
"Mas Rei, kenalin ini pacar aku Azzura," suara Kenneth memperkenalkanku kepada Reiki. Kemudian dia menoleh padaku. "Ra, ini Mas Reiki, sepupuku yang baru saja bertunangan."
Kenneth tersenyum menenangkanku, sebaliknya aku malah menyimpan sedikit rasa bersalah setidaknya. Karena nyatanya aku dan sepupunya itu sudah saling mengenal, bahkan lebih dekat dari sekedar kenalan.
Aku hanya membalas senyum Kenneth saja. Dan tentunya ada senyum formalitas yang kulayangkan juga untuk Reiki, berikut dengan sedikit anggukan kepalaku. Semua hanya demi agar Kenneth tidak curiga apa-apa kepadaku.
Baik aku ataupun Reiki tak ada yang mengeluarkan suara. Dan mata tajam pria itu masih terus terhunus pada mataku, hingga aku menahan perasaan tidak nyaman. Aku takut Kenneth akan tau. Tapi aku juga tidak tau harus berlaku seperti apa saat ngeblank seperti ini.
Ku tundukkan kepalaku yang kemudian Kenneth seakan paham dengan gelagatku.
"Aku pulang dulu ya, Mas," kata Kenneth kepada saudaranya itu, sambil menggenggam tanganku.
Kulirik, Reiki hanya mengangguk samar atas ucapan Kenneth.
Untuk saat ini aku tidak peduli dengan pembicaraan tentang pacar sepihak dari lelaki itu. Tapi justru dengan itu, aku jadi lebih kuat untuk menghadapi Reiki yang tiba-tiba saja sudah hadir kembali dalam hidupku.
Ah tidak, ini hanya akan terjadi di malam ini saja. Karena keesokan harinya aku akan merubah nasibku. Iya, aku harus menjauh dari mereka semua. Sesuai dengan niat awalku untuk mencari kehidupan yang biasa-biasa saja. Aku tidak ingin dan tidak akan terlibat lagi dengan orang kaya. Apalagi dengan keadaanku yang sekarang. Sebatang kara. Itu lebih-lebih tidak mungkin. Terlalu mustahil untukku bermimpi menjadi Cinderella.
"Ayo, Ra!" Kenneth langsung menarik lenganku dan membawaku berjalan menuju luar ruangan.
Aku bernafas lega. Selesai sudah kontak mata dan jarak yang menyiksa itu. Meskipun ada sudut nuraniku yang membisikkan sebuah kata bahagia–
Oke, lupakan!
Seperti dugaan kami, di luar kini sudah menanti wartawan yang dengan sigap langsung mengarahkan kameranya padaku dan Kenneth.
Ini mengerikan! Aku tidak akan pernah sanggup disorot seperti ini selama sisa hidupku selanjutnya. Refleks aku menutupi mataku dengan jariku.
__ADS_1
Untung saja Kenneth yang dibantu beberapa pria bertubuh besar, yang ku yakin adalah bodyguardnya, langsung membimbingku menuju mobilnya. Aku langsung duduk dengan lega begitu tiba di dalamnya, dan memejamkan mataku yang sudah sangat lelah. Lebih tepatnya, mental dan perasaanku terlalu lelah menghadapi pesta barusan.
"Kamu gak apa-apa, Ra?"
Aku membuka mata dan menoleh pada Kenneth yang menampakkan raut wajah khawatir. Mobil kami sudah melaju sekarang.
"Gak apa-apa. Aku kan cuma pusing aja. Nanti setelah tidur juga bakalan sembuh," ucapku menenangkannya. Sungguh, aku tidak terbiasa dipandang seperti itu.
"Tidur di apart aku ya?"
Mataku mendelik karena kalimat dia berusan, "Heh–"
"Aku khawatir sama kamu, Ra ..." entah kenapa aku percaya nada tulus cowok di dekatku ini.
"Ada Alya, Ken. Lupa, kalau aku tinggal sama Alya?"
"Emangnya aku kenapa?" balasku. "Ini cuma pusing, Ken. Jangan lebay deh!"
"Iya sih. Tapi entah kenapa aku tetap aja khawatir," gumamnya pelan. Dia duduk dengan lebih rileks sekarang. Setelah beberapa saat ia berkata lagi, "Serius, Ra, almarhum mama kamu temannya tante Widia? Bahkan mamaku pun kenal dengan mama kamu."
Aku tau kalau cepat atau lambat Ken pasti akan menanyakannya juga.
"Iya."
"Wow ... dunia sesempit ini," ujarnya. "Trus, dimana pertamanya kamu ketemu sama tente Widia?"
Kenapa harus pertanyaan seperti ini sih, Ken? Maka rasakan aku yang malas menjawabnya. Bahkan itu mustahil kujawab sekarang.
__ADS_1
Dengan cuek dan santai seperti biasanya, aku hanya mengendikkan bahu saja atas pertanyaannya.
"Maafin grandma ya, beliau memang kayak gitu orangnya," ucapan Ken bernada bersalah.
Aku sudah tau, Ken. Bahkan jauh sebelum kita bertemu, aku sudah paham seperti apa nenek kalian itu. "Gak masalah."
"Kok kamu lemes banget sih jawabnya? Dan lagi–"
Aku menoleh pada Kenneth yang tak melanjutkan kata-katanya. Kenapa dia terlihat seperti sedang berfikir? Apa yang ada di fikirannya saat ini?
"Apa?"
Kenneth menggeleng pelan sambil tersenyum. "Besok aja deh lanjut ceritanya kalau kamu udah sehat. Sekarang kamu istirahat aja ya, Sayang."
Ah lupa, "Ken,"
"Hm? Kenapa?"
"Aku belum jawab apa-apa loh, ya," nada suaraku memperingatkan. Aku dalam mode galak lagi setiap menghadapi Kenneth yang manja dan seenaknya itu. Apa keluarga mereka memang selalu berbuat seenaknya begitu ya? wah, aku seperti menemukan banyak kemiripan antara Ken dengan Reiki.
"Aku mau bobo, Ra," katanya seraya bersandar dan memejamkan matanya.
Dia mengabaikanku. Aku tahu kalau dia enggan membahas soal ini.
Dasar Kenneth!
...*****...
__ADS_1