
Happy reading!
๐๐๐
"Azzura," aku menyebut namaku.
Kami berjabat tangan sebentar sebelum dia berulah lagi.
"Aku Kenneth loh."
"Iya, aku sudah dengar."
"Kenn ... neth," ulangnya penuh penekanan.
Aku memutar bola mataku. Amat sangat jengah sekaligus sebal dengan cowok itu. "Kamu gila ya?!"
"Hheehh ..."
"Kamu tuh ngerasa kenal aku banget gitu? Aku tuh suer nggak kenal kamu sedikitpun. Dan aku belum pernah amnesia."
Kenneth kembali duduk di kursi tadi. Dia mengambil camilanku yang lain dan terus membukanya. "Sebenarnya aku sakit hati loh," ucapnya lagi dengan santai disela kunyahannya. "Masa kamu gak kenal aku sih, Azzura? Aku tuh terkenal sebumi Indonesia Raya dan sejagat Asia Tenggara. Masa kamu gak kenal?"
Aku mengabaikan dia. Lalu kuambil kursi yang lain dan mendudukinya. Di saat itu Bagas lewat lagi. "Bagas, mau Chiki?"
Anak itu menghampiriku lalu menerima sodoran makanan yang kuberikan. "Makasih, Kak," ucapnya datar dan langsung pergi keluar rumah lagi.
"Itu anak sok cool banget," oceh Kenneth yang tak aku tanggapi. Kemudian dia menyodorkan ponselnya kepadaku. "Lihat nih! Aku masuk dalam daftar nominasi cowok tertampan 2021 saingannya V BTS."
"Fi apa?"
"Gak kenal BTS juga?"
"Nggak."
"Ya udah, liatin aja tuh foto aku yang luar biasa tampannya."
Ini cowok pedenya level legend banget. Aku pun memperhatikan foto dan wajah aslinya.
"Gimana? Udah terpesona nih pasti. Kamu naksir aku? Jatuh cinta padaku, kan?!"
Aku diam sebentar. "Hm ... biasa aja."
"Hah?"
"Nih," aku mengembalikan ponselnya. "Aku gak ngerti kenapa harus ada kontes ketampanan pria."
"Kenapa kamu bilang?" suaranya menahan emosi. "Astaga cewek satu ini gak gaul, kudet, anak zaman old,"
Jujur saja aku memang tidak mengerti dan tidak peduli pada dunia artis. Sekalipun Montana rambutnya menjadi gimbal, aku tetap tidak tertarik pada artis.
"Ah ya udah, sekarang aku percaya kalau kamu memang tidak kenal denganku." akhirnya Kenneth menyerah. Syukurlah bila akhirnya dia percaya juga. "Percuma juga aku jelaskan bahwa aku tertampan atau apa."
"Betul. Trus ngapain kamu di sini?"
"Aku sedang bersembunyi, Azzura yang cantik tapi kudet. Seriusan aku tuh lagi kabur dari manajerku. Sekarang nih sebenarnya aku sedang ada pemotretan di Kuta, tapi aku kabur."
"Sangat profesional," ujarku sarkas.
"Heh dengar dulu," pungkasnya tersinggung. "Partnerku dalam pemotretan ini tuh membatalkan pekerjaan secara sepihak. Nggak batal sih, cuma dia gak bisa datang hari ini. Itu tuh seenaknya, tau gak?! Di saat semua sudah berkumpul dan bersiap, dia malah batal."
"Trus kenapa kamu yang kabur?"
"Yah ... aku sebal dengan Sam, manajerku. Dia seenaknya memintaku kembali ke Jakarta di saat aku masih ingin di sini.ย Di Bali. Double kesal aku tuh ceritanya. Padahal aku butuh liburan. Aku terlalu sibuk," gerutuannya yang makin lama semakin pelan. "Kami terlalu populer, makanya kami terlalu sibuk. Belum lagi job masing-masing member yang semakin menyita waktu luangโ"
"Kami? Member?"
"Ahโ lupa gue ada satu cewek yang gak mengikuti arus perkembangan zaman. Jadiโ gue tuh punya grup boyband,"
"Ooh ..."
"Gak ngerti boyband?"
"Ngerti," balasku tak terima.
