mbak Janeta. So plis, jangan goda pacarku yang ..." Kenneth menatapku sambil berfikir. "Nggak mungkin deh. Pacarku kali ini lebih special dan berbeda. Dia nggak mungkin tiba-tiba menyukai orang asing. Ya, 'kan, Ra? Rara, Sayang? Kok melamun sih?"


Aku tersenyum kecil menanggapi Ken.


"Benarkah?" sahutan Reiki sarat akan tantangan.


Aku menelan saliva, gugup. Jangan sampai Reiki mengucap satu saja kalimat yang akan membuka cerita kami di masa lalu. Tidak boleh. Aku harap itu tidak terjadi dan menjadi masalah berarti antara aku dengan Kenneth.


"Lihat saja aku yang super kece begini, dan tentunya amat sangat serasi dengannya, tapi dia gak mudah ditaklukkan. Well, sekarang kami sudah pacaran," Ken beralih menatapku dan berkata, "Jangan sampai suka sama yang jauh banget lebih tua. Itu tidak dibenarkan. Kamu mesti setia sama aku yang sudah pas, ideal, sempurna, dan tanpa kekurangan. Oke, Ra?"


Akhirnya sejenak aku mampu fokus pada Kenneth. Secara naluri, aku menopang sebelah pipiku dengan tangan sembari menatap Kenneth dengan candaan seperti biasanya. "Apanya yang oke?" godaku.


"S e t i a. Setia, setia, dan setia. Aku tampan, 'kan?!" Ken tersenyum menggoda juga.


"Ish, sempurna gini kok dibilang lumayan?"


"Aku maunya begitu."


"Begitu gimana?" jemari Ken menyingkirkan helaian rambutku yang menjuntai.


"Menurut kamu?"


Kenneth mengecup singkat pipiku. "Gemes deh."


"Heh, aku belum mandi loh,"


"Biarin. Masih wangi kok."


Terkadang memang begitu, saking asiknya aku saling bercanda dengan Ken, kami sampai lupa dunia, lupa dengan sekitar. Begitu pun kali ini, mendadak perutku terasa melilit lagi saat menyadari kalau di depan kami sekarang ada Reiki, pria yang pernah memiliki tempat istimewa di hatiku. Bahkan mungkin ... hingga detik ini.

__ADS_1


...----...


"Rajuuu ..." Alya mengetuk pintu kamarku.


"Gue lagi pakai baju, Al. 'Kan lo lihat barusan gue habis mandi," teriakku dari dalam kamar. Memang saat ini aku masih menggunakan handuk yang melilit tubuhku, dan aku sedang memilih kaus mana yang hendak kupakai untuk tidur.


"Iya-iya. Denger nih ya, gue sekarang udah ngantuk banget. Jam 10 mestinya gue udah mulai mimpi indah, biar besok pagi bisa bangun gak kesiangan. Nah, lo kalo butuh bantuan gue, ketok aja kamar gue. Oke?"


"Gue nggak butuh apa-apa, Al."


"Ya kali. Soalnya itu Tuan Takur datangin lo malam-malam gini. Kalo ada apa-apa, banguni gue aja ya."


"Siapa, Al?" panggilanku mencegah langkah Alya yang sudah hendak menjauh dari depan pintu kamarku.


"Tuan Takur, juragan Berlian. Udah ah, gue ngantuk!"


"AL! ALYA!"


Alya benar-benar sudah berlalu. Kini aku terburu-buru mengenakan pakaian karena aku menebak yang datang sekarang adalah ... Reiki.


Ingatkan aku bahwa bila ada Reiki; maka menjauhlah dari kamar, hindari berpakaian yang kurang bahan dan mengundang, serta hindari kesunyian. Sebab daya tarik s*ksual pria itu amatlah kuat.


Lagi pula, mau apa sih orang itu datang malam-malam begini? Kapan aku istirahatnya?


Dengan tergesa aku berjalan menuju pintu. Baru saja aku memegang kenop pintu setelah berhasil memakai pakaian dengan lengkap barusan, kini pikiranku berubah lagi.


Apa aku pura-pura sudah tidur saja ya?


Bukankah itu lebih aman?


Maka, bukannya aku membuka pintu, yang kulakukan adalah malah mengunci pintu dengan perlahan. Jangan sampai kedengaran. Setelah itu aku berbalik langkah dan segera menaiki ranjangku. Lalu berbaring dengan tenangnya.


Semoga dia segera pergi deh ya. Dan nanti saat aku terbangun tengah malam karena haus, maka aku baru akan mengunci pintu depan kontrakan ini.


...****...

__ADS_1


__ADS_2