Like Drama

Like Drama
Ninety Two


__ADS_3

...Happy Reading!...


Debaran hatiku telah lebur seutuhnya. Dengan penuh percaya diri namun tetap tahu diri, aku berdiri di hadapan Om Mandala, Tante Widia, Grandma, serta mama papa Kenneth. Bukan aku tidak berlaku sopan dengan tidak menyalami mereka satu persatu. Akan tetapi, tentunya hal itu akan membuatku dipermalukan karena penolakan mereka yang dapat kupastikan terjadi bila aku memaksa. Maka hanya dengan merundukkan kepala dan senyum tipis, aku memberikan rasa hormatku kepada mereka semua.


"Reiki?"


Grandma melebarkan matanya menatap sang cucu dan aku bergantian. Raut keterkejutannya tak bisa ia sembunyikan. Aku sanksi kalau wanita itu hendak menutupi rasa kesalnya. Karena sudah pasti pertempuran akan segera dimulai.


"Happy birthday, Grandma," ucap Reiki dengan suara pelan namun tegas.


"Kenapa kalian datang? Aku tidak pernah mengundang kalian." kali ini wanita itu menatapku penuh kebencian. Tentu saja itu bukanlah apa-apa lagi bagiku.


"Bu," Om Mandala menyentuh punggung ibunya, bermaksud meredakan marah wanita itu. Sebab nada suara grandma memang tinggi, dan itu sudah pasti membuat perhatian semua orang di ruangan ini tertuju pada kami.


Hening. Semua menyaksikan bagaimana kami, sang tokoh utama, sedang melakukan drama kehidupan.


"Aku yang mengundang Reiki."


Jelas kalau Om Mandala sedang berbohong saat ini. Reiki mengajakku ke sini atas inisiatif pikirannya sendiri, yang sengaja datang karena tidak diundang. Selain itu, ada hal yang Reiki mesti kabarkan kepada seluruh keluarganya.

__ADS_1


Lalu mengapa Om Mandala berbohong? Apa yang terjadi sehingga dia membela Reiki?


Entah kenapa aku melirik Helena yang berdiri di dekat ibunya, Tante Widia. Dan perempuan itu memberikanku sebuah kedipan sebelah mata.


Apa mungkin sikap Om Mandala sekarang adalah karena Helena? Bisa jadi. Yang aku dengar dari Reiki beberapa waktu lalu adalah kalau dia sebal dengan Helena yang terus saja membujuk orang tua mereka agar menyuruh Reiki pulang.


Grandma menoleh tajam kepada anak lelakinya. Sorot mata tak suka diberikannya dengan decakkan pelan dari bibirnya. "Mandala."


Mandala tersenyum kecil bermaksud untuk meredakan amarah ibunya. "Bukankah sudah seharusnya kita berkumpul semua untuk ulang tahun Ibu?" tanya sang putra dengan lembut.


"Tapi mestinya kamu mengerti, Man,"


"Sudah, Bu." Om Mandala lagi-lagi menenangkan sang ibu dengan lembutnya. "Tidak apa-apa."


"Ndak perlu," sahut sang nenek ketus. Matanya tak lagi menatap kami. Wanita paruh baya itu mengangkat dagunya tinggi melengos. "Aku ndak butuh hadiahmu."


Reiki kemudian maju beberapa langkah setelah melepaskan genggaman tangannya kepadaku. Dia juga sempat mengecup singkat tanganku sesaat. Kemudian pria itu berjongkok di hadapan sang nenek yang posisinya sedang menempati sebuah kursi.


"Grandma," ucap Reiki memulai. Tangannya meraih jemari sebelah tangan Fatma yang awalnya terus ditolak oleh wanita paruh baya itu. Namun dengan sedikit kegigihan Reiki, akhirnya ia berhasil mencegah jemari sang nenek untuk lepas darinya. "Aku minta maaf atas segala sikap burukku semenjak aku kecil hingga hari ini. Aku mengerti bagaimana Grandma, Mama Papa, dan kalian semua menginginkan yang terbaik untukku. Tapi sudah pasti kalau hidupku adalah urusanku. Aku lebih tahu mana yang terbaik untukku atau tidak. Sebab akulah yang akan menjalani apapun kehidupan itu."

__ADS_1


Grandma masih dengan sikap diamnya. Diam yang berarti tidak menerima apapun penjelasan sang cucu. Sekali wanita itu memutuskan tidak menyukai maka akan selamanya seperti itu.


"Kedudukan dan harta tidak menjamin kebahagiaan, Grandma," lanjut Reiki. "Aku sudah mencoba seperti yang grandma mau. Aku berupaya menerima siapapun pilihan grandma. Tapi," dia menyentuh dadanya dengan sebelah tangannya yang lain. "Hatiku tidak bahagia. Sebab urusan hati itu tidak bisa dipaksakan. Aku dan hatiku menginginkan yang lain, yang sudah pasti membahagiakan. Lantas bagaimana kalian orang tua tidak memikirkan apakah anak cucu kalian bahagia atau tidak?"


"Bukan berarti itu dia, Rei," pungkas Fatma. "Kalau kamu ingin bahagia, maka kami juga ingin bahagia. Apa kamu bisa bahagia sedangkan kami tidak?"


"Bagaimana dengan sebaliknya, Grandma? Apa Grandma dan Mama Papa ingin bahagia meskipun aku hancur?"


Tatapan wanita paruh baya itu seakan tersentak sembari menatap cucunya.


"Seperti kalian para orang tua yang selama ini telah berjuang untuk kebahagiaan kalian, maka sebagai pria dewasa aku juga sedang melakukan hal yang sama. Aku akan berjuang untuk membangun kebahagiaanku. Dengan siapa yang aku inginkan, tanpa aku mengurangi rasa hormatku kepada kalian. Aku janji."


"Rei ...,"


"Grandma. Hari ini adalah salamku yang terakhir. Aku akan menjauh dari kehidupan kalian kalau memang keberadaanku dengan Azzura adalah sebuah kesalahan bagi kalian. Setelah ini tidak akan ada hal-hal tentangku lagi yang akan mempermalukan kalian. Aku akan menjauh, tanpa kabar apalagi kembali ... tapi aku akan kembali bila kalian semua sudah menerimaku dan pasangan hidupku."


"Mana bisa begitu, Rei?" seru Widia sembari mengusap air matanya yang meleleh tanpa bisa ia cegah. Posisi berdirinya di samping Mandala tidak berubah. Tangannya memeluk dirinya dan bersuara dengan getir, "Kamu tidak mau mendengar pendapat Mama, hah? Mama yang melahirkan kamu. Mama yang mau mendengarkan kamu. Apa kamu tidak berniat mendapat restu dari Mama?"


Reiki menoleh kepada sang ibu. Aku buru-buru mengusap air mataku yang turut mengalir sebab melihat seberapa pedihnya tatapan Tante Widia kepada anaknya. Kalau sudah begini, hatiku mendadak hancur lagi. Mana bisa aku menyaksikan Reiki menyakiti hati ibunya demi aku?

__ADS_1


Aku harus apa sekarang? Apakah aku mesti mundur setelah melangkah jauh? Atau aku mesti maju dan menyakiti hati seorang ibu?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2