__ADS_1
Kenneth memandangku jengah. Dia gak percaya. "Boyband ituโ"
"Yang nyanyi bareng-bareng. Tau aku tuh," selaku yang masih dipandang jengah olehnya. Kripik kentangku nyaris abis saat aku menoleh. Sudah dua bungkus aku lihat si Kenneth memakan camilanku.
Kenneth menghela nafas pasrah. "Bukan begitu sih, Azzura ... ah males deh jelasin ke kamu, nonton youtube aja gih sana!"
"Nggak minat nonton kamu."
Kenneth bangkit dan berjalan menuju dapur. "ya ampun aku tersinggung sampai haus begini. Gak ada minuman kaleng nih? Aelaahh ... masa kulkas isinya gini doang?" Dia membuka kulkas sederhana milik Bu Ratih dan menggerutu karena isinya yang memang tak seberapa.
"Gak sopan ya kamu, ini rumah siapa, main buka kulkas aja." aku mengomel padanya. Entah kenapa aku pengen ngomel-ngomel saja bawaannya.
Kenneth kembali dengan segelas air putih. Memang yang ada di kulkas hanya air putih dingin saja. "Aneh deh. Kok aku merasa kalau ini rumahku juga."
"Belum izin sama yang punya rumah, jangan seenaknya! Sana pergi!"
"Kamu senang banget sih ngusir aku,"
Cukup sudah. Waktu santaiku terbuang sia-sia menghadapi manusia satu itu.
Aku berdiri dan mengambil sebungkus cemilan yang tersisa. Lalu aku keluar meninggalkan si cowok yang katanya bernama Kenneth dan seorang boyband itu. Entah kenapa aku yakin kalau dia bukan penjahat. Maksudku, yah, terlepas statusnya yang 'katanya' seorang artis itu, aku juga percaya kalau dia bukan maling.
"Ngapain ngikutin aku?" tanyaku kesal sambil terus berjalan menjauhi rumah Bu Ratih. Karena Kenneth mengekoriku terus, padahal aku berniat untuk pergi menyendiri.
"Kamu mau kemana, Azzura? Aku ikuuut ...."
...๐ณ๐ณ๐ณ...
Beruntung sekali si Kenneth itu menurutku. Cowok asing uang terlihat mudah berbaur dengan siapa saja, telah diizinkan Bu Ratih untuk menempati salah satu kamar kosong yang ada di rumahnya. Di sana sudah biasa menyewakan kamar, karena sesekali suka ada turis asing yang bahkan mencari penginapan di pelosok desa sekalipun.
"Asiiikkk makaaannn!" sorak Kenneth seperti anak kecil yang kegirangan karena mendapatkan makan.
Kami sudah duduk untuk makan malam di depan meja makan yang minimalis. Hanya terdapat empat bangku dan itu pas untuk jumlah kami saat ini.
"Katanya orang kaya ... masa gak mampu makan di luar?" sindirku.
"Ya ampun, Rara ... aku tuh sedang melarikan diri dari dunia keartisanku, masa makan di restoran? Itu namanya mengundang wartawan."
"Trus sampai kapan kamu di sini?"
"Kalian yang rukun ya! Kita kan satu nusa satu bangsa," jawab Bu Ratih.
"Dia mah campuran, Bu. Nggak ori."
"Betul sekali, Rara. Mami aku tuh orang Korea asli, sedangkan Papi aku turunan Perancis-Sunda."
Bu Ratih manggut-manggut. "Pantes wajah kamu tampan tenan ya, Nak Kenneth."
"Betul, bu." cengiran Kenneth sangat lebar. "Akhirnya aku mendengar pujian lagi. Sejak aku bertemu Rara tadi pagi, rasanya akutuh rindu akan pujian. Pujian adalah makananku sehari-hari."
"Siapa suruh panggil aku Rara?" tanyaku ketus. Entah kenapa setiap melihat wajah si Kenneth itu aku selalu kesal saja bawaannya.
"Nama kamu bagus kok, Sayang. Tapi aku kepengen yang mudah aja di lidahku," kilahnya santai dan kalem.
"Jangan pake 'sayang'!"
"Rara jutek banget ish! Bu- ngidam apa waktu hamilin Rara?" Kenneth itu terlihat semakin sok akrab dengan bu Ratih.
"Ibu aku sudah tiada," aku bersuara pelan. Rasa kenyang datang seketika, padahal aku baru memakan dua suapan saja. "Bu, aku makan di kamar aja ya."
Bu Ratih tersenyum penuh pengertian. "Iya. Silakan."
