
Setelah lebih dari dua minggu aku berkutat pada lamaran pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, akhirnya hari ini hatiku mantap untuk menerima pekerjaan dari Kenneth itu. Sepertinya tidak ada salahnya untuk dicoba. Karena apabila nanti aku mendapat pekerjaan lain yang aku inginkan, aku boleh mengundurkan diri, begitu kata Kenneth dua minggu yang lalu. Tapi aku harus menunggu sebentar, karena sudah lima hari ini Kenneth terbang ke Malaysia untuk pekerjaannya. Aku sudah mengirim chat padanya tentang persetujuanku, dan dia mengatakan padaku untuk menunggunya kembali dalam beberapa hari.
Okelah.
"Raju! Raju!" teriak Alya memanggilku.
Saat ini aku sedang sibuk fokus pada cucian bajuku, sedangkan Alya sejak tadi menonton tv di hari libur kerjanya. Ya, sahabatku itu telah diterima bekerja pada sebuah perusahaan yang lumayan besar. Dewi fortuna sepertinya sedang singgah dalam hidup Alya.
Niatnya dua jam lagi kami akan pergi nongkrong di cafe, tentunya dengan Radit juga.
"Apa?" sahutku setengah berteriak, walaupun jarak kami tak terlalu jauh.
"Sini bentar!"
"Apasih? Gue sibuk."
"Yaelah, mesin ini yang nyuci. Sibuk apa lo? Sini bentaaarr!"
Memang sih mesin yang mencuci, tapi kan aku harus mengucek bagian-bagian kotornya. Apalagi kemarin aku sempat ikutan tetangga kontrakan menanam pohon-pohon. Alhasil, celanaku terkena tanah di sana sini.
"Raju!"
Akhirnya aku meninggalkan cucian sementara, dan melangkah juga untuk menghampiri Alya yang saat ini sedang selonjoran di sofa. Anak itu emang suka sekali memaksaku.
"Lihat, Ra ..."
Alya menunjuk televisi yang otomatis mataku pun mengikuti arah telunjuknya.
Aku terpaku sesaat.
Di sana sedang ada acara talk show dengan bintang tamu seorang pengusaha sukses. Jantungku mendadak berdebar saat melihat orang yang sedang berbicara itu dengan segala pesonanya. Pesona pria tampan, mapan, dan matang. Dia Reiki. Seorang pria yang masih berada di sudut hatiku dengan kedudukan paling istimewa.
Mengapa masih istimewa? Entah, aku juga tidak mengerti.
Rasanya sudah lama sekali saat terakhir aku bertemu dengan dia. Tidak, mungkin itu baru beberapa bulan saja. Entahlah, tapi aku sungguh merasakan gejolak pada perutku sekarang. Karena seseorang itu yang sudah aku coba untuk lupakan pelan-pelan meskipun terasa sulit. Dan saat ini, saat mataku kembali melihat sosoknya lagi walau itu hanya melalui layar kaca, tapi aku sadar dengan pasti bahwa ...
Aku masih merindunya.
"Ra ..."
Kenapa rasa ini masih ada? Kenapa rasanya sesesak ini? Kenapa?
"Ra ... Lo gak apa-apa?"
Menyadari keterpakuanku sendiri, aku menoleh pada Alya dan berdehem. Berusaha senormal mungkin saat berbicara tentang siapapun yang sedang kami lihat di layar tv.
__ADS_1
"Kalo nanti ada dia lagi di tv, gak perlu panggil gue lagi," desisku pelan tapi tajam.
Alya manggut-manggut saja. "Ups, sorry ... gue pikir kan kali aja lo kangen gitu,"
Aku mendelik sesaat lalu menormalkan lagi perasaanku yang sempat terasa kacau beberapa saat yang lalu. "Biasa aja kali, Al. Hehe ... Eh iya, gue punya temen yang bakal bikin lo bisa mati mendadak deh Al." aku mesti mengalihkan pembahasan yang membuatku lemah.
"Maksud lo?"
"Ada deh. Nanti kapan-kapan lo bakal gue kenalin sama temen gue yang super duper wow itu. Yang pasti bakal bikin lo bahagia setengah mati."
"Siapa? Siapa? Jangan bikin gue kepo!" Alya terlihat antusias.
"Nantilah, kalo orangnya kesini. Udah, jangan ganggu gue lagi! Gue sibuk cuci baju."
