Like Drama

Like Drama
Fourty one


__ADS_3

Selesai mencuci piring peralatan yang baru saja aku dan mamaku gunakan untuk makan malam, aku berniat untuk segera menuju sofa depan televisi. Memang begitu biasanya, kalau malam tiba, lepas makan malam maka kami berdua menghabiskan satu hingga dua jam untuk kami bersantai di depan tv. Setelah itu baik aku atau mama akan segera pergi ke kamar kami masing-masing. Entah melakukan ini dan itu, yang kutebak adalah bahwa mama masih menahan rasa kehilangan papa yang belum lama pergi, dengan meluapkannya dikala sendirian di dalam kamarnya.


Mama menyusulku di sofa. Tangannya meraih tanganku untuk dibawa ke dalam pangkuannya, seperti biasa.


Kami menyaksikan tayangan di televisi untuk mengulang ritual setiap harinya. Ini kami lakukan untuk mengisi kekosongan kami yang hanya berdua di dalam rumah ini.


"Ada berapa pria Jepang yang tertarik pada anak gadis Mama hari ini?" tanya mama santai sambil membelai rambutku. Sedangkan aku sudah tiduran di pangkuannya.


"Uhm, hanya dua saja hari ini."


Well, setiap kali ada cowok yang mendekatiku maka aku akan menceritakannya kepada mama. Itu seperti sebuah sesi curhat yang selalu aku lakukan setiap harinya.


"Kenapa kamu tidak memulai dengan salah satunya?"


"Tidak ada yang menarik, Ma."


"Serius? Mereka sejelek itu?"


"Bukan. Bukan begitu maksud aku."


"So?"


Sepertinya mama terlalu penasaran mengapa aku tidak pernah terlihat tertarik dengan salah satunya.


"Ya memang tidak ada yang menyentuh hatiku. Trus aku bisa apa? Fake love?"


"Ayolah, Ra. Jangan seserius itu,"


"Should I pretend to be in love just for fun?"


Mama memegang kedua sisi pipiku agar aku menatapnya, "Hei, you know that's not what I meant."


Aku hanya tersenyum saja.


Mama mengecup singkat dahiku lalu berkata, "Bukalah hatimu, Sayang. Izinkan hatimu untuk berbunga karena merasakan bahagia. Bukankah kamu sudah melupakan Montana?"


Aku menghela nafas. Apakah akhirnya tiba juga saat aku harus menceritakan seseorang yang sudah mulai aku coba untuk melupakannya.


"Montana sudah ke laut, Ma ..."


Lalu mama tersenyum. "Benarkah?"


"Iya. Montana sih sudah minggat jauh dari hatiku. Sudah lama itu terjadi."


"Lalu?"

__ADS_1


Oke, mungkin aku memang harus menceritakannya kepada mama. Tapi tidak semua. "Ada seseorang yang lain ..."


Kulihat mama melebarkan matanya. "Benarkah? Siapa dia? Mama penasaran. Kenapa kamu baru cerita?"


"Rumit, Ma. Tidak seperti yang Mama bayangkan. Dan semoga Mama belum membayangkan apapun tentangnya."


"Kenapa? Sudah putus lagi?"


Aku mengangguk.


"Kapan?"


"Sejak aku tiba di sini."


"Siapa? Teman sekampus?" mama benar-benar penasaran kurasa. Masalahnya, apa tidak apa-apa bila aku jujur bahwa aku jatuh cinta pada anak dari sahabatnya yang kaya raya itu?


"Bukan," jawabku singkat. Aku tahu mama masih menunggu jawabanku yang lebih jelas lagi. "Ma, bisakah Mama berjanji untuk tidak melakukan apapun kalau aku selesai bercerita?"


Mama mengerutkan keningnya. "Jangan bikin Mama penasaran, Zura."


"Iya, tapi Mama bisa janji dulu sama aku?" aku bangkit dari pangkuannya dan memeluk bantal sofa sambil bersandar di sandaran sofa, seperti mama.


"Memangnya Mama bakal melakukan apa?" tanya mama balik. "Tidak, Sayang. Ayo ceritalah! Mama penasaran."


Rakat, mungkin aku memang harus menceritakan semuanya. Aku menghitung dalam hati sebelum memulai. Oke, ini demi kebaikanku juga. Supaya tak ada rahasia antara aku dan mama. "Aku jatuh cinta ... dengan ... Reiki ... Maheswara."


Aku mengangguk pelan. Memperhatikan ekpresi di wajah mama, aku tidak dapat menebaknya.


