
Ini satu bab tambahan terakhir ya. Selamat membaca! ❤
...----------------...
Memasak bukanlah hal yang sangat aku suka. Hanya saja, semenjak berada di negara ini lebih dari sebulan yang lalu, aku mulai tertarik untuk mencoba beberapa resep –terutama makanan lokal– yang sepertinya amat disukai oleh suamiku.
Priaku itu bukanlah tipe orang yang pemilih makanan. Dia tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan makanan selagi dengan mudahnya kami dapat memesan apapun yang kami inginkan.
Itu bukan sebuah masalah, hanya saja aku belum menemukan kegiatan yang pas untuk mengisi waktu luangku setelah akhirnya kami memiliki hubungan dalam sebuah ikatan yang resmi. Dia tidak mengizinkanku untuk pergi bekerja apapun bentuknya. Karena menurutnya, tugas seorang istri hanyalah melayani dirinya –sebagai seorang suami– tanpa ada kegiatan lain yang menyita waktuku. Hidup kami sudah cukup, begitu katanya.
Aku menurutinya. Waktu luangku di sini hanya untuk merapihkan apartemen –walau kami telah memakai jasa housekeeper –menata, menanam bunga, dan lain-lainnya yang aku sukai saja. Reiki selalu berpesan bahwa aku tidak boleh melakukan hal apapun yang tidak dia sukai, dan hanya boleh melakukan hal ringan apa saja yang aku sukai.
Sebuah sentuhan kurasakan telah menyelimuti pinggangku dari arah belakang. Disusul kecupan-kecupan lembut di sepanjang belakang leherku yang terus merambat kemana-mana. Aku sudah hafal betul tingkahnya sewaktu bangun tidur itu.
"Morning, Sayang," bisiknya serak di telingaku.
Kemarin dia mengatakan kalau hari ini dia libur. Memang selama dia bekerja sejak kami berada di negara ini, jam kerjanya tidak pernah dapat aku mengerti. Waktunya sebagian besar di apartemen kami, alias work from home, katanya. Masih dalam waktu bulan madu juga menurutnya. Walau nyatanya dia masih belum sempat untuk mengajakku keliling dunia atas rencananya dalam honeymoon kami. Padahal aku tidak pernah meminta apapun sejak kami menikah.
"Morning."
Helaan nafasku pelan sembari menyimpan ponselku di meja. Sepertinya tidak akan berlanjut apapun bentuknya resep yang telah aku persiapkan dengan semangat sedari kemarin. Sebab aku amat paham apa kegiatan kami bila dia mengatakan libur. Tidak ada pekerjaan dari rumah juga, yang itu artinya giliran aku yang harus bekerja untuknya.
Masih dengan bibirnya yang tak hentinya mencumbu tengkukku hingga membuat bulu romaku merinding, dia berkata, "¿ Cómo amaneció usted? Mi amor .."
"Good." moodku memang sebagus itu terlebih dengan tekadku untuk mewujudkan sebuah resep tadi, di pagi ini. Ah tapi, kewajibanku untuk melayani suami tetaplah kewajiban di atas segala kewajiban. Begitulah seharusnya seorang istri.
Kurasakan tangannya telah bergerak ke atas perutku dan berhenti di sana, tempat kesukaannya, as always. Meskipun setiap malam dia selalu membuatku tidak tidur, akan tetapi hasratnya di pagi hari tidak pernah terlewatkan.
"Apa kamu sudah sarapan?"
Aku menggeleng pelan. Seperti biasa aku tidak terlalu mewajibkan diriku untuk sarapan. Segelas coklat hangat bagiku sudah cukup untuk mengisi perutku di pagi hari.
"Kebiasaan," bisiknya pelan di belakang telingaku. Bibirnya masih setia menjelahi tengkukku, tak hentinya membuatku meremang sejuta rasa. Dia memancingku, tapi aku berusaha menahan apapun efek yang dia berikan kepadaku. Sabar dulu.
"Kamu mau sarapan apa?"
"Kamu apa?" tanyanya tidak puas.
"Sayang. Mas Rei sayang mau sarapan apa? Biar aku pesan sekarang."
"Hm, apa ya ..."
Aku tahu kalau dia sudah tidak memikirkan kebutuhan perutnya lagi saat ini.
"Boleh aku saran?"
"Nope. I know what I want, Mi amor ..."
"Hm?"
__ADS_1
"You."