Aku pun berjalan ke kamar sambil membawa piring makanku. Hanya beberapa menit sejak aku duduk di pinggir ranjang sederhana itu, hingga Kenneth datang dan langsung masuk ke dalam kamarku.
Kenneth memelukku menyamping secara tiba-tiba. Aku terkejut dan meronta tapi dia tak melepasku.
"Rara maafin aku ..." suaranya penuh penyesalan. "Aku gak tahu kalau ... kalau ..."
"Iya, gak apa-apa. Sudah, lepasin aku!"
"Gak mau." dia menggeleng manja. "Aku mau begini terus- AW!" aku menjitak kepalanya. "Sakit, Rara!"
"Lagian nempel kok kaya lintah! Kamu tuh siapa sih? Baru aku temuin tadi pagi loh!"
__ADS_1
"Kucing kali aku ditemuin segala," gerutunya dengan lucu. Mau tak mau aku menahan senyum karena tingkah cowok manja itu.
Setelah aku perhatikan, ralat- setelah dia menempel padaku seperti parasit selama seharian ini, aku jadi menyadari bahwa wajahnya memang tampan.ย Auranya terasa hangat entah mengapa. Dia terlihat baik meskipun aku baru mengenalnya. Sifatnya yang manja dan lebay itu terkadang membuatku jengah. Hanya saja ... dengan wajah imutnya, dia cocok saja bertingkah seperti itu. Oh aku rasa aku mulai tertular tidak waras.
"Jadi kamu sedang liburan di sini? Kamu bukan warga sini? Asal kamu dari mana? Selama ini kamu tinggal dimana?"
"Kalau bertanya itu sedikit-sedikit. Bawel kamu tuh!"
"Ya udah- ya udah, cerita dong ke aku tentang kamu, Rara. Siapa tahu aku jadi dapat inspirasi untuk membuat lagu solo kan."
Aku menghela nafas. Ini anak! "Kamu umur berapa sih? Gak ada dewasa-dewasanya?"
"Aku 23. Emang Rara berapa?"
"21. Bentar lagi 22."
"Oohh ... kapan kamu ulang tahun?"
Aku melirik sinis. "kepo."
"Iya ya, kenapa aku bisa kepo? Padahal biasanya aku yang selalu dikepoin orang."
"Kamu beneran artis?" tanyaku memastikan.
Orang yang kutanya menghela nafas sambil berbaring santai di kasurku. Kedua tangannya dijadikan untuk menyangga kepalanya. "Kamu masih belum percaya juga sih, Ra?"
"Oke, andai benar kamu artis-"
"Aku memang artis!" potongnya gemas.
Mau tak mau itu membuatku tersenyum geli. Tak kusangka dia meraih tanganku dan membawaku berbaring di sampingnya. "Kamu manis sih kalau tersenyum," ucapnya sambil tersenyum dan menatapku dengan ... mematikan.
Hampir saja aku blushing. Tidak, jangan baper.
Aku berdehem untuk menormalkan lagi perasaanku yang sempat tersipu tadi. "Kamu gak takut ada wartawan trus ketahuan tinggal disini?"
"Biarin ajalah."
"Kok?"
"Kalau ketahuan ya udah. Palingan kamu yang ikut tenar."
"Masa iya?"
"Ya iyalah. Secara aku artis yang sedang naik daun. Siapa sih yang gak kenal Kenneth L3on5?"
"Aku!l."
"Oiya, kecuali kamu pastinyalah."
Hah? Seperti tidak asing ... "Tunggu ... tadi kamu bilang apa?"
"Apa? Naik daun?"
"Bukan," tukasku sebal.
"Yang mana? Artis terkenal?"
"Bukaaaan. Kenneth apa tadi kamu bilang?"
"Ooh, aku tuh Kenneth L3on5."
"AH!" seruku sambil bangun dari tiduran.
"Apa sih ngagetin aja?" Kenneth ikut bangun juga. "Kamu kenapa?"
Aku berfikir sebentar. Seakan pernah mendengar nama itu ... di suatu tempat. Tapi dimana?
"Aku pernah dengar El ituโ"
"Hahay! So pastilah. Sebuta-butanya kamu sama artis, pasti pernah dengar L3on5 kan?!"
Aku mengendikkan bahu. "Gak tau ah! Lupa."
__ADS_1
...๐จ๐จ๐จ...