Like Drama

Like Drama
Eighty Three


__ADS_3

...Happy Reading!...


Sebuah tumpukan yang lumayan banyak tiba-tiba saja mendarat di mejaku. Otomatis mataku sedetik di tumpukan itu, dan pada detik selanjutnya melihat pada seseorang yang baru saja meletakkannya dengan sedikit hentakkan.


"Jangan kamu pikir dengan mengenal bos besar, direksi, dan anaknya bos besar, maka kamu akan di istimewakan. Tidak ada hal seperti itu di sini. Terlebih kamu yang masih pegawai baru di perusahaan, maka sudah sepantasnya kamu bekerja lebih giat lagi."


"Iya, Mbak."


Mbak Nunu terlihat lebih menakutkan hari ini. Tapi mungkin sikapnya sudah benar, menilik dari apa yang barusan dia katakan. Entah pikirannya akan seperti apa tentang diriku, yang pasti aku tidak akan menyalahkannya. Memang aku sendiri yang terlihat murahan dengan keakrabanku dengan bos, anaknya bos, dan direksi. Aku sendiri pusing mesti gimana memutuskan hidupku selanjutnya.


Aku melirik kembali mbak Nunu yang rupanya belum beranjak dari kubikelku. Dia mengikis jarak denganku, lalu bertanya pelan, "So, yang benar kamu pacaran dengan siapa? Artis? Bos? Atau bos yang lain?"


Kenneth? Om Damar? atau Reiki? Begitu pasti maksudnya.


Karena sejujurnya aku sendiri pun memang tidak tahu dengan siapa aku sedang menjalin hubungan, maka aku hanya menggeleng pelan saja menanggapinya. Bahkan kemudian aku tertunduk karena malu. Ya, aku malu dengan skandal maha besar ini, di saat statusku masih pegawai baru.


"Kamu itu sebenarnya siapa sih, Zura? Saya penasaran. Bagaimana bisa kamu– ah, sudahlah. Salah omong, bisa-bisa saya kena masalah, lagi."


Dia menyindirku.


"Jadi kamu pacarnya Ken? Serius? wow, beruntung banget dong kamu. Bikin banyak perempuan patah hati. Dan gosip kamu sudah menyebar ke satu perusahaan. Maka jangan heran kalau setelah ini kamu bakalan mendapati orang-orang yang bisik-bisik di dekat kamu."


Iya, tahu. Aku sudah melihatnya sedikit.


Wanita itu berlalu dari hadapanku dengan sikap sinisnya. Aku hanya mampu menghela nafas dan segera memulai satu persatu pekerjaanku.


.


Ketika waktunya pulang tiba, aku berjalan sendirian keluar dari ruangan hingga pintu keluar di lantai satu. Aku yang memang tak banyak berkomunikasi dengan siapapun hari ini, kini aku merasa kalau rekan-rekan satu bagianku telah mendiamiku. Bahkan Abel terlihat sedikit menjaga jarak denganku, saat kami bersinggungan pekerjaan sepanjang siang tadi.


Biarlah, biarkan saja mereka dengan pikirannya. Aku hanya perlu bertahan untuk melihat seberapa lama aku dapat memutuskan hidupku akan dengan siapa.


Mataku langsung menangkap pemandangan di depan sana. Kenneth yang bersandar di mobilnya kini terang-terangan sedang menantiku. Dia menatap ke arahku, tersenyum manis kepadaku, dan semua itu disaksikan oleh banyak pegawai yang sedang berjalan keluar dari perusahaan sepertiku.


Namun, fokusku kini bukan lagi kepada orang lain yang memiliki banyak pikiran di kepalanya masing-masing. Fokus otakku tiba-tiba adalah bagaimana bisa aku bertingkah seperti kekasihnya Kenneth, namun di saat bersamaan aku malah berciuman dengan pria lain. Bukankah aku nampak seperti gadis jahat bagi Kenneth?


"Rara ..."


Kenneth yang manis, tampan, idola semua gadis-gadis, dan berniat ingin berhubungan serius denganku, tapi aku malah memperlakukannya dengan tidak adil?


why?


Zura ... kamu kejam.


"Ken, aku pulang sendiri–"

__ADS_1


"Ish, apa sih kamu?" Dia segera menarik tanganku dan menggenggamnya erat. Dibukakannya pintu mobil di sisi penumpang bagian depan.


"Kita mau kemana nih? Kamu mau ke mana? Atau aku aja yang putuskan?" tanyanya setelah berada di belakang kemudi.


"Aku mau pulang."


"Nggak boleh,"


"Ken, aku mau mandi. Aku mau ganti baju,"


"Ya udah gampang itu sih!"


