Like Drama

Like Drama
Eighty Five


__ADS_3

...Happy Reading!...


Kepalaku terasa sakit saat aku terbangun pagi ini. Alarmku selalu berbunyi untuk menyesuaikan jam berangkat ke kantor seperti biasanya. Sejak semalam aku sudah merasakan tidak enak badan. Walau begitu, aku berniat untuk tetap berangkat ke kantor dan tidak membolos sehari pun. Terlebih di saat seperti ini. Tidak sanggup rasanya membayangkan mbak Nunu yang semakin sinis saja kepadaku.


Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar walaupun kepala masih terasa senut-senut.


"Lo berangkat juga?" tanya Alya yang sedang menyisir rambutnya. Sahabatku itu sudah selesai mandi dan bersiap pergi ke kantor juga.


Aku mengangguk saja sembari menempati kursi di meja makan kecil kami. Tanganku tak lepas juga dari gerakan memijat untuk sekedar meringankan rasa sakitnya.


"Kalo sakit mah gak usah dipaksain, Raju. Ntar lo pingsan, 'kan bisa berabe."


"Gue masih kuat segini mah. Ntar abis sarapan minum obat, sembuh deh."


"Ya terserah lo deh."


Alya menempati kursi di seberangku. Dia mulai mengambil piring yang sudah dia siapkan untuknya sendiri.


"Cobain deh. Ini nasi goreng rasa nasi kebuli."


"Hm ... kok bisa rasanya begitu ..."


"Ya bumbu instannya tulisannya begitu. Ini udah paling keren bangetlah buat kita yang gak pernah masak."


Tanpa basa basi aku mencoba menyuap sesendok nasi goreng buatan Alya itu. Ini kulakukan lebih kepada demi meminum obat sakit kepala setelahnya. Karena sebenarnya, aku amat tidak selera untuk makan apa pun saat ini.


"Gue putus sama Ken," ucapku pelan.


Alya menghentikan suapannya dan beralih menatapku. "Kok bisa?"


"Kok lo santai?"


"Karena gue udah punya pacar."


Seharusnya, berita aku putusan dengan Kenneth adalah sebuah kejutan untuk Alya. Akan tetapi malah aku yang dibuat terkejut karena sahabatku itu telah memiliki seorang pacar.


"Akhirnya lo gak jomlo lagi. Btw sejak kapan lo punya pacar?"


"Lo sih gak perhatian lagi sama gue," keluh Alya. "Sampai berita hangat tentang gue yang dapet pacar pun lo gak tahu."


"Gue akui, kalau masalah gue udah banyak dan gak sempat dengerin curhat lo. Ya lagian kita juga sama-sama sibuk, bukannya? Trus, kalau lo gak cerita, ya gimana gue bisa tahu kalau lo punya pacar."


"Iya-iya, Sayong," sahutnya. Dia mengusap-usap sebelah punggung tanganku sembari tersenyum sumringah. Jelas sekali kalau Alya saat ini sedang bahagia, alias sedang jatuh cinta. Itu berbanding terbalik denganku yang sedang merana.


"Jadi, siapa? Apa gue kenal? Ketemu di mana? teman kantor? Ketemu di jalan? Cafe? Atau di mana?"


Senyum Alya semakin misterius saja. "Lo gak bakalan menyangka, Raju. Ini kejutan besar buat lo."


"Oh ya? Siapa dong? Kepo nih gue."


"Cowok yang sudah kita kenal bahkan sampai ukuran ****** ********,"


"Sinting!"

__ADS_1


Alya tergelak. "Becindi gue. Maksud gue tuh, ukuran sepatunya yang udah kita hapal betul."


Aku terpaku karena menduga sesuatu. Tapi, mana mungkin itu terjadi? Tapi, siapa lagi yang kami ketahui ukuran sepatunya dengan baik kalau bukan–


Alya mengangguk mantap tanpa melepaskan senyum manisnya. "Betul sekali, Raju sayangku, cintaku, pujaan hatiku ... gue udah resmi jadian sama Radit kita. Yup, lo gak salah dengar. R a d i t. Radit."


Aku membekap mulutku sekarang. Ini benar-benar super duper mengejutkan. "Kok bisa? Kalian gak lagi main pacar-pacaran, 'kan?! Atau iseng-iseng buat partner kondangan? Atau gabut sampai kalian pacaran kontrak? Sewa?"