"Sejak kapan?" tanya mama sambil mengangkat kedua alisnya.


"Yeah ... ini tidak seperti yang Mama bayangkan-"


"Memangnya Mama mesti membayangkan apa?"


Aku mengangkat bahuku. "Entahlah. Yang pasti ... Reiki yang mendekatiku duluan."


"Dia naksir anak Mama yang cantik ini?"


"Gak tahu, Ma. Aku tidak benar-benar mengerti dia. Hanya saja sejak kami bertemu, dia selalu mengatakan kalau aku adalah miliknya. Hingga terakhir aku harus terbang ke sini pun dia masih saja tidak berniat melepaskanku juga. Makanya, aku sampai nekat ingin mengakhiri nyawaku semata-mata agar dia mau melepaskanku. Dan untungnya ... sekali itu akhirnya dia mengalah."


Mama meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Kamu bilang kamu jatuh cinta, lalu mengapa kamu pergi darinya?"


"Ma ... sudah kubilang ini rumit. Tidak senormal hubungan biasanya. Ini klasik, Ma. Keluarganya tidak menyukaiku."


"Kenapa? Apa yang salah padamu, Sayang?" cecar mama dengan nada tak sukanya. "Atau mungkin memang mereka yang tidak seberuntung itu untuk dapat memilikimu."

__ADS_1


Ya, kalimat penghibur diri yang tepat, Ma.


"Karena kita tidak sederajat dengan mereka. Dan Reiki itu sudah disiapkan jodohnya oleh kekuarganya. Sedangkan aku– aku bukan siapa-siapa."


"Tapi bukan berarti kamu harus mengakhiri nyawamu, Ra." mama nampak sedih kali ini. Tentu saja, peristiwa kematian bukankah sedang menjadi selimut gelap dalam hidup kami saat ini. Lalu aku malah menyinggung masalah nyawa yang ingin kuakhiri semudah itu. Meskipun dalam konteks yang berbeda.


"Itu karena Reiki tidak mau melepaskanku, Ma. Aku berusaha sekuat tenaga untuk pergi dari hidupnya sejak awal. Tapi dia selalu berhasil membawaku kembali padanya. Dia seolah mengikatku, dan bahkan amat sangat possesif terhadapku melebihi papa. Mungkin dia itu terobsesi padaku, hingga dia sama sekali tidak mau melepasku andai aku tidak mencoba untuk bunuh diri waktu itu."


"Sebegitu cintanya dia sama kamu?"


"Entahlah, Ma. Aku tidak mau percaya diri. Aku lebih percaya kalau dia hanya terobsesi hingga possesif berlebihan kepadaku."


"Tapi kamu pasti dapat merasakannya kalau dia itu tulus denganmu atau tidak?"


Aku berfikir sebentar, kemudian aku menggeleng pelan. "Aku benar-benar tidak tahu. Kadang aku merasa dia tulus, tapi pada waktu yang lain, aku tahu bahwa dia setulus itu juga pada banyak wanita."


"Jadi dia playboy?"


"Jangan bahas dia lagi deh, Ma. Aku kan lagi berusaha buat move on. Aku hanya mau tau apa pendapat Mama atas ceritaku?"


"Jadi kalian sudah berakhir?"


"Berakhir. End. Tamat. Selesai."


"Yakin?"


"Iya. Aku harap aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Apa pendapat Mama?"


Mama menarik nafas sebelum menjawab, "Pendapat Mama ... yah ... terserah kamu. Apa yang menurutmu baik dan membuatmu bahagia, Mama pasti akan mendukung."


"Mama tidak marah?"


"Kenapa Mama harus marah?"


"Maksudku, uhm– mereka tidak menyukaiku. Om dan Tante Maheswara. Mama tidak marah kan dengan sahabat Mama itu? Tante Widia?"


Mama menyunggingkan senyumnya. "Itu akan Mama bicarakan nanti dengan dia–"


"Jangan, Ma! Jangan! Aku sudah gak ada urusan dengan mereka. Biarkan seperti ini. Karena untuk pergi dari dunia Reiki itu amatlah sulit. Jadi biarlah seperti ini. Aku akan mencari bahagia di tempat lain." aku memohon dengan sungguh-sungguh.


"Kamu yakin?"


"Yakin."


Tidak. Aku tidak tahu lebih tepatnya. Dia masih membekas di hatiku saat ini. Belum pergi. Belum hilang. Entah sampai kapan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2