Like Drama

Like Drama
Seventy Five


__ADS_3

...Happy Reading!...


Ku pikir hari ini akan berlalu seperti biasanya, setelah kemarin pagi Reiki menginvasi ke dalam kontrakanku, lebih tepatnya ke dalam kamarku. Lalu setelah itu tak ada kabarnya lagi. Bukannya aku berharap akan ada kelanjutannya antara aku dengan pria itu. Bukan. Sama sekali bukan. Justru aku mencemaskan bila sampai itu terjadi. Yakni, intensitas pertemuan kami akan menjadi lebih sering. Sungguh aku tidak berharap begitu.


Begitu aku sampai pada mejaku, aku langsung mendapati sebuah kotak berbalut pita. Aku paham kalau itu adalah sebuah hadiah, atau pemberian seseorang. Akan tetapi ... siapa?


Mau bertanya pada seseorang, tapi aku malah ragu dan sibuk menimbang.


"Tadi Mas Pandu yang menaruh itu, Ra," Abel memberitahuku dari mejanya. Pandu yang dimaksud adalah seorang OB yang biasa bekerja di lantai sembilan.


"Dari siapa katanya? kamu nanyain gak ke Mas Pandu?""


Abel menggeleng.


Setelah menempati kursiku, aku mengambil kotak persegi itu. Menimbang apakah mesti membukanya atau tidak, tapi sudah pasti aku harus membukanya agar hilang rasa penasaranku akan isinya.


Sejujurnya, ada rasa khawatir bila benda di dalamnya adalah sesuatu yang mewah. Entah mengapa firasatku mengacu kepada pria yang selalu memporak porandakan hidupku.


Perlahan saja. Sekali angkat penutupnya, dan ...



Secepat kilat aku menutupnya kembali. Ku tengok sekeliling, karena khawatir ada yang memperhatikanku. Beruntung tak ada yang dalam jarak dekat denganku. Mas Anjas yang ku pikir bakalan kepo dengan kotak hadiahku, ternyata tidak ada di mejanya. Memang, masih ada setengah jam lagi sebelum waktu bekerja dimulai.


Oke, sekarang aku yakin kalau ini pasti dari Reiki. Memangnya siapa lagi? Tapi ... bisa jadi Kenneth yang mengirimnya. Haduh, aku bingung. Karena tak ada kartu ucapan atau apapun di sana.


Maka langkah terpenting selanjutnya adalah aku mesti menyembunyikan harta karun ini di suatu tempat. Tapi tentu saja tak ada tempat begitu di meja ini. Hanya tasku lah satu-satunya tempat yang paling mungkin.


Pasrah. Ya sudah, semoga dia baik-baik saja di dalam tasku.


Ku hela nafas lega sementara ini. Hanya dua detik saja untuk ku meyakinkan diri bahwa benda itu tidaklah murah. Bling-bling, diamond, entahlah. Aku tidak berani memegangnya. Dan lebih mustahil lagi bila aku memakainya sembari bekerja.


Kira-kira berapa harganya ...


Ya ampun, Zura ... jangan matre!


Bukan, aku bukannya matre. Aku hanya ... memikirkan uang yang lebih nyata dibanding benda itu berada di pergelangan tanganku.


Tuh, 'kan ... aku sudah gila.


Ah, bukan. Aku hanya realistis saja.


Getaran ponselku terasa dari dalam saku kemejaku. Ku ambil dan kulihat ada nama Kenneth di sana. Kemarin dia pergi ke Bandung, sehingga aku batal untuk berbicara serius dengannya. Ya, aku berniat untuk mengatakan yang sejujurnya tentang aku dan Reiki di masa lalu. Apapun resikonya.


"Ya, Ken?"

__ADS_1


"Rara sayang, aku baru pulang nih ..."


"Oh ... trus kamu di mana sekarang?"


"Aku di apart. Aku mau tidur sampai siang. Dan sorenya aku bakalan jemput kamu."


"Nggak usah, Ken. Kamu masih cape ..."


"Nggak usah menolak, Raraku sayang. Aku kangen sama kamu loh. Tiga hari ini aku free. Jadi kita bisa ngedate selama weekend, sepuasnya."


"Hm, ya."


"Gitu doang?"


