
"Kita udahan ya, Ken ..."
Ken menurunkan ponselnya yang sejak tadi dia arahkan kepadaku. "Makanan kita belum habis, Ra. Masa udahan?" dengan santainya dia menjawab sembari mengulik hasil bidikkan kameranya.
"Bukan itu. Maksudku ...."
"Hm?"
Kenneth masih santai menanggapiku. Padahal yang aku bicarakan adalah hal yang penting, yang mesti dia dengarkan dengan baik.
"Maksudku ... hubungan kita. Udahan ...."
Aku sudah berupaya pelan-pelan dan hati-hati saat mengutarakannya. Dan Kenneth perlahan mengangkat pandangannya langsung ke arah mataku.
"Gimana, Ra?"
"Cukup, Ken. Udahan aja hubungan kita. Aku sudah memutuskan untuk–"
"Kamu bicara apa sih, Ra?"
"Ken."
"Kamu jangan bicara sembarangan, oke?"
Aku menggeleng pelan. Tentu saja amat berat untuk mengatakan ini semua. Sebagian hatiku rasanya ikut sakit karena melihat ekspresi wajah Ken yang seketika berubah keruh. Karena aku telah meredupkan kebahagiaan lelaki tampan itu.
Tidak apa-apa, ini tak seberapa bila dibandingkan andai aku tetap memilihmu tapi kita malah tidak bisa bersama. Atau bahkan akan banyak bencana setelahnya. Aku sungguh tidak ingin itu terjadi kepadanya.
"Pasti bakalan ada perempuan yang jauh lebih baik dari aku, Ken."
"Nggak ada," ucapnya bersikeras. Nada suaranya terlalu kaku. Begitupun dengan tatapan matanya yang kini nampak tajam menatapku.
"Aku udah jahat sama kamu."
"Jahat kenapa sih, Ra? Kalau itu karena sesuatu antara kamu dengan Reiki ... aku gak peduli, Ra. Itu bukan sebuah masalah penting,"
"Ken ..."
"Jadi kamu lebih memilih dia?"
Aku terdiam sesaat sebelum menggeleng pelan. "Bukan begitu."
__ADS_1
"Lalu apa? Kenapa kamu gak mau memilih aku di saat kamu nyaman bersamaku? Kenapa, Ra? Coba kasih aku penjelasan yang masuk akal."
"Aku nggak tahu, Ken ..." aku memang nyaman bersamanya. Tapi aku terlalu takut akan akibat yang harus terjadi setelahnya. Karena aku tahu betul seberapa kuat Reiki dalam memilikiku. Dan seberapa hebatnya keinginan Reiki bersamaku.
"Jawaban macam apa itu, Ra? Kamu tahu kalau kamu begini malah menyakitiku?"
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku frustasi juga. Tapi tidak ada satu orang pun yang akan mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Apa pun keputusanku akan selalu salah dari sudut manapun.
"Maaf, Ken ..."
"Aku gak bisa jauh dari kamu, Ra. Aku pengen menikahi kamu. Asal kamu tahu kalau sebenarnya malam ini aku sudah menyiapkan lamaran buat kamu, yang sayangnya bahkan sudah kamu tolak sebelum aku mulai mengutarakannya."
Perkataan Ken sontak membuatku terperangah dan menimbulkan rasa bersalah. Bagaimana bisa aku tidak mengetahui niat baiknya?
Namun semua sudah terjadi. Mungkin ini lebih baik ketimbang aku menolaknya setelah dia melamarku.
Kulihat Ken mengeluarkan sesuatu dari saku jas bagian dalamnya. Sebuah kotak yang kuyakini adalah cincin dimana dia hendak melamarku.
Hatiku sakit terlebih melihatnya yang nampak kecewa. Bagaimana bisa aku menyakiti Ken yang baik itu sedemikianrupa? Benar sudah kalau nyatanya aku memang terlalu jahat baginya.
"Kamu masih bisa berubah pikiran, Ra," ucapnya pelan penuh ketegaran. Tatapan lembutnya kembali dan senyum getirnya dipaksa terkembang agar nampak lebih manis lagi.
Aku terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Aku sejahat itu ya, Ken? Makanya, lebih baik kamu mencari wanita yang–"
Aku cukup terkejut saat Ken melempar kotak cincin itu ke arah belakangku. Di dalam ruangan ini hanya ada kami berdua. Sebuah ruangan privat yang Ken pesan dari restoran bintang lima. Bukan pertama kalinya Ken memesan ruangan pribadi seperti ini demi menjaga privasinya yang seorang artis ternama. Maka aku tidak menyangka kalau kali ini dia memiliki sebuah maksud terhadapku.
"Jujur aja sama aku, Ra!" seru Ken mulai emosi. "Memangnya apa lagi alasan kamu tidak memilihku, hah? Sudah pasti itu karena dia."
Aku menggeleng keras. Bukan begitu tepatnya. Susah kalau aku mesti menjelaskan. Karena sudah pasti Kenneth tidak akan berhenti dan tidak akan pernah melepaskanku sekalipun lawannya adalah keluarga besar dan sepupunya sendiri.
"Kenapa kamu tega?"
"Aku begini karena kamu terlalu baik buat aku, Ken," aku mencoba menjelaskan salah satu alasan yang kumiliki.
