Like Drama

Like Drama
Twenty Eight


__ADS_3

"Grandma bicara apa?" desak Reiki padaku yang pulang hanya setengah jam setelah grandma pergi. Dan tak perlu diberitahukan pun pria itu sudah pasti tahu siapa saja yang telah memasuki apartemennya.


"Tidak ada," jawabku sesantai mungkin. Jujur saja, hatiku rasanya hancur saat ini. Dan untungnya air mataku sedang tersumbat, sehingga tidak tampak aku sedang menyimpan luka. Sungguh aku tidak boleh menunjukkan raut sedihku kepadanya, sama sekali.


Sudah kuduga sejak awal bahwa tak akan ada masa depan antara aku dengan Reiki. Semuanya terlalu berat untuk kujalani karena tak sebanding antara kami berdua. Aku yang bukan siapa-siapa mana bisa berdampingan dengannya yang mempunyai derajat tinggi. Klasik memang, tapi inilah nyatanya. Bahwa perbedaan harta akan selalu menjadi salah satu alasan mengapa seseorang tak dapat bersatu dengan kekasihnya.


Oh bahkan aku belum memiliki status apapun dengannya.


"Beliau hanya menitipkan berkas-berkas itu yang katanya proyek di Jogja," kataku riang sambil menunjuk pada kertas-kertas di atas meja.


Reiki menatapku. Aku tahu arti tatapannya itu. Dia sedang membaca raut wajahku. Aku hanya perlu berlagak biasa saja sebisa mungkin. Acting. Like drama.


"Hanya itu?" dia memastikan lagi.


Aku mengangguk.


"Grandma tidak menanyakan tentang keberadaanmu di sini?"


Aku menggeleng. "Mungkin grandma mengerti," ucapku dengan sedikit mengulum senyum. Tentunya senyum yang sudah kulatih agar terlihat nyata. "Mas Rei mau mengajak aku jalan-jalan kemana? Ayo sekarang saja!" aku berlagak antusias. Dan itu berhasil membuatnya menyunggingkan senyum bahagia atas tingkahku yang seolah tertarik kepadanya dan sedikit manja.


Sunggh Itu bukan gayaku.


"Nanti juga kamu tahu, Sayang. Aku ganti baju dulu."


Aku hanya mengangguk sambil membalas dengan senyum tipis atas senyum manis yang dilemparkannya untukku. Kemudian dia pergi ke dalam kamarnya. Sedangkan aku menunggunya di sofa.


Aku tahu suatu hari saat seperti ini pasti akan terjadi. Tapi ini terlalu cepat. Bahkan aku belum wisuda. Dan rasanya otakku menjadi penuh karena masalah tentang Reiki.


Ini apasih sebenarnya?


Aku kenapa?


Ya, aku terjebak pada pria yang tidak tepat untukku. Bahkan sekarang perasaanku padanya sudah terasa berbeda. Kehadirannya yang selalu memaksaku pun sudah menjadi biasa. Hanya saja... tanpa status. Dan untuk melanjutkan menjadi sebuah status itu rasanya terlalu mustahil.


Semua hinaan grandma pun tak dapat aku tolak meski nyatanya itu semua tidak benar. Tapi aku bisa apa? Aku hanya ada aku di sini, seorang diri. Tanpa harta, orang tua, dan bukan siapa-siapa.


Ah ... rasanya ingin segera kulalui sidang skripsiku minggu depan. Aku ingin segera pergi ke Jepang dan bertemu dengan kedua orang tuaku. Mungkin ... Jepang adalah tujuanku selanjutnya untuk melanjutkan hidup tanpa Reiki. Aku harapkan itu.


.


.


"Katanya mau jalan-jalan," gerutuku seraya keluar dari mobil.

__ADS_1


Entah apa namanya selain rumah, dimana Reiki membawaku sekarang.


"Ada yang harus aku tunjukkan padamu, Sayang." Reiki menghampiriku. Dia memeluk pinggangku erat, dan membawaku memasuki halaman sebuah rumah besar di hadapanku.


Ini rumah yang tak kalah mewahnya dengan rumah keluarga Maheswara yang pernah aku tempati. Hanya saja, masih terlihat beberapa pekerja yang berseliweran. Mungkin masih belum selesai pembangunannya.


Saat kami memasuki bagian dalam rumah itu, ternyata memang belum ada barang-barang, itu bedanya dengan rumah Om Mandala.  Beberapa orang pekerja masih terlihat sibuk menyelesaikan beberapa bagian. Mereka tunduk hormat pada Reiki saat berpapasan.  Namun hanya dibalas anggukan kecil oleh pria di sampingku ini. Tangannya Reiki tak juga lepas dari pinggangku. Meskipun aku merasa risih pada pekerja yang sedang ada di situ, tapi aku tak mampu melepaskannya. Dia terlalu kuat.