Aku tidak pedulikan Alya yang masih mencecarku dengan penasarannya. Aku memang berniat mengenalkan Alya pada idolanya, yaitu si Kenneth. Tapi cowok itu masih sibuk kan, nanti deh kalau Kenneth datang ke sini lagi. Dan semoga hari itu Alya sedang berada di rumah. Alya kan sudah sibuk kerja jadi karyawati sekarang. Bikin aku iri saja.
Dua jam kemudian aku dan Alya sudah menunggu Radit di sebuah cafe. Kami mengobrol banyak hal yang sudah aku lewatkan selama aku di Bali. Meskipun mereka sudah bercerita melalui video call, tapi bercerita langsung adalah hal yang berbeda.
"Lo masukin lamaran aja, Ra, di kantor gue," usul Alya pada akhirnya. "Gue denger dari senior gue sih, lagi ada lowongan season 2."
"Sinetron kali season 2 segala," sahut Radit.
"Seriusan. Cuma ya lo kudu lewat jalur normal. Secara gue aja anak baru, mana mungkin bisa masukin orang, kan?!"
Tentu saja sambil menimbang-nimbang tawaran dari Kenneth juga kan. Pekerjaan yang lelaki itu tawarkan mempunyai gaji yang lumayan dapat kupertimbangkan, terlepas dari resiko-resiko apa yang bakal aku hadapi kedepannya.
"Raju, gue pinjem hp lo bentar. Hp gue lowbet masa. Ya ampun, saking enaknya gue tidur, gue sampe lupa charger hp semalem," oceh Alya setelah meletakkan ponselnya.
"Mau ngapain sih lo?" tanya Radit penasaran.
"Gue mau chat temen sekantor gue. Kayaknya kacamata gue ketinggalan atau kebawa, atau mungkin dia lihat gitu,"
Alya sibuk mengulik ponselku. Aku tidak peduli, dan masih melanjutkan memakan kue kesukaanku ini.
"Masa kemarin gue melihat Reiki tau, Ra," ucap Radit sekonyong-konyong.
Aku menghentikan kunyahanku, "Hm ..." jujur saja, pembahasan tentang pria itu membuat perasaanku terasa bercampur aduk.
"Di mall." Radit berkata perlahan. Seakan memperhatikan setiap ekspresi wajahku. "Sama cewek."
Aku. Harus. Melupakannya.
Itu mutlak.
"Ya trus kenapa?" tanyaku santai. Aku harus belajar untuk mengendalikan perasaanku. Benar, kan?!
__ADS_1
Radit menggeleng, "Udah, lupain aja!"
"Whaaaaaatttt?"
Itu teriakan Alya.
Aku dan Radit, serta seluruh penghuni cafe sudah pasti menoleh ke arahnya.
Alya sedang melotot memperhatikan ponselku. Mulutnya terbuka dan wajah syoknya terlihat amat sangat memalukan.
"Lo kenapa, Al? Ngeliat setan?" tanya Radit. "Mulut tutup, jailah. Nyamuk numpang bertelor baru tau rasa lo!"
Kemudian Alya mendelik tajam ke arahku.
Aku? Why?
"Lo ternyata fans Kenneth juga?!" tuduhnya.
Ah ya ... aku paham sekarang kemana arah ucapan Alya dan kenapa dia terlihat syok. Pasti Alya sudah melihat fotoku bersama Kenneth.
"Itu editan gue, Al." aku berbohong.
"Terlepas ini editan lo atau nggak, tapi nyatanya sekarang lo fans Kenneth, benar?"
Aku mengangguk tapi sedetik kemudian aku menggeleng. Mana mungkin aku ngefans sama Ken? Tidak pernah terpikirkan sedikitpun.
"Ngaku lo sama gue!"
Aku berfikir sebentar. Okelah. Rasanya aku sudah cukup menutupinya dari Alya tentang idolanya itu.
Sekarang aku menyengir, "Itu foto asli sih. Bukan editan. Dan temen yang mau gue kenalin ke lo ya itu dia. Gue berteman sama idola lo." jujur ku mengaku.
Tapi sedetik kemudian Alya malah tergelak. "Ya ampun, Raju. Parah ya lo sekalinya jadi fangirl."
Lah?
"Halu lo itu udah level parah. Hahaha ..."
Alya mengembalikan ponselku. Tapi tertawaannya itu masih belum reda juga.
Jadi dia tidak percaya? Ya sudah. Biar nanti dia lihat sendiri dengan matanya saat Kenneth datang lagi ke rumah kontrakan kami. Aku tidak heran kalau saat itu tiba, Alya bakalan histeris atau malah mungkin pingsan.
Huh! Dasar fangirl!
...***...
__ADS_1