Entah apa maksudnya dengan 'gampang', satu yang pasti aku yakini adalah dia akan mengantarku pulang. Namun ternyata, bukan pulang seperti keinginanku. Karena setelah itu dia membawaku pada sebuah butik ternama dan memaksaku untuk memilih pakaian yang aku mau.


"Buat apa?"


"Ya buat dipakai, Ra. Masa buat dimakan?"


"Nggak mau, Ken," tolakku dengan gelengan. "Aku masih punya banyak baju di rumah. Yang aku butuhkan sekarang itu segera pulang."


"Tapi aku nggak mau, Ra, aku pengen kita jalan-jalan malam ini."


"Aku lelah, Ken,"


Lelaki itu menatapku penuh permohonan. "Plis, Ra ... kamu pilih baju trus pulang ke apartemenku buat mandi seperti yang kamu mau. Padahal kalau kamu nggak mandi pun aku nggak ada masalah sama sekali."


Ya, aku harus melepaskan dia, demi kebaikannya. Akan ada gadis lain yang lebih baik dan jauh lebih pantas dariku untuk mendampingi Kenneth. Dan itu sungguh bukanlah aku.


"Aku mau makan malam romantis sama kamu, Ra. Aku bakal turutin kemana kamu mau pergi deh. Aku janji."


Benar, ini saatnya membuat keputusan sulit.


Maka tanpa lama-lama lagi, aku segera berjalan untuk memilih pakaian yang nampak sederhana, walaupun harganya tidak ada yang sederhana.


Di dalam ruang ganti, aku memperhatikan diriku melalui cermin besar yang ada di hadapanku. Ku raba lagi bekas tanda merah yang Reiki tinggalkan malam itu tanpa aku sadari. Rasa bersalah kini menyelimuti hatiku apabila aku membiarkan Kenneth terus berada di dekatku dengan ketulusannya.


Tidak. Aku merasa terlalu jahat bila terus berada dalam posisi ini, tanpa sebuah keputusan mutlak dariku sendiri kepada kedua lelaki itu.


Apakah ini malam yang tepat?


Namun lagi-lagi rasa sayang terhadap Kenneth membuat hatiku selalu bimbang. Terlalu sayang untuk melepas Kenneth, tapi di saat bersamaan terlalu tidak adil bila aku menerimanya.


...***...


"Udah, Ken,"

__ADS_1


"Terserah aku dong. Lagian, sebenernya aku juga punya banyak foto candid kamu loh selama ini," ucapnya dengan cengiran manisnya. Dia yang duduk di seberangku itu selalu membidikkan kamera ponselnya ke arahku.


"Tuh, 'kan."


"Habis kamu jarang banget secara sukarela bergaya di depan kameraku."


"Aku gak suka."


"Tapi aku suka, Ra ... apalagi kalau kamu lagi cantik banget gini."


"Berarti aslinya aku gak cantik, 'kan?!"


"Siapa bilang? Kamu tuh cantik banget, Ra. Manis dengan sederhana," ucap tulus Kenneth dengan senyum manisnya. "Itu kenapa aku jatuh cinta sama kamu. Kalau sekarang, kamu dengan gaun adalah sebuah mahakarya Tuhan yang paling indah di mataku."


Aku menghela nafas pelan. Tak ada sedikitpun rasa bangga atau kegeeran atas segala ucapannya. Yang ada, itu menjadi beban yang semakin berat saja dalam hatiku.


Sekarang aku benar-benar bingung, aku harus apa terhadap kamu, Ken?


Ketulusanmu membebaniku. Kebaikanmu membuatku takut untuk menolak apalagi menerima. Lalu aku mesti bagaimana?


"Ken ..."


"Hm?"


Jangan begini baik kepadaku. Jangan begini lembut memperlakukanku. Aku benar-benar tidak pantas, aku sudah jahat, dan aku malu. Andai aku boleh menerimamu maka rasa malu ini akan semakin memenuhi ruang hatiku.


"Makan dong, Ra. Kamu tuh walaupun cantik, tapi kurus. Aku gak mau dianggap gak kasih makan kamu loh."


"Ken ..."


"Apa?"


"Kita ..."


"Kita kenapa?" tanyanya dengan tatapan menggoda. Aku yakin kalau dia menduga sesuatu yang membahagiakan.


Maafkan aku, Ken.


"Ken ..."


"Iya, Rara sayang. Kenapa?"


Rasanya dadaku berdebar lebih cepat. Lidahku kelu untuk berucap. Tapi kesempatan ini tidak akan terulang lagi. Separuh keberanianku pun tak aku tahu akan datang kembali lagi –andai aku gagal sekarang– atau tidak. Maka sungguh aku berupaya untuk mengatakan apa keinginanku, apa yang ada dalam pikiranku sekarang.


"Kita udahan ya ...."

__ADS_1


...***...


__ADS_2