Tuh, 'kan. Suamiku itu memang tidak melewatkan sedikitpun waktu luangku untuk bersantai. Karena ketika ada dirinya di rumah, sudah pasti aku harus bermanja dan memanjakannya. Kebahagiaan itu untuk dinikmati, begitu suruhnya. Dia lelah, terlebih aku pastinya lebih lelah dengan hidupku yang penuh air mata selama ini. Maka ketika akhirnya kami berhasil meraih kebahagiaan ini, sudah pasti segalanya harus dinikmati setiap detiknya. Tidak perlu mengingat apalagi membahas derita yang pernah ada.
"Kita jadi datang ke ulang tahun grandma?" tanyaku tanpa mengganggu aktivitasnya yang sedang mencumbuku. Bahkan dia sudah mendudukanku di pangkuannya, setelah dia menarik sebuah kursi untuk didudukinya.
"Hm. Kamu tidak ingin datang?" Matanya menatapku khawatir. Namun jari jemarinya sedang berjalan menelusuri leherku dan menuju tulang selangkaku.
Aku menggeleng pelan. "Datang. Aku mau datang. Aku mau menghadapi apapun yang harus kuhadapi."
"Don't worry, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun," tunjuknya di dadaku. Maksudnya, dia tidak akan membiarkan hatiku disakiti lagi oleh siapapun.
Helaan nafasku adalah bukti bahwa hatiku memang ada sedikit katakutan, sekaligus mereda saat aku berhasil ditenangkan oleh matanya, oleh tatapannya. Ya, tidak ada yang perlu aku khawatirkan sekarang. Seharusnya seperti itu.
"Kita akan mengejutkan semua orang dengan status kita sekarang," tambah Reiki. "Lebih dari itu, kita akan berpisah dengan semua orang secara baik-baik. Berpamitan. Something like that. Aku hanya merasa kalau sudah seharusnya semua orang mengetahui kita. Tidak peduli bagaimana dengan pikiran mereka semua. Kita yang akan menjalaninya."
Benar, kami memutuskan untuk menghadiri ulang tahun grandma, meskipun kami tidak diundang apapun bentuknya. Sebagai cucu tertua, Reiki yang sudah hafal betul bagaimana sang nenek merayakan ulang tahunnya, berniat untuk datang. Dia ingin membawaku ke hadapan keluarga besarnya dengan tanggung jawab yang baru, yakni sebagai suamiku.
"Aku harap semua akan baik-baik saja."
"Pasti. Aku yang akan menjaminmu, Sayang."
Reiki mengecup sisi leherku dengan lembut dan lama dan membuatku sedikit memiringkan kepalaku.
"Apa Helena tahu?"
Aku senang mendengarnya. Setidaknya, ketika berada di sana aku sudah tahu kalau ada satu orang saja yang sudah menerima keberadaanku. Hal itu membuatku sedikit lebih siap.
Aku berjanji tidak akan menyakiti siapapun dan disakiti siapapun juga. Aku hanya datang atas perintah suamiku. Lagi pula, memang sudah seharusnya Reiki tetap merasa memiliki keluarga apapun yang terjadi. Aku tidak pernah menginginkan putusnya hubungan dia dengan keluarganya, tanpa terkecuali, bagaimanapun keadaannya.
...----------------...
Ada kebahagiaan yang mengisi relung hatiku manakala menyaksikan bagaimana Om Mandala dan Tante Widia menatap kami dengan hangat. Saat ini mereka menemaniku dan Reiki yang akan kembali ke Madrid setelah pertemuan singkat di ulang tahun grandma kemarin.
"How?" Mata Tante Widia berkaca-kaca saat barusan mendengar kenyataan dari putranya bahwa kami berdua telah menikah sebulan yang lalu. Tangan wanita itu menjulur di atas meja untuk meraih tanganku ke dalam genggamannya. "Bagaimana bisa kalian tidak memberitahu Mama?" dan wanita itu tak mampu lagi menahan lajunya air matanya.
Ada keheningan di antara kami. Aku menunduk dan menangis juga. Melihat seberapa sedihnya Tante Widia membuatku merasakan kembali segalanya yang telah terjadi.
"Maaf, Tante ..." isakku pelan.
Reiki membawa kepalaku ke dalam pelukannya dan mengecup singkat kepalaku sebelum berkata kepadaku, "Bukan salahmu. Tidak perlu meminta maaf."
"Rei ..."