Alya menampar tanganku yang tadi diusap-usapnya. "Sialan bener deh. Mana ada pacaran kontrak gara-gara gabut? Gue belum se-desperate itu ya."


"Ya lagian, gimana bisa kalian pacaran tapi gak kasih tahu gue?"


"Bukan nggak, tapi belum, Raju. Ceritanya panjang. Nanti malam aja, kalau sekarang ceritanya kita bisa telat ngantor."


Kugeser ke samping, piring nasi goreng yang baru kucicipi satu sendok itu. Lalu kurebahkan kepalaku di meja dengan lemas.


"Bagus deh. Gue turut senang buat kalian. Seenggaknya, lo jangan bernasib kayak gue, Al. Nggak boleh ... no ... no ... no ...."


"Nanti malam kita makan-makan yuk, sambil gue ceritain semuanya," ajak Alya sembari mengacak rambutku yang belum sempat kusisir. "Bertigaan. Tapi jangan merasa terasingkan sama gue juga Radit ya, Sayang. Karena gue sama Radit tetaplah milik lo seorang. Paham?!"


Aku mengangguk. Bahkan tak terasa air mataku meleleh begitu saja. Aku yakin itu adalah air mata bahagiaku untuk kedua sahabatku. Tapi aku juga yakin, ada kepedihan yang kurasakan tentang hidupku.


Aku merasa kalau aku satu-satunya orang yang tidak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun, aku tetap tidak boleh mengingkari bahwa ada satu kebahagiaanku yang akan selalu datang dari kedua sahabatku itu.


"Pengen gue gendong kayak bayi deh lo, Ra, kalau lo sedang bertingkah kayak gini. Naluri keibuan gue bekerja kalau lihat lo rapuh. Jangan sedih dong. Gue emang gak tahu seberapa sedihnya hati lo sekarang. Tapi tolong, jangan disimpan semuanya sendiri. Bagi ke gue, ke Radit. Kita itu bersaudara, Raju. Karena saudara itu gak mesti sedarah."


Kalimat Alya barusan membuatku menangis kencang. Sudah lama rasanya saat terakhir aku menangis seperti ini.


"Lah kenapa lo jadi mewek sih, Ra?"


Berbeda dengan kemarin, maka tatapan mas Alvin yang aku temui hari ini hanya sepintas saja dan nampak dingin. Bahkan saat aku hendak memasuki pantry seperti biasanya, lelaki itu malah berjalan keluar tanpa menyapaku. Seolah kami tidak pernal saling mengenal, seolah dia tidak pernah mengatakan sesuatu kemarin.


Ya sudahlah. Aku tidak ingin repot-repot memikirkannya. Kalau seseorang sudah tidak menyukaiku bahkan hanya sebagai rekan kerja, lalu aku bisa apa?


Sudah biasa. Yang datang dan pergi dalam kehidupan tidak perlu terlalu dipikirkan. Sebab aku sudah terbiasa dengan kepergian, hingga yang paling jauh sekalipun.


"Zura,"


Apakah dia masih menjadi temanku, atau tidak?


"Ya?"


"Ish, jangan kaku begitu. Jangan jadi canggung dong di antara kita," Abel dengan senyum akrabnya telah kembali.


Aku pun mencoba untuk menarik kedua sudut bibirku sebagai balasan. Sebab aku tidak pandai bermuka dua, alias aku seringkali tidak mampu berpura-pura untuk bersikap ramah di saat hatiku tidak seperti itu. Tapi bila mengenai Abel, aku rasa aku mampu mengecualikannya.


Entah bagaimana aku menganggap kalau Abel itu gadis yang baik. Memang baru seumur jagung keakraban diantara kami, akan tetapi dia terasa cukup menyenangkan saat kami mengobrol setiap harinya.


Dengan perlahan dia berdiri mensejajariku yang berada di depan meja.


"Jujur aku iri sama kamu, Zura," Abel memulai kalimatnya. Dan aku siap mendengarkan apa pun yang hendak ia katakan. "Aku tuh fans beratnya Kenneth tau, gak? Makanya, menghadapi kenyataan kalau kamu dekat sama idolaku, pacar haluku, ya ampun rasanya kesel banget tau gak sih?! Aku tuh mikirnya, kenapa bukan aku aja yang deket sama Kenneth? Kenapa harus kamu? Aku tuh meng-iri banget sumpah."


