Like Drama

Like Drama
Fifty Five


__ADS_3

Akhirnya sambil menunggu panggilan kerja yang sudah banyak ku kirimkan lamarannya, aku mengisi hari-hariku dengan membantu Kenneth, sesuai dengan petunjuk om Sam. Ya, aku jadi asisten kedua untuk cowok manja itu.


Aku sudah putuskan tidak akan mendalami pekerjaan yang aku tidak inginkan tersebut. Ini hanya sementara saja. Dan untungnya, baik Kenneth maupun Om Sam tidak keberatan dengan keinginanku itu.


Sudah sebulan lamanya aku hanya bertugas menemani kegiatan Kenneth, dan membantu lelaki itu dalam hal pribadi yang om Sam biasanya tugaskan pada Maya, asisten pertama Kenneth. Jadi, dengan kehadiranku dapat dikatakan sedikit meringankan beban Maya.


Memang sih, beberapa kali akan ada hari dimana panggilan interview terjadi dari salah satu lamaran yang kukirim. Hanya saja hingga detik ini belum ada yang benar-benar menerimaku.


Huhh ... susahnya mencari pekerjaan.


Mengenai Alya, sedikit banyak dia sudah dapat menerima takdir tentang kedekatanku dengan Kenneth. Meskipun tidak jarang dia merengek untuk ikut denganku saat bekerja. Dan dia pasti akan murka tiap kali melihat Kenneth mencium pipiku.


Aku keberatan pada awalnya dengan kelakuan Kenneth padaku, hanya saja Ken selalu bilang bahwa itu hal yang biasa baginya. Bagi pergaulannya, lebih tepatnya. Oh terserahlah. Aku tidak mau memusingkan masalah itu. Karena aku sudah menganggap Kenneth sebagai kakakku, mungkin.


"Rara ... tolong pakaikan dasiku dong," pinta Kenneth padaku. Saat ini dia sedang dalam pekerjaan pemotretan untuk sebuah majalah hiburan. Dan kami berada di Bandung di mana spot-spot yang dipilih untuk pengambilan gambarnya ada di kota itu.


"Kenapa harus aku? Kan ada stylist di sana–"


"Ish, aku maunya kamu. Ayo cepat pakaikan!"


Mau tak mau aku menurut juga. Sejak menjadi salah satu asisten Kenneth, aku jadi sedikit pandai memakaikan dasi, memberi tambahan make up, juga merapihkan rambut artis yang sedang naik daun itu.


"Tunggu sebentar ya, Rara cantik! Selesai ini kita akan makan malam di luar," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan menuju set.


Ponsel dan dompet Kenneth sudah pasti ada di tanganku bila cowok itu sedang bekerja. Itu adalah barang pribadi yang tidak mungkin ia titipkan pada orang lain, katanya.


Lalu sekarang tiba-tiba ponsel Kenneth yang sedang aku pegang ini ternyata berbunyi. Sebuah panggilan dengan nama Mr. X tertera di layar.


Apa maksudnya Kenneth menamai seseorang itu dengan Mr. X?


Apakah haters? Penguntit? Wartawan? Atau apa?


Aku menerima panggilan itu seperti biasa. Ya, sejak Kenneth mempercayakan ponselnya padaku, aku harus mengangkat setiap panggilan saat cowok itu sedang tidak bisa menjawab telponnya, alias sedang bekerja.


"Hallo."


"..."


Tak ada suara di seberang yang menyahut. Maka aku mengulang kembali sapaanku. "Hallooo ..."


"Tolong katakan pada Ken, bahwa dia harus datang esok lusa. Terima kasih."


Sambungan terputus.


Sekarang aku yang tak bersuara. Aku merasakan debaran yang tak biasa dengan hatiku kala mendengar suara di sebrang telpon barusan. Suara yang terasa tak asing di telingaku.


Tapi ...


Mungkin saja aku yang berlebihan. Bukankah suara melalui telpon itu bisa sedikit berubah dari suara aslinya? Atau mungkin malah tidak sama.


Entahlah.


Baiknya aku berfikiran untuk tidak menuruti prasangka hatiku tadi.


Itu tidak mungkin.

__ADS_1


Tidak mungkin ... dia.


"Kenapa melamun sih?" Kenneth rupanya telah kembali. "Rapihkan ini sedikit," tunjuknya pada rambutnya yang sedikit berubah dari tampilan beberapa saat yang lalu. Posenya yang rebahan di sofa membuat rambutnya sedikit mengalami perubahan. Sedikit saja.


"Nggak apa-apa. Oh ya, barusan ada telpon dari Mr. X. Katanya lusa jangan lupa datang," aku memberitahu seraya merapihkan rambutnya.


"Oh oke-oke," sahutnya sambil lalu. Ia berjalan kembali pada set.


Tak memakan waktu lama hingga Kenneth menyelesaikan pemotretannya. Dia mengajakku makan malam di sebuah restoran yang cukup mewah. Dia berdalih supaya tidak terlalu banyak mata yang kepo kalau hanya makan di restoran yang biasa-biasa saja. Padahal dia berniat makan malam dengan damai. Begitu katanya.