"Papa paham," Mandala menatap anaknya. "Papa tidak menyalahkan perbuatan kalian. Itu adalah perbuatan baik yang bukan untuk disesalkan. Hanya saja, Rei ... Papa merasa malu kepada Azzura,"
Tante Widia menganggukan kepalanya pelan setelah menoleh sesaat kepada suaminya. "Benar. Mama juga malu. Malu kepada kamu, Zura. Bagaimana bisa Reiki menikahimu tanpa ada kami? Setidaknya beritahu Mama untuk mendampingimu, Zura. Di hari terbaik kalian mana bisa tidak ada satu orang keluarga pun yang hadir? Itu menyedihkan!"
Kami semua sudah tahu jawabannya mengapa. Hanya saja, menyadari kenyataan itu telah terjadi dengan seadanya, mau tak mau aku merasakan sedih juga. Mungkin sebulan yang lalu aku mampu menerima karena Reiki telah berhasil meyakinkanku akan semuanya. Tapi hari ini, aku merasakan penyesalan pada bagian tidak adanya keluarga yang hadir pada pernikahanku.
__ADS_1
"Mama Papa tahu pasti alasanku tidak memberitahu kalian semua tentang pernikahanku. Tidak ada jaminan hari baik itu datang andai aku tetap berlama-lama mengejar restu kalian. Selagi itu membuang waktu dan pastinya akan membuat lebih lama penderitaan kami."
Mandala mengangguk paham.
"Lagipula, aku tidak bisa lagi membayangkan akan hadirnya–siapapun itu–yang akan datang menjadi kebahagiaan Azzura di kemudian hari, kalau aku tidak segera mengikatnya dalam sebuah hubungan yang resmi. Aku sudah lelah dengan semua aturan kalian. Dan aku berhak memiliki bahagiaku sendiri."
"Maafkan Papa." Mandala berkata tulus kepada Reiki.
Aku melepaskan diriku dari pelukan Reiki, "Nggak, Om,"
"Papa, Zura. Panggil saya 'Papa' seperti Reiki juga. Karena sekarang kamu anak kami juga."
Aku segera mengangguk sembari menangis ... bahagia. Setelah beberapa lama tidak ada orang yang dapat aku sebut dengan Papa dan Mama, kini aku memilikinya kembali. Sungguh bahagia yang teramat besar yang datang di dalam hidupku hari ini.
Kulihat Tante Widia bangkit dari kursinya dan buru-buru datang ke arahku yang berada di seberang mejanya. Dia memelukku erat dengan tangisan kami yang beriringan.
"Kamu sekarang punya orang tua lagi, Sayang. Maaf kalau terlalu lama baru bisa kami berikan. Maafkan Mama, Zura ... maafkan Mama ...."
.
Perpisahan singkat yang menguras air mata baru saja aku lalui. Kami lalui lebih tepatnya. Walaupun Reiki tidak menangis, tapi aku tahu kalau dia pasti merasakan banyak hal di hatinya.
Kami sudah duduk di pesawat yang baru saja lepas landas. Pulang menuju rumah yang baru sebulan ini kami tempati. Rumah ternyaman yang isinya hanya ada kami berdua saja. Dunia bahagia kami.
"Lega?"
"Hm." Aku mengangguk pelan tanpa menoleh ke arahnya. Aku tahu maksudnya adalah restu dari orang tuanya yang membuat hangat hati kami sesaat sebelum kembali pada kehidupan mandiri kami di negeri orang.
Tatapanku jauh ke luar jendela dimana hanya ada awan yang mengisi penglihatanku. Namun itu berlangsung sesaat, sebab tahu-tahu wajahnya sudah menutupi wajahku. Bibirnya mengambil alih bibirku untuk dimanjakannya dengan belaian-belaian yang memabukkan.
"Sekarang hanya ada kita," bisiknya di bibirku. "Tidak perlu lagi kamu mencemaskan segala hal. Pikirkan saja kita. Pikirkan aku. Tidak yang lainnya. Paham, sayang?"
"Hm."
Dia menciumku lagi dengan panjang hingga aku terengah-engah dibuatnya. Lalu tiba-tiba perasaan aneh muncul. Rasa tidak nyaman membuatku melepaskan ciumannya.
"Kenapa?" tanyanya keberatan.
"Aku ... mual?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
SELESAI.
.
note:
Oke, ini udah terakhir ya. Bener-bener terakhir deh. Makasih semua yang udah baca. Sekarang aku fokus ke Lea sama Queen dulu deh kayaknya. Entah kapan tepatnya, anaknya Mimir bakalan launching 🙈 ehhh 🙊
__ADS_1