Like Drama

Like Drama
Seventy Eight


__ADS_3

...Happy Reading!...


"AZZURA! KALAU KAMU TIDAK KELUAR SEKARANG JUGA MAKA KAMU PASTI TAHU APA YANG AKAN AKU PERBUAT DI SINI!"


suara menggelegar Reiki membuat nyaliku menciut seketika. Jelas sekali kalau aku tahu pasti perbuatan apa saja yang sanggup pria itu dapat lakukan manakala sedang marah dan murka.


Lagian ... kenapa sih dia mesti marah sebegitunya? Kenapa dia tidak mengurus tunangannya saja? Kenapa dia mesti mengganggu hidupku lagi?


Dengan kekuatan terpaksa, pada tengah malam begini, aku berjalan juga menuju ruang tamu untuk menghampiri kedua lelaki itu. Mereka yang masing-masing memiliki cerita di dalam hidupku.


Saat aku menampakkan diri, Reiki dan Ken sama-sama menoleh ke arahku. Kalau Reiki menatapku dengan tajam dan mengintimidasi, maka mataku segera beralih dan terpaku pada tatapan Ken yang ...


sedih?


Ya Tuhan ...


Ken, maaf aku telah mengecewakanmu.


Saat langkahku hampir mendekati mereka, aku melihat pergerakan kaki Reiki yang sepertinya ingin berjalan ke arahku. Namun, buru-buru aku menempati sisi kanan Ken dan menggamit lengannya, berharap dia melindungiku dari amukan Reiki.


"Azzura ..." suara pelan Reiki yang penuh peringatan itu membuat bulu kudukku merinding. Inginnya aku bertahan di sisi Ken seperti sekarang –karena sepertinya ini lebih benar– tapi aku juga khawatir Ken mendapat amukan dari Reiki. Walaupun mereka sepupuan, tapi aku yakin Reiki mampu melakukan segalanya. Termasuk menyakiti Ken.


"Kenapa, Mas?" Ken yang menyahuti dengan menantang. Rupanya pacarku ini tidak terlihat takut sama sekali. Dan itu sangat memberiku kekuatan agar tetap berdiri di dekatnya. "Kenapa Mas Rei memperlakukan pacarku seperti ini? Mas Rei mestinya ingat kalau Janeta sudah mendapatkan status sebagai tunangan kamu. Lalu kenapa mesti mengincar pacarku segala, hah?"


Syukurlah bahwa Ken masih berada di pihakku, sepertinya. Aku harap dia mau mendengarkan ceritaku dengan baik setelah ini.


Senyum miring Reiki, yang pernah terlihat keren pada masanya aku bucin, kini nampak mengerikan. Ya, walau aku yakin perasaanku terhadap pria itu masihlah ada, akan tetapi aku tidak mampu menampik rasa berbeda yang tiba-tiba saja kurasakan untuk Kenneth. Besar kecilnya perbandingan perasaanku untuk mereka berdua, tapi terhadap Ken aku merasa jauh lebih aman dan nyaman.


Ya ampun, sekarang aku tidak mengerti bagaimana sebenarnya hatiku menoleh.


"Kenapa Mas Rei mencari Rara?" tanya Ken dengan tajam.


Refleks ibu jariku yang sedang menempel pada lengannya kini mengusap pelan, sebagai harapanku agar Ken jauh lebih tenang dan bersabar untuk tidak terpancing emosi karena Reiki.


"Azzura ..." Reiki memanggilku dengan pelan.

__ADS_1


Aku mengangkat wajah secara naluri.


"Masih ingat apa yang kita lakukan kemarin malam?"


Oh sialan. Pertanyaannya membuatku marah. "Apa memangnya? Mestinya aku yang bertanya begitu, 'kan?! Itu jelas sama sekali bukan aku yang menginginkan," sahutku spontan tak terima.


Nyatanya, kalimatku barusan malah membuat Ken menoleh kepadaku. Kini aku tergagap ingin menjelaskan sesuatu yang di luar kendaliku, tapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Ditambah dengan rasa takutku akan kekecewaan Ken terhadapku.


"Ken, aku–"


"Kamu ngapain, Ra?" tanya Ken dengan suara getirnya.


Aku menggeleng keras. Tak terasa air matalu jatuh seketika. Pegangan tanganku semakin kuat kepadanya. "Ken, aku mau cerita–"


"Ini yang mau kamu ceritakan tadi, hah? Bahwa kamu baru saja berselingkuh dengan sepupuku?"


