Like Drama

Like Drama
Eighty Two


__ADS_3

Hanya merunduk yang dapat kulakukan saat akhirnya aku kembali pada kubikelku empat puluh lima menit kemudian. Bukan hal yang mudah untukku melepaskan diri dari radar Reiki. Akan tetapi, sebuah telepon penting untuknya lah yang kemudian membuatku dapat kembali ke kantor tanpa berlama-lama.


Bukan hal yang mudah juga untukku menampakkan wajah lagi di kantor setelah penjemputan ekslusif Om Johan tadi. Sudah pasti akan banyak pertanyaan yang aku dapatkan bila waktu istirahat tiba.


Lalu entah bagaimana aku dapat kembali ke kantor dengan wajarnya, tanpa ada sangsi maupun teguran apapun, dari siapapun.


Apakah ini kekuasaan Reiki juga?


"Dari mana?" tanya Abel setengah berbisik kepadaku.


Aku hanya menggeleng enggan menjelaskan. Kulirik mas Anjas yang rupanya sedang melirikku juga di kejauhan.


Huhhh ... entah apa yang akan terjadi lagi setelah ini. Aku hanya akan fokus pada pekerjaanku, sebelum sibuk menjawab rasa penasaran rekan-rekanku nanti.


Tak terasa sudah dua jam berlalu saat aku lagi-lagi mendapatkan kejutan. Hanya saja, kali ini bukan dari Reiki ataupun antek-anteknya lagi. Aku rasa, setelah hari ini maka segala ceritaku akan menyebar ke satu perusahaan. Dan aku mesti bersiap-siap andai dipecat lebih cepat dari dugaanku.


Wow, hidupku yang amazing!


Selalu mendapat masalah di mana pun dan kapan pun.


Aku enggan menatap yang lain, orang lain di ruangan ini maksuku. Fokusku hanya pada tatapan lelaki yang kini berdiri di depan kubikelku. Siapa lagi kalau bukan Kenneth?


Sudahlah, aku sudah menyerah berurusan dengan kedua Maheswara itu. Seberapa hebatnya aku menyimpan kedekatanku dengan mereka, tetap saja pada akhirnya mereka yang akan terang-terangan "mengganggu" kenormalan hidupku.


"Makan siang?"


Aku menggeleng, "Nggak laper." Masalahku dengan mereka membuatku kehilangan rasa lapar.


"Nanti kamu sakit, Ra. Ayo," Kenneth menarik tanganku agar aku berdiri. Lalu setelah aku berdiri, dia bukannya membawaku pergi, tapi dia malahan menarik perhatian semua orang.


"Zura ini sebenernya pacarku," katanya dengan mata berkeliling kepada rekan-rekanku. Sumpah, rasanya aku sudah tidak punya wajah lagi di sini. "Tapi ternyata nggak semudah itu untuk mendapatkan hatinya. So, do'akan kami supaya bisa benar-benar menjadi pasangan–"


Aku menarik Kenneth untuk segera pergi dari tempat itu, sebelum dia mengoceh lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Apa sih, Ken?" semburku marah, begitu kami tiba di sudut yang sepi. Sebab hampir semua orang sedang menikmati jam istirahatnya. "Kenapa begitu?"


"Begitu gimana sih, Ra? Aku cuma mengatakan yang sebenarnya loh."


"Ya tapi aku gak suka."


"Kenapa? Apa kamu malu?"


Gelengan keras kuberikan. "Bukan cuma itu. Aku tuh lagi ... aku nggak tahu mesti gimana, Ken. Aku sendiri– bingung ...."


Kurasakan jemari Kenneth membelai kepalaku dengan sayang. Suara lembutnya berkata, "Bingung kenapa sih, Ra, Sayang? Coba bilang sama aku,"


Hatiku gamang. Merasakan kembali kehangatan Ken menimbulkan rasa bersalah di dalam hatiku. Bagaimana dia bisa kembali seperti ini setelah apa yang terjadi semalam antara kami bertiga. Setelah dia mengetahui kenyataan-kenyataan antara aku dengan sepupunya. Bahkan, setelah dia kecewa dan terluka karena aku.


.......


.......


"Ken ..."


"Makan dulu. Buat perut kamu hangat dulu, baru habis itu kita ngobrol lagi ya."


Aku menurut. Ku coba fokus pada sajian makan siang yang sudah Kenneth pesankan sementara aku memang sedang tidak ingin apapun bentuknya makanan. Akan tetapi, tidak baik bila aku membiarkan makanan-makanan yang sudah dia pilihankan untukku.


Sesekali aku melirik lelaki tampan di depanku ini. Lalu saat ia menyadari dan tatapan kami saling bertemu maka saat itulah dia tersenyum manis kepadaku. Segera ku tundukkan lagi mataku kembali ke makanan.


"Kamu ... sudah nggak marah sama aku?" tanyaku pelan tanpa melihatnya.


"Marah? Marah kenapa? Ahh ... yang tadi pagi kamu berangkat gak bilang-bilang? Yah ... asal kamu baik-baik aja, itu jauh lebih membuatku tenang."


"Bukan itu."


"Trus?"

__ADS_1


Aku melihatnya yang sedang menatapku menunggu jawaban.


"Soal semalam,"


Kenneth menghela nafas sejenak sebelum menyahut, "Aku sudah memutuskan."


Apa? Jangan lagi tentang diriku, plis ... rasanya aku hampir tak sanggup lebih lama lagi berada di antara mereka.


"Aku akan memperjuangkanmu ... kita."


Perkataannya sungguh membuatku menghentikan makan siangku yang baru separuh itu. Sudah tak berselera lagi ketika aku bingung dengan hidupku yang tak kunjung tenang.


Bagaimana dengan Reiki yang sudah memutuskan pertunangannya, bahkan seperti menganggap aku telah menerimanya. Entahlah, apa aku menyadari bahasa tubuhku sendiri atau tidak.


Ini sungguh membuatku tidak bisa berfikir.


Aku menyayangi Ken. Entah berapa kadarnya, entah bagaimana posisinya, aku hanya tahu kalau aku menyanyanginya. Aku tidak rela menjadi musuhnya.


Selain itu, aku juga tidak bisa membohongi hatiku yang bahagia manakala Reiki berada di dekatku. Bahkan aku masih mengingat jelas ciumannya tadi pagi, walau itu tetap membuatku marah karena Reiki tidak tahu tempat dan situasi. Apa itu artinya aku menginginkannya di tempat dan situasi yang benar? Serius, aku juga tidak mengerti apa maunya hatiku.


Ya Tuhan ... ini sungguh membingungkan.


Aku menyayangi keduanya, tapi bukan berarti aku ingin memiliki keduanya. Tidak sama sekali. Aku lebih takut kalau salah satunya malah menjadi terluka dan kecewa. Padahal aku tidak cukup pantas untuk dihujani banyak cinta.


Ya ampun, aku harus apa?


...***...


Numpang promo yang masih baru netes 😁



Tengkyu 💖

__ADS_1


__ADS_2