Like Drama

Like Drama
Twenty Five


__ADS_3

Happy reading!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


...🐧🐧🐧🐧🐧...


"Jadi lo tidur sama dia?" sambut Alya begitu aku masuk kembali ke kamar kami. Nada pertanyaannya terdengar sinis dan tajam. Yah, aku mengerti.


Aku sudah mengambil pakaian di walk in closet tadi dan berniat mandi di kamarku saat kudapati Alya sudah bangun padahal belum ada pukul 5 pagi. Biasanya dia paling susah bangunnya.


"Iya dan nggak," jawabku sambil duduk di tepi ranjang. Alya masih di posisi tidurannya dengan ponsel yang masih menyala sehabis digunakan. Atau masih digunakan.


"Maksudnya?"


"Lo kan tahu kalau semalam kita tidur sama-sama di sini."


"Nah itu, sejak kapan lo menyelinap ke kamar tuh laki?"


Aku menghela nafas. "Bukan gue yang menyelinap, Al. Gila aja! Gue masih amat sangat waras buat gak melakukan hal kayak gitu. ."


"Jadi?"


"Gue juga nggak pernah sadar saat dia nyulik gue dari kamar ini." aku harus meyakinkan Alya. "Percaya sama gue?"


Alya merubah posisinya menjadi tengkurap di dekatku. Matanya menatapku serius. "Jujur sama gue, Ra ... Lo udah sering ya tidur sama dia?"


Aku mengangguk pelan. Tapi sebelum Alya berfikiran yang lebih buruk lagi, aku buru-buru menjelaskan. "Tidur biasa, Al. Percaya gak percaya, gue masih 'aman'. Segel. Ya emang sih dia tidur sambil peluk gue, tapi cuma sampai batasan itu aja. Cuma tidur."


"Itu mah bukan batas, udah nempel. Ya lagian, mana mungkin sih, Ra? Logika aja, dia tuh pria dewasa yang normal kan. Masa tidur sama cewek tapi gak ngapa-ngapain? Bullshit banget sih lo!"


Hm ...


"Kan gue bilang, percaya gak percaya ya gue masih aman. Perasaan gak ada yang aneh di badan gue," kataku setengah berfikir sambil sedikit meraba-raba.


"Jiaaahhh polosnya Rajuu ..."


"Awalnya sih dia bilang ya gitu," lanjutku.


"Gitu gimana?"


"Perlu gue jabarin?"

__ADS_1


"Perlu. Lo itu anak gadis yang kudu gue jagain, tahu!"


Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Dan ini sedikit agak memalukan untukku. Serius, aku tuh masih polos dalam hal pengentahuan yang berbau-bau dewasa.


"Awalnya dia gak bisa tidur karena 'gak ngapa-ngapain' itu," jelasku. "Tapi makin kesini, dia biasa aja tuh! Lo jangan nuduh gue yang gak menolak ya, karena pastinya gue sudah menolak dia sekuat tenaga, dan kalau bisa gue kabur aja. Tapi, gue kalah, Al. Dia bisa ngelakuin apapun yang dia mau." aku mendesah pasrah. "Tapi gue yakin satu hal aja ... gue masih aman."


Alya menatapku lama. Aku yakin dia sedang menilai apakah aku sedang berbohong atau tidak.


"Kawin sana! Ups- maksud gue, nikah sana!" suruh Alya dengan datar.


"Dari pada begitu, mending gue pergi jauh dari hidup dia, Al ..." kataku sedikit memelankan suara. Entah kenapa seperti ada yang tercekat di tenggorokanku. Apa aku sedih? Kenapa?


Sekarang aku yakin bahwa secepatnya aku harus merubah hidupku dengan menghentikan langkahku dalam lingkup Reiki Maheswara. Bisa tidak bisa aku harus menjauh. Apapun harus kulakukan agar bisa lepas darinya. Karena tak ada masa depan bila aku menerimanya dalam hidupku. Aku terlalu tidak mampu dan tidak sanggup untuk memasuki dunianya, melawan dunianya, dan menjadi bagian dari dunianya.


Tidak ... itu bukan aku.


...* * *...


Alya mencolek pinggangku. Saat aku menoleh dia menggerakkan bibirnya tanpa suara untuk mengatakan; boleh gue makan?


Ya ampun. Sebegitunya dia sungkan pada Reiki saat kami sudah berada di meja makan untuk sarapan.


"Makan, Al," aku menyuruh Alya seraya memakan rotiku. Kulirik Alya tersenyum canggung kepada Reiki. Sedangkan pria itu datar saja. Tidak bereaksi apapun. Sebaliknya, saat aku melirik pada Reiki, aku malah menadapat tatapan yang ... mesum.


Segera aku mengabaikannya dan melanjutkan sarapan.


