Like Drama

Like Drama
Ninety One


__ADS_3

...Happy Reading!...


...----------------...


Sebulan kemudian ...


Percaya diri adalah hal yang aku miliki saat ini. Dunia bukan lagi sesuatu yang menakutkan sejak seminggu yang lalu. Seperti mendapat energi baru dalam hidupku untuk melanjutkan hidup yang nyatanya tak pernah berjalan mudah.


Aku kini tidak sendiri. Suka duka akan aku bagi dengannya yang kini sedang duduk di sampingku. Fokusnya mungkin pada seseorang di seberang telepon sana, akan tetapi tangannya menggenggam erat tanganku di pangkuannya. Tetap menjaga dan menandakan agar aku tetap sadar tentang keberadaannya.


Bibirku tanpa sadar menyunggingkan senyum bahagia meski tujuan perjalanan kami sekarang bukan suatu hal yang mudah. Tapi aku mempercayai dia. Dia yang sudah berjanji akan membawaku pada dunia yang bahagia. Dia yang akan melindungi dan mempertahankanku hingga akhir.


Sebuah kecupan pada punggung tanganku yang sedari tadi digenggam erat olehnya, dan membuat pandanganku menoleh kepadanya. Lamunan sesaatku dibuyarkan oleh sosoknya yang kini telah menjadi prioritas utama di dalam hidupku.


Aku tersenyum manis untuknya. Ya, hanya untuknya.


"Are you okay?" tanyanya pelan namun sarat akan kekhawatiran, setelah ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


Aku menggangguk yakin. "Tenang aja."


Dia mengecup keningku dengan lambat. Kini aku merasakan betul betapa sayang dan cinta yang dia miliki untukku seorang, tulus dan begitu banyak.


"Percaya padaku ...,"


"Iya, Sayang."


Sekarang dia mengecup sebelah pipiku setelah memberikan tatapan mata yang berbinar tulus. Pada akhirnya aku memanggil dia seperti itu setelah perjalanan panjang cerita kami.

__ADS_1


Aku siap menghadapi apapun yang ada di depan sana. Dengan seseorang yang kuyakini mampu melindungiku, rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan.


"Ingat semua yang kukatakan?"


"Ingat banget."


"Good."


Kami saling melempar senyum manis. Bukan karena masih barunya kebersamaan kami, akan tetapi memang sudah menjadi komitmen kami berdua untuk melanjutkan hidup dengan fokus pada hal yang manis-manis saja, yang pastinya membahagiakan kami. Tanpa terkecuali.


Ketika aku tahu bahwa mobil yang kami naiki sekarang sudah mendekati tujuan, tanpa bisa kucegah dadaku berdebar dengan sendiri. Hanya saja aku berupaya keras untuk menyembunyikannya dari Reiki. Tentu dia tidak akan mengetahuinya kecuali kepalanya bersandar di dadaku.


Diam-diam aku menghela nafas. Syukurlah kalau pria di dekatku ini terus sibuk dengan pekerjaannya melalui benda pintarnya hingga tak terlalu kentara bagaimana aku berusaha untuk tetap tenang di sisinya.


"Oke."


"Aku cantik?" sudah berapa kali kutanyakan itu kepada Reiki sejak berangkat tadi. Bahkan sejak aku telah selesai merias diri dan mengenakan sebuah gaun cantik. Rasa gugup kini tak dapat aku sembunyikan lagi darinya. Biarlah, aku butuh dia sebagai kekuatanku selama sisa hidupku.


Dia yang baru saja hendak keluar lebih dulu dari mobil pun mengurungkan langkahnya.


"Perfect."


"Benarkah?"


"Ayolah, Sayang. Kita akan menjadi tokoh utama hari ini. Sudah pasti kamu terlalu cantik untuk menjadi pusat perhatian. Dan sejujurnya aku benci hal itu. Bagaimana semua laki-laki akan memperhatikanmu. Rasa-rasanya aku sanggup menghabisi–"


cup.

__ADS_1


Sebuah kecupan kuberikan ke bibirnya untuk membungkam ucapannya yang aku tidak sukai. Reiki memang seperti itu, 'kan?! Sanggup melakukan segala cara atas apapun yang diinginkannya.


Bicaranya seringkali hanya singkat dan irit. Tapi begitu aku memprovokasi sedikit saja, maka dia akan mengucapkan kalimat panjang yang menakutkan. Huh, Reiki memang seperti itu.


"Ayo keluar," ajakku sembari memberikannya senyum dan tatapan hangat.


...----------------...


Tidak satu pun orang di acara pesta mengetahui tentang kehadiran Reiki dan Azzura. Hingga mobil mereka tiba di pelataran parkiran, beberapa orang bodyguard anak buah Mandala Maheswara segera melaporkan kedatangan mereka kepada Mandala, Fatma, dan Widia.


Helena yang sedang berada di dekat orang tuanya itu melebarkan matanya bahagia karena mengetahui kedatangan sang kakak yang sudah diblacklist dari sang nenek. Hanya saja kebahagiaannya itu masih ditahannya karena tak sabar bagaimana neneknya mendapat kejutan terhebat di ulang tahunnya.


"Hebat kamu, Mas. Sudah saatnya kita menjadi diri sendiri dalam hidup. Sudah saatnya menentukan sendiri ingin seperti apa jalan cerita hidupmu."


...----------------...


Aku melangkah memasuki ruangan dengan dagu terangkat dan sorot mata yang mantap. Bukan, bukan maksudku untuk tinggi hati. Itu hanya sebuah pembuktian bahwa aku bukanlah aku sebulan yang lalu. Aku yang hadir di sini sekarang adalah aku yang baru. Dengan hati dan mental yang kuat, dengan sikap dan kepercayaan diri agar tidak nampak lemah di mata siapapun.


Genggaman Reiki semakin erat kepadaku. Seakan tanganku telah menempel dan tidak bisa lepas lagi darinya. Itu membuat kekuatanku bertambah lagi. Kekuatan untuk menghadapi dunia, apapun yang terjadi.


Mataku melirik kepada orang-orang yang saat ini pandangannya tengah berfokus pada kami. Mungkin kepadaku lebih tepatnya. Mungkin mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin aku bisa berdiri di sini sebagai manusia yang dilarang untuk datang.


Hanya Helena yang nampak tersenyum bahagia melihat kedatangan kami. Selebihnya hanya ada kebisuan dan sesuatu mungkin akan segera meledak sesaat lagi.


Mataku terasa sendu saat melihat Kenneth di kajauhan. Ya, laki-laki itu berdiri di dekat meja di pojok sana, dengan segelas minuman berada di tangannya. Tak mampu aku memandangnya lebih dari dua detik, atau hatiku akan goyah. Bukan goyah karena perasaan suka dan sejenisnya, aku hanya akan goyah karena perasaan kasihan dan rasa bersalah.


Reiki menarik tanganku dengan lembut agar mengikutinya berjalan. Tentu saja, langkah kami sekarang adalah untuk menghadapi sesuatu yang amat besar. Cerita kehidupan yang mesti kami lalui, dengan suka atau tidak suka dari mereka. Sebab kami berdua berada di sini bukan berdasarkan perasaan suka atau tidak suka. Melainkan adalah takdir yang harus dihadapi, bukan untuk dihindari. Mengenai hasil akhirnya, biar kita lihat nanti. Happy ending or sad ending? Bukan itu intinya. Akan tetapi, menghadapi masalah untuk diselesaikan adalah langkah terbaik menuju bahagia. Apapun hasilnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2