
Kembali ke rumah bu Ratih setelah aku dan Kenneth berlari demi menghindari bidikan kamera wartawan. Di rumah itu kami mendapati seseorang yang pastinya Kenneth sudah kenal.
"Itu manajerku." Kenneth berkata demikian sebelum melangkah mendahuluiku.
Lelaki itu sedang duduk di kursi yang berada di teras. Kemudian Kenneth menghampiri dan duduk serta berbicara padanya. Tapi anehnya, begitu Sam bicara pada Kenneth, tidak ada ekspresi terkejut atau khawatir sebagaimana menghadapi orang yang telah kabur. Terlebih itu adalah artisnya sendiri, tanggung jawabnya. Sam malah terlihat tidak sabar saat melirik jam tangan yang digunakannya saat berbicara dengan Kenneth.
"Hai," sapa Sam datar kepadaku. Aku duduk juga di kursi lainnya, dan hanya membalas dengan tersenyum tipis karena tak tahu harus bereaksi apa. "Terima kasih karena sudah bersedia direpotkan oleh Kenneth. Artis saya yang satu ini memang sulit sekali diatur."
"Sebernernya saya gak bersedia untuk direpotkan kok, Om. Si Kenneth aja yang maksa-maksa tinggal di sini," jawabku jujur.
"Ya ampun, Rara ..." Kenneth yang duduk di kursi sampingku malah merangkul pundakku. "Jangan jujur begitu dong. Kan aku jadi malu."
Malu kok muka sama bicaranya datar-datar aja!
"Om, gak marahin dia?" tanganku melepaskan rangkulan tangannya. "Dia kan udah kabur gitu aja dari pekerjaannya. Dari Om juga."
"Sudah biasa. Dia memang selalu bikin masalah." Sam tersenyum kecil.
"Kalo gitu sekarang Om mau bawa Ken pulang kan?!"
"Ih, Rara ngusir aku. Buuuu ... Rara ngusir akuuuu niiihh ...." Kenneth mengadu, memanggil bu Ratih.
"Ibu belum pulang."
"Ish!"
"Besok lusa Ken baru saya jemput lagi. Jadi tolong kerjasama kalian, untuk tidak berbuat banyak masalah lagi," kata Sam lagi.
Kalian?
Kapan aku berbuat masalah?
"Kamu sudah saya konfirmasi sebagai tunangan Ken. Tidak apa-apa, kan?!" perkataan Sam membuatku melotot.
Tunangan? Aku dengan Ken? Kenapa? Kenapa hidupku seburuk ini?
"Hanya settingan, tenang saja. Artis di Indonesia mudah saja untuk menghilangkan skandal yang entah benar ada atau tidak. Bahkan mungkin kamu akan mulai terkenal sejak sekarangβ"
"Tunggu, om," pungkasku. "Kenapa Om seenaknya begitu? Tanpa izinku? Padahal Om kan belum kenal aku?"
Sam menunjuk Kenneth. "Saya sudah tahu kamu sejak kemarin sore. Ken sudah mengirim informasi tentang kamu. Dan dia yang menyarankan ini semua."
Kenneth berdehem. "Eh, jadi begini, Raβ"
"KEN!" teriakku kesal dengan tangan mengepal dan siap melayangkan bogem ke wajah tampan nan mulusnya.
Dia berlari masuk ke dalam rumah yang kemudian aku mengejarnya. Lalu dia terus menghindariku dan berlari jauh keluar rumah.
Entah kenapa sejak mengenal Ken sifatku berubah menjadi lebih riang dan banyak bicara. Pastinya berbicara untuk mengomel padanya. Bisa dikatakan si Kenneth itu mampu membangkitkan sisi kanak-kanakku. Dia seperti kakak, ah tidak- adik, ah-mana mungkin! Entah apa namanya. Yang pasti aku merasa seperti sedang memiliki saudara.
__ADS_1
...ππππ...
Aku duduk di pinggir sawah sambil menikmati pemandangan. Sendirian. Kenneth sudah dibawa pergi oleh Sam kemarin. Hari ini rasanya menjadi tenang sekali. Atau mungkin, menjadi sepi sekali. Selama beberapa hari aku dan Ken selalu bertengkar seperti Tom and Jerry. Selalu bertingkah layaknya anak-anak remaja yang selalu saja penuh kekonyolan. Tapi kini, sepertinya itu sudah berlalu. Cerita hidupku bertemu dengan artis hanya seperti iklan saja. Sekejap mengisi hari-hariku, dan kini sudah kembali menjadi aku yang hanya seorang diri.
Aku baru menyadari satu hal setelah Ken pergi. Dia itu ternyata adalah idolanya Alya. Wow! Aku semangat sekali akan menceritakan tentang Ken kepada Alya, nanti, setelah aku kembali ke Jakarta. Mungkin dalam beberapa hari kedepan atau minggu depan. Sengaja aku tidak ingin menceritakan kepada Alya melalui telpon atau video call. Karena bila aku beritahu sekarang, aku yakin Alya akan segera terbang ke Bali untuk menyusulku dan pastinya untuk bertemu dengan idolanya ... yaitu Ken.
"Raraaaaa! Yuhuuuu! Aku pulaaaanggg!"
Itu suara teriakan Kenneth. Serius? Kenapa makhluk itu kembali lagi? Padahal aku sudah siap dengan ketenangan hidupku. Lalu kenapa dia muncul lagi?
Tahu-tahu Kenneth sudah menghampiriku yang sedang berdiri. Aku penasaran kenapa dia berada sini lagi.
"Aku kangeeeenn!" teriaknya lebay sambil menubrukku ketika kami sudah berdekatan. Aku berusaha lepas dari tubuh six pack nya itu. Body si Kenneth itu memang bagus. Tidak diragukan lagi sebagai artis tentu dia menjaga bentuk tubuhnya. Hanya saja ...
Masih tak sesempurna dia.
"Aku nggak. Baru kemarin kamu pergi masa udah kangen."
"Ih, Rara mah gitu. Oya, Ra ... ayo-ayo!" Kenneth menarik tanganku dan menyeretku buru-buru berjalan menuju arah rumah bu Ratih.
"Kenapa sih? Ada wartawan gosip lagi?" tanyaku sambil menoleh ke belakang.
"Yailah, Rara. Wartawan gosip mah udah lewat. Tuh, ada bodyguard aku bawa. Ralat, Sam yang nyuruh bawa. Supaya mereka melindungi kita dari wartawan gosip."
Tepat sekali, saat ini aku melihat ada empat orang berpakaian hitam yang sedang berdiri di depan rumah bu Ratih.
Serius? Dia itu sekarang bawa pengawal?
Setelah sampai tepat di teras depan rumah bu Ratih, aku melihat seseorang yang asing lagi di sana berdiri membelakangi.
"Tuh! Ada yang nyariin kamu. Selera kamu impor ya? Nemu dimana tuh? Lokal juga banyak yang kece kok. Masih gantengan aku sih dari pada si Jepang itu,"Β cerocos Kenneth sambil bersedekap. Dia terlihat tidak suka.
Itu Ryu kalau aku tidak salah ingat. Atau mungkin bukan? Entahlah, aku ragu.
"Hai!" cowok Jepang itu tersenyum manis padaku saat dia sudah berdiri di hadapanku.
Ahh ... Benar, itu Ryu.
Aku hafal senyumnya.
Kenapa dia ada di sini?
Pasti Ami yang memberitahu alamat ini. Tapi, buat apa? Masa menyusulku?
Oh Zura ... kamu terlalu pede.
"How are you?"
"Baik. Well ... kok kamu bisa ada di sini?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Ah ya ... aku sedang liburan," ucapnya sambil tersenyum. Siapapun mengerti arti dari ekspresi cowok bermata sipit itu, gelagatnya yang malu-malu saat mencuri tatap padaku dengan penuh arti.
Aku paham.
"Oh ..." aku harus mencari pembahasan. Meskipun agak sulit mengingat aku hanya beberapa kali bertemu dengannya, dan itu hanya biasa saja. "Silakan duduk!" aku mengarahkannya pada kursi di teras. Setelah aku duduk di kursi lainnya, Kenneth mengekoriku dengan duduk di kursi yang dia tarik agar lebih dekat kepadaku.
Maksudnya apa?
Kenneth berdehem.
"Ini Kenneth," aku memperkenalkan Ken kepada Ryu. Lalu sebaliknya. "... dan Ken, ini Ryu." Ken hanya mengangguk saja. Tak satu pun dari keduanya yang menjulurkan tangan, hanya sebuah anggukan saja sebagai gantinya. "Kenneth ini temanku," aku berkata kepada Ryu. "Ryu ini kenalanku waktu di Jepang." lalu aku memberitahu Kenneth.
"Kapan kamu ke Jepang?" tanya Kenneth terlihat penasaran.
"Belum lama ini."
"Dalam rangka?"
"Ceritanya panjang dan menyedihkan. Nanti aku ceritakan." lalu aku kembali menoleh pada Ryu. "Kamu sering bertemu Ami?"
"Selalu," jawabannya membuatku membulatkan mata. Tapi dia buru-buru melanjutkan, "Untuk mencari info tentang kamu."
"Aku?"
"Ya. Apa kamu tidak berniat untuk kembali ke Jepang?"
"Yah ... mungkin suatu hari nanti. Tapi tidak dalam waktu dekat ini."
Ryu mengangguk-angguk. "Aku mengerti. Kamu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri."
"Tepat sekali."
Ryu tersenyum manis. "Aku akan berada di Bali 3 hari saja. Kalau boleh, aku ingin kamu menemaniku selagi berada aku di sini. Bagaimana?"
"Aku tidak setuju," sahut Kenneth yang membuatku jengah. Sejak kapan dia diminta untuk menjawab? "Azzura harus menemaniku."
"Menemani kemana? Bukannya kamu mau ke Jakarta ya?" tanyaku dalam bahasa Indonesia, sehingga Ryu tak mengerti apa yang baru saja aku katakan.
"Ya memang. Aku mau kamu ke Jakarta bareng aku. Nanti aku kasih kamu pekerjaan deh. Ya? Ya?" dia mengedipkan sebelah matanya untuk merayuku.
"Aku masih mau di sini."
"Yah ... Rara ... gak asik nih ...."
Aku tidak peduli. Rencanaku belum berubah. Aku ingin menghabiskan beberapa hari ke depan masih di tempat ini.
...*****...
Tengkyu udah baca. π
__ADS_1
.