
Happy reading!
"Hai, Sayang!"
Suara itu membuat debaran jantungku berpacu lebih cepat lagi. Baru semalam aku terjebak dalam pesonanya kembali, setelah beberapa lamanya. Bertemu dengannya lagi sungguh membuatku frustasi. Bagaimana tidak, sejak pertemuan pertama seolah akan terus berlanjut dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Masih ku syukuri kalau yang semalam ku pikir dirinya yang berdiam di balik pintu kamarku, rupanya tidak terjadi. Itu ternyata Alya yang merasa penasaran dengan suara kerasku, sehingga membuatku berfikir kalau dia adalah Reiki yang tidak jadi pergi.
Aku menelan saliva. Telunjukku masih meraba pelan jejak noda kuah soto pada pakaianku.
Mata itu penuh intimidasi menatapku. Lalu entah sejak kapan aku malah sudah terpojok di sudut lift, padahal pria itu masih berdiri di posisinya. Ini refleksku bila berada pada teritorial kekuasaan seorang Reiki. Keberadaannya selalu berhasil membuat hatiku kacau balau. Terlebih dengan kisah beberapa waktu lalu antara kami yang masih terekam jelas dalam ingatanku.
Tarikan di sudut bibir Reiki membuatku berdebar sekaligus takut. Jujur saja, kalau dengan pria ini ... hatiku lemah. Akut. Level parah. Iya, karena aku memang JELAS belum bisa move on darinya. Mirisnya, mengapa hatiku seakan mendamba pada pria yang sudah pasti bukan takdirku.
Mikir apa sih, Ra? Jangan ngarepin tunangan orang, stupid!
Reiki bergerak untuk memindahkan kedua tangannya di saku celananya dengan cara yang terlihat keren di mataku.
"Kita memang berjodoh ya," suara dalamnya yang terdengar manis di telingaku, dengan kilatan mata yang ... nakal maybe? Jelas sekali dia saat ini sedang menggodaku —season 2— dengan segala gesture tubuhnya yang sudah aku hafal di luar kepala. "Do you miss me?"
Kangen?
Hell no. Aku memantapkan hatiku kalau aku memang tidak pernah merasa kangen atau sejenisnya. Tapi sebuah sahutan setan kecil samar ku dengar ...
yes.
sedikit saja.
Mengusir bisikan setan itu, aku hanya mampu memberikan sebuah gelengan pelan untuk menjawabnya. Jemariku kini memegang erat pada tas dalam pelukanku.
Memangnya siapa yang merindukannya setelah semua itu terjadi?
Bukan aku.
Jangan goyah, Zura ...
Jangan tergoda apalagi tersihir dia lagi.
Tapi,
Apa aku bisa?
__ADS_1
Bisa! Pasti bisa!
"Stop!" seruku cepat saat kulihat langkahnya menuju arahku. Mungkin aku terdengar panik atau takut. Tapi memang itu yang kurasakan sekarang. Dan aku tau itu tidak berguna. Karena dia terus mengikis jarak tanpa peduli seruanku. "Berhenti, Mas ..." suaraku sekarang terdengar mencicit. Maka dia berhenti selangkah tepat di depanku dengan tatapannya yang ... aku tidak mengerti.
"Mengapa kamu datang lagi dalam hidupku?"
eh?
Suaranya bergetar kalau aku tidak salah menerka. Seakan ada kegetiran yang dirasakannya.
Apa? Mengapa jadi aku yang salah di matanya? Memangnya aku tau kalau takdir akan berjalan begini menyedihkan? Takdir kami yang bersinggungan seperti ini amat sangat tidak aku inginkan. Jadi jelas, kalau ini bukan salahku. Karena sudah jelas pula aku pun tidak pernah menginginkan perjumpaan dengannya kembali.
Aku membuang nafas pelan dengan gelengan dan senyum kecutku. Pertanyaan itu juga yang ingin ku lemparkan kepadanya.
Mengapa dia datang lagi dalam hidupku?
"Nggak lucu ya, aku juga berpikiran sama kayak Mas." Ku beranikan melirik padanya saat ia tak menyahutiku. "... aku juga tidak pernah menginginkan–"
"Kamu menginginkanku," selanya dengan nada penuh penekanan untuk meyakinkan. Sontak itu membuatku melayangkan tatapan protes padanya. Aku tidak setuju dengan ucapannya. "Azzura ... aku tahu kita saling menginginkan. See? Sejauh apapun kamu pergi, kamu akan datang kembali padaku."
"Bukan seperti itu kenyataannya," aku mencoba bersabar. "Kali ini Ken yang datang sebagai garis singgung antara kita. Aku tidak pernah tahu, bahkan tidak pernah kepikiran sedikit pun kalau Ken ternyata sepupu Mas Rei."
"Takdir."
Dia tersenyum sinis. "Takdirmu itu adalah aku."
