
Happy reading!
"Kalau aku gak boleh pergi main sama Radit, kamu jangan paksa aku buat ikut kamu ke kantor!" aku histeris dan mengeluarkan air mata yang tak sanggup aku tahan lagi. Segala macam pikiran yang membebaniku seolah turun semua melalui air mata. "Kamu selalu memaksaku! Memangnya aku apa?"
Alya sudah pergi sepuluh menit yang lalu setelah selesai sarapan. Dan aku masih ditahan paksa oleh Reiki di apartementnya. Bagaimana aku tidak histeris dan frustasi kalau dia selalu berlaku seenaknya kepadaku?
"AKU ITU BUKAN SIAPA-SIAPA KAMU! JANGAN PERLAKUKAN AKU BEGINI TERUS!" lagi, aku mengeluarkan semua emosi yang ada di hatiku.
Aku berlari menuju kamar dan langsung membanting tubuhku di ranjang. Lalu aku menelungkupkan tubuh dan wajahku ke bantal, dan menangis di sana.
Kusadari kehadiran Reiki yang telah datang menyusulku. Kurasakan dia yang mencoba menarik lenganku untuk membangunkanku. Tapi aku meronta sebisaku namun berakhir dengan sebuah kekalahan. Dia berhasil membawaku ke dalam pelukannya. Selalu begitu. Saat aku mulai histeris dan menangis, maka dia akan mendekapku dan mengusapku dengan sayang.
"Don't cry, baby ..." bisiknya.
"Mas Rei jahat."
Usapannya lembutnya yang tadi berada di belakang kepalaku, sekarang turun ke punggungku.
Cukup lama dia membiarkanku menangis di dalam pelukannya dan dia tidak peduli meskipun kausnya aku buat basah oleh air mata. Ketika akhirnya tangisanku mulai reda meskipun masih sesenggukan, aku secara tak sadar menyadari sesuatu. Hal buruk itu adalah aroma tubuh pria itu yang membuatku tenang dan nyaman seketika. Wangi yang membuatku suka, membuatku terlena, dan membuatku lupa akan bayangan buruk di masa depan. Sungguh terlalu nyaman. Dan aku malah semakin mabuk saja oleh wangi tubuhnya yang sudah mulai terbiasa di indra penciumanku.
Suara dering ponselnya membuatnya melepaskan satu tangannya dari tubuhku untuk mengangkat telepon. Renggangnya dekapan sebelah tangannya aku gunakan untuk melepaskan diri dan kembali menelungkupkan tubuhku di kasur.
__ADS_1
Yang kutahu, dia harus pergi ke kantor sekarang juga setelah menerima telepon itu.
"Kamu benar-benar tidak mau ikut aku ke kantor?" tanyanya sekali lagi. Sudah tidak ada nada paksaan lagi, hanya sekedar pertanyaan untuk meyakinkan jawabanku.
Aku hanya menggeleng singkat.
"Baiklah. Kamu hanya perlu tunggu aku sebentar di sini. Aku janji aku hanya sebentar ke kantor. Setelah itu aku akan kembali, dan kita akan jalan-jalan. Oke?"
Aku merajuk tentu saja. Jadi aku enggan untuk menyahuti apapun perkataannya.
Kenapa harus selalu bersama dia? kenapa hanya dia saja yang boleh ada dalam hidupku? kenapa? kenapa hidupku seperti ini?
.
.
Setengah jam sudah kepergian Reiki. Aku yang sudah berhenti menangis ingin melampiaskan lagi semua sesak di hatiku dengan memakan es krim. Tapi itu berarti aku harus pergi untuk membeli es krim.
Aku tahu Johan selalu siaga berada di dekatku, meskipun aku tidak tahu jelasnya manusia itu berada. Dan amat sangat dibenarkan bila aku malah menyuruhnya untuk membelikanku es krim dari pada pergi sendiri ataupun memesan delivery es krim.
Tapi aku Azzura!
__ADS_1
Aku tidak suka memanfaatkan apapun yang bukan hakku. Maka pada akhirnya, setelah mencuci muka dan memakai bedak sedikit untuk menyamarkan sisa-sisa air mata yang tadi membanjiri wajahku, aku pergi keluar meninggalkan apartement untuk membeli es krim yang kuidamkan. Oke, es krim adalah alasanku untuk berjalan keluar dari sangkarku.
Seperti biasanya, Johan sudah siap dengan mobilnya meskipun aku tidak memberitahunya untuk pergi. Reiki itu benar-benar menyuruh Johan untuk menguntitku. Ini menyebalkan.
Tak membutuhkan waktu yang lama saat aku akhirnya sudah membeli es krim di sebuah toko es krim terkenal tak jauh dari apartemen Reiki berada. Apalagi dengan diantar mobil oleh Johan yang cekatan itu. Kemudian setelah itu aku kembali ke apartement dengan banyak es krim dan cemilan yang ingin kumakan sambil merenung nanti.
Begitu sampai di depan pintu apartement, aku menoleh ke belakang. Johan sudah menghilang. Kemana perginya pria itu? Bukankah sejak turun dari mobil dia selalu berada di belakangku meskipun dengan jarak tertentu? Aneh. Ah aku tidak peduli pada si penguntit itu. Aku pun melangkah masuk ke dalam apartement.
DEG.
Sebuah perasaan yang pertama kali melanda saat aku memasuki dalam apart adalah cemas, berdebar, takut, dan lemas. Bagaimana tidak? Seseorang yang saat ini tengah berdiri dengan anggunnya sambil menatapku dengan tajam, adalah seseorang yang tak kuharapkan dapat menemukanku di dalam apartemen ini.
Grandma.
Plastik cemilan dan es krim otomatis terlepas begitu saja dari genggamanku dan mendarat dengan suara berisiknya di lantai.
Sorot mata wanita paruh baya itu menatap benci kepadaku. Apa yang akan terjadi padaku sekarang? Aku yakin grandma akan marah dan lebih membenci lagi saat mengetahui bahwa ternyata aku tinggal bersama cucu laki-lakinya.
"Grandma ..."
...¤ ¤ ¤...
__ADS_1