Like Drama

Like Drama
Seventy three


__ADS_3

...Selamat membaca!...


...--------...


Alarm ponsel yang biasa kupasang untuk membangunkanku, kini sedang berbunyi. Tanganku meraba-meraba keberadaan benda itu untuk mematikannya. Dan ya, kini mataku terbuka juga walau terasa berat dan enggan. Setelah langit-langit kamar kutatap selama beberapa saat, dengan kesadaran yang telah mulai sempurna kini aku merasakan degupan jantungku yang berdetak lebih cepat. Pasalnya, aku menyadari sesuatu sedang melingkari perutku kini. Sebuah tangan yang besar, dan aku masih takut untuk menoleh ke samping kananku lalu mendapati sebuah kenyataan sedang terjadi.


Bukannya aku menikmati posisi hangat ini, akan tetapi aku terlalu takut untuk percaya bahwa ini nyata. Aku masih berharap kalau ini hanyalah sebuah mimpi, hayalan, atau imajinasiku saja.


Jangan lagi. Jangan sampai dia lagi. Dan–


Sebuah pergerakan menuju ceruk leherku membuatku menahan nafas seketika. Hembusan nafas teratur terasa di sekitar leherku itu akhirnya memaksaku untuk menoleh juga dengan susah payah. Aku takut, aku berupaya bangkit melepaskan diri dan–


"KENAPA KAMU DI SINI?" teriakku dengan keras pada pria itu. Pria yang mengerjap sesaat lalu melanjutkan tidurnya lagi setelah bergumam tidak jelas menyahutiku. "MAS–"


Mati aku.


Aku menemukan sebuah kenyataan mengerikan lagi. Baru saja selimut yang ku pakai luruh ke pangkuanku saat aku terduduk dari posisiku, kini aku malah mendapati bagian atas tubuhku yang tak menggunakan apa-apa.


Tanpa ... apa ... apa ...


Seketika aku menjerit frustasi sembari menaikkan selimutku kembali. Kakiku segera membawaku bangkit untuk turun dari kasurku yang sempit. Kutatap mata yang telah terbuka itu dengan amarah.


"Kamu–" entah kata-kata apa yang paling menjijikkan dan paling tepat untuk ke lemparkan kepadanya. Mataku yang melotot sempurna tak merubah sedikitpun tatapan lembutnya kepadaku. "Mas Rei gila! AKU DIAPAIN, HAH? PENJAHAT YA KAMU!"


Aku menarik kasar selimutku. Oh untunglah celana piyamaku masih utuh di tempatnya. Dan saat mataku melirik singkat kepada pria itu, ternyata kondisinya sama sepertiku, tanpa atasan.


Sumpah serapah, rutukan, dan umpatan dalam hati rasanya belum cukup untuk mengurangi kemarahanku. Apa sih yang dia lakukan kepadaku? Mengapa dia menyentuhku tanpa seizinku?


"Aku belum ngapa-ngapain, Sayang ..." sahutnya lirih. Kepalanya masih bersandar malas di atas bantalnya. Dia menatapku intens. "Aku hanya reuni singkat dengan wangi tubuhmu yang aku rindukan. Walaupun itu berhasil membuat aku sakit kepala karena tersiksa."


"Mas Rei sentuh ... aku?"


"Hm? Mau aku jelasin rinciannya?"


Sialan.


"NGGAK PERLU!" air mata lolos begitu saja dan mengalir di pipiku. Kekesalan dan kemarahanku yang luar biasa ini membuatku frustasi sendiri. Bagaimana bisa dia menjamah tubuhku saat aku sedang tidur? Apa ini artinya aku telah mengkhianati Ken? Bagaimana bila Ken tahu? Bagaiman bila Ken marah kepadaku? Bagaimana ... "Mas Rei jahat ..."


Dia menghela nafas pelan. Diangkatnya tubuhnya dengan malas, lalu bersandar di kepla ranjang dengan tangan menyilang di depan dadanya. Jangan lupakan shirtless pria itu yang membuat mataku enggan melihat ke arahnya.


"Sini, Sayang ..." dia memanggilku lembut dengan isyarat tangannya agar aku mendekat.


Aku mengalihkan pandanganku sesaat. Mana mungkin aku bersedia mendekatkan diriku. Yang ada itu seperti menyerahkan tubuhku untuk dimangsanya.


"Jangan berfikiran jauh, Azzura. Sementara ini aku masih sanggup menahan. Semalam buktinya. Kamu tidak tahu bagaimana aku mengatasinya."


Pembahasannya membuat panas wajahku seketika. Sungguh, aku tidak suka membicarakan hal-hal seperti itu. Maka untuk menghindarinya, aku berniat untuk melangkah menuju lemari agar dapat mencari atasan yang dapat kugunakan untuk menutupi tubuhku. Barulah setelah itu aku akan keluar dari kamarku.


Namun, belum juga kakiku melangkah, suaranya telah menahanku. "Kamu mau kemana? sini ku bilang,"


Kuabaikan perkataannya. Kini aku sudah membuka lemari dan mengambil satu potong pakaian. Tapi, masalahnya sekarang dimana aku harus memakai baju ini? Di hadapannya? itu gak mungkin. Keluar kamar menuju kamar mandi dengan resiko bertemu Alya? Itu juga bukan pilihan yang tepat.


