Like Drama

Like Drama
#Fourty three


__ADS_3

Ini sama sekali tidak ada dalam bayanganku. Bahkan aku masih tak percaya. Mengapa semua ini terjadi dalam sekejap mata? Kehilangan kedua orang tua yang teramat kucintai hanya dalam jarak waktu yang berdekatan. Apa ini permainan takdir?


Sungguh terlalu buruk.


Hatiku bahkan belum pulih dari rasa sakit karena kehilangan papa sebulan yang lalu. Dan sekarang, nyatanya mama juga telah pergi meninggalkanku. Apa ini sebuah candaan?


Mengapa mereka pergi secepat itu?


Mengapa?


Bukankah semalam kami masih mengobrol seperti biasanya? Aku yang telah menceritakan perihal hidupku sebelumnya dalam keluarga Maheswara kepada mama, dan seolah itu adalah perasaa. terdesak agar aku segera bercerita. Sebab mama tak akan ada lagi untuk mendengarkan ceritaku.


Tadi pagi, sewaktu sarapan kami masih sempat bercanda kala mama salah menuang pembersih lantai dengan cairan pencuci piring. Tertawa mama yang cukup lama saat menyadari keteledorannya malah membuatku tak mampu untuk merasa kalau saat ini mama telah tiada. Pergi selamanya.


Serius?


Mama sudah tiada?


Benarkah?


Tidak mungkin.


Sebelum pergi menggunakan taksi itu untuk berbelanja, mama bahkan menelponku untuk menanyakan apa yang aku inginkan untuk makan malam kami nanti. Atau mungkin, barangkali aku ingin menitip sesuatu di supermarket yang akan ditujunya. Itu bahkan belum hitungan banyak jam terjadi.


Lalu mama ... ternyata tak pernah kembali lagi. Dan makan malam nanti ... aku sendiri.


Seperti pada kepergian papa waktu itu, kali ini aku pun tidak dapat menangis banyak entah mengapa. Hanya beberapa tetes air mata yang dapat mengalir di pipiku begitu saja.


Duka ini terlalu dalam. Duka ini seakan telah menyelimuti hidupku hingga dunia berakhir. Dan duka ini terlalu banyak untuk kureguk seorang diri.

__ADS_1


Ini terlalu menyakiti hatiku.


Aku sendirian, Tuhan.


Aku hanya seorang diri dalam menikmati banyak duka yang terjadi. Hingga aku tak tahu bagaimana rasanya menangis lagi.


Seolah semua adalah derita yang memang tercipta hanya untukku.


Ampuni aku, Tuhan. Aku tidak sanggup.


...- -...


Setelah pulang dari pemakaman mama, aku mengurung diri di kamar. Ya, rumahku yang terasa sepi hingga menyusup ke dalam sanubari. Rumah yang tiap sudutnya hanya akan menjadi saksi bisu dimana orang-orang yang telah ditakdirkan untuk membesarkanku kini telah tiada.


Tidak ada inginku untuk melakukan sesuatu hari itu. Aku hanya ingin memejamkan mata dan berbaring di kasurku. Aku tidak mampu tidur saat ini. Hanya memejamkan mata yang tak mampu mengeluarkan banyak air mata. Mengapa?


Kemana perginya air mataku?


Di luar kamar, masih di dalam rumahku, kutahu ada Ami dan teman-teman lain yang bekerja di restoran, bahkan bosku pun masih duduk berbincang dengan yang lain. Juga beberapa orang yang kutahu adalah tetangga sekitar, yang kini masih ramai berada di rumahku. Setidaknya masih ada mereka yang menemani. Meskipun beberapa orang Jepang itu bukan teman dekatku, tapi mereka sudah menganggapku bagian dari keluarga restoran tempat kami bekerja.


Seketika aku merasakan kerinduan yang teramat kepada Alya dan Radit. Aku merindukan mereka. Ingin rasanya aku mengadu atas semua deritaku. Ingin kuceritakan semua air mata yang saat ini tengah bersembunyi. Kepada mereka yang adalah sahabat, yang sudah kuanggap sebagai saudara.


Namun ... masih ada satu rasa rindu lagi.


Sebuah rindu yang sekuat tenaga aku ingkari. Sebab aku tak akan pernah membiarkan kesalahan terjadi lagi.


Ya,


Aku merindukan dia.

__ADS_1


Aku ingin diaโ€“


Tidak, bukan dia.


Aku hanya ingin berada di dekat orang-orang yang kusayang. Dan keluargaku hanya Alya dan Radit saja. Ya, benar begitu.


Aku tidak punya sanak keluarga lagi. Sewaktu kecil, aku ingat bahwa aku memiliki sepupu. Tapi seiring waktu, entah kenapa aku tak pernah mendengarnya lagi. Aku tidak tahu mereka ada dimana.


Kini aku sendirian. Aku tidak siap kehilangan dan sendirian. Apa aku mati saja, Tuhan? Bawa aku bersama kedua orang tuaku? Dunia ini terlalu luas untukku seorang diri.


Alya dan Radit belum kuberitahu mengenai ini. Bahkan sejak kematian papa, aku mengobrol dengan mereka melalui chat pun seolah semua baik-baik saja. Nanti saat aku kembali ke negaraku barulah aku berniat menceritakan semuanya. Kini, biarkan aku menanggung ini sendiri. Aku belum siap berbagi duka yang bahkan aku tak tahu seberapa besarnya memenuhi hatiku.


tok tok


Pintu kamarku diketuk. Setelahnya aku tahu kalau itu adalah Ami yang menghampiriku.


"Ra ... kita makan yuk,"


Aku tahu, Ami pun tahu kalau usahanya untuk mengajakku makan adalah hal yang sia-sia. Tak ada inginku untuk berpindah, apalagi memasukkan sesuatu ke dalam mulutku. Tidak sama sekali.


Aku menggeleng pelan.


"Ya udah ... ke rumah aku yuk," ajaknya lagi. "Seenggaknya, kamu gak bakalan sendirian di tempatku. Ada keluarga kakakku."


"Makasih, Mi. Tapi aku lagi kepengen sendirian."


Ami menatapku selama beberapa saat. Kemudian dia mengangguk. "Ya udah, aku mengerti. Aku sama yang lain masih ada di ruang tamu rumahmu. Kalau kamu butuh aku, panggil aja ya."


Aku mengangguk lemah.

__ADS_1


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


__ADS_2