"Mas Rei gak berangkat ke kantor?" tanya Alya di sela-sela kunyahannya. Wajahnya sudah terlihat lebih santai sekarang.


"Ke kantor. Tapi agak siangan."


"Oh ..."


Tiba-tiba aku merasakan sebuah sentuhan di sudut bibirku. Dan rupanya itu adalah jemari Reiki yang sepertinya mengusap sesuatu yang tertinggal di sana. Entah itu remahan roti atau selai coklat. Lalu kulihat pria itu menjilat ibu jarinya yang barusan dia gunakan untuk menyentuh bibirku. Sukses perlakuan manisnya itu membuatku sedikit merona. Refleks juga aku melirik perlahan ke arah Alya. Sahabatku itu kulihat sedang meminum air putih buru-buru seolah habis tersedak.


"Gue mau ambil handphone gue dulu," kata Alya padaku. Dia bangkit dan berjalan ke arah kamar.


Saat aku menoleh ke depan lagi, tahu-tahu Reiki sudah berdiri dari kursinya dan langsung menghampiriku untuk menyambar bibirku. Dia memaksakan sebuah ciuman yang bahkan aku tidak pernah siap. Aku sedang makan loh!


Aku berusaha mendorongnya karena khawatir Alya akan melihat kami. Tapi Reiki tidak bisa dilawan. Itu mutlak. Alhasil aku selalu hanya bisa pasrah bila dia sedang menginginkan bibirku ini.


Ciumannya tidak terlalu dalam tapi cukup membuat nafasku tersengal. Bahkan sulit bernafas rasanya.

__ADS_1


"Ada Alya, Mas," desisku saat akhirnya dia menyudahi ciumannya.


Reiki masih mengurungku dengan tangannya satu berada di meja, sedangkan satunya lagi di sandaran kursiku. Jarak wajahnya masih sangat dekat dengan wajahku.


"Aku tidak tahan melihat bibirmu, Sayang. Dan kapan temanmu itu pergi, hm?"


"Alya akan terus di sini," jawabku pelan. Tapi aku buru-buru menambahkan, "Jangan menjauhkan aku dari Alya, atau aku akan membenci kamu selamanya."


"Jangan mengancamku, Sayang," tangannya menyingkirkan anak rambut yang menjuntai ke wajahku dan menyelipkannya di belakang telingaku. "Kamu hanya perlu menurutiku," ucapnya pelan tapi sarat akan intimidasi. Selalu seperti itu.


Ingin aku berkata banyak, tapi rasanya lidahku belum cukup berani untuk mengutarakannya. Karena aku terlalu paham seperti apa Reiki itu. Aku hanya dapat berharap akan ada kekuatan suatu hari nanti untukku agar dapat segera pergi darinya, dari hidupnya.


Alya kembali dari kamar dan Reiki sudah kembali duduk menempati kursinya.


"Radit sudah pulang tuh, Ra, semalam." Alya berbicara sambil memperhatikan ponselnya. Lupa dia kalau di sini bukan hanya ada kami berdua, melainkan juga ada si Tuan pengatur yang egois, yaitu Reiki. "Kita ke cafe yuk ntar!"


Mataku masih menatap Alya. Aku harap Alya dapat membaca mataku lebih dalam lagi. Dan aku sungguh enggan menatap ke Reiki sekarang. Atau lebih tepatnya, aku tidak mau mendengar apa yang akan diucapkan oleh Reiki sebentar lagi.


"Azzura akan ikut aku ke kantor."


Tuh kan.


Suara tajam dan singkat Reiki itu malas untuk aku sahuti sebenarnya. Tapi, "Aku gak mau," sahutku balas menatap matanya yang sedang menatapku tajam. Aku harus berusaha untuk melawannya mulai sekarang. Dan semoga sikapku yang menyebalkan akan membuatnya perlahan membenciku.


"Tidak ada bantahan, Sayang," desisnya pelan namun menyeramkan. Tak lupa senyum samarnya seakan sedang memperingatiku akan sebuah ancaman dibalik kalimat keinginannya.


Itulah Reiki.


Pria yang selalu mendapat apa yang dia mau.


"Raju, gue pergi sendiri aj-"


"Gue ikut lo, Al." nada suaraku sebenarnya terasa bergetar karena berupaya melawan pria itu. Tapi aku tetap bersuara dan mencoba memiliki diriku kembali. Ya, aku harus kembali mendapatkan diriku sendiri, tanpa ada kendali dari siapapun.


Reiki menarik sudut bibirnya sebelah saat aku kembali melirik ke arahnya, dan itu semakin membuatku cemas tentang apa yang akan pria itu lakukan karena aku berani melawan.


Oh ya ampun, jangan sampai dia akan menyerang Radit lagi! Aku lupa. Dia pria gila.


...πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒ...


Eehh lanjut lagi, πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2