"Klasik, Ra. Penolakan semacam itu sudah bukan zamannya lagi."
"Memang begitu kenyataannya, Ken. Aku merasa kalau kamu terlalu baik sama aku. Kamu setulus itu, kamu semanis itu. Sedangkan aku? Aku tidak mampu menjaga diriku. Aku terlalu tidak berdaya bila itu menyangkut sepupu kamu. Dan aku malah jadi menyakiti kamu, Ken. Aku gak mau begitu."
"Jadi kamu memang masih memiliki rasa sama dia?"
"Gak tahu ..."
__ADS_1
Aku tidak berbohong. Aku memang tidak terlalu mengetahui apa sebenarnya rasa yang kumiliki terhadap Reiki. Aku memang membenci pria itu, akan tetapi aku juga tahu pasti kalau ada sebuah rasa yang tak pernah hilang di sudut terdalam hatiku.
"Itu artinya 'ya' ..."
"Terserah apa pikiran kamu. Yang pasti aku mesti jujur, 'kan?! Bahkan aku tidak bisa menjelaskan ke kamu dengan baik tentang apa saja yang sudah Reiki lakukan kepadaku. Aku malu, Ken. Aku merasa telah berbuat jahat sama kamu."
"Kalau itu masalah yang kamu pikirkan," suara Ken melunak. "Maka kamu tidak perlu khawatir, Ra. Sudah aku bilang, aku bakal terima kamu apa adanya. Apapun yang telah kalian lakukan, aku gak peduli. Bahkan aku bisa menjamin agar apapun itu tidak akan pernah terulang lagi. Sebab aku terlalu sayang kamu, Rara."
Tapi aku sendiri jijik dengan diriku, Ken. Bila nyatanya Reiki mampu menyentuhku kapanpun dan dimanapun, bahkan saat aku dan Ken sedang menjalin sebuah hubungan, maka kiranya sebutan macam apa yang pantas disematkan untuk perempuan macam aku?
Aku menggeleng lemah. Aku sudah bertekad untuk melawan rasa sakit ini. Rasa sakit yang tak seberapa bila dibandingkan nanti. Sebuah bencana yang akan terjadi apabila aku berani memilih Ken dalam hidupku.
Tak terasa sebulir air mata terjatuh di pipiku. "Aku sayang kamu, Ken. Aku gak mau kamu–"
"Bullsh!t, Ra! Jangan mengatakan hal yang lebih menyakitkan lagi."
Segera aku mengangguk menyetujui perkataannya. Dia benar, aku tidak boleh mengatakan hal yang lebih menyakitkan lagi untuk ke depannya. Maka keputusan menyakitkan ini adalah yang terbaik bagi Ken ... juga bagiku.
Maaf, Ken ...
Mengenal kamu adalah hal terindah dalam hidupku. Meski begitu, kita harus terima bahwa kita tidaklah dapat berjodoh untuk saat ini.
"Ra ... plis, terima aku ... ini kali terakhir aku memohon. Menikah denganku, ya?"
Ken menatapku penuh rasa. Itu membuatku hatiku semakin sakit lagi. Bagaimana bisa lelaki yang digilai banyak perempuan di negara ini malah memohon kepadaku? Dan bagaimana bisa juga aku menjadi seorang perempuan yang teramat bodoh karena telah menolaknya.
Bohong kalau aku tidak menyukainya. Meski rasa itu tak sehebat rasa yang pernah aku miliki untuk Reiki, tapi sungguh perasaan suka ini pun setulus itu.
Andai aku menerima Kenneth menjadi pendamping hidupku ...
Sudah pasti Reiki akan murka. Sudah pasti grandma tidak akan menyetujuinya. Sudah pasti keluarga Maheswara akan menentangnya, meskipun kedua orang tua Kenneth mungkin saja menerimaku. Sudah pasti satu Indonesia akan mencelaku. Ya, aku yang terlalu biasa untuk menjadi pendamping hidup Kenneth Barata.
Sudah pasti juga hidupku tidak akan tenang dan entah apa saja yang akan dilakukan oleh Reiki terhadap kami, terhadap Ken. Aku bahkan takut membayangkan bila Ken dilukai oleh Reiki.
Kenneth mengalihkan pandangan saat matanya nampak berkaca-kaca ketika menatapku. Maka dengan pemandangan itu sukses membuatku terisak pedih dan menutupi wajahku lagi dengan tanganku sembari mengeluarkan air mata yang tak terbendung lagi.
Jangan begini, Ken ... Jangan sebegininya kamu mengharapkanku. Karena aku bukanlah perempuan yang pantas bersamamu.
Tiba-tiba kurasakan kepalaku dibawa ke dalam dekapan seseorang. Aku semakin tersedu kala menyadari bahwa Kenneth rupanya kini malah mendekap kepalaku dengan erat ke tubuhnya. Padahal aku yang sudah menyakitinya. Padahal aku yang sudah menolaknya. Tapi dia masih bersedia memelukku dan menenangkanku dari segala kesedihan ini.
Tangannya mengusap kepalaku dengan sayang. Entah bagaimana aku tahu kalau dia telah menerima keputusanku.
__ADS_1
"Datanglah kapanpun kamu mau ... maka aku akan selalu menerimamu."
...***...