"Trus aku harus berfikir sampai mana? Keadaanku saja sudah tidak layak begini."


"Jangan berkata begitu, Sayang. Aku belum nekat untuk menyentuhmu seutuhnya lho. Aku masih mampu bertahan."

__ADS_1


Aku menoleh kasar dengan delikan mata. "Trus kenapa aku gak pakai baju? Siapa maling baju yang sedang kupakai, hah?" Aku menghadapnya lagi sekarang. "Mas Rei tuh kenapa sih gak bisa menghargai perempuan? Mas Rei 'kan sudah memiliki tunangan. Kenapa harus deketin aku lagi? Aku juga sudah memiliki pacar. Dan pacarku itu sepupu kamu sendiri loh."


Tentu saja aku tak habis pikir dengan pria ini. Pria yang sudah jelas memiliki tunangan tapi masih saja mengganggu kekasih adik sepupunya. Kalau bukan b*jingan, apa namanya?


"Oke. Sekarang kamu harus mendengarkan aku," katanya dengan tegas. "Cepat atau lambat, aku pasti akan membatalkan pertunanganku."


"Terserah. Aku mau menikah dengan Ken," sahutku tak sepenuh hati. Hanya agar supaya dia tidak sembarangan mempermainkan perasaanku lagi. Karena jujur aku tak sanggup bila harus membuat diriku agar pantas berada di sisinya, seperti standar yang keluarganya inginkan.


"Jangan berani, Azzura," desisnya yang membuat bulu kudukku merinding seketika. Matanya menatapku tajam, dan raut wajahnya jauh dari kata lembut seperti beberapa saat yang lalu.


Apa itu artinya aku tidak akan pernah menikah seumur hidup?


Oh, Azzura yang malang ...


"Kamu tidak akan pernah menikah dengan siapapun," tegasnya.


tuh 'kan, aku akan menjalani hidupku seorang diri selamanya. Tragis!


"Kamu hanya akan menjadi milikku. Sudah pasti menikah denganku."


Aku menggeleng. Tapi dia tak ingin dibantah. "Jauhi Ken! Karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu untuk menjadi miliknya. Tidak selama aku masih hidup, Azzura."


Aku yakin kalau dia berkata serius barusan. Entah bagaimana pemikirannya, yang pasti aku tidak berniat untuk memulai lagi dengannya. Resiko yang harus kutanggung pastilah tidak sedikit. Dan bagaimana aku menghadapi dunia bila aku sudah tidak memiliki keluarga yang akan mendukungku?


"Sebenarnya aku ingin sekali marah karena kelakuan kalian semalam di restoran," lanjutnya. "Tapi rupanya, saat ini rasa rinduku jauh lebih besar dibandingkan amarahku."


"Plis ... jauhin aku ...." lirihku memohon. Sebelah tanganku sudah sibuk mengusap lelehan air mataku lagi, karena merasakan kepedihan hati terdalamku. "Aku pengen hidup normal, Mas. Aku pengen hidup biasa aja. Sakit saat melihat Mas Rei bersanding dengan orang lain, itu tidak sesakit saat aku menyadari bahwa di dunia ini aku tidak memiliki siapa-siapa lagi sebagai tempatku mengadu. Aku sehancur itu ... maka tolong, kamu jangan membuatku semakin hancur lagi ...."


Dengan cepat dia telah menghampiriku dan membawaku dengan paksa ke dalam pelukannya. Aku pun terisak tanpa bisa kucegah. Pria ini, memang membawa kebahagiaan tersendiri di hatiku. Akan tetapi, dia juga membawa kepedihan dan kesakitan dalam hidupku yang sebatang kara ini.


Air mataku lepas dengan deras. Dan rasa-rasanya seperti tidak akan pernah berhenti entah mengapa. Padahal, ketika kedua orang tuaku meninggalkanku, aku malah tak dapat menangis seperti layaknya anak yang ditinggal oleh orang tuanya. Seolah air mataku tertahan saat itu.


Lalu mengapa hari ini semuanya malah mengalir deras? Mengapa harus di dalam pelukan pria ini? Ada apa denganku sebenarnya?


Entah sejak kapan kini posisi kami telah duduk di pinggir kasur, dengan dia yang masih memelukku dengan hangat.


Aku masih sesenggukan. Kenangan akan kedua orang tuaku hadir begitu saja dalam derai air mata. Semua kejadian beberapa bulan yang lalu memenuhi kepalaku. Hingga aku lelah menangis, dan dia yang masih bersabar memelukku dengan usapan lembut di punggung telanj*ngku.


wait!


Aku mendorong dadanya untuk menjauhkan tubuhku darinya. Kesadaran bahwa aku belum menggunakan atasan apa-apa, kini berhasil menarik kewarasanku. Memang, barusan aku seperti hancur, melebur, dan melepaskan sesak yang selama ini menghuni hatiku. Kenyataannya, aku mesti menyembunyikan perasaan lega –entah itu apa– ini, darinya.