"Kamu mau kamar kita berada di atas atau di bawah?" suara Reiki berbicara kepadaku pastinya. Sebab kami hanya berdua saja.


Aku menoleh padanya. Dan Reiki sedang menatap tangga lantai dua saat berbicara. Kemudian matanya beralih untuk menatapku.


"Apa?" tanyaku bingung.


"Perlu aku ulangi?"


"Apanya?" aku benar-benar tidak mengerti manusia satu itu.


Cup.


Dia mengecup singkat bibirku. Aku hanya dapat mengerjap polos.


"Kamu mau kamar kita berada di atas atau di bawah, hm?"


"Hah? Ka–kamar?"


Jemari Reiki mengelus sebelah pipiku. "Tentu saja. Ini adalah rumah kita, Sayang. Dan kamu berhak memutuskan di mana kamar untuk kita nanti."


Hah?


Apa?


Rumah?


Kamar?


Apa aku salah dengar?


Atau aku berhalusinasi?


"Aku tidak merasa memiliki rumah ini," sahutku kemudian. Aku berdebar. Tidak. Jangan pernah ada langkah selanjutnya tentang aku dan dia. Jangan pernah ada! Itu terlalu mengerikan.


"Apa yang aku miliki itu adalah milikmu, Sayang. Jangan pernah lupakan itu. Aku akan sangat bahagia kalau kamu mau ikut menatanya bersamaku."

__ADS_1


Ini gila.


{'Setelah pakaian dan tas mahal, kamu akan meminta apalagi dari Reiki..'}


Kata-kata grandma itu terngiang kembali di telingaku. Bagaimana apabila beliau tahu mengenai ini, tentang Reiki –sang cucu–yang berniat menjadikan rumahnya sebagai rumahku juga? Bukankah ini akan menjadi sempurna tentang semua tuduhan grandma kepadaku?


Setelah melihat-lihat sekeliling rumah dan mengoreksi ini dan itu, lalu Reiki membawaku pada taman belakang dari rumahnya itu. Kami duduk sejenak sambil menikmati minuman.


"Katanya mau jalan-jalan ..." lagi, aku masih menagih janjinya. Karena saat ini aku sangat butuh hiburan. Kepalaku rasanya penuh dan hatiku terasa sesak. Dengan hiburan mungkin akan membuatku sedikit melupakan kepedihan ini.


"Kamu maunya kemana?" dia menoleh padaku. Tangannya sudah beralih jadi menggenggam erat tanganku.


"Nonton boleh. Ke taman hiburan juga boleh. Main ice skating boleh. Apa aja boleh deh."


"Khas anak-anak."


"Khas anak-anak muda," ralatku.


Dia menaikkan kedua alisnya. "Aku belum tua."


Aku menyengir. "Menjelang tua."


Dia mencubit pelan hidungku dengan sebelah tangannya yang bebas. "Kamu manis sekali kalau seperti ini."


"Aku selalu manis ... sejak lahir."


Sekarang jemarinya yang tadi mencubit hidungku sudah beralih untuk membelai bibir bawahku. Matanya pun menurut kemana jarinya bergerak.


Oh Tuhan jantungku berdetak. Aku tahu dia mau apa sekarang.


"Tapi kamu yang penuh senyuman, sungguh menjadi sempurna manisnya," bisiknya pelan. "Kamu selalu mampu membuatku menginginkanmu lebih dari apapun."


Seketika Reiki mencium bibirku tanpa sempat aku membalas kata-katanya. Ciumannya yang menuntut dan memimpin itu selalu membuatku terlena. Tapi sebelum aku hilang kendali, otakku menyadarkanku bahwa di tempat kami ini tidak hanya ada kami berdua.


"Stop!" aku memaksa melepaskan ciumannya. Nafasku tersengal. "Banyak orang, Mas."


"Mereka tidak akan berani mengintip, Sayang. Atau mereka akan kehilangan pekerjaan ... bahkan hidup mereka."


Reiki sepertinya ingin melanjutkan ciumannya lagi, tapi aku buru-buru berkata, "Aku sudah lapar."


Dia pun melirik jam tangannya. "Sudah pukul 11."


"Aku mau makan trus nonton. Ah tidak jadi nonton–" aku harus menghindari tempat yang kemungkinan Reiki bisa menciumku dengan bebas lagi. Tidak juga dengan tempat gelap seperti bioskop. Aku harus mengendalikan euphoria dalam hatiku tatkala dia memperlakukanku dengan sayang. Harus. Semua harus segera kuhentikan. Karena aku harus meninggalkannya. Menjauhi hidupnya. Dan terbangun kembali pada kehidupanku yang sebenarnya ... seperti sebelumnya.

__ADS_1


...🎥🎥🎥...


__ADS_2