Abel menoleh kepadaku dan aku membalas menatapnya. Hanya saja aku tidak tahu mesti menjawab apa. Maka aku hanya mengangguk payah atas ucapannya yang menggebu-gebu itu.

__ADS_1


"Boleh gak, Zura, aku pengen foto sama Kenneth sekaliiii aja. Boleh, ya ...."


Sebuah senyuman kini aku sunggingkan kepadanya.


"Janji deh, mulai sekarang aku merestui hubungan kalian. Aku bakalan kasih tahu Kenneth lovers yang lain buat merestui–"


"Aku nggak pacaran sama Ken," selaku yang membuatnya terdiam seketika.


"Kok? 'Kan kemarin tuh ..."


"Ya pokoknya nggak. Aku ... cuma temenan sama dia."


Entah mengapa terasa aneh di lidahku saat mengucapkannya. Hubungan pertemanan yang seperti apa yang mungkin terjadi di antara aku dengan Ken bila hati kami sama-sama terluka atas takdir ini. Aku yang bahkan tak sanggup untuk melihatnya dari dekat karena rasa bersalah. Lalu Kenneth yang sudah pasti kecewa atas keputusanku. Rasa-rasanya aku belum mampu untuk memulai pertemanan tanpa rasa apa pun.


"Kayaknya complicated ya, Zura? Aku menyimpulkan begitu berdasarkan muka kamu."


"Muka aku?"


Gadis itu mengangguk. "Iya. Muka kamu murung. Entah apa yang terjadi di antara kalian berdua. Satu yang pasti, semoga yang terjadi itu adalah sesuatu terbaik juga bagi kalian berdua. Selain itu, aku bukan lambe turah kok. So, apa yang aku lihat dan aku dengar, bakalan aku simpan rapat. Tenang aja." Abel merangkulku. "Jangan sedih, Zura. Aku masih jadi teman kamu loh."


...- - -...


Satu kata ... gugup. Aku amat sangat gugup melihat ruangan di depanku. Kiranya apa yang hendak dikatakan oleh bos besar alias om Damar kepadaku yang mendadak dipanggil untuk menghadapnya.


"Silakan masuk," ucap datar seorang wanita yang kutahu sebagai sekretaris ayahnya Ken itu. Dia juga sembari membukakan pintu ruangan om Damar untukku.


"Makasih."


Aku melangkah masuk ke dalam ruangan om Damar yang pemiliknya ternyata sedang sibuk menelpon saat aku sudah berdiri di depan mejanya. Isyarat tangannya mempersilahkan aku untuk menempati sebuah kursi di seberangnya. Maka aku pun patuh dengannya.


"Kamu sudah makan siang?" tanya om Damar setelah menyelesaikan teleponnya dan meletakkan benda pintarnya itu di meja.


Aku pun mengangguk dan menjawab dengan sopan, "Sudah, Pak." Sebab ini wilayah kantor, dan aku mesti berucap sesuai dengan tempat.


"Langsung saja ya, Zura," katanya dengan serius. Dan itu membuatku semakin gugup lagi. Pembawaan om Damar yang memang selalu serius itu sudah cukup menjatuhkan mentalku. Apalagi bila beliau mengetahui yang sebenarnya terjadi antara aku dengan putranya, serta keponakannya, maka aku tak sanggup membayangkannya lagi. Bagaimanakah bila om Damar marah?


Ya Tuhan. Aku mesti siap,


"Zura ... bagaimana hubungan kamu dengan Ken?"


...****...


Sudah bertekad buat update di tanggal 1 di tahun 2022. πŸ˜‚


πŸŒŸγ€‚β€γ€‚πŸ˜‰γ€‚πŸ€


γ€‚βœ¨ γ€‚πŸŽ‰γ€‚πŸŒŸ


βœ¨γ€‚οΌΌο½œοΌγ€‚πŸ’«


Happy New Year


πŸŒŸγ€‚οΌο½œοΌΌγ€‚πŸ»

__ADS_1


γ€‚πŸ€γ€‚ πŸΈγ€‚πŸŽ‰γ€‚


πŸŒŸγ€‚ πŸ’«γ€‚ 🎢 πŸ’₯


__ADS_2