"Makanya, sejak semalam aku telah bertekad untuk–"


"Jangan!" cegahku. Aku tidak ingin dia mengatakan apapun yang dapat membuat hatiku berharap besar. Sungguh, Cinderella itu tidak akan pernah bahagia bila memaksa tinggal di istana. Hubungan ini tidak akan pernah berhasil. "Mas Rei sudah punya tunangan. Jadilah pria yang bertanggung jawab,"


Jemarinya mengusap sisa air mata di pipiku. Tatapannya kini melembut, tapi aku tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya. "Kamu milikku, Azzura. Selamanya."


Dengan keras aku menggeleng. "Tolong aku, Mas. Tolong jauhin aku. Mesti bagaimana aku mengatakannya supaya kamu mengerti? Kita itu gak akan bisa menjadi 'kita'."


Dari ekspresi wajahnya, aku yakin kalau ucapanku barusan tidak berarti apa-apa untuknya. Yang artinya, dia akan tetap dengan keinginannya, obsesinya, atau sejenisnya. Seolah dia bisa menyelesaikan kesakitan yang aku rasakan bila bersamanya.


"Lagi pula aku sudah memiliki Kenneth," ucapanku sekarang pelan. Agak takut sebenernya untuk membahas Kenneth di depannya. Tapi mau bagaimana, Kenneth adalah sebuah kenyataanku yang lain.


"Hanya aku, hanya aku yang memilikimu ... dan hanya aku yang kamu miliki."

__ADS_1


"Egois."


"I am."


"Kenneth bisa membuatku bahagia," tanpa sadar kalimat itu meluncur dari bibirku. Namun tatapanku tak tentu arah, karena pikiranku melayang pada sosok artis tampan yang pedenya selangit, serta menyenangkan. Benar, Kenneth sebegitunya membuatku nyaman.


Aku sadar, saat ini aku tengah berupaya mengubur harapan yang tiba-tiba muncul begitu saja di hati terdalamku karena pria di dekatku ini.


"Bagaimana bila Kenneth melihat keadaan kamu seperti sekarang?"


Ucapan Reiki terdengar sedikit menantang di telingaku. Kembali kutatap matanya dengan tajam. "Jadi itu rupanya rencana Mas Rei kepadaku. Menghancurkan hubunganku? Kebahagiaanku?" Ada yang perih saat aku memikirkan bagaimana bila Kenneth mengetahui hubunganku dengan pria ini. Ralat, hubungan yang pernah ada dulu.


"Rasa cinta yang aku punya masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, Sayang," sahutnya pelan sembari membelai lengan tel*njangku dengan punggung tangannya. "Aku melakukan semua ini hanya untuk menandai kalau kamu itu adalah milikku, kekasihku, dan–"


Aku menepis tangannya.


"Aku gak mau dengar apa-apa lagi. Jadi mending sekarang Mas Rei segera pergi dari sini sebelum Alya bangun dan memergoki kita."


"Hm." hanya gumaman yang keluar dari bibirnya. Dia menyandarkan lagi tubuhnya di kepala ranjang dengan santai. "Tempat tidur ini sangat kecil dan sempit."


"Siapa suruh tidur sini!" seruku sebal. Kini aku menjauh darinya dan memasang selimut agar menutupi tubuhku dari kepala. Aku bersembunyi di dalamnya hanya untuk mengenakan kaus agar tubuhku tertutupi. "Awas aja kalo Mas Rei berani sentuh aku lagi," ancamku setelah memastikan kausku terpasang dengan benar. Meskipun begitu, selimut masih tetap kudekap, agar bayangan dadaku yang tidak menggunakan bra ini tak perlu terekspos.


Di mana pula bra sialan itu?


Arghh!


"Memangnya kamu tahu kalau aku sentuh kamu?"


"Aku gak bakal kehilangan baju kalo Mas Rei gak nakal."


"Kamar ini terlalu panas karena tanpa ac, Sayang. Belum lagi kipas angin kamu itu kecil banget. Sudah pasti kita berdua kepanasan. Aku kasihan sama kamu, makanya aku lepasin baju kamu, supaya kamu gak kepanasan. Gimana, baik banget, 'kan aku?!" katanya dengan menggoda.


"Gila."


Reiki tersenyum dengan manisnya. Matanya menatapku dengan lembut dan seolah penuh ... cinta?


Ya ampun, aku gak boleh begini.


Hindari godaan syetan terkutuk, Zura ...


"Pergi sana, Mas ..." aku memohon lagi. Pria ini terlalu sulit untuk dilawan. Makanya aku hanya bisa memohon dan memohon saja.


"Iya, Sayang. Sabar dong. Aku 'kan masih kangen sama kamu."


"Mas Rei tuh–"


tok tok tok


Kalimatku terpotong oleh suara ketukkan di pintu kamarku. Aku menoleh panik saat mendengar suara Alya kemudian di baliknya.


"Rajuuuuuu! Bangun! Subuh hampir lewat, tau!"


...********...


sorry for typo

__ADS_1


__ADS_2