"Seperti yang Kenneth bilang, kalau takdirku adalah Kenneth," sahutku asal. Bukan berarti aku menyetujui perkataan Kenneth waktu itu, hanya saja entah kenapa lidahku mengeluarkan kata-kata itu. Mungkin lebih kepada kalau sudah enggan melanjutkan pembicaraan yang tak jelas ini. Semua hanya akan berputar kembali ke masa lalu, masalah, dan keinginan. Sungguh itu membuatku frustasi dan ingin segera pergi dari sini.
"Kamu milikku, Sayang. Tidak ada satu orang pun yang dapat memilikimu. Dan jangan pernah menyebut nama pria lain saat kita hanya berdua saja."
Obsesi. Aku benar?
Sayangnya aku masih memiliki sedikit rasa itu juga. Bukan obsesi, melainkan rasa menerima pada dia yang terobsesi akan diriku.
Serius, aku tidak waras.
Aku berdecih, "Mas Rei sudah bertunangan, lupa? Belajarlah untuk menjadi pria yang setia dengan pasangannya. Mulailah berkomitmen, dan lupakan wanita-wanita di luar sana yang pernah dekat dengan Mas Rei. Supaya tunangan kamu gak salah paham sama kamu."
Dan supaya aku gak terlibat menjadi orang ketiga di antara hubungan seseorang. Entah gimana penjelasannya hubungan kami waktu itu dan sekarang, tapi yang pasti saat ini posisiku adalah orang asing.
Reiki menggerakkan sudut bibirnya. Entah maksudnya tersenyum, menahan senyum, atau apa. Aku hanya yakin kalau dia tidak setuju dengan perkataanku.
__ADS_1
Dia maju selangkah. Aku menelan saliva. Aura pria itu terlalu menakutkan untukku— hatiku lebih tepatnya. Jarak ini terlalu dekat. Hidungku langsung menghidu wangi maskulin dari tubuh pria itu. Wangi yang memabukkan sekaligus kurindukan. Wangi itu entah kenapa amat menenangkanku. Kini dengan berani aku menatap wajahnya. Akan tetapi,
Aku baru sadar, kenapa lift gak beroperasi?
Apa jangan-jangan ...
Mataku bergerak ke segala arah bagian lift. Oh sial, lift memang sedang berhenti tanpa aku sadari sejak kapannya. Aku yakin, pria besar di depanku inilah pelakunya.
Ku sadari kini dia telah mengurungku dengan kedua tangannya menempel pada dinding lift sisi kanan dan kiriku. Tatapannya begitu lekat menatapku, dan aku berupaya keras untuk menghindari tatapan itu.
Seperti biasa, jari jemarinya sudah berpetualang di wajahku, tepatnya di pipiku. Aku juga menggerakkan kepalaku dengan maksud menghindari sentuhan tangannya itu.
Kenapa tangannya suka jalan-jalan?
"Sayang ..."
Tanpa dapat ku cegah rupanya kini jantungku malah berdebar dua kali lebih cepat. Ini di luar keawarasanku. Bisa-bisanya aku masih dapat berdebar oleh sentuhannya. Bahkan sudut hati kecilku mengatakan bahwa aku menyukai sentuhannya itu. Sial!
"Apapun yang terjadi ... bagaimana pun kisah kita saat ini, tapi satu yang pasti ... pada akhirnya kita akan bersama."
"Jangan omong kosong, Mas. Jangan berkata yang bukan-bukan ..."
Reiki mengetatkan rahangnya mendengar perkataanku. Buru-buru aku kembali mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. "Ayolah, Mas Rei, bersikaplah dewasa. Intinya kita berdua harus menerima kalau kita berdua itu bukan jodoh." suaraku terdengar tenang dan sekaligus berani bersamaan. Padahal hatiku jumpalitan sebenarnya.
"Kita itu berjodoh, Sayang ..."
"Ya nggak lah! Mas Rei ngerti dong. Aduh– plis minggir. Aku lelah banget. Mau pulang. Dan tolong jalanin lagi lift-nya," kataku putus asa. Entah mesti bagaimana lagi aku harus memberitahunya tentang kami yang tidak mungkin dapat bersatu.
Tapi tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering, dan tentunya itu bukan milikku. Sudah pasti itu milik pria di hadapanku ini. Tapi pria itu tidak menghiraukannya. Dia terlihat menatapku dalam diam dan mungkin sambil berfikir.
"Oke," sahutnya setelah jeda beberapa saat. "Kali ini aku biarkan kamu pergi. Tapi ingat-ingatlah selalu, Sayang ... kalau kamu adalah milikku selamanya. Aku tidak berniat untuk melepaskanmu lagi. Apapun yang terjadi."
Sekarepmu.
...---...
Butuh wangsit buat mendarat di lapak Althar 🙀🙀🙀
Pengennya nulis novel baru lagi, tapi apa daya. Pantang bikin baru sebelum tamatin althar 😾🙀
Lagi pengen makan karedok ihh 😋
__ADS_1