Lagi, aku menggeleng, menolak kalimatnya.


Perlahan Ken melepaskan tanganku dari lengannya. Dan aku merasa kehilangan.


"Dengar dulu, Ken–"


"Apa, Ra? Apa lagi?"


"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan."


"Lalu apa yang aku pikirkan sampai kamu yakin dapat mengetahuinya dengan jelas, hah?"


"Aku–" Baru saja mulutku terbuka untuk menyahuti Ken, tiba-tiba kurasakan kalau tanganku disambar oleh seseorang untuk ditariknya.


Siapa lagi kalau bukan Reiki?


Pria itu sudah mengggenggam tanganku dengan kuat dan merapatkan tubuhku di dekatnya.


"Jangan begini lagi, sayang."

__ADS_1


"Apanya?" balasku dengan mata penuh kemarahan. Ya, aku marah sekarang terhadapnya. Walau aku belum tahu pasti kepada siapa hatiku lebih besar merasakan perasaan special itu, tapi aku tahu bahwa saat ini aku yang salah. Ah tidak juga, Reiki lah yang paling bersalah atas situasi ini. Situasi dimana aku terlihat nampak seperti mantan-mantan Ken sebelumnya.


"Jangan pernah ... pergi lagi ... dariku."


Enak saja dia berkata begitu dengan mudahnya. Memangnya dia siapa? Kenapa selalu dia yang mengendalikan hidupku?


Sekuat tenaga aku berupaya untuk melepaskan tanganku, maka jauh lebih kuat lagi Reiki menggenggamnya. "Lepasin! Mas Rei jahat!"


Tapi Reiki tak menggubris kemarahanku. Kemudian dia menoleh kepada Ken, "Masalah ini selesai sampai di sini. Tapi kamu mesti tahu satu hal, Ken ... bahwa kali ini kejadiannya tidak sama seperti sebelum-sebelumnya. Bukan wanita kamu yang beralih untuk mengejar-ngejarku dan meninggalkanmu. Akan tetapi di sini, kamulah yang hadir di tengah-tengah antara aku ... dan wanitaku."


Aku tidak setuju dengan perkataannya barusan.


"Nggak! Bukan begitu!" aku menggeleng keras lagi sembari menatap Ken. Aku harap dia tidak mempercayai kalimat Reiki yang tidak benar itu. Kalau hampir setahun yang lalu mungkin itu memang benar adanya. Tapi keadaan sekarang? Beberapa bulan ini? Itu tidaklah benar sama sekali.


Aku melihat Ken dengan frustasi. Belum saja aku menjelaskan kepadanya tentang keadaan yang sebenarnya, tapi dia tidak memberiku kesempatan. Ken hanya menatapku tanpa ekspresi. Mungkin baginya aku memanglah seburuk itu.


Ya sudalah.


Dengan kasar aku mengusap air mataku. Tidak ada gunanya aku menangis. Lagi pula, siapa yang mesti kutangisi sebegininya. Toh di antara mereka berdua tidak ada yang peduli dengan perasaanku. Tidak ada yang mau mendengarkan isi hatiku. Lalu buat apa perasaan sakit ini kurasakan? lagi?


Jangan, Zura ...


Jangan repot-repot menerima sakit hati yang sudah kau coba kubur beberapa lama ini. Mereka hanyalah kesakitan. Ya, sebesar apapun kebahagiaan yang mampu mereka berikan, maka akan jauh lebih besar lagi penderitaan yang dapat mereka putuskan untuk hidupku.


Maka sudahlah, aku tidak ingin berusaha lebih keras lagi. Biarlah semua terjadi seperti yang mereka inginkan.


"Ayo, Sayang!" Reiki berbalik dengan membawaku yang sudah pasrah bersamanya.


Namun, baru saja kakiku hendak melangkah, aku merasakan kalau sebelah tanganku yang lain tertahan. Ditahan seseorang lebih tepatnya.


"Aku sudah bilang, 'kan sama kamu, Mas. Bahwa teruntuk kali ini, aku tidak akan menyerah. Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyerahkan dan melepaskan dia begitu saja. Bullshit dengan siapa yang merebut dan direbut. Aku tidak peduli. Yang aku tahu, bahwa aku akan memperjuangkan pacarku kali ini. Jangan harap Mas Rei akan dengan mudahnya memisahkan aku darinya."


...***...


Semalem mau update malah ketiduran. 😪

__ADS_1


__ADS_2