"Aku mau briefing sebentar lagi. Udah dulu ya, Ken–"


Ku dengar dia merengek di seberang sana. Kebiasaan Kenneth yang sudah terlalu aku hafal di luar kepala.


"Ya udah, love you Rara."


...----...


Sepanjang hari bekerja, aku terus saja kepikiran dengan jam tangan mewah itu. Hingga detik ini, tidak ada yang mengkonfirmasi siapa pengirimnya. Apakah itu Reiki atau Ken? Atau orang lain? Entahlah. Masih menjadi misteri.


Ku lihat mobil Ken sudah menungguku di parkiran kantor. Tentu saja dia boleh parkir di sana. Sebab dia anak pemilik perusahaan ini. Dengan kata lain, mungkin Ken adalah pewaris perusahaan ini. Owh, itu terdengar cukup mengerikan bagiku.


"Maaf, Mbak. Duduknya di belakang sama Mas Ken."


"Oh,"


Rupanya itu sopir Ken. Berbeda, bukan yang beberapa waktu lalu aku kenal. Mungkin sopir baru.


Aku membuka pintu mobil belakang dan terkejut lagi. "Ken?" di sana ada Ken yang kulihat sedang memejamkan matanya. Segera saja kunaiki mobilnya. "Ken!" panggilku lagi.


Cowok itu hanya bergumam pelan dengan mata yang terbuka sedikit, lalu terpejam lagi.


"Kamu kenap– astaga, panas banget tangan kamu." Aku yang baru saja menyentuh lengannya, kini bergerak untuk menyentuh keningnya. "Kamu demam, Ken? Kamu sakit."


"Iya, Mbak. Mas Ken habis dari dokter langsung ke sini."


"Kok malah ke sini sih?" tanyaku dengan kesal. "Kamu ngapain ke sini, Ken?" suaraku meninggi.


Hal itu membuat Ken membuka matanya dengan perlahan. "Aku pusing, Ra ... jangan teriak dong ...."


"Ya lagian kamu! Udah tahu lagi gak sehat, dari dokter pula, tapi malah ke sini. Mestinya kamu langsung istirahat aja–"

__ADS_1


Aku agak terkejut karena Ken meletakkan kepalanya di pahaku. "Aku tidur ya ...."


Ucapan lirihnya membuatku menghela nafas pelan dan langsung merasa iba. Ku usap kepalanya pelan, dengan sedikit pijatan di sana.


Jadi kasihan aku sama dia ...


Memangnya dia gak istirahat apa, selama di Bandung? Sampai badannya ngedrop begini. Aku paham betul seberapa kuatnya fisik Ken yang memang dituntut untuk selalu fit karena kesibukannya. Tapi, 'kan, ada waktunya istirahat demi kesehatan tubuhnya.


Oh iya lupa, dia 'kan memang dapat libur sampai hari minggu. Baguslah, akan kupastikan kalau dia mesti istirahat total. Supaya tubuhnya kembali pulih lagi.


Sepanjang perjalanan, yang aku tidak tebak akan menuju rumah Tante Kirana –ibunda Ken– terasa cepat berlalu. Tahu-tahu mobil telah berhenti dan sayangnya bukan seperti tebakanku barusan.


"Kok kita di sini, Pak?" tanyaku kepada sopir.


"Mas Ken nggak mau pulang ke rumahnya, Mbak. Mas Ken maunya pulang ke apartemennya."


Apartemen ... nya?


Serius?


Bukan, bukanya aku terkejut karena Ken memiliki apartemen. 'Kan dia memang sudah berkali-kali mengatakan tentang apartnya.


Hanya saja ...


Yang membuat aku bungkam adalah sebuah fakta yang baru kuketahui lagi.


"Apartnya Ken ... di sini, Pak?" tanyaku dengan susah payah. Aku harap jawaban yang akan aku dengar adalah bukan. Tapi aku tahu kalau aku sedang mengingkari kenyataan.


"Iya, Mbak."


Tuh, 'kan.


Bagaimana bisa?


Jadi, selama ini aku tidak pernah tahu kalau ... Ken tinggal di satu kawasan apartemen yang sama dengan Reiki?


...****...


sorry for typo.


Jadi malam ini Raju yang update. Dan besok Mimir gantian yang update ya.


Semoga 😆


Tengkyu udah baca!

__ADS_1


*


__ADS_2