Like Drama

Like Drama
Seventy


__ADS_3

...Happy Reading!...


...----...


Aku mengerjap sesaat kala melihat pemandangan yang membuat Abel histeris berlebihan. Pantas saja, di sana memang aku pun melihatnya dengan ... sedikit gugup. Tidak, cukup banyak.


Kenneth. Dengan out fit kerennya –yang tampak memang selalu keren– sedang berjalan penuh percaya diri ke arahku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam celana jeans, lalu kaos hitam yang dilapisi jaket itu terlihat mahal. Tak lupa kacamata bertengger untuk melengkapi kepercayaan dirinya yang selangit itu.


Di sisi kanan kirinya aku melihat ada dua orang bodyguard yang biasa mengawalnya kemana pun dia pergi.


Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya. Bukannya apa, aku sangat khawatir bila cowok manis itu akan menghampiriku. Dapat ku pastikan kalau matanya yang bersembunyi di balik kacamata hitamnya itu sudah melihat keberadaanku. Dan sungguh akan menjadi hal yang gawat bila ia benar-benar menuju ke arahku.


Ku pastikan juga kalau aku akan mengamuk nanti padanya.


Kalau Abel saat ini tengah menampilkan antusiasnya yang terlalu, saat ku lirik, oh lalu bukan cuma Abel yang antusias rupanya, ada banyak penghuni kantin ini bereaksi persis seperti Abel. Maka aku hanya menggeleng perlahan sambil menatap Kenneth.


Plis ... jangan ke sini, Ken!


Jangan bikin onar dan aku bakalan kena getahnya—


Oh untunglah ...


Akhirnya aku membuang nafas lega saat cowok itu berlalu melewati mejaku begitu saja. Begitu dekat, hingga indera penciumanku mampu mencium wangi parfum kesukaannya, saat ia lewat barusan.


"Gila! Aku melting, Zura. Aku mimpi apa semalam sampai ketemu Kenneth Barata dalam kehidupan nyata? Serius? Itu tadi Kenneth beneran 'kan?! Aku nggak halu, 'kan?! Aku masih hidup, 'kan?!" Abel menepuk-nepuk pipinya dengan ocehan rasa bahagianya. "Malahan wangi banget. Rasanya parfum Kenneth nempel di baju aku deh." dia mengendus-endus bajunya sendiri.


Kehebohan yang ... udah biasa sih aku melihatnya. Bahkan, yang satu atap denganku sekarang reaksinya lebih parah, 'kan?!


"Deuh, cewek-cewek kebiasaan deh," gerutu mas Anjas. "Cuma Kenneth lewat aja segitu berisiknya,"


"Apanya yang cuma, Mas Anjas?" Abel tak setuju dengan lelaki itu. "Itu Kenneth loh! Kenneth!"


"Iya, tahu."


"Itu beneran Kenneth, 'kan, Zura?" tanya Abel lagi yang membuatku menoleh kepadanya.


Hanya sekali anggukan yang ku berikan kepadanya. "Kayaknya."


"Beneran itu Kenneth lah, Zura. Lihat, semua orang di sini juga sadar kalo itu Kenneth." Abel masih dengan antusias berlebihannya. Kelebayannya seakan ia telah memenangkan lotre.


"Ya wajar sih, Bel, kalo dia ke sini. 'Kan ini perusahaan milik Papanya Kenneth. Bukannya aku sudah pernah kasih tahu kamu ya?" mas Anjas mengetuk-ngetuk telunjuk tangan kirinya di meja.


Abel menepuk jidatnya dan berseru, "Oh iya! Aku lupa. Mas Anjas udah pernah bilang waktu hari pertama aku kerja."


"Cuma aneh aja, kenapa itu artis numpang lewat di kantin ini? Kemarin Reiki Maheswara, sekarang Kenneth Barata. Ya walaupun mereka memang sepupuan,"


"SERIUS?"

__ADS_1


Aku tak fokus lagi mendengar percakapan mereka berdua. Aku hanya pura-pura sibuk menyedot minumanku dalam diam.


"Kamu gak ngefans sama Kenneth, Ra?" tanya mas Anjas tiba-tiba. Hal itu membuatku terpaksa kembali terlibat dalam membahas Kenneth dengan mereka berdua.


Bibirku yang masih menggigit sedotan menjadikanku alasan untuk hanya sekedar mengendikkan bahu.


"Serius kamu gak ngefans sama Kenneth?" Abel pun menuntut penegasan dariku.


"Nggak," jawabku singkat.


"Kok bisa?"


"Ya bisa." aku melirik pada mas Anjas yang tengah menatapku, entah dengan pikiran apa. "Aku biasa aja sih. Gak terlalu menggilai artis atau siapa."


Mas Anjas sekarang mengangguk. "Nah, bagus itu. Jarang-jarang ada cewek cantik, muda, kayak kamu loh, Ra. Kamu gak heboh saat melihat artis ganteng? wow sekali!"


"Kok bisa sih, Ra?" Abel rupanya masih tak percaya. "Kamu nggak terKenneth-Kenneth, gitu?"


Aku menggeleng.


"Kalo terSongkang-Songkang?"


Mendengarnya membuatku menyengir, "Kalo itu sih iya."


Abel kini tertawa. "Rupanya selera oppa kita sama."


...----...


Aku tidak peduli deh mereka mau ngomong apa. Yang pasti, aku akan berusaha semampuku untuk bekerja dengan baik, tanpa merasa sudah memiliki predikat istimewa karena dibawa oleh bos besar perusahaan.


Namun begitu aku memasuki ruangan yang berada di lantai teratas itu, aku tidak menemukan Om Damar sama sekali.


"Pak Damar mana?" tanyaku celingukan. Kepada siapa? sudah pasti ada anak semata wayangnya Om Damar yang tadi nyasar ke kantin rakyat jelata, dan kini sedang duduk di sofa.


"Ada anak gantengnya, kenapa mesti nanyain bapaknya sih, Ra?" cowok itu bangkit dari sofa dan langsung menubruk ke dalam pelukanku. "Kangen ih ..." ucapnya manja.


Aku mendorong dadanya sekuat tenaga, karena dia menempel seperti lintah. "Ken, minggir! Ini di kantor Papa kamu loh."


"Iya, tahu," sahutnya santai. "Tapi aku kangen," dia hendak menyosor padaku lagi, tapi keburu tertahan oleh tanganku yang menahan kepalanya agar tidak menubrukku lagi.


"Nggak-nggak."


"Ra ..."


"Apa sih, Ken? Tadi pagi kita habis ketemu, 'kan?!"


"Ya tapi aku kangen lagi. Mau ikut makan bareng kamu tadi, tapi aku terpaksa melawan keinginan itu. Aku yakin kalo kamu pasti bakalan marah andai aku bergabung. Ya, 'kan?!"

__ADS_1


"Benar sekali."


"Tuh 'kan," Kenneth mencibir. "Pacaran apaan kalo gak tampil di depan umum," gerutunya. "Padahal satu Indonesia 'kan sudah tahu kalau kamu itu pacar aku."


Perkataan Kenneth membuatku tertegun. Benar juga, di pesta beberapa hari yang lalu 'kan Kenneth sudah mengumumkan kalau aku ini pacarnya. Tapi sudah dua hari aku kerja di sini, tak satu pun yang menanyakan hal itu kepadaku. Kenapa ya? Apa wajahku berbeda saat di pesta itu? well, ku akui di pesta itu aku memang didandani lebih cantik oleh Alya.


"Apalagi ini di perusahaan Papaku. Boleh ya kalau kita pacaran di depan umum?"


Aku menggeleng keras. "GAK MAU! Apa sih, Ken? Kenapa kamu tega sama aku? Kalo kita lakuin itu, sudah pasti aku bakalan gak punya muka di depan pegawai yang lain."


"Apa aku segitu memalukannya, Ra?" Kenneth mendadak murung. "Aku 'kan artis ya, tapi kalo di hadapan kamu aku malah krisis kepercayaan diri loh, Ra."


Entah kenapa bibirku malah tersenyum geli. Wajah lucu cowok itu terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek.


Melihat senyumku barusan, dia berjalan kembali ke sofa tadi dan rebahan di sana.


"Yailah, baper."


"Biarin."


Kakiku bergerak perlahan mendekati cowok itu, dan berhenti tepat di belakang sofa panjang yang di tempatinya "Papa kamu kemana, Ken? Katanya aku dipanggil beliau?"


"Papa meeting di luar."


"Lah trus? Yang panggil aku?"


"Ya aku-lah. Anaknya Damar Barata."


Refleks aku memukul pelan lengan Kenneth yang tersampir di sandaran sofa. "Jangan resek deh, Ken! Aku tuh lagi kerja, bukan sedang main-main. Aku juga mesti jaga kepercayaan Papa kamu yang sudah kasih aku pekerjaan ini. Udah ah, aku balik kerja."


"Eh tunggu–" Kenneth menangkap tanganku. "Cium dulu sebelum pergi."


"Mimpi."


"'Kan kita pacaran, Ra ..." dia memelas. Dia tahu kalau aku orang yang tidak tegaan. "Cium dikit ya, plis ...." bibirnya di majukan dengan imutnya.


"Boleh,"


"Yes!"


"Tapi pake ini," di tanganku sudah ada sebelah sepatu hak lima centiku, yang sudah siap ku arahkan ke depan wajahnya.


Akhirnya Kenneth melepaskan tanganku dan berkata dengan kesal, "Kamu mah tega pisan."


Tanpa menjawabnya lagi, segera aku berbalik langkah menuju pintu setelah memakai kembali sepatuku.


"Ra ... aku artis loh ...."

__ADS_1


...****...


sorry for typo


__ADS_2