"Oh ya, kenapa kamu menamakan orang itu dengan Mr. X? Emangnya dia siapa?" tanyaku dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Kami masih sibuk menikmati makan malam kami dengan privasi yang cukup terjamin dari restoran itu.


"Nah, ya ... Rara sudah mulai kepo ya sama aku," godanya dengan cengiran. "Itu tandanya kamu sudah mulai peduli denganku, Ra."


"Apa sih, Ken. Aku kan cuma tanya. Kalau kamu gak mau jawab ya udah. Gak usah dijawab."


"Ish, Rara. Masa keponya nyerah begitu aja. Lanjutin dong!"


"Gak mau." aku menyesap minumanku. Sejujurnya aku memiliki sebuah rasa penasaran yang terlalu lemah untuk kuabaikan. Meskipun berusaha mati-matian untuk melupakannya, tapi toh akhirnya aku menanyakannya juga.


Entah mengapa di sudut hatiku selalu ada harapan tentang seseorang itu.


"Itu tuh teman sekaligus sepupuku, Ra."


"Kenapa menamainya begitu?" plis, Ra ... tekan rasa keponya.


"Iseng aja."


Jadi namanya siapa, Ken?


"Ah gak penting deh bahas sepupuku yang mau bertunangan itu, mending kita bahas tentang kita."


"Kita?"


Kenneth mengangguk.


"Apanya yang perlu dibahas?"


Kenneth meraih tanganku dalam genggamannya. Dan aku menunggu kata-katanya.


Matanya menatapku dengan intens dan dalam. Banyak hal tersirat di sana yang aku usahakan untuk mengabaikannya. Tatapannya sangat berbeda.


"Jadi pacarku ya, Ra?" tembak Kenneth langsung tanpa basa basi, intro, pendahuluan, ataupun prolog.


Aku terdiam. Mataku berusaha menggali makna kata-katanya melalui sorot matanya. Dan sayangnya aku tidak menemukan tatapan candaan, atau hanya sekedar menggoda seperti biasanya yang dia lakukan padaku.


"Aku serius, Ra. Aku pengen kamu jadi pacarku. Dan aku jadi pacar kamu."


Aku berusaha menarik tanganku, tapi Kenneth menahannya dengan kuat.


"Kenapa kamu tiba-tiba begitu?" hanya itu yang mampu aku ucapkan untuk menanggapinya.


"Nggak tiba-tiba, Ra. Jujur deh, sejak awal kita bertemu, kita saling nyaman kan satu sama lain. Seolah kita bukan orang asing. Dan itu pertama kalinya loh aku alami terhadap cewek."


Aku menatapnya jengah. Tapi dia buru-buru menambahkan, "Aku gak akan bohong tentang cewek-cewekku selama ini. Dan sedikit banyak kamu memang sudah tau kelakuanku pada cewek-cewek itu yang memang gak pernah bisa serius. Karena memang aku hanya bersenang-senang dengan mereka. Toh mereka juga banyak untungnya jadi pacar seorang Kennteh." aku mengangkat alis. Kenneth seakan mengerti dan berbicara lagi, "tapi dengan kamu itu berbeda, Ra. Aku serius. Aku jatuh cinta sama kamu."

__ADS_1


"Sejak kapan?"


Kenneth mengendikkan bahunya. "Gak tau ya ... terjadi begitu aja." senyumnya melebar.


Senyum manis itu sudah pemandangan biasa yang mataku lihat sebulan terakhir ini. Dan aku tidak tau harus mengatakan apa padanya.


"Ra ..."


"Hm?"


"Mau ya?!"


Aku menatapnya sesaat, "Nggak."


"Yah, Rara ... jangan ditolak dong! Harus diterima. Masa seorang Kenneth ditolak sama cewek? Apa kata dunia?"


Itulah Kenneth. Antara serius dan gurauan, jaraknya hanya setipis kertas.


"Emang biasanya kamu kalau nembak cewek langsung diterima?"


"Ya pastinya dong! Siapa sih yang nggak mau sama Kenneth?"


Aku menggangguk-angguk saja.


"Jadi kamu terima? Yessss–"


"Beluuumm!"


"Lah, tadi kamu manggut-manggut? Apa dong artinya kalo bukan terima?"


"Aku lagi mikir."


"Mikir sambil manggut?"


Aku menghela nafas.


"Oke, aku beri kamu waktu 3 hari untuk menjawab," katanya kemudian.


"Ha?"


"Tiga hari untuk memberi jawaban yes dengan manisnya ... haha ...."


Dasar Kenneth!


Aku kembali mengambil sendok untuk menyelesaikan makan malamku yang terganggu.


Tiba-tiba aku merasakan pipiku dibelai. Rupanya jemari Kenneth tengah sibuk di sana.


"Tatap aku, Ra ..."


Aku pun menurutinya dengan membalas tatapannya yang sedang fokus pada mataku.


"Untuk pertama kalinya, aku serius sayang sama cewek. Dan cewek itu adalah kamu. Aku ingin membuat kamu selalu tersenyum. Karena aku ingin menemanimu dan tidak akan pernah membiarkan kamu kesepian sepanjang sisa hidupmu. Izinkan aku membuktikan ucapanku, Ra ... please ...."


...💘💘...

__